Belum mengenal Pierre Legrain? Jika Anda tidak mendalami era Art Deco, nama seniman multidisiplin ini mungkin memang jarang terdengar. Padahal, sebagai seorang dekorator, bookbinder, cabinet maker, dan ilustrator, ia memegang peran penting sebagai kolaborator artistik Louis Vuitton pada era 1920-an. Pierre Legrain sendiri merupakan figur penting di balik sejarah furnitur Louis Vuitton. Ia menciptakan karya perdananya untuk jenama tersebut lewat meja rias (La coiffeuse) yang mengusung gaya modern. Kiprah ini terwujud berkat kerja samanya yang erat dengan Gaston-Louis Vuitton, yang kala itu ingin memperluas lini merek melampaui koper perjalanan dengan menghadirkan ragam aksesori serta furnitur berkualitas tinggi.
BACA JUGA: Bagaimana Warisan Jadi Ruang Eksplorasi Rumah Mode dalam Menciptakan Rasa Baru
Tidak heran jika pada ajang Paris Design Week yang berlangsung pada September 2026 ini, Louis Vuitton kembali mempersembahkan sebuah tribute kepada Pierre Legrain melalui peluncuran kembali Kubic armchair, karya terbaru yang diinspirasi dari model historis sang seniman ditahun 1923. Menjadi pusat perhatian dalam presentasi tersebut, sofa Kubic menerjemahkan keabadian gaya Art Deco.
Menginterpretasikan ulang model bersejarah yang dirancang oleh Pierre Legrain atas pesanan kolektor seni Jacques Doucet pada tahun 1923, kursi ini tampil memukau lewat konstruksi geometris dengan garis-garis kubik yang tegas. Bagian sandaran punggung yang berbentuk trapesium serta sandaran lengan berfaset dibalut indah dengan kulit Nomade, material ikonik, signature dari rumah mode ini serta disempurnakan oleh kaki penopang berbahan kayu rosewood. Karya ini menegaskan keahlian Louis Vuitton dalam pengolahan kulit sekaligus keunggulan tradisi pembuatan cabinet-making craftsmanship. Sebagai pernyataan estetika sejati, kursi Kubic merefleksikan kemampuan jenama ini dalam merajut warisan masa lalu ke dalam kreasi kontemporer.
Salah satu ruang pameran yang didekor seperti layaknya salon Hausmanien turut menampilkan karya-karya tribute yang ikonik dari Pierre Legrain, seperti rekreasi La Coiffeuse, meja rias berbingkai cermin oval yang memancarkan keanggunan, serta kursi santai La Chilienne Riviera yang memadukan kayu oak dan kulit dengan sentuhan dekoratif mother-of-pearl. Tidak berhenti di situ, koleksi ini juga mempersembahkan rangkaian tekstil bermotif grafis serta kreasi peralatan makan eksklusif yang terinspirasi dari seni bookbinding serta arsip historis sang seniman.
Karya-karya eksklusif ini dipresentasikan sebagai bagian kreasi terbaru dari koleksi Louis Vuitton Objets Nomades. Sejak diluncurkan pada 2012, Objets Nomades telah menjadi simbol keberanian kreatif dalam dunia desain, merayakan kolaborasi harmonis antara artisan maestro dan talenta perancang kontemporer. Ajang kali ini turut menampilkan karya penghormatan untuk Charlotte Perriand, figur ikonik dalam sejarah desain yang dikenal melalui komposisi garis-garis geometris modern, serta diperkaya oleh kreasi terbaru dari Estudio Campana, Raw Edges, dan Franck Genser.
Salah satu sorotan utamanya adalah kursi Stella armchair karya Raw Edges yang tampil spektakuler, yaitu sebuah sofa abstrak menyerupai tumpukan lembut yang mengutamakan kenyamanan, dilengkapi efek kinetik yang membuat warnanya tampak berubah ketika dipandang dari sudut berbeda. Kehadiran karya-karya ini menegaskan peranan para seniman dalam merajut dunia di mana inovasi, keahlian tangan, dan keberanian terus mendobrak batas-batas desain.
Sebenarnya pada tahun 2025 Louis Vuitton juga membuka babak baru dalam dunia desain dan dekorasi interior lewat peluncuran Home Collection, sebuah tampilan tersendiri yang sepenuhnya didedikasikan untuk art de vivre. Beriringan dengan Objets Nomades, lini Home Collections ini juga menghadirkan rangkaian furnitur dan lighting, dilengkapi jajaran dekorasi, tekstil rumah, peralatan makan, serta perangkat permainan eksklusif.
Pameran dari rumah mode ini menegaskan kembali bagaimana Louis Vuitton merajut dialog harmonis antara sejarah, warisan seni, dan kreativitas tanpa batas yang senantiasa menjadi inti dari DNA rumah mode tersebut.
BACA JUGA:
Selebrasi 130 Tahun Monogram Ikonik Louis Vuitton Mewarnai Setiap Trunk
Louis Vuitton Hidupkan Kembali Dolomites Classic Run Setelah 14 Tahun
(Foto: Courtesy of Louis Vuitton)
