Apakah “lagu musim panas” masih benar-benar ada? Setiap tahun, perdebatan selalu muncul soal lagu apa yang paling mewakili musim tersebut, dan secara historis biasanya ada satu kandidat yang jelas unggul, entah “I Gotta Feeling” pada 2009, “Despacito” pada 2017, atau “Old Town Road” pada 2019. Bahkan beberapa musim panas lalu, hampir mustahil pergi ke mana pun tanpa mendengar seseorang bersenandung soal “that me espresso.”
BACA JUGA: Dakota Johnson Tampil Sebagai Cameo untuk Lagu Baru Milik Role Model
Namun, seiring lanskap musik terus berkembang, selera pendengar juga semakin terpecah. Mereka yang mendapat rekomendasi musik dari potongan singkat di TikTok dan Instagram Reels bisa saja mendengar lagu-lagu yang sama sekali berbeda dari mereka yang masih mengandalkan format klasik seperti radio. Bahkan tiap platform streaming, dengan algoritmanya masing-masing, dapat memberikan gambaran berbeda tentang lagu apa yang sedang paling populer.
Jika hanya mengacu pada performa tangga lagu, “lagu musim panas” tahun ini tanpa diragukan lagi adalah “Choosin’ Texas” milik Ella Langley. Lagu nomor satu pertama dari penyanyi sekaligus penulis lagu country tersebut telah menghabiskan 19 minggu tidak berturut-turut di puncak Billboard Hot 100, menyamai rekor sebagai lagu nonliburan terlama yang bertahan di posisi pertama. Meski popularitasnya begitu besar, ketika saya menyebutkan judulnya kepada rekan-rekan kerja yang sangat mengikuti budaya pop, beberapa bahkan belum pernah mendengarnya. Sementara itu, musim panas ini juga diwarnai rilisan dari sejumlah bintang pop besar, termasuk Olivia Rodrigo, Charli XCX, Ariana Grande, dan Drake. Intinya, perhatian kita kini ditarik ke begitu banyak arah, dan sering kali tidak ke arah yang sama.
Namun, mungkin justru di situlah keindahan industri musik saat ini. Selera kita memang dapat dipengaruhi banyak platform, tetapi pada akhirnya kita tetap memiliki kuasa untuk mengkurasi apa yang ingin didengar. Karena itu, ketika diminta memilih lagu musim panas, para editor Harper’s Bazaar memberikan jawaban yang sangat beragam.
Berikut pilihan personal staf kami untuk lagu musim panas 2026.
“Stupid Song,” Olivia Rodrigo
Pada singel pertamanya, Olivia Rodrigo menggunakan tonggak masa remaja berupa mendapatkan SIM sebagai cara untuk meratapi berakhirnya hubungan serius pertamanya. “You said forever, now I drive alone past your street,” nyanyinya dengan sendu di usia 17 tahun. Kini, dengan lebih banyak pengalaman dan kedewasaan, Olivia tentu tak lagi begitu asing dengan lika-liku dunia kencan. Namun, dalam “Stupid Song,” ia mulai melaju terlalu cepat dan sadar bahwa dirinya tak punya cara untuk berhenti. “I’m a car speeding down the boulevard without a brake,” serunya dalam singel ketiga dari album barunya yang luar biasa, You Seem Pretty Sad for a Girl So in Love.
Kini berusia 23 tahun, Olivia memang selalu punya kemampuan kuat untuk menangkap perasaan anak muda yang sulit dikendalikan. Dalam “Stupid Song,” jatuh cinta terasa sama menakutkan dan tak tertahankan. Ia seolah terurai, meleleh, “aflame,” dan merasa “nobody’s wanted somebody more.” Lagu ini dimulai sebagai balada piano lambat sebelum berkembang menjadi pop-rock yang melaju kencang, membawa pendengar dari nol hingga 60 hanya dalam tiga setengah menit. Seperti keseluruhan albumnya, lagu ini dengan sangat baik menangkap bagaimana jatuh cinta bisa terasa euforia sekaligus begitu menguasai diri. Olivia mungkin menginginkan seseorang lebih dari “any stupid song could ever say,” tetapi lagu ini tetap berhasil merangkum perasaan itu dengan sangat tepat. Sejak dirilis pada Juni, saya terus memutarnya berulang kali. —Joel Calfee, assistant editor
“Sexy Nana,” Aya Nakamura dan La Rvfleuze
Fakta bahwa “Sexy Nana” milik Aya Nakamura sepenuhnya berbahasa Prancis tetapi tetap menjadi salah satu lagu yang paling sering saya putar dalam beberapa bulan terakhir sudah cukup menjelaskan seberapa viral lagu ini. Saya pertama kali menemukannya lewat TikTok dan langsung terpikat pada beat-nya yang catchy serta kepercayaan diri Aya yang begitu tak terbendung saat membawakan setiap bait. Entah Anda fasih berbahasa Prancis atau tidak, lagu ini tetap mampu membuat Anda merasa seperti sosok paling seksi dan paling tak tersentuh di muka bumi. Apa lagi yang dibutuhkan dari sebuah lagu musim panas? —Tiffany Dodson Davis, beauty commerce editor
