Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Kenali Tanda-Tanda yang Ternyata Tak Dirasakan dari Gangguan Depresi

“Kalau depresif pastinya moodnya akan low dalam waktu yang panjang,” ungkap Gracia Ivonika.

Kenali Tanda-Tanda yang Ternyata Tak Dirasakan dari Gangguan Depresi

Memasuki bulan kesepuluh di tahun 2020 yang masih diliputi ketidakpastian, mungkin Anda mengalami berbagai perubahan terlebih ketika pandemi virus COVID-19 serentak menghentikan kehidupan kita semua. Sebagian ada yang menemukan hobi baru atau semangat baru, tetapi tidak sedikit yang justru diliputi dengan kesedihan yang membuat suasana hati tidak lagi bersemangat seperti biasanya.

Dengan kehidupan yang dibatasi oleh jarak dan mengandalkan layar gawai untuk bersosialisasi, kecenderungan seseorang mengalami gejala-gejala depresif. Psikolog klinis, Gracia Ivonika M.Psi mengungkapkan, “Depresi itu selalu moodnya very very low dan kecenderungan beberapa kriteria depresi dikarenakan kondisi yang membatasi dirinya dan ada yang karena adanya tumpukan pengalaman negatif dari masa lalu dalam diri orang tersebut.”

Depresi sendiri memiliki dua kategori yaitu persistent depression yang dialami oleh seseorang dalam jangka waktu panjang dan bertahan sampai minimal dua tahun. Sedangkan, kategori berikutnya adalah dikenal dengan major depression disorder, ketika seseorang memenuhi minimal lima gejala depresi yang dapat ditentukan oleh psikiater atau psikolog klinis.

“Seseorang dapat dikatakan depresi harus memenuhi beberapa gejala dari kategori yang ada di dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders dan hanya digunakan oleh psikiater atau psikolog,” jelas Gracia. Namun, Anda juga dapat mengenali gejala-gejala dari beberapa perubahan yang terjadi dalam diri Anda maupun orang-orang di sekitar Anda.

1. Kehilangan minat akan aktivitas yang dilakukan sehari-hari

Ada beberapa momen ketika kita memilih untuk tidak melakukan apa-apa atau merasa lebih pendiam dari biasanya, tetapi bagi penderita depresi, mereka akan kehilangan kebahagiaan ketika melakukan aktivitas atau berkomunikasi dengan orang lain dan memilih untuk mengurung diri. “Salah satu gejala yang paling umum adalah orang kehilangan minat pada berbagai aktivtias yang sebelumnya dia suka,” jelas Gracia.

2. Kehilangan nafsu makan

Orang-orang yang mengalami gejala depresi juga dapat ditandai dengan penurunan berat badan yang drastis tanpa adanya olahraga atau perubahan pola makan tertentu. Hal ini dikarenakan hilangnya nafsu makan.

3. Gangguan tidur

Depresi juga dapat mengganggu dan mengubah kebiasaan tidur seseorang. “Selain itu, bisa ada gangguan tidur either tidur terus atau tidak bisa tidur,” jelas Gracia. Kecenderungan seseorang untuk tidur terus menerus dikenal dengan istilah hipersomnia, sedangkan kekurangan tidur dikenal dengan istilah insomnia.

4. Kehilangan konsentrasi dalam melakukan suatu aktivitas

Hilangnya kemampuan konsentrasi kerap dikaitkan sebagai gejala Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), tetapi tanda ini dapat menjadi gejala seseorang mengalami depresi. Seseorang yang mengalami depresi kerap mengalami masalah terkait ingatan mereka dan berdampak pada bagaimana mereka menjalani kegiatan sehari-hari.

5. Kehilangan energi atau tubuh menjadi lemas

Depresi adalah gangguan suasana hati yang membuat seseorang kekurangan tenaga. Akibat kurangnya tidur atau menurunnya nafsu makan, seseorang akan membutuhkan tenaga yang ekstra untuk menyelesaikan atau bahkan melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil.

6. Munculnya perasaan-perasaan negatif

Kesendirian seolah-olah menjadi “teman” bagi mereka yang mengalami depresi. Ketika mereka terisolasi, mudah sekali untuk timbul-timbul rasa negatif seperti perasaan bersalah tentang kesalahan-kesalahan di masa lalu, kekhawatiran berlebihan akan sesuatu hal, maupun kecenderungan merasa bahwa mereka tidak berharga atau memberi evaluasi negatif terhadap diri sendiri atas kegagalan-kegagalan yang kecil. Umumnya, muncul dari ucapan-ucapan mereka yang cenderung mengucilkan diri sendiri.

7. Munculnya keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri

Gangguan depresi dapat membawa seseorang ke lubang yang dalam dan berpotensi memunculkan keinginan untuk bunuh diri, “tapi bukan berarti dia yang mengatakan ‘saya mau mati saja’ itu tandanya depresi,” ungkap Gracia. Ia juga menambahkan bahwa keinginan bunuh diri tidak hanya sesuatu yang terpikirkan tetapi penderita depresi juga sulit mengontrol keinginan tersebut meski ia tahu tindakan tersebut salah. Dengan demikian penting bagi penderita untuk diawasi dan dijauhkan dari benda-benda yang berpotensi digunakan untuk bunuh diri.

Baca Juga: Cara Membantu Pulihkan Orang Tersayang Yang Alami Depresi

(Penulis: Vanessa Masli; Foto: Courtesy of Michael Pondaag for Harper’s Bazaar Indonesia)