Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

7 Trik yang Disarankan Ahli untuk Meraih Tidur Lebih Nyenyak

Memulai kembali rutinitas hidup sehat tak harus terasa seperti hukuman. Ahli nutrisi Rosemary Ferguson membagikan perubahan kecil dan sederhana yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan tubuh secara menyeluruh.

7 Trik yang Disarankan Ahli untuk Meraih Tidur Lebih Nyenyak
Foto: Courtesy BAZAAR UK

Istilah wellness reset perlahan kehilangan maknanya selama bertahun-tahun. Dahulu, konsep ini identik dengan pembatasan asupan dan program detoksifikasi, yang kerap disertai dokumentasi perubahan sebelum dan sesudah. Namun, kini konsep reset tersebut akhirnya hadir dengan pendekatan baru yang lebih positif.

BACA JUGA: Cara Mereset Sistem Saraf untuk Menurunkan Kortisol dan Mendapatkan Pikiran yang Lebih Tenang dan Jernih

“Bagi saya, reset adalah momen ketika Anda memprioritaskan diri sendiri,” ujar ahli nutrisi Rosemary Ferguson. “Terkadang, ada tujuan yang jelas di baliknya, yaitu keinginan untuk menciptakan perubahan. Namun, ada kalanya Anda hanya perlu menjauh sejenak dari hal-hal yang memicu stres, lalu memberikan waktu dan perhatian untuk diri sendiri.”

Rosemary menulis buku bertajuk The Reset, yang dirancang untuk membantu pembaca “merasa benar-benar bahagia dengan kehidupan mereka sendiri”. Kehadiran buku ini bertepatan dengan datangnya bulan-bulan yang lebih dingin dan suram. “Ketika durasi siang semakin pendek, sinyal cahaya yang mengatur jam biologis tubuh melemah. Akibatnya, produksi melatonin dimulai lebih awal dan pagi hari terasa lebih berat,” jelas Rosemary. Ia menambahkan bahwa berkurangnya paparan sinar matahari juga memperlambat produksi vitamin D dalam tubuh, yang dapat memengaruhi suasana hati, sistem kekebalan tubuh, dan fungsi otot. Nafsu makan pun sering berubah, dengan meningkatnya keinginan untuk mengonsumsi karbohidrat dan makanan yang memberikan rasa nyaman.

Foto: Courtesy BAZAAR UK /
Rosemary Ferguson.

The Reset sama sekali bukan program diet ekstrem dalam waktu singkat. Sebaliknya, kerangka program selama empat minggu yang dirancang Rosemary menawarkan pendekatan kesejahteraan yang lebih terukur sekaligus mendefinisikan ulang makna reset. “Setiap minggu dibangun berdasarkan minggu sebelumnya,” jelasnya. “Selain memperbaiki pola makan, Anda juga secara bertahap menerapkan perubahan gaya hidup, mulai dari lebih banyak bergerak, melakukan latihan kekuatan, meningkatkan kualitas tidur, mendapatkan paparan cahaya matahari, hingga mengatur sistem saraf. Semua perubahan tersebut saya susun secara bertahap dalam The Reset, sehingga setiap kebiasaan memiliki waktu untuk beradaptasi sebelum perubahan berikutnya diterapkan.”

Lebih dari itu, buku ini memandang keseimbangan hormon, peradangan, dan kesehatan usus sebagai satu sistem yang saling terhubung, sekaligus menekankan pentingnya hubungan antara pikiran dan tubuh. “Kita perlu melihat kondisi tubuh secara menyeluruh, bagaimana usus berinteraksi dengan hormon, bagaimana peradangan memengaruhi tubuh, apakah ada faktor lingkungan yang bisa diperbaiki, serta bagaimana sistem saraf berperan, alih-alih memperlakukan setiap gejala sebagai masalah yang terpisah,” ujarnya.

Program ini juga dirancang secara khusus bagi mereka yang berada di fase paruh baya. “Saya berfokus pada fase paruh baya karena merasa kelompok ini kurang mendapatkan perhatian yang memadai,” kata Rosemary. “Banyak orang menganggap merasa tidak bugar adalah bagian yang tak terhindarkan dari proses penuaan. Saya sangat tidak setuju. Sekarang, saya justru merasa lebih baik dibandingkan saat berusia 20, 30, atau 40 tahun. Kita memiliki kendali yang besar melalui hal-hal mendasar. Apa yang kita makan, bagaimana kita bergerak, dan bagaimana kita menjalani keseharian merupakan informasi terpenting yang kita berikan kepada tubuh. Hal-hal tersebut jauh lebih berpengaruh dibandingkan menjalani program suplemen selama sebulan atau mengikuti retret setahun sekali.

Foto: Courtesy BAZAAR UK

Dari Kiri ke Kanan: Vuori Galaxy Funnel Neck Full Zip dan Pendulum Polyphenol Booster Probiotic

Foto: Courtesy BAZAAR UK

Dari Kiri ke Kanan: Ribbed Mid-Rise Reset Pant - Black dan ARMRA Colostrum Unflavored Jar

Berikut tujuh perubahan kebiasaan sederhana yang realistis dan bisa mulai Anda terapkan sekarang:

1. Tetap Aktif Bergerak

“Saat jam berubah dan hari terasa semakin singkat, kita mudah terjebak di dalam ruangan. Jangan biarkan cuaca menentukan apakah Anda akan tetap aktif bergerak.”

2. Luangkan Waktu di Luar Ruangan

“Paparan cahaya matahari dan ruang terbuka hijau memberikan manfaat lebih besar bagi suasana hati, kualitas tidur, dan tingkat stres daripada yang disadari banyak orang.”

3. Prioritaskan Tidur

“Musim gugur merupakan waktu yang tepat untuk mengevaluasi kualitas tidur. Hari-hari terasa lebih gelap dan sebelum kesibukan musim perayaan dimulai, cobalah meningkatkan kualitas tidur, meski hanya sedikit. Tetapkan waktu tidur dan bangun yang konsisten, lalu jalani selama beberapa minggu untuk melihat perubahannya.”

4. Berjalan Kaki Setelah Makan Siang

“Berjalan kaki selama 10–15 menit saja dapat membantu otot menyerap glukosa dari darah sekaligus mengurangi rasa lesu yang kerap muncul pada sore hari.”

5. Konsumsi Beragam Jenis Tumbuhan

“Keberagaman jenis makanan nabati merupakan hal yang mendukung pertumbuhan bakteri baik di dalam usus.”

6. Lakukan Strength Training Seminggu Sekali

“Jika baru memulai, otot merupakan investasi penting bagi metabolisme tubuh. Berlatih satu kali seminggu sudah cukup sebagai langkah awal.”

7. Hentikan Kebiasaan Doomscrolling di Pagi Hari

“Jangan langsung melihat ponsel atau layar selama 10 menit pertama setelah bangun tidur. Kadar kortisol secara alami meningkat saat Anda terbangun dan membantu tubuh mulai beraktivitas. Biarkan proses tersebut berlangsung tanpa langsung membanjiri pikiran dengan surel dan berita. Berikan diri Anda ruang untuk memulai hari dengan tenang, dan saya jamin hari Anda akan berjalan lebih baik.”

BACA JUGA: 
Panduan Yoga Nidra Guided Sleep Meditation agar Tidur Nyenyak
Benarkah Salt Stomping Bisa Bantu Tidur Lebih Nyenyak & Mengurangi Stres?

(Penulis: Amelia Bella; Artikel ini disadur dari: BAZAAR UK; Alih bahasa: Kirana Anindya; Foto: Courtesy of BAZAAR UK)