“Call Security,” Chxrry
Chxrry adalah salah satu bintang pop pendatang baru yang patut diperhatikan. Sebagai perempuan pertama yang bergabung dengan label XO milik The Weeknd, namanya mulai meledak di halaman For You TikTok lewat “Main Character” tahun lalu. Awal musim panas ini, ia semakin mengukuhkan dirinya sebagai salah satu bintang baru favorit internet lewat album studio pertamanya, U, Me & My Ego, serta lagu favorit penggemar, “Call Security.” Visual lagunya semakin mempertegas karakter kuat tersebut, hanya Chxrry, egonya, dan pistol air biru di sebuah mansion suburban bergaya Tuscan era 2000-an. Percayalah, Anda akan terpukau seperti saya, lalu memutar lagu ini tanpa henti selama berminggu-minggu. Saya ingin dirinya, dan lagu ini, ada di mana-mana. —Zizi Strater, social media manager
“Questions,” Maisie Peters
Saya sudah menjadi penggemar Maisie Peters sejak album debutnya, tetapi lewat proyek terbaru Florescence, ia benar-benar melangkah lebih jauh. Bahkan, “Questions” mungkin menjadi lagu terbaiknya sejauh ini. Sepanjang album, musisi Inggris tersebut memadukan kebiasaan menulis lagu yang sangat personal dengan sentuhan pop yang tepat, menangkap rasa jatuh cinta dan meninggalkan masa lalu melalui gambaran yang sangat spesifik serta melodi yang begitu menular hingga rasanya ingin diteriakkan. Lagu favorit penggemar ini berhasil menerjemahkan semua pertanyaan yang tersisa setelah putus cinta, termasuk pengingat bahwa sering kali, Anda harus menemukan penutup itu sendiri. Lagu ini playful sekaligus melegakan, dengan kadar kepahitan nakal yang pas dan refrain yang benar-benar terasa seperti melepaskan. Tunggu saja perubahan liriknya, Anda pasti langsung menekan tombol ulang. —Sophie Wang, weekend editor
“Card Declined,” Charli XCX
Meski musim panas tahun ini tidak dibalut brat green seperti 2024, Charli XCX tetap meninggalkan jejak kuat lewat album terbarunya, Music, Fashion, Film. Cara datarnya menyampaikan lirik “card declined” terasa seperti representasi sempurna dari sikap apatis musim panas. Lagu ini cocok untuk hari-hari lambat dan malas di bawah matahari, ditemani Aperol spritz yang dingin serta sikap yang sepenuhnya blasé. —Olivia Alchek, senior designer
“Ain’t in LA,” Adéla
Ada sesuatu yang sangat nostalgis, menyentuh, dan benar-benar catchy dari “Ain’t in LA” milik Adéla. Bagian chorus-nya membuat saya merasa seperti kembali berusia 16 tahun, berkendara keliling kota asal dengan jendela terbuka. Dan tampaknya, memang itulah nuansa yang ingin Adéla hadirkan lewat penghormatan manis terhadap akar Slovakianya. Lagu ini bukan benar-benar tentang merendahkan Los Angeles, melainkan menolak berbagai ideal estetika dan kapitalisme yang kerap dilekatkan pada kota tersebut dalam imajinasi budaya kita. Dengan kata lain, Anda tidak membutuhkan operasi plastik, green smoothie, atau ketenaran untuk menjadi seseorang yang menarik. Keindahan bisa ditemukan di mana saja, termasuk di tempat-tempat yang dulu ingin Anda tinggalkan. Pesan ini terasa sangat relevan ketika gaya hidup dan standar kecantikan yang tak realistis terus dijejalkan kepada kita setiap saat. Sebanyak lagu ini membuat saya ingin menari dan bernyanyi sekeras mungkin, ia juga membuat saya ingin menangis dan menelepon teman-teman dari kampung halaman. Bagi saya, inilah lagu musim panas 2026 yang sempurna. —Nicole Frazzini, senior content strategy manager
“Slick,” Victony
