Di sebuah kantor megah, yang berada di Palazzo Mignanelli—markas besar nan megah milik maison Valentino di Roma—Direktur Kreatifnya, Alessandro Michele, justru tampak begitu menyatu dengan tempat tersebut. Terasa sedikit ganjil, mengingat kantor megah itu dulunya merupakan sebuah ballroom di piano nobile palazzo, dengan proporsi yang sepadan, langit-langit kayu berkubah dengan detail rumit, dan tampilan yang tak ubahnya salah satu bangunan tambahan Vatikan, seolah siap menjadi lokasi syuting adegan tambahan untuk Conclave.
BACA JUGA: Valentino Garavani Meninggal Dunia di Usia 93 tahun
Ruangan luas tersebut secara khusus dipilih untuk Valentino Garavani—sosok besar yang telah tiada dan dikenal luas dengan penuh hormat sebagai Mr Valentino. Ia memang bukan paus dalam dunia mode, tetapi menurut Women’s Wear Daily, ia adalah “Sheikh of Chic”. Karena itu, menurut mitra bisnisnya, Giancarlo Giammetti, ruangan ini dirancang sebagai “bingkai” yang begitu mengesankan untuk dirinya.
Saat palazzo tersebut direnovasi oleh Tommaso Ziffer dan Massimo Zompa pada 1980-an, Giancarlo menyatakan, “Orang harus tahu bahwa mereka telah tiba di ruang kerja Valentino.” Dan, oh, kesan itu masih terasa hingga hari ini.
Namun, Anda juga bisa melihat bahwa Alessandro bukanlah Valentino. Keduanya tidak memiliki penampilan yang sama—begitu pula dengan gaya desain mereka. Bahkan, keduanya nyaris tak mungkin lebih berbeda. Dengan janggut dan rambut panjang bergelombang yang mengingatkan pada Twelve Disciples, Alessandro, 53, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Kreatif Gucci dan kini telah menjalani dua tahun dalam peran barunya, justru lebih menyerupai sosok santo Renaisans yang penuh ketenangan, yang dahulu menghiasi dinding tinggi studionya, ketimbang arketipe pria Valentino yang selalu tampil necis dalam setelan rapi.
Hari ini, ia duduk di hadapan sebuah lukisan cat minyak yang menggambarkan pemandangan Elysian, nyaris menyerupai latar panggung teater. Ia mengenakan kaus putih dengan tulisan APOLLON dan DYONISOS, dalam rona merah menyala khas yang dikenal di seluruh dunia sebagai Valentino Red.
Kedua dewa tersebut—yang menariknya berasal dari Yunani, bukan Romawi—merepresentasikan dua kutub yang berlawanan: harmoni dan tatanan ilahi di satu sisi, serta hasrat, emosi, dan naluri di sisi lainnya. Valentino jelas berada di kubu pertama; sementara Alessandro berada di tengah-tengah. Sejujurnya, ia bisa dibilang sebagai dewa kekacauan dalam dunia mode. Ia pernah mengirim para model menyusuri selokan Hollywood Boulevard dengan kain satin tipis yang menjuntai, menghadirkan runway layaknya ruang operasi sambil membawa replika kepala mereka sendiri, hingga untuk debut peragaan haute couture Valentino, mendandani para model dalam gaun pesta dengan keindahan yang memukau dan proporsi ala Luchino Visconti, lalu memadukannya dengan topeng yang terinspirasi dari lucha libre.
Ia bahkan telah menggelar presentasi Valentino di dalam replika toilet umum yang pengap dan penuh keringat—sebuah pertunjukan yang sontak mengundang banyak tatapan heran sekaligus memancing kontroversi.
Dua kutub yang saling berlawanan dalam interpretasinya terhadap Valentino terlihat jelas dalam peragaan ready-to-wear musim Fall/Winter 2026 yang spektakuler. Pertunjukan tersebut digelar di lingkungan Palazzo Barberini yang jauh lebih berkelas di Roma, sekaligus menjadi peragaan pertama Alessandro di kota kelahirannya sendiri maupun di kota asal brand tersebut.
