Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

8 Hal Tentang Debut Solo JACOB THE BOYZ

Inilah yang JACOB THE BOYZ ungkapkan tentang debut solo dan perjalanan musiknya.

8 Hal Tentang Debut Solo JACOB THE BOYZ
Foto: Courtesy BAZAAR Indonesia

Ada sesuatu yang terasa membebaskan dalam perjalanan JACOB, dari seorang vokalis THE BOYZ hingga menemukan ruangnya sendiri sebagai solois.

BACA JUGA: Simak Panduan dari A hingga Z Terhadap K-Pop

“Saya selalu mendengarkan musik sambil membayangkan diri saya menjadi penyanyi yang tampil di atas panggung.” Dari imajinasi tersebut, tumbuh kecintaan JACOB terhadap musik yang telah menjadi bagian dari dirinya sejak kecil.

Foto: Courtesy BAZAAR Indonesia


Impian itu kemudian menjadi nyata ketika JACOB debut bersama boy group K-pop THE BOYZ pada 2017, sembilan tahun lalu. Bersama para member lainnya, ia memulai perjalanan sebagai vokalis dan terus mengembangkan kecintaannya terhadap musik.

Kini, JACOB membuka lembaran baru melalui debut solonya yang terasa begitu personal. Kali ini Harper’s Bazaar Indonesia bersama Dave Hendrik berkesempatan berbincang secara eksklusif dengan JACOB, ia mengungkap sejumlah informasi baru mengenai solo debut EP j., perjalanan showcase solo JACOB: More Than Words, dan sisi personal yang ia tuangkan melalui karya-karyanya.

1. JACOB menemukan warna musik yang sejak lama ingin ia eksplorasi

Sebagai member THE BOYZ, JACOB terbiasa dengan proses kreatif yang berorientasi pada penampilan musik. Setiap lagu dirancang dengan koreografi yang kuat atau menonjol serta karakter vokal yang dinamis dari masing-masing anggota. Berada dalam grup besar juga mengajarkannya tentang kesabaran, kompromi, dan kerja sama selama proses produksi. 

Pengalaman tersebut terasa kontras ketika ia mendapat ruang untuk mengeksplorasi musik solo. Kali ini, ia memilih lagu-lagu yang lebih tenang dan easy listening, dengan vokal lembut yang merefleksikan gaya musik yang sejak lama ia dengarkan dan ingin ia eksplorasi. 

2. Debut solo memberinya ruang untuk mengeksplorasi musik dan proses di baliknya.

"Saya selalu ingin merilis musik saya sendiri," ucapnya, dan kesempatan itu akhirnya datang ketika ia dapat merilis musik tanpa batasan apa pun. Tak hanya mengeksplorasi musik, debut solo juga memberinya pengalaman baru dalam mengatur seluruh proses di balik sebuah perilisan, mulai dari produksi album dan video musik hingga memahami sisi bisnis serta persiapan tur. Ia mengaku sempat kesulitan karena belum mengetahui banyak hal, tetapi pengalaman tersebut membuatnya lebih siap untuk proyek berikutnya.

Hal lain yang ia perhatikan adalah kondisi vokalnya. Jika sebelumnya hanya menyanyikan beberapa bagian lagu sebagai anggota grup, kini ia harus lebih menjaga tenggorokannya, bahkan memilih tidak menyalakan AC saat tidur agar vokalnya tetap prima.

3. Misunderstood menjadi ruang JACOB untuk mengungkapkan perasaan

EP bertajuk j. terdiri dari tujuh lagu, dengan beberapa di antaranya terasa begitu personal bagi JACOB. Salah satunya Misunderstood, yang merefleksikan pengalaman ketika dirinya kerap disalahpahami karena cenderung pendiam dan tidak mudah mengungkapkan perasaan. “Saya dulu sangat negatif, dan mungkin masih begitu. Jadi, saya menuangkannya ke dalam sebuah lagu,” ujarnya. 

Melalui musik, ia belajar untuk lebih ekspresif dalam menyampaikan perasaan, baik positif maupun negatif. Baginya, menjadi seorang artis memberinya ruang untuk mengekspresikan pikiran dan emosi melalui karya ketika kata-kata tidak cukup. Semangat ini juga menjadi alasan dari tur More Than Words, ia ingin yang orang lain menemukan cara untuk mengekspresikan diri.

4. Hampir satu dekade sebagai idol mengajarkan JACOB untuk lebih percaya diri

Selama hampir satu dekade sebagai idol, JACOB merasa hal yang paling berubah dalam dirinya adalah kepercayaan diri. “Ketika pertama kali debut, saya sama sekali tidak percaya diri,” ujarnya. Kini ia belajar tampil sebagai dirinya sendiri. Dukungan The B juga membuatnya lebih santai, memahami bahwa kesalahan kecil di atas panggung bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Ia juga mulai belajar untuk lebih terbuka. Jika dulu terbiasa menyimpan semuanya sendiri, kini ia mulai berbagi cerita dengan orang-orang terdekat, terutama ibu dan saudaranya.