Victony terus menanjak di dunia Afrobeats, dan lewat rekam jejak lagu-lagu seperti “Soweto,” “Holy Father,” dan “Stubborn,” musisi asal Nigeria tersebut sudah membuktikan bahwa musiknya punya daya tarik internasional. Rilisan terbarunya musim panas ini, “Slick,” terasa infectious, sensual, dan secara sonik cukup unik di tengah banyaknya lagu pop yang terdengar seperti produk algoritma. Lagu ini dengan cepat menjadi salah satu hit terbesarnya, dan sejak detik pertama terdengar, mudah dipahami alasannya. Lagu dibuka dengan chant yang terdengar jelas, “Baby do you love / Do you want me / Put your hands all on my body / No worry / Go crazy,” sebelum kemudian menyatakan dirinya sebagai sebuah “banger.” Secara lirik, Victony memadukan bahasa Inggris, Pidgin, Igbo, dan Yoruba di atas bassline bergaya Afrika yang sederhana serta loop gitar. Meski produksinya relatif streamlined, lagu ini tetap terasa luar biasa menyenangkan untuk ditarikan tanpa henti. —Dani Kwateng, executive managing editor
“The Cure,” Olivia Rodrigo
Album Olivia Rodrigo yang dirilis pada Juni, You Seem Pretty Sad for a Girl So in Love, benar-benar mengambil alih hidup saya sejak pertama kali keluar. Olivia memang juara dalam membuat musik sad-girl romantis. Saya bisa sangat memahami semua hal yang membawanya menulis album ini, mulai dari jatuh cinta sepenuhnya, mengalami perpisahan, lalu tenggelam dalam kesedihan. Karena itu, musim panas saya terus berputar di antara “Honeybee,” “Stupid Song,” “Expectations,” dan “The Cure.” Setiap kali ada keheningan yang menggantung, chorus dari lagu terakhir itu langsung mengambil alih kepala saya. Bagi saya, “The Cure” berhasil merangkum bagaimana cinta bisa terasa seperti obat, tetapi tetap bukan jawaban untuk semua luka. —Rosa Sánchez, senior news editor
“Coconut Water,” Trim
Jika lagu musim panas adalah lagu yang benar-benar tak bisa keluar dari kepala sepanjang musim, maka “Coconut Water” jelas menjadi pilihan saya. Kata seperti catchy atau infectious bahkan terasa belum cukup untuk menggambarkan cara Trim, dengan artikulasi aksen Geechee-nya, membawakan refrain penuh permainan makna soal hidrasi. Rapper berusia 19 tahun asal Charleston, South Carolina, ini pertama kali benar-benar mendapat perhatian lewat singel “Boat” pada 2025 dan sejak itu terus dibandingkan dengan Nicki Minaj. Namun, lewat rilisan 2026 seperti “Coconut Water” serta remix “Nobody” bersama Monaleo, ia semakin menegaskan dirinya sebagai talenta baru yang punya kemampuan dan daya bintang sendiri. “Coconut Water” adalah earworm musim panas yang sempurna: kaya elektrolit, mudah diputar berulang kali, dan hampir mustahil didengar tanpa ikut bergoyang. Produksinya yang bernuansa 2010-an juga membawa kita kembali ke masa yang terasa lebih sederhana. Saya tak sabar mengikuti perkembangan Trim selanjutnya. —Sarah Burke, interim deputy culture director
“No One Lasts Forever,” Charli XCX featuring David Cronenberg
Saya benci harus mengakuinya, apalagi menuliskannya, tetapi musim panas hampir berakhir. Saya cukup lama memikirkan apa lagu musim panas pilihan saya, sempat maju mundur antara lagu klasik seperti “Immortality” milik Céline Dion, dengan chorus Bee Gees yang luar biasa, atau salah satu dari sekian banyak lagu hits di album terbaru Olivia Rodrigo. Namun, ketika benar-benar mengakui bahwa kita sudah mendekati hari-hari terakhir musim cerah ini, “No One Lasts Forever” dari Charli XCX terasa paling tepat. Balada muram tersebut menjadi penutup album Charli yang sangat emosional dan berpusat pada persahabatan, Music, Fashion, Film, dengan tambahan voiceover dari maestro body horror David Cronenberg. Di sini, Charli dan David merenungkan betapa singkatnya waktu hidup kita, lengkap dengan chorus yang menyerukan bahwa “nothing’s gonna last forever” di atas beat hyperpop terdistorsi. Lagu ini mungkin terdengar terlalu muram untuk menyandang predikat “lagu musim panas”, tetapi bagi saya, pengingat bahwa hidup itu singkat justru menyalakan kembali keinginan untuk benar-benar menjalaninya. —Maxwell Rabb, associate culture editor
BACA JUGA:
Rekomendasi Lagu Tentang Menyukai Seseorang Diam-Diam Inggris
Lagu yang Cocok untuk Diri Sendiri sebagai Cerminan Diri
(Penulis: Joel Calfee; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Devon Satrio; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
- Tag:
- Culture
- Musik
- Editor's Pick