Bagi Alessandro, Roma merupakan elemen penting yang membentuk cara pandangnya terhadap mode, begitu pula bagi Mr. Valentino. Namun, keduanya memiliki perspektif yang berbeda terhadap kota ini. “Roma berbicara tentang begitu banyak bentuk keindahan yang berbeda,” ujarnya. “Ada keindahan yang khidmat; luar biasa; megah. Keindahan bahasa Yunani dan Latin yang digunakan para dewi dan dewa, kemegahan marmer pada fontana.” Ia mengaitkan para dewi tersebut dengan sosok perempuan ideal Valentino, yang dibalut sempurna dalam kain sutra plissé yang begitu khas.
“Namun, di sisi lain, ada kekacauan yang tercipta dari begitu banyak lapisan, beragam pesan, dan emosi.”
Jika ada satu hal yang dibawa Alessandro ke dalam Roma Valentino yang begitu sempurna, itu adalah sedikit sentuhan kekacauan yang justru terasa menyegarkan.
Memang, menyusuri Roma menuju Piazza di Spagna, yang berada di bawah bayang-bayang palazzo milik Valentino, serasa melakukan perjalanan lintas waktu dengan kecepatan yang mencengangkan. Arsitektur di sepanjang jalan menghadirkan spektrum sejarah yang begitu luas—mulai dari dunia kuno, era Renaissance, periode Baroque, kemewahan borjuis awal 1900-an, hingga rasionalisme tahun 1930-an—semuanya hadir secara bersamaan. “Rasanya seperti berada di hadapan film Hollywood paling kolosal—dengan anggaran terbesar untuk langit-langit terbesar, ruangan terbesar, jendela terbesar, dan istana terbesar.” Ia tertawa. “Dan juga kekacauan terbesar.” Perpaduan tersebut terlihat jelas dalam busana Valentino yang dirancang Alessandro—jika ada satu hal yang ia bawa ke dalam Roma Valentino yang begitu sempurna, itu adalah sentuhan kekacauan yang menyegarkan.
Mungkin itulah alasan Alessandro menamai koleksi ini Interferenze. Memang, parade kecantikan postmodern yang menampilkan perpaduan tak terduga antara mantel bulu panjang, legging, serta gaun lace dan chiffon yang begitu indah, lengkap dengan untaian perhiasan berbentuk globul, terasa begitu kontras saat melintas di salon-salon berhias fresco yang, menurut Alessandro, ukurannya bahkan lebih luas dari lapangan sepak bola. Semua elemen tersebut seolah tidak pada tempatnya. Namun, judul Interferenze memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar busana. “Cara saya bekerja memang selalu seperti sebuah interferenza atau interferensi,” ujar Alessandro dengan lembut dan penuh pertimbangan. “Dalam 20 tahun terakhir, pekerjaan seorang creative director adalah menjadi sebuah interferenza atau interferensi dalam kisah sebuah brand, dalam karya orang lain. Dan justru itulah yang indah—ketika dua hal yang berbeda dapat berjalan beriringan, bertemu, lalu menciptakan sesuatu yang baru.”
Saya melihat berbagai hal sebagai seorang tamu atau penghuni baru di rumah ini.
Meski Alessandro tampak begitu menyatu dengan lingkungan Valentino, ia sendiri menyadari berbagai dikotomi tersebut, termasuk dalam kesinambungan arah kreatif maison ini. “Pierpaolo dan Maria Grazia adalah keponakan Valentino,” ujar Alessandro mengenai Piccioli dan Chiuri, dua desainer yang memimpin arah kreatif maison antara 2008 hingga 2024—awalnya sebagai duo, kemudian Piccioli seorang diri. Keduanya mulai bekerja di label tersebut pada 1999, tak lama sebelum Alessandro sendiri bergabung dengan Gucci, hingga akhirnya menghabiskan waktu panjang sebagai creative director di sana.
“Saya benar-benar orang baru,” ujar Alessandro menggambarkan posisinya di Valentino, mengingat banyak anggota staf telah bekerja di maison tersebut selama puluhan tahun. “Saya melihat berbagai hal sebagai seorang tamu atau penghuni baru di rumah ini.”
