Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Gaya Yayoi Kusama Sungguh Luar Biasa dan Memukau

Ekspresi dirinya melampaui batas antara seni dan fashion.

Gaya Yayoi Kusama Sungguh Luar Biasa dan Memukau
FOTO: COURTESY OF BAZAAR US

Pada tahun 2014, The Art Newspaper menyebut Yayoi Kusama sebagai seniman paling populer di dunia. Dalam beberapa dekade terakhir, Yayoi Kusama yang kepergiannya baru-baru ini diumumkan pada usia 97 tahun,  meraih ketenaran berkat instalasi Infinity Mirror Rooms-nya yang ramah selfie dan interpretasi khasnya atas titik-titik polka dot, meskipun tahun-tahun awalnya ditandai dengan kecenderungan yang lebih progresif. Namun penampilannya sendiri, yang sering terdiri dari gaun bertitik-titik yang dipadukan dengan wig bob merah cerah, mungkin sama terkenalnya. Selera gaya Yayoi Kusama begitu kuat sehingga mengaburkan batas antara seni dan fashion, dan sebagai hasilnya, memberikan pengaruh besar pada keduanya.

Lahir di Jepang pada tahun 1929, Yayoi Kusama mulai membuat karya seni sejak kecil. Ia dengan cepat mengembangkan selera gaya yang sering mencerminkan apa pun yang sedang ia ciptakan, serta pemahaman bahwa ia bisa menggunakan fashion sebagai alat dalam karyanya. Setelah beremigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1957, sang seniman merekam dirinya berjalan melewati New York mengenakan kimono bunga merah muda untuk pertunjukan Walking Piece tahun 1966-nya, mengomentari pengalamannya sebagai orang luar di kota baru. Seiring fokusnya berkembang, begitu pula cara berpakaiannya. Di akhir tahun '50-an, saat mengerjakan seri Infinity Nets-nya yang sederhana secara radikal, terdiri dari lukisan abstrak besar dengan sapuan kuas yang tak berujung. Yayoi Kusama lebih menyukai tailoring dan gaun monokromatik yang sederhana. Namun untuk instalasi merah-putih Infinity Mirror Room – Phalli's Field, seri pertama yang dipresentasikan pada tahun 1965, ia mengadopsi unitard merah agar pada dasarnya menjadi bagian dari karya tersebut.

BACA JUGA: Pameran Terbesar Yayoi Kusama Hadir di NGV Melbourne

FOTO: COURTESY OF BAZAAR US
Yayoi Kusama melukis tubuh salah satu modelnya untuk seni pertunjukan

Setelah membuat kostum untuk seni pertunjukannya, sang seniman meluncurkan Kusama Fashion Company Ltd. pada akhir tahun '60-an. Perusahaan ini menarik begitu banyak perhatian hingga Bloomingdale's membuka ruang ritel khusus "Kusama Corner" di New York. Yayoi Kusama membuat segalanya mulai dari busana harian bertitik-titik hingga busana yang lebih provokatif dengan lubang-lubang tongue-in-cheek yang mengungkapkan bagian tubuh intim pemakainya. Selama masa itu, ia terus merancang busana untuk digunakan dalam karyanya, termasuk gaun "orgy" yang mengakomodasi beberapa orang, dan gaun "phallic" dengan permukaannya yang dipenuhi tonjolan-tonjolan berisi. Semuanya adalah komentar tentang pembebasan seksual dan pertunjukan gender. Menjelang akhir abad ke-20, Yayoi Kusama mengeksplorasi simbolisme aksesori seperti topi dan sepatu, masing-masing dirender dalam motif ikonik dan repetitifnya. Bagi sang seniman, penutup kepala mendorong batas-batas identitas, sedangkan sepatu hak tinggi mempertanyakan gagasan tentang pemberdayaan sekaligus pemenjaraan.

FOTO: COURTESY OF BAZAAR US

Dalam dunia seni rupa, Yayoi Kusama akan dikenang karena menangkap halusinasi repetitifnya dan mentransposisikannya ke dalam karyanya melalui pola-pola tak berujung yang sering kali melampaui kanvas. Banyak motifnya mengacu pada benda-benda langit, menampilkan matahari dan bulan yang tersebar di ruang yang tampaknya tak terbatas. Ia menutupi ruangan, benda, dan manusia, baik yang telanjang maupun berpakaian dalam pengulangan ini. Namun susunan bola-bola berukuran beragam adalah motifnya yang paling mudah dikenali. Dalam mendefinisikan ulang polka dot, Yayoi Kusama pada dasarnya menciptakan motif signature-nya sendiri. 

FOTO: COURTESY OF BAZAAR US
Kolaborasi Yayoi Kusama x Louis Vuitton 2023

Mungkin kontribusi sang seniman yang paling berkesan di dunia fashion adalah melalui kolaborasinya dengan Louis Vuitton, yang pertama diluncurkan pada tahun 2012 saat Marc Jacobs, yang mempopulerkan gagasan kolaborasi silang antara fashion dan seni berada di pucuk pimpinan. Marc mengambil polka dot Yayoi Kusama dan menyelimutinya di atas pakaian, aksesori, dan yang paling terkenal, tas tangan dari rumah mode Prancis tersebut. Louis Vuitton merilis iterasi lain dari kolaborasi ini, bersama serangkaian pop-up di dalam toko, pada tahun 2023. (Yayoi Kusama juga berkolaborasi dengan Lancôme untuk lip gloss edisi terbatas pada tahun 2011 dan dengan X-girl untuk koleksi kapsul bertitik-titik pada tahun 2017.)

FOTO: COURTESY OF BAZAAR US
Instalasi Yayoi Kusama x Louis Vuitton di Paris pada tahun 2023

Ekspresi diri Yayoi Kusama melampaui batas antara seni dan fashion. Dalam beberapa tahun terakhir, ia terus merancang pakaiannya sendiri, mentransposisikan karya seninya ke atas kain lalu memadukan busananya dengan wig berwarna cerah yang khas. Dengan melakukan itu, ia menjadi karikatur dari dirinya sendiri dengan cara yang mirip dengan ikon seperti Karl Lagerfeld dan Iris Apfel, dengan gantungan kunci dan ornamen Natal bergambar dirinya kini menjadi hadiah yang populer. Untuk kolaborasi tahun 2023-nya, Louis Vuitton bahkan menciptakan struktur bertingkat yang menggambarkan sang seniman melukis titik-titiknya di bagian luar toko-tokonya. Berkat gaya radikalnya, warisan Yayoi Kusama jauh melampaui kehidupan.

BACA JUGA: 

Ini Koleksi Terbaru Louis Vuitton Bersama Yayoi Kusama yang Menebar Kebahagiaan

Yayoi Kusama: Life is The Heart of A Rainbow

(Penulis: Camille Freestone; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Graceilla Alexandra; Foto: Courtesy of BAZAAR US)