Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Menyimak Manfaat Donor Darah bagi Kesehatan Tubuh Kita

Donor darah tidak hanya menjadi bentuk kepedulian kepada sesama, tetapi juga dapat memberikan sejumlah manfaat bagi pendonor.

Menyimak Manfaat Donor Darah bagi Kesehatan Tubuh Kita
Courtesy of Unsplash/Nguyen Hiep

Donor darah merupakan salah satu bentuk kontribusi sederhana yang dapat membantu pasien yang membutuhkan transfusi darah. Darah yang terkumpul nantinya dapat diproses menjadi berbagai komponen darah, seperti sel darah merah, trombosit, dan plasma, sehingga satu donasi berpotensi membantu lebih dari satu pasien sesuai kebutuhan medis. WHO juga menekankan pentingnya ketersediaan darah yang aman untuk mendukung pelayanan kesehatan.

Tidak hanya bermanfaat bagi penerima, donor darah juga membuat pendonor menjalani serangkaian pemeriksaan sebelum darah diambil. Pemeriksaan tersebut antara lain mencakup kondisi umum, tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, dan kadar hemoglobin. Namun, donor darah tidak berarti menjadi metode untuk “mendetoks” tubuh atau mencegah semua penyakit.

4 Manfaat Donor Darah bagi Penerima dan Pendonor

Donor Darah
Courtesy of Unsplash/Akram Huseyn

Manfaat donor darah paling utama tentu dirasakan oleh orang yang menerima transfusi darah. Dalam kondisi tertentu, transfusi darah bisa menjadi bagian penting dari penanganan pasien, misalnya pada orang yang mengalami kehilangan darah dalam jumlah banyak, menjalani operasi tertentu, memiliki gangguan darah, atau membutuhkan komponen darah tertentu.

Palang Merah Indonesia (PMI) mencatat bahwa kebutuhan darah di Indonesia cukup besar, sehingga ketersediaan pendonor sukarela berperan penting dalam menjaga persediaan darah. Darah yang didonasikan juga akan melalui proses pemeriksaan dan pengolahan sebelum digunakan untuk transfusi.

1. Membantu Memenuhi Kebutuhan Transfusi

Donasi darah yang memenuhi standar bisa menjadi bagian dari persediaan untuk pasien yang membutuhkan. Darah juga dapat dipisahkan menjadi beberapa komponen, sehingga penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien.

Oleh karena itu, manfaat donor darah sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan kesehatan pendonor, tetapi juga memiliki dampak sosial yang besar. Satu kali donor bisa menjadi bagian dari rantai pertolongan bagi pasien yang sedang menjalani perawatan.

2. Pendonor Mendapatkan Pemeriksaan Awal

Sebelum donor, petugas akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan seseorang cukup sehat dan memenuhi kriteria sebagai pendonor. Menurut PMI, pemeriksaan dapat mencakup suhu tubuh, denyut nadi, tekanan darah, dan kadar hemoglobin.

Pemeriksaan tersebut bukan pengganti medical check-up lengkap. Namun, proses skrining dapat membantu mengidentifikasi kondisi tertentu yang membuat seseorang belum aman untuk melakukan donor pada saat itu.

3. Tubuh Mengganti Cairan dan Sel Darah yang Hilang

Ketika melakukan donor darah, sejumlah darah akan diambil dari tubuh. WHO menjelaskan bahwa pada donor darah utuh, volume darah yang diambil umumnya sekitar 450 ml dan kurang dari 10 persen dari total volume darah orang dewasa. Cairan yang hilang akan digantikan tubuh dalam waktu relatif cepat, sedangkan pembentukan kembali sel darah merah membutuhkan waktu lebih lama.

PMI menyebut volume darah dapat kembali dalam waktu sekitar 48 jam, sementara sel darah merah yang hilang dapat digantikan dalam waktu sekitar 4–8 minggu.

4. Bisa Menjadi Bagian dari Kebiasaan Sosial yang Positif

Selain aspek kesehatan, donor darah bisa menjadi bentuk kontribusi kepada masyarakat. Pendonor sukarela membantu menjaga ketersediaan darah sehingga fasilitas pelayanan kesehatan memiliki persediaan yang dapat digunakan saat dibutuhkan.

Meski demikian, donor darah sebaiknya tidak dilakukan hanya karena ingin mendapatkan “manfaat kesehatan”. Prioritas utamanya tetap memastikan darah yang didonasi.

Apa yang Terjadi pada Tubuh Sebelum, saat, dan Setelah Donor?