Dari posisi itulah Alessandro dapat menantang persepsi kita tentang Valentino, dengan memadukan sisi edgy dan elegan, serta memelintir gaun malam ikonis dengan sentuhan sederhana seperti sepatu atau sarung tangan yang terasa “salah”, maupun topi yang dikenakan sedikit miring—sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh Mr. Valentino untuk ditambahkan. Namun, ada benang merah yang tak terbantahkan antara sang pendiri dan penghuni barunya ini. Salah satunya adalah glamour, sesuatu yang begitu lekat dengan gaun malam Valentino yang sleek dan nyaris identik dengan maison tersebut.
Bagaimana dengan Alessandro? Dengan koleksi-koleksinya yang pernah mengangkat nuansa geek chic dari The Royal Tenenbaums, glamour mungkin bukan hal pertama yang terlintas. Namun, Alessandro punya pandangan berbeda. “Sejak muda, saya sangat tertarik dengan dunia glamour, mulai dari Hollywood hingga Jean Harlow… Kini saya menyadari bahwa saya juga menyukai glamour dari sudut pandang saya sendiri.” Ia tersenyum. “Saya rasa selama ini saya cukup pemberontak dalam memainkan permainan ini.”
Hollywood menjadi rujukan yang menarik karena sinema juga menjadi salah satu hal yang secara langsung menghubungkan keduanya. Saat menjadi asisten di Jean Dessès pada 1950-an, Valentino kerap membuat sketsa “gaun impian” untuk para aktris pada masanya. Salah satu sketsa pertamanya diberi nama Elizabeth, terinspirasi dari Elizabeth Taylor. Valentino kemudian memang merancang busana untuknya, salah satunya yang paling dikenang adalah gaun pernikahan Taylor dengan Larry Fortensky pada 1991.
Alessandro pun memiliki ketertarikan yang kuat terhadap film. Ibunya bekerja di Cinecittà, studio film ternama di Roma, sebagai asisten seorang eksekutif perfilman. Pengalaman tersebut memperkenalkan Alessandro pada gemerlap Hollywood-nya Italia yang dihuni nama-nama besar seperti Fellini, Rossellini, Bertolucci, dan lainnya termasuk Taylor saat membintangi Cleopatra karya Mankiewicz pada 1963. Sang ibu bahkan kerap bercerita kepada Alessandro tentang pengalamannya berpapasan dengan Taylor di berbagai kedai kopi di Roma.
Karena itu, Alessandro mengibaratkan dirinya seperti seorang sutradara film. “Saya rasa, saya berusaha menciptakan dan membuat sebuah film tentang sebuah dunia,” ujarnya. “Saya selalu melihat gambaran besarnya.” Dan seperti seorang sutradara, ia melihat perannya sebagai upaya untuk “menciptakan sesuatu yang baru melalui naskah ini.”
Meski terdengar tak terduga, tak dapat disangkal bahwa Valentino versi Alessandro justru berakar pada narasi yang ditulis sang pendiri, jauh lebih kuat dibandingkan para pendahulunya. “Saya tidak merasa bersalah mengambil berbagai hal,” ujarnya. Karena itu, ia menelusuri arsip maison, mengangkat kembali berbagai referensi dari era kejayaan Valentino pada 1980-an yang tak pernah berhenti membuatnya terpesona.
Dalam koleksi pertamanya, berbagai elemen yang merujuk langsung pada arsip tampil dalam perpaduan yang eklektik, mulai dari gaun lace ringan hingga jaket berhias sequins Coromandel. Sebagai catatan, versi Valentino hadir enam tahun lebih awal dibandingkan karya Karl Lagerfeld untuk Chanel. Sementara itu, dalam debut haute couture-nya, Alessandro menghadirkan kembali gaun tulle merah beraksen ruffle dalam skala spektakuler, yang sebelumnya diabadikan oleh Deborah Turbeville pada 1977.
Pada sejumlah look lainnya, Alessandro memadukan bodice draped yang begitu indah dari gaun malam Valentino dalam Bonfire of the Vanities dengan jeans, atau menjadikan blouse lace tipis bergaya lady-who-lunches sebagai atasan untuk celana dalam Y-front bernuansa grunge yang dikenakan seorang pria.
Alessandro lahir pada 1972 dan tumbuh besar di Roma. Ia masih mengingat momen ketika pertama kali melihat Mr. Valentino pada usia 13 tahun, saat sang desainer tengah menggendong anjing pug-nya dan terlihat dari balik jendela McDonald’s yang baru dibuka di Piazza di Spagna. Bukankah kontras high-low semacam ini pula yang membuat karya Alessandro begitu memikat? “Rasanya seperti sebuah epifani,” ujarnya, mengenang pertemuan tak terduga tersebut. “Seperti melihat seorang dewa.”
