Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Birkenstock Umah Ubud Menjadi Rumah Bagi Budaya dan Komunitas

Berlokasi di Ubud, Birkenstock membuka pintunya pada cara baru menikmati pengalaman retail, menghadirkan ruang pertemuan antara craftsmanship, kreativitas, budaya lokal, dan filosofi hidup yang selaras dengan ritme Bali.

Birkenstock Umah Ubud Menjadi Rumah Bagi Budaya dan Komunitas

Ada satu kesamaan yang mempertemukan Birkenstock dan Ubud: pemulihan. Ubud berasal dari kata ubad, yang dalam bahasa Bali berarti obat. Sementara itu, selama lebih dari dua abad, Birkenstock mengembangkan alas kaki yang dirancang untuk mendukung cara berjalan alami manusia melalui konsep footbed dan prinsip Naturgewolltes Gehen, atau berjalan mengikuti kehendak alamiah tubuh.

Ketika keduanya bertemu, koneksinya terasa begitu natural.

Bernama Birkenstock Umah Ubud, destinasi terbaru ini bukan sekadar toko, tetapi juga ruang komunitas pertama Birkenstock di Indonesia yang menawarkan pendekatan baru terhadap pengalaman retail. Kata umah, yang berarti rumah dalam bahasa Bali, menjadi kunci untuk memahami gagasan di balik ruang ini. Alih-alih hanya menjadi tempat untuk melihat dan membeli produk, umah dirancang sebagai tempat untuk singgah, bertemu, berbagi, dan mengalami.

Gagasan tersebut diterjemahkan melalui arsitektur karya Yoka Sara dan Iwan Sastrawan. Keduanya menerjemahkan kembali esensi arsitektur tradisional Bali melalui pendekatan yang lebih kontemporer, menciptakan ruang di mana desain, kultur, dan identitas brand dapat menyatu secara harmonis.

“Birkenstock Umah Ubud lebih dari sekadar destinasi retail. Ini adalah cara kami untuk meneruskan semangat Ubud, bukan dengan mempertahankan masa lalu apa adanya, melainkan dengan membiarkannya terus berkembang bagi generasi mendatang.” — Yoka Sara & Iwan Sastrawan


Dari Produk Menuju Pengalaman

Pembukaan Birkenstock Umah Ubud pun tidak berlangsung seperti seremoni retail pada umumnya. Sejak langkah pertama memasuki ruang, budaya Bali telah menjadi bagian dari pengalaman.

Sepasang gapura janur menyambut para tamu di pintu masuk. Terinspirasi dari tradisi anyaman Bali, instalasi ini menerjemahkan bentuk-bentuk organik dari alam ke dalam pendekatan visual yang lebih kontemporer. Ia sekaligus menjadi penanda transisi, dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari menuju ruang yang mengajak pengunjung berhenti sejenak dan hadir sepenuhnya.

Birkenstock Umah Ubud
Fita Anggriani, Dion Wiyoko, Sheila Dara, menghadiri pembukaan Birkenstock Umah Ubud

Nuansa tersebut berlanjut melalui Tari Janur Stawa, sebuah persembahan yang membawa pesan tentang rasa syukur, berkah, serta harmoni antara manusia, alam, dan tradisi. Sementara itu, prosesi Canang Sari menjadi bagian dari pembukaan resmi sekaligus menghadirkan salah satu praktik budaya Bali yang begitu lekat dengan keseharian masyarakatnya.

Rangkaian ini menyampaikan sebuah pesan yang cukup jelas: bagi Birkenstock, membawa budaya Bali ke dalam umah bukan sekadar persoalan estetika, melainkan upaya untuk menciptakan ruang yang memiliki hubungan dengan tempat di mana ia berada.

Semangat tersebut kemudian hadir dalam berbagai aktivitas di dalam umah. Salah satunya adalah Beyond Footprints, instalasi imersif yang mengajak pengunjung berjalan di atas hamparan pasir dan meninggalkan jejak kaki. Sederhana, tetapi selaras dengan filosofi Birkenstock mengenai langkah dan perjalanan. Setiap jejak menjadi pengingat bahwa perjalanan seseorang selalu bersifat personal.

Ada pula Journey Exchange Wall, instalasi yang mengajak pengunjung membagikan cerita dan refleksi melalui berbagai pertanyaan tentang perjalanan hidup. Jawaban-jawaban tersebut kemudian berkumpul menjadi sebuah karya kolektif yang terus berkembang seiring datangnya orang-orang baru.

Di sinilah gagasan tentang komunitas terasa semakin nyata. Umah bukan ruang yang hanya diisi oleh identitas brand, tetapi juga oleh cerita orang-orang yang datang ke dalamnya.