5. JACOB memilih kenyamanan sebagai bagian dari kebahagiaan

“Doing what I want to do, being who I want to be.” Kalimat tersebut merangkum cara JACOB memaknai kebahagiaan. Ia menjadikan “there’s no success without happiness” sebagai motto dalam menjalani hidup, menempatkan kebahagiaan sebagai sesuatu yang ingin terus ia utamakan.

Hal-hal sederhana pun menjadi caranya menikmati kebahagiaan. Saat day off, JACOB memilih tidur tanpa alarm hingga tubuhnya terbangun sendiri, terkadang baru pada pukul 12 siang atau 3 sore. Sisa harinya ia habiskan di rumah dengan gym, menonton drama, atau memesan makanan. Kegemarannya untuk menikmati kenyamanan bahkan membuatnya belajar frasa “aku anak mager” yang diajarkan oleh Dave. Preferensi yang sama juga tercermin dalam gaya berpakaiannya yang cenderung streetwear, dengan pilihan pakaian berlapis, celana baggy, dan topi.

6. Jakarta menjadi salah satu pemberhentian dalam tur solo pertama JACOB

Jakarta memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan tur More Than Words, antusiasmenya pun sudah terasa sejak sebelum pertunjukan. “Saya sangat bersemangat karena setiap kali kami tampil di Jakarta, para penggemar selalu sangat energik dan suaranya begitu keras,” ungkapnya. 

Setelah memulai tur di Korea dan Jepang, JACOB menyapa penggemar Jakarta pada 22 Agustus 2026, sebelum melanjutkan perjalanan ke Bangkok. Ia melihat setiap kota memiliki cara berbeda dalam menikmati musik, tetapi membayangkan energi Jakarta dan Bangkok akan penuh dengan spontanitas, bernyanyi bersama, bersorak, dan menikmati setiap lagu dengan energi yang tak habis.

7. JACOB menyebut dua musisi Indonesia yang ingin ia ajak berkolaborasi

Ketika ditanya oleh Dave, tanpa ragu ia menyebut dua nama: Adrian Khalif dan Tulus. Ia menyukai musik Adrian yang tenang, terutama karakter vokalnya yang menurut JACOB dapat berpadu dengan warna suara miliknya yang lebih tinggi. Sementara Tulus menarik perhatiannya lewat suara dan lagunya yang lembut dan menenangkan sesuai dengan tipe lagu kegemarannya. Untuk berkolaborasi dengan keduanya ia mengucapkan “It would just be an honor.” 

Ketertarikannya terhadap musik Indonesia kemudian ia bawa ke panggung More Than Words di Jakarta. JACOB menyiapkan dua lagu Indonesia, termasuk Back & Forth dan 2001x yang ia bawakan bersama Adrian Khalif sebagai special guest. Ia juga menyanyikan “Bergema Sampai Selamanya” milik Nadhif Basalamah sambil memainkan gitar. Kehadiran Adrian serta pilihan lagu tersebut menjadi kejutan tersendiri yang disambut meriah oleh para penonton.

8. Musik, tur, dan THE BOYZ menjadi bagian dari rencana JACOB ke depan

Bagi JACOB, The B telah menjadi bagian penting dari perjalanan THE BOYZ selama bertahun-tahun baik dalam masa-masa menyenangkan maupun sulit. Ia menganggap The B seperti keluarga dan teman yang selalu mendukung. Maka dari itu, ia berencana untuk menghadirkan satu hingga dua lagu baru sebelum akhir tahun ini. 

Memasuki beberapa tahun ke depan, JACOB berharap dapat terus membuat musik, tampil, dan bertemu penggemar melalui berbagai tur. Ia juga ingin melihat THE BOYZ kembali berkumpul dan melakukan lebih banyak hal bersama, yang saat ini para member tengah mengambil waktu untuk menjalani kegiatan sendiri.

Foto: Courtesy BAZAAR Indonesia

Portofolio ini:
Fotografer: Andre Wireja (NPM Photography)
Stylist: Jennifer Marshiela
Makeup & Hair: Claudia 
Busana: Sapto Djojokartiko, Tanah Le Sae, Jan Sober
Aksesori: Bvlgari
Jam tangan: Panerai, Bvlgari

BACA JUGA:

Profil Ejae: Biodata, Perjalanan Karier, dan Fakta Menarik Kim Eun-jae

Dari “Psycho” Red Velvet hingga “Golden”: Lagu-Lagu Ejae yang Diam-Diam Mendominasi K-Pop


(Penulis: Kirana Anindya; Edited by EF)