Mr. Valentino memang—dan hingga kini tetap—begitu dihormati di kota yang kemudian menjadi rumahnya. Ia sebenarnya tumbuh di Voghera, Lombardy, sekitar 300 mil jauhnya, tetapi berkat tekadnya yang kuat, ia menjadi salah satu couturier paling identik dengan Roma, hingga namanya tak terpisahkan dari Eternal City. Ketika sang desainer meninggal dunia pada Januari di usia 93 tahun, pemakamannya digelar dengan skala dan seremoni layaknya seorang tokoh negara.
Sebagai bentuk penghormatan, Alessandro membuka pertunjukan haute couture berikutnya dengan gaun column ramping dalam warna Valentino Red. Presentasi ready-to-wear di Roma kemudian ditutup dengan gaun serupa yang sekilas tampak seperti menghidupkan kembali kreasi Valentino terdahulu, meski sebenarnya bukan. “Gaun itu terlihat begitu Valentino,” ujarnya. “Saya memikirkan era ketika Elsa Peretti bekerja dengan Tiffany—siluetnya harus sangat organik dan chic, tetapi juga seksi, karena tubuh yang berada di dalamnya benar-benar terasa. Saya ingin mengatakan bahwa ini bukan sekadar warna, melainkan sebuah pernyataan, sebuah state of mind, cara hidup, cara Anda ingin terlihat, dan bagaimana perempuan pada masa itu tampil… Tidak ada apa-apa, hanya sepasang anting dan gaun tersebut. Dan itu sebenarnya bukan saya.”
Menghadapi warisan sebesar itu tentu bukan perkara mudah. Meminjam referensi lain dari Roma, seorang desainer seperti Alessandro harus menjadi Janus, menatap masa lalu sekaligus masa depan dalam waktu yang bersamaan. Mungkin ia juga sesekali menoleh ke belakang, melihat reaksi Valentino dan Giancarlo yang sama-sama menjadi sosok besar dalam bayang-bayang maison ini. Giancarlo menghadiri pertunjukan Alessandro untuk Valentino dan memberikan tepuk tangan meriah. Sementara Valentino terlalu sakit untuk hadir secara langsung, Alessandro tetap dapat merasakan kehadirannya. “Rasanya sangat aneh bahwa ia sudah tidak lagi bersama kita.”
Saya belum pernah berada di sebuah brand yang begitu kuat dalam hal kreativitas.
Apakah Alessandro pernah mencari persetujuan dari Valentino? Alessandro terdiam sejenak, lalu merenung. “Mungkin itu terjadi secara tidak sadar,” ujarnya perlahan. “Saya akan mengatakan iya, karena mengetahui bahwa Mr. Valentino mungkin sedang menyaksikan pertunjukan tersebut… Saya selalu merasa sangat bebas sekaligus sangat terhubung dengan apa yang saya kerjakan, tetapi saya rasa, secara tidak sadar, ada sesuatu yang berlangsung di dalam diri saya. Dan, seperti yang Anda tahu, terkadang hal-hal seperti itu justru lebih kuat daripada apa yang kita sadari.”
Wajar jika kemudian muncul pertanyaan tentang apa yang Alessandro warisi dari Valentino, baik secara estetika maupun filosofis. “Ia mendirikan brand ini dan benar-benar menunjukkan kepada dunia kekuatan imajinasi, kreativitas, sebuah warna, serta sebuah sikap. Rasanya seperti kekuatan dari detail-detail kecil yang hadir di tengah fresco-fresco megah ini. Saya belum pernah berada di sebuah brand yang begitu kuat dalam hal kreativitas.”
BACA JUGA:
Alasan Mengapa Valentino Didaulat Sebagai Sosok Ikon yang Tak Tergantikan Era & Tren
Alessandro Michele Meninggalkan Gucci
(Penulis: Alexandra Fury; Artikel ini disadur dari: BAZAAR UK; Alih bahasa: Kirana Anindya; Foto: Courtesy of BAZAAR UK)