Namun, pengalaman di Birkenstock Umah Ubud tidak berhenti pada aktivitas interaktif. Bagi para pencinta desain dan kolektor, ada satu ruang yang patut disambangi: Craftsmanship and 1774 Pavilion. Di sini, perjalanan Birkenstock diterjemahkan melalui dua sisi yang saling berkesinambungan, dari warisan craftsmanship yang telah menjadi DNA brand hingga interpretasinya yang lebih eksperimental lewat koleksi premium Birkenstock 1774. Menariknya, lini eksklusif ini hanya tersedia di Birkenstock Umah Ubud untuk pasar Indonesia, memberikan alasan lain untuk menjadikan umah lebih dari sekadar destinasi berbelanja.

Ketika Craftsmanship Bertemu Kreativitas Bali

Hubungan dengan komunitas lokal juga diwujudkan melalui kolaborasi dengan seniman dan artisan Bali. Salah satu yang menonjol adalah kolaborasi dengan ilustrator asal Bali, Ode Baskara.

Dikenal melalui pendekatan visual yang ekspresif serta kekuatan storytelling, Ode membawa interpretasinya terhadap budaya dan lanskap Bali ke dalam berbagai elemen umah. Karyanya hadir melalui instalasi cermin, pengalaman doodling interaktif, hingga tote bag eksklusif bagi para tamu.

Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana sebuah brand global dapat memasuki konteks lokal tanpa menghapus karakter tempat yang menjadi rumah barunya. Sebaliknya, umah menjadi ruang untuk mempertemukan dua bentuk craftsmanship: tradisi panjang Birkenstock dan kreativitas kontemporer yang tumbuh dari Bali.

Birkenstock Umah Ubud
Happy Salma berinteraksi dengan salah satu experience saat pembukaan toko

Pendekatan serupa hadir melalui berbagai lokakarya yang terinspirasi dari tradisi tenun Bali. Pengunjung tidak hanya melihat hasil kerajinan, tetapi juga diajak memahami proses di baliknya dan menciptakan sesuatu dengan tangan mereka sendiri.

Sementara itu, Beyond Custom Studio menawarkan pendekatan yang lebih playful melalui sesi Birken Doodling, yang memungkinkan pengunjung mempersonalisasi sandal dan tumbler Birkenstock.

Birkenstock Umah Ubud
Para tamu dapat menambah detail personalisasi koleksi Birkenstocknya

Ada sesuatu yang sangat sesuai dengan semangat Ubud dalam pengalaman tersebut: gagasan bahwa kreativitas tidak selalu harus terburu-buru menghasilkan sesuatu yang sempurna. Ia dapat tumbuh melalui proses, sentuhan tangan, percakapan, dan pengalaman bersama.

Ubud sebagai Titik Temu

Pada akhirnya, Birkenstock Umah Ubud berbicara tentang hubungan. Hubungan antara manusia dan alam, tradisi dan kreativitas, perjalanan dan tempat yang kita singgahi.

Ubud sendiri telah lama menjadi magnet bagi mereka yang mencari bentuk kehidupan yang lebih seimbang. Wellness di sini tidak hanya hadir dalam bentuk yoga, meditasi, atau ritual perawatan tubuh, tetapi juga melalui cara masyarakat merayakan komunitas, seni, makanan, alam, dan spiritualitas sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Birkenstock Umah Ubud
Ruangan serbaguna tempat pertemuan komunitas

Semangat tersebut turut hadir dalam rangkaian pengalaman pembukaan Umah Ubud. Para tamu undangan diajak mengikuti sesi sound healing yang dipandu Fa’ Pawaka, kemudian dilanjutkan dengan kelas yoga hasil kolaborasi bersama Alchemy Yoga.

Birkenstock Umah Ubud
Ruang komunitas terbuka dengan panorama hijaunya Ubud

Pengalaman wellness juga tetap diteruskan melalui sesi singing bowl. Pengunjung diajak berdiri di atas singing bowl berukuran besar dan menutup mata. Saat penjaga toko mulai memainkannya, getaran frekuensi perlahan terasa dari telapak kaki, menciptakan pengalaman yang sederhana tetapi intim.

Ada resonansi yang menarik antara pengalaman tersebut dan filosofi Birkenstock. Alas kaki pada dasarnya adalah sesuatu yang membawa manusia bergerak. Namun di umah, gagasan tentang langkah diperluas menjadi sebuah perjalanan: ke mana kita pergi, siapa yang kita temui, apa yang kita pelajari, dan bagaimana sebuah tempat dapat meninggalkan jejak dalam diri kita.

Sebab, mungkin makna sebuah umah memang bukan semata tentang apa yang ada di dalamnya, melainkan tentang siapa yang datang, cerita apa yang dibawa, dan koneksi apa yang tercipta setelahnya.

(Penulis: Gusti Aditya; Foto: Courtesy of Birkenstock)