Sampai hari ini, masih ada stigma sosial bahwa mengenakan pakaian yang sama berulang kali adalah sesuatu yang kurang pantas. Seolah-olah pakaian harus selalu baru, dan penampilan yang kita kenakan hari ini pun harus berbeda dari kemarin. Seolah-olah mengulang busana adalah tanda bahwa kita kehabisan kreativitas, atau yang lebih menyakitkan, tidak mampu membeli yang baru.
BACA JUGA: Pelengkap Fashion Tiap Musim, Siap Menemani di Segala Kondisi
Di era media sosial, tekanan tersebut terasa semakin kuat. Tren seperti “get ready with me” dan #OOTD menciptakan ekspektasi bahwa selalu ada sesuatu yang baru untuk diperlihatkan setiap hari. Pakaian perlahan tidak lagi hanya dikenakan untuk diri sendiri, melainkan juga untuk feed, untuk dilihat orang lain, untuk menjadi bagian dari arus visual yang terus bergerak. Dalam logika tersebut, mengulang pakaian seakan berarti tidak memberikan sesuatu yang baru untuk dilihat. Pada akhirnya, fashion tidak lagi semata-mata menjadi bentuk ekspresi personal, tetapi juga sebuah pertunjukan visual.
Menurut psikolog Samanta Elsener, M.Psi., rasa takut untuk mengulang pakaian merupakan sesuatu yang sangat manusiawi. Manusia memiliki kebutuhan untuk diterima dan merasa menjadi bagian dari kelompok. Karena itu, komentar sederhana seperti, “Baju itu lagi?” atau “Bukannya kemarin sudah pakai baju itu?” dapat menyentuh harga diri lebih dalam daripada yang kita sadari. Padahal, bisa saja tidak semua orang benar-benar memperhatikan perubahan dalam penampilan kita.
Dalam psikologi, terdapat istilah spotlight effect, yaitu bias kognitif yang membuat seseorang melebih-lebihkan seberapa besar dirinya diperhatikan oleh orang lain. Kita merasa semua mata tertuju pada apa yang kita kenakan, padahal sebagian besar orang mungkin bahkan tidak menyadarinya. Kita hidup dengan asumsi bahwa pakaian kita menjadi pusat perhatian, sementara orang lain sebenarnya sibuk dengan dirinya sendiri.
Ketika Mengulang Menjadi Pernyataan
Anggapan bahwa pakaian baru merepresentasikan status sosial bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru. Dalam berbagai budaya dan periode sejarah, kemampuan untuk membeli pakaian baru dan memiliki isi lemari yang terus berganti memang kerap diasosiasikan dengan kemakmuran. Mengulang pakaian, sebaliknya, dapat dianggap sebagai tanda keterbatasan.
Perlahan, persepsi tersebut mulai bergeser. Kita dapat melihatnya melalui figur seperti Kate Middleton yang berulang kali mengenakan kembali coat, gaun, hingga blazer yang pernah ia gunakan sebelumnya. Alih-alih mendapat kritik, pilihan tersebut justru sering mendapat apresiasi karena memperlihatkan sikap yang lebih sadar terhadap konsumsi dan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, budaya Hollywood yang glamor masih memiliki ketertarikan kuat terhadap sesuatu yang baru, koleksi terbaru, label yang sedang naik daun, dan penampilan yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Di antara kedua kutub tersebut, muncul pula gagasan seperti quiet luxury dan capsule wardrobe, yang mencoba menemukan keseimbangan antara keinginan untuk tampil baik dan kesadaran terhadap konsumsi berlebihan.
Menurut Samanta, pakaian juga merupakan bentuk bahasa nonverbal yang digunakan seseorang untuk mengomunikasikan diri dan emosinya. Karena itu, ketika seseorang terus mengenakan pakaian yang sama, atau memilih palet warna yang serupa, bukan berarti ia kehabisan ide. Bisa jadi, ia justru telah menemukan dirinya. Menemukan gaya personal berarti tidak lagi merasa perlu terus bereksperimen hanya demi terlihat berbeda.
Pada akhirnya, confidence is key.
Menemukan Gaya, Bukan Menggantinya
Ada titik ketika seseorang sudah mengetahui apa yang membuatnya merasa nyaman, apa yang sesuai dengan karakternya, dan apa yang membuatnya merasa paling menjadi dirinya sendiri. Pada saat itu, pakaian yang sama dapat menjadi semacam tanda tangan personal, sesuatu yang membuat orang lain justru mengenali Anda. Seperti Steve Jobs dengan black turtleneck-nya atau Carolyn Bessette-Kennedy dengan palet warna netral yang begitu khas. Keduanya tidak membutuhkan lemari yang terus berubah untuk membangun identitas visual yang kuat. Justru pengulangan itulah yang membuat gaya mereka begitu mudah dikenali dan akhirnya menjadi ikonik.
Ada pula alasan yang lebih emosional di balik keputusan seseorang untuk mengenakan pakaian yang sama berulang kali. Pakaian dapat menjadi comfort object, sesuatu yang memberikan rasa nyaman, familiar, dan aman. Di tengah hari-hari yang penuh ketidakpastian, mengenakan pakaian yang sudah kita kenal dapat memberikan rasa percaya diri sekaligus keamanan. Ada sesuatu yang menenangkan dari mengetahui bagaimana sebuah pakaian terasa di tubuh Anda, bagaimana Anda terlihat di dalamnya, dan bagaimana perasaan Anda ketika mengenakannya.
Pada akhirnya, confidence is key. Mengetahui gaya personal Anda, memahami apa yang cocok untuk tubuh dan karakter Anda, serta merasa nyaman dengan apa yang Anda kenakan jauh lebih penting daripada memastikan setiap penampilan selalu berbeda. Sebab menjadi stylish bukan berarti memiliki lemari yang tak pernah mengulang isinya. Terkadang, menjadi stylish justru berarti tahu kapan harus berhenti mencari sesuatu yang baru, karena Anda sudah menemukan apa yang terasa paling seperti diri Anda.
BACA JUGA:
Ide Outfit Bergaya Festive untuk Berbagai Dress Code Liburan
6 Trik Gaya Musim Semi yang Terlihat di Paris Fashion Week