Donor Darah
Courtesy of Unsplash/Nguyen Hiep

Memahami proses donor dapat membantu Anda mengetahui apa yang normal terjadi pada tubuh dan mempersiapkan diri dengan lebih baik.

1. Sebelum Donor Darah

Tahap pertama adalah pemeriksaan dan wawancara singkat. Petugas dapat menanyakan kondisi kesehatan, riwayat penyakit, penggunaan obat, serta faktor lain yang dapat memengaruhi keamanan donor. WHO menyebut bahwa informasi mengenai kesehatan, obat yang dikonsumsi, perjalanan, dan faktor risiko tertentu dapat ditanyakan untuk melindungi pendonor maupun penerima darah.

Setelah itu, petugas akan melakukan pemeriksaan yang diperlukan, termasuk kadar hemoglobin. Jika kondisi Anda tidak memenuhi persyaratan, donor dapat ditunda.

Karena itu, persiapan sebelum donor darah penting dilakukan. Anda sebaiknya:

  • Tidur cukup pada malam sebelum donor
  • Makan terlebih dahulu dan jangan datang dalam keadaan perut kosong
  • Minum cukup air sebelum donor
  • Hindari melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat sebelum donor
  • Beri tahu petugas jika sedang mengonsumsi obat atau memiliki kondisi kesehatan tertentu
  • Jangan memaksakan diri untuk donor jika sedang sakit atau merasa tidak sehat
  • PMI juga menganjurkan tidur yang cukup, makan sebelum donor, memperbanyak minum, serta tetap rileks selama proses donor.

2. Saat Proses Donor Berlangsung

Setelah dinyatakan memenuhi syarat, Anda akan duduk atau berbaring di tempat yang telah disediakan. Petugas kemudian memasukkan jarum steril ke pembuluh darah, biasanya di area lengan.

Darah yang diambil kemudian dialirkan ke kantong darah khusus. Jumlah dan jenis pengambilan bergantung pada prosedur donor yang dilakukan.

Sensasi yang dirasakan umumnya berupa tusukan singkat saat jarum dimasukkan. WHO menyebut proses donor darah secara umum aman dan rasa tidak nyaman atau masalah selama maupun setelah donor relatif jarang.

Selama proses berlangsung, Anda dapat memberi tahu petugas jika merasa pusing, mual, berkeringat dingin, lemas, atau tidak nyaman.

3. Setelah Donor Darah

Setelah jarum dilepas, area bekas tusukan akan ditekan dan ditutup dengan perban. Jangan langsung berdiri terburu-buru. Beristirahatlah selama beberapa saat dan minum cukup cairan.

Tubuh kemudian mulai melakukan proses pemulihan. Cairan dalam darah akan digantikan lebih cepat, sedangkan produksi sel darah merah membutuhkan waktu beberapa minggu.

Setelah donor, Anda dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari jika merasa baik. Namun, PMI menyarankan untuk menghindari aktivitas fisik berat setelah donor.

Kapan Sebaiknya Menunda Donor?

Courtesy of Unsplash/Edvinas Ivanovas

Jangan memaksakan diri untuk donor ketika sedang tidak sehat. PMI memberikan sejumlah kondisi yang memerlukan penundaan, dengan periode yang berbeda-beda.

Jika sedang demam atau influenza, misalnya, PMI menyarankan menunggu satu minggu setelah sembuh. Setelah cabut gigi, donor ditunda selama lima hari setelah sembuh. Untuk operasi kecil, PMI mencantumkan penundaan enam bulan, sedangkan setelah operasi besar selama satu tahun.

Donor juga perlu ditunda dalam kondisi tertentu, seperti setelah transfusi, tato, tindik, atau tusuk jarum, sesuai periode yang ditentukan PMI. Kehamilan dan masa menyusui juga termasuk kondisi yang perlu diperhatikan.

Selain itu, WHO menyarankan agar orang yang sedang mengalami infeksi, merasa tidak sehat, mengalami anemia, atau berada dalam kondisi tertentu yang dapat membahayakan pendonor maupun penerima tidak melakukan donor sampai dinyatakan memenuhi syarat.

Donor darah tidak sekadar memberikan sebagian darah untuk membantu orang lain, tetapi juga merupakan proses yang perlu dilakukan dengan persiapan dan pertimbangan kesehatan yang tepat. Pastikan Anda sudah makan dan cukup minum, tidur dengan baik, serta memberi tahu petugas mengenai kondisi kesehatan dan obat yang sedang dikonsumsi. Jika belum memenuhi syarat, tidak perlu memaksakan diri, karena keselamatan pendonor dan penerima tetap menjadi prioritas utama.

(Edited by SW)