Banyak dari kita tentu sudah akrab dengan keajaiban golden hour—momen singkat sesaat sebelum matahari terbit dan menjelang matahari terbenam, ketika suasana di sekitar tampak lebih hangat, lembut, dan sedikit berbaur, dengan matahari berada rendah di cakrawala.
BACA JUGA: Menelusuri Warisan Selama Dua Abad di Guerlain Perfumer Visionary Since 1828
Meski golden hour begitu dipuja dan dinantikan oleh fotografer profesional maupun amatir, ada satu momen yang tak kalah memikat namun kerap luput dari perhatian: blue hour. Terjadi sebelum matahari terbit dan setelah matahari terbenam, blue hour menghadirkan pesona yang lebih moody, sejuk, dan singkat, biasanya berlangsung tak lebih dari 40 menit. Ada sesuatu yang istimewa ketika langit perlahan berubah menjadi biru, menghadirkan ketenangan sekaligus ruang untuk refleksi mendalam—sebuah harmoni yang secara harfiah diabadikan Guerlain dalam wewangian terbarunya, L’Heure Bleue Eau de Parfum.
Guerlain L’Heure Bleue Eau de Parfum.
Parfum L’Heure Bleue pertama dari Maison ini diciptakan pada musim panas 1912 oleh perfumer asal Prancis, Jacques Guerlain, saat berjalan menyusuri jembatan Pont Neuf di Paris. Pemandangan singkat kota yang diselimuti langit biru monokromatik dan Sungai Seine saat senja menginspirasinya untuk mengabadikan ketenangan yang ia rasakan melalui wewangian—sebuah misi yang kini kembali diteruskan Jacques lewat peluncuran parfum feminin pertamanya dalam 10 tahun.
Meski parfum yang telah berusia lebih dari satu abad tersebut dan wewangian terbaru Guerlain memiliki nama yang sama serta menghadirkan nuansa serupa, Delphine Jelk, Guerlain’s Director of Perfume Creation, menjelaskan bahwa L’Heure Bleue versi terbaru bukanlah reinterpretasi dari pendahulunya.
“Guerlain masih bertahan hingga hari ini karena sejak awal selalu menjadi Maison yang berani dan inovatif,” ujar Delphine kepada Bazaar. “Jika Jacques Guerlain menciptakan L’Heure Bleue pada 2026, seperti apa hasilnya? Karena itu, saya tidak menyebutnya sebagai modernisasi atau reinterpretasi, melainkan sebuah penghormatan. Hal ini sangat penting bagi saya karena L’Heure Bleue 1912 adalah sebuah mahakarya.”
Tampilan mood board L’Heure Bleue karya Delphine Jelk di laboratorium Guerlain di Paris.
Model Abby Champion menjadi bintang dalam kampanye wewangian tersebut.
Bagi Delphine, L’Heure Bleue pertama memiliki karakter yang lembut dan membalut, sekaligus merepresentasikan sisi feminin yang tenang namun kuat—berbeda dari banyak wewangian yang tersedia saat ini. Melalui versi terbarunya, ia ingin menghadirkan kelembutan dan kekuatan batin yang serupa, kali ini melalui perspektif yang sepenuhnya feminin.
Proses penciptaan L’Heure Bleue Eau de Parfum versi terbaru yang memadukan aroma amber-floral tentu berbeda dari versi orisinalnya, meski tetap mempertahankan bentuk botol hati terbalik dengan siluet angular yang menjadi ciri khas parfum pertama. Untuk menghadirkan sensasi udara yang sejuk dan kesan bergetar yang kerap diasosiasikan dengan blue hour, Delphine dan tim menggunakan ozonic accord khas Maison yang memadukan molekul Cascalone dan blue sky accord sebagai top note.
Pada bagian heart, aroma orange blossom berpadu dengan iris butter eksklusif Guerlain serta tincture yang berasal dari rimpang dan membutuhkan waktu tiga tahun untuk dikembangkan, sekaligus berkontribusi pada warna biru khas wewangian ini. Tincture tersebut dibuat menggunakan teknik warisan Maison yang telah diterapkan selama puluhan tahun, dengan merendam bahan dalam alkohol untuk mengekstraksi aromanya. Saat memasuki fase dry down, perpaduan vanilla, ambroxan, dan musk menjadi fondasi yang menjaga jejak aromanya tetap bertahan sekaligus menghadirkan karakter yang begitu memikat.
Tiga edisi terbatas casing lipstik Rouge G hadir melengkapi peluncuran L’Heure Bleue, bersama sabun beraroma.
“Saya menyukai gagasan tentang kebersihan ini. Lucunya, blue sky accord memiliki kesegaran seperti langit, tetapi juga menghadirkan aroma yang sangat bersih, seperti cucian yang baru dicuci, dan saya menyukainya. Karena parfum ini memiliki daya tahan yang sangat lama, aroma vanilla perlahan muncul bersama iris dan ambroxan yang terasa begitu menyatu dengan kulit. Saya rasa, ketika meninggalkan kantor, Anda akan merasa sensual dan seksi untuk sebuah kencan.”
Selain menghadirkan kesan bersih dan daya tarik olfaktori yang khas, L’Heure Bleue karya Delphine dirancang untuk memberikan rasa perlindungan dan ketenangan bagi pemakainya, layaknya lapisan kedua bagi kulit. “Bagi saya, sepatu hak tinggi memberikan kepercayaan diri, tetapi parfum memberikan perlindungan,” ujarnya. “Artinya, ketika mengalami momen sulit sepanjang hari, Anda selalu bisa kembali pada kemeja, sweater, atau syal yang dikenakan dan merasa lebih baik saat mencium aroma parfum tersebut.”
L’Heure Bleue juga merayakan gagasan bahwa segala sesuatu mungkin terjadi, terutama pada momen istimewa di antara siang dan malam yang terasa begitu indah dan puitis. Berbeda dari sejumlah wewangian yang dirancang genderless, Delphine menegaskan bahwa parfum ini memang secara khusus diciptakan untuk perempuan, sekaligus mematahkan anggapan bahwa warna biru hanya identik dengan laki-laki. “Kami bukan sekadar feminin, meskipun kami menyukai hal-hal yang sangat feminin,” lanjutnya. “Kami jauh lebih kompleks dari itu, dalam arti yang positif. Saya menyukai gagasan untuk menciptakan sesuatu bagi para perempuan seperti saya.”
BACA JUGA:
Menyimak Segudang Elevasi Guerlain Abeille Royale Youth Watery Oil Serum
Guerlain Umumkan Song Hye-Kyo Sebagai Duta Global
(Penulis: Tiffany Dodson Davis; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Kirana Anindya; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
