Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Menelusuri Warisan Selama Dua Abad di Guerlain Perfumer Visionary Since 1828

Mulai dari Mile Phakphum, Catriona Gray, sampai Mikha Tambayong tampak terpukau dan menikmati penjelajahan ke warisan Guerlain yang berlangsung di Bangkok ini.

Menelusuri Warisan Selama Dua Abad di Guerlain Perfumer Visionary Since 1828
(Layout: Adzkia Asakiinah)

Ada alasan mengapa sebuah wewangian dapat bertahan melampaui zaman. Bukan hanya karena aromanya, tetapi juga di dalamnya ada nilai, keahlian, serta visi yang terus dijaga dan diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Semangat tersebutlah yang akhirnya menjadi benang merah dari ekshibisi terbaru persembahan rumah kecantikan asal Prancis, Guerlain lewat tema utama yang dipresentasikan, yakni Guerlain Perfumer Visionary Since 1828.

Sukses terselenggara beberapa saat yang lalu di One Bangkok, Thailand, pameran ini bisa dikatakan sebagai puncak perayaan hampir dua abad perjalanan dari salah satu label kecantikan tertua di dunia ini. 

Guerlain Perfumer Visionary Since 1828.
(Foto: Courtesy of Guerlain)

Layaknya menikmati sebotol parfum yang punya layer aroma dari top notes hingga ke base notes, pengalaman menjelajah ekshibisi Perfumer Visionary Since 1828 juga  dirancang sedemikian rupa. Setiap ruang seolah menyingkap cerita bagaimana Guerlain membangun dinastinya, mulai dari akar sejarahnya, proses kreatif di balik setiap kreasi parfum, hingga para artisan yang menjaga tradisi Guerlain tetap hidup.

Guerlain Perfumer Visionary Since 1828.
(Foto: Courtesy of Guerlain)

Terbagi menjadi beberapa ruangan, perjalanan diawali dari sebuah ruang yang membawa pengunjung untuk memahami dulu warisan Guerlain. Dengan aset-aset yang dikirim langsung dari Prancis, kita diajak untuk melihat deretan kreasi ikoniknya. Misalnya seperti bagaimana cikal-bakal lahirnya Bee Bottle dari Eau de Cologne Impériale yang ternyata awalnya diciptakan oleh Pierre-François-Pascal Guerlain untuk Permaisuri Eugénie, istri Napoleon III sebagai tanda penghormatan diplomatik dan persahabatan antara Prancis dan Inggris.

Guerlain Perfumer Visionary Since 1828.
(Foto: Courtesy of Guerlain)

Kemudian dipamerkan juga kreasi pulas bibir perdana Guerlain hasil karya Aimé Guerlain, Ne m'oubliez pas sebagai lipstik pertama di dunia yang dikemas dalam wujud tabung dan hadir dalam wadah yang dapat diisi ulang (refillable). Perjalanan pun terus berlanjut, melewati berbagai era hingga tiba di lini masa saat ini, dengan tongkat estafet yang saat ini sedang dipercayakan kepada Master Perfumer generasi kelima, Thierry Wasser.

Namun, Guerlain tidak hanya menciptakan parfum. Kami juga menghadirkan koleksi makeup dan skincare.

Guerlain Perfumer Visionary Since 1828.
(Foto: Courtesy of Guerlain)

“Pameran ini memberikan perspektif yang lebih utuh tentang siapa Guerlain yang sebenarnya sebagai sebuah beauty house. Saya memang seorang perfumer, begitu pula empat generasi Master Perfumer sebelum saya: Jacques, Jean-Paul, dan para pendahulu lainnya. Namun, Guerlain tidak hanya menciptakan parfum. Kami juga menghadirkan koleksi makeup dan skincare. Itulah mengapa penting bagi kami untuk menegaskan bahwa Guerlain adalah sebuah beauty house dan bukan sekadar perfume house,” cerita Thierry secara personal kepada saya saat kami duduk untuk berbincang lebih dalam mengenai tonggak baru ini.

Guerlain Perfumer Visionary Since 1828.
(Foto: Courtesy of Guerlain)

Perjalanan terus berlanjut ke ruang berikutnya, di kesempatan yang istimewa ini kami juga turut menyaksikan sendiri manifestasi dari keahlian yang telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan Guerlain lewat hadirnya dua orang Dames de Table. Bagi yang belum familiar,  Dames de Table adalah julukan yang diberikan untuk sekelompok kecil artisan terpilih yang berbasis di Orphin, Prancis yang telah dilatih untuk menghias botol parfum Guerlain yang dieksekusi secara presisi. Dengan total hanya ada enam orang Dames de Table yang menguasai teknik luar biasa ini di seluruh dunia, setiap mahakarya botol Guerlain disegel sepenuhnya dengan keahlian tangan, sebuah proses yang bukan hanya memastikan kualitas dan keutuhan isinya, tetapi juga menjadi simbol atas dedikasi Guerlain terhadap seni craftsmanship.

“Salah satu bagian terpenting dalam pameran ini adalah ketika kami memperlihatkan craftsmanship di balik setiap botol Guerlain. Pengunjung dapat menyaksikan langsung proses penyegelan dan sentuhan akhir yang dikerjakan sepenuhnya dengan tangan oleh para Dames de Table. Setiap botol memiliki jenis tali dan simpul yang berbeda, misalnya simpul untuk botol Shalimar tidak akan sama dengan botol Flacon Quadrilobé, begitu pula dengan koleksi parfum Guerlain lainnya. Karena itu, para artisan kami harus menguasai setiap teknik tersebut dengan presisi,” imbuh Thierry.

Guerlain Perfumer Visionary Since 1828.
(Foto: Courtesy of Guerlain)

Setelah puas mengagumi salah satu proses paling kompleks di balik layar pembuatan sebuah parfum, pengunjung lalu diajak untuk beralih ke ruang selanjutnya yang ternyata merupakan zona di mana kita dapat mengeksplor lebih dekat L’Art et La Matière, salah satu koleksi wewangian yang merepresentasikan visi kontemporer Guerlain dalam dunia haute parfumerie. Di sinilah label asal Prancis tersebut dengan bangga memamerkan bagaimana bahan baku paling berharga diolah menjadi komposisi wewangian yang khas dan penuh karakter. Deretan karya parfum paling ikoniknya seperti Pêche Mirage yang kebetulan juga merupakan parfum favorit artis Indonesia, Mikha Tambayong yang turut berangkat bersama kami, Néroli Outrenoir, hingga Angélique Noire, dan masih banyak lagi terpampang siap untuk menyentuh hati dan indra penciuman.

Guerlain Perfumer Visionary Since 1828.
(Foto: Courtesy of Mikha Tambayong)

Kalau di ruang sebelumnya set lampu dan interior dirancang dalam palet warna putih, bersih dan bercahaya, maka di ruang selanjutnya nuansa kontras dalam balutan rona serba hitam seolah mengambil alih indra penglihatan para pengunjung. “Have you ever listened to a perfume?” Kemudian jadi pertanyaan pembuka yang membuat kami secara tidak sadar mengerutkan kening tanda kami berpikir keras saat melangkah masuk ke ruang yang diberi tajuk Olfactory Symphonies.

Ternyata Guerlain mencoba untuk mengundang pengunjung untuk menikmati wewangian dengan cara yang tak biasa. Ruang ini berpusat pada Guerlinade, enam signature accord (bergamot, mawar, melati, iris, vanila, dan tonka bean) yang selama ini jadi benang merah dan fondasi dari berbagai kreasi parfum ciptaan Guerlain. Di ruang ini, komposisi aroma tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam lanskap suara dan permainan ritme. Setiap akor dan notes parfum seolah memiliki “suaranya” sendiri, memungkinkan pengunjung untuk tidak hanya mencium, tetapi juga “mendengarkan” sebuah wewangian.

Guerlain Perfumer Visionary Since 1828.
(Foto: Courtesy of Guerlain)

Setelah menyusuri ruang demi ruang yang menyimpan segudang cerita, Guerlain turut menghadirkan sebuah butik dan kafe yang terinspirasi dari filosofi art de vivre. Berkolaborasi dengan brand lokal Thailand, Silpin, keduanya menyatukan ide dan memperkenalkan menu eksklusif berupa hidangan penutup dan minuman yang terinspirasi dari kekayaan aroma khas Thailand. Perkawinan ide ini diakui keduanya sebagai perayaan dari koneksi antara cita rasa, aroma, dan seni dalam satu harmoni yang utuh.

Tidak hanya mujur mendapat peluang untuk berbincang dengan Master Perfumer generasi kelima yang uniknya juga menjadi pionir yang berasal dari luar keluarga Guerlain, di perjalanan ini saya turut berkesempatan untuk berbagi dialog dengan Guerlain Director of Art, Culture & Heritage and Artistic Director, Ann-Caroline Prazan. Telah menjadi "penjaga warisan" sejak bergabung dengan Guerlain kurang lebih 25 tahun yang lalu, Ann turut menyambut antusias kehadiran ekshibisi yang menyingkap perjalanan Guerlain untuk kawasan Asia Tenggara. “Sejak 1828, Guerlain selalu berani mendorong batasan dan merevolusi industri kecantikan. Namun, setiap inovasi yang kami ciptakan selalu berakar pada sejarah dan warisan yang kami miliki. Bagi kami, masa lalu bukanlah sesuatu yang ditinggalkan, melainkan fondasi yang terus memberi kehidupan bagi kreasi-kreasi di masa depan.”

Saksikan juga rekap keseruan dari Guerlain Perfumer Visionary Since 1828:

Serta bincang-bincang singkat kami bersama Mile Phakphum yang tampak antusias turut menghadiri acara ini: