Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Perlukah Kita Menerapkan 'Lazy Girl Job?'

Bukan tentang bermalas-malasan, justru ini adalah bentuk penolakan terhadap budaya kerja kita yang tidak sehat.

Perlukah Kita Menerapkan 'Lazy Girl Job?'
Courtesy of Bazaar UK

Anda mungkin telah menyadari meme-culture belakangan ini sibuk menyenggol isu work culture. Banyak sekali video TikTok satir, yang sebagian besar berbunyi: 'Saya mendapat pekerjaan bagus tapi sekarang saya harus melakukannya. Ugh.'

BACA JUGA: Apa Mungkin Karier Impian Anda Berubah Menjadi Suatu Mimpi Buruk?

Ini merupakan bentuk reaksi oleh Gen Z terhadap workculture yang dialami oleh generasi X dan Milenial. Di mana peraturan perusahaan terlalu ketat, jam kerja terlalu panjang, dan atasan terlalu suka memerintah.

Saat ini, pola pikir anti-work telah berubah menjadi Lazy Girl Job. Sebuah ungkapan yang dicetuskan oleh Gabrielle Judge, seorang influencer dan pendiri inisiatif online Anti Work Girl Boss, yang kemudian menjadi viral.

Jadi, apa sebenarnya pekerjaan Lazy Girl Job itu? Simpelnya, ini merupakan kondisi bekerja dengan minimal stres serta mempunyai gaji yang layak, namun tidak memiliki ikatan emosional dengan tempat kerjanya. 

Apakah ini adalah cerminan kemalasan dan hak para Gen Z? Atau mungkinkah ini sebuah gugatan cerdas terkait cara kita bekerja?

Apa sebenarnya 'Lazy Girl Job' ini?

Gabrielle akui bahwa "Pernyataan ini jelas kontroversial." Kemudian ia menambahkan, “Ini bukan tentang tidak bekerja, atau bermalas-malasan, ini tentang menjadi lebih netral dalam pekerjaan kita, tidak 'bekerja berlebihan', dan tak mengaitkan identitas Anda dalam pekerjaan Anda. Lebih dari itu, ini adalah tentang memberikan pandangan baru terkait workculture kita."

Umpan cerdik Gabrielle kepada media dengan terminologinya ("Lagi pula, mereka menyebut Gen Z malas, maka kita katakan saja lebih dulu") telah berhasil.

Popularitas Lazy Girl Job di dunia maya, katanya, membuktikan bahwa gerakan ini telah menarik kedua belah pihak: mereka yang merasa terlalu banyak bekerja dan diremehkan, dan mereka yang menganggap mundur dari pekerjaan sebagai tanda kelemahan, atau kekalahan. Karena, pada dasarnya, prinsip Lazy Girl Job bukanlah anti-bekerja, melainkan anti-bekerja secara berlebihan.

Jadi, apakah kita bekerja terlalu keras? 

“Inilah yang saya sebut sebagai unnecessary work,” ujar Gabrielle, yang pertama kali meluncurkan Anti Work Girl Boss, dengan tujuan untuk menghilangkan prasangka mitos kerja dan hustle culture. Di latar belakangi oleh pengalaman burn out-nya beberapa tahun lalu.

Yang dimaksud dengan unnecessary work adalah jam kerja yang panjang yang sebenarnya kita tidak perlu lakukan. Seperti, menjawab email pada jam 11 malam, atau bekerja pada akhir pekan dan hari libur.

Dan untuk apa? “Sering kali, pekerjaan ini tidak terlalu mendesak, namun hanya dibuat-buat, dan kita semua berpikir bahwa bekerja terlalu keras akan membuat kita sukses,” papar Gabrielle. "Sehingga, orang lain juga berpikir demikian dan budaya kompetitif dimana overworking menjadi hal yang biasa. Lazy Girl Job adalah tentang memberi tahu bahwa Anda tak perlu mengikuti hal-hal tersebut."

Mengapa ini menjadi tren sekarang?

“Fakta bahwa hal ini menjadi tren, seperti halnya quiet quitting, adalah bentuk penolakan terhadap budaya kerja kita yang 'selalu aktif',” kata Emma Gannon, penulis The Success Myth, dan komentator dunia kerja. 

“Quiet quitting sebenarnya hanya berarti melakukan pekerjaan Anda dalam waktu yang ditentukan, dan apa yang dianggap sebagai Lazy Girl Job mungkin bukanlah pekerjaan yang malas, hanya saja tidak berlebihan. Sebetulnya, ini adalah cara orang bekerja beberapa dekade yang lalu sebelum adanya Internet." 

"Ini bukan tentang tidak bekerja, atau bermalas-malasan, ini tentang menjadi lebih netral dalam pekerjaan kita."

Emma mengungkapkan bahwa ada faktor generasi yang berperan di sini. Banyak penolakan terhadap konsep Lazy Girl Job didasarkan pada asumsi tentang cara kita bekerja yang berasal dari era yang sangat berbeda.

Generasi Baby Boomers tidak dapat mengerti gagasan bahwa suatu pekerjaan dapat bersifat 'malas', ini dikarenakan mereka tidak pernah harus membawa pulang pekerjaan mereka melalui ponsel pintar yang dapat diakses 24/7.

Generasi X dan Milenial mewarisi sikap 'bekerja keras, jangan mengeluh'. Namun, kemudian mengalami resesi dan budaya kerja 24 jam. Kelelahan generasi milenial adalah isu yang sangat nyata dan seismik. Generasi Z tidak hanya menyaksikan hal tersebut, namun mereka juga ikut terjun ke dunia kerja di tengah pandemi.

“Saya pikir Gen Z tidak terlalu terpengaruh oleh cara-cara lama,” kata Gabriella Braun, direktur Working Well dan penulis All That We Are: Uncovering the Hidden Truths Behind Our Behavior at Work. “Mereka telah melewati masa pandemi ini, mereka telah melihat remote working dapat memperbaiki keadaan ,dan mereka tidak bersedia bekerja sampai mereka burn out. Mereka dengan tepat berbalik dan berkata, mengapa kita menginginkan hal itu?”

Gabriella juga memberitahu bahwa Gen Z telah menyadari, selama bertahun-tahun cuti dan PHK serta kurangnya dukungan finansial selama pandemi Covid-19, bahwa pekerjaan tidak akan membuat Anda kembali bahagia.

Hal ini merupakan sesuatu yang diketahui oleh Gabriella sendiri, saat ini dimana upah yang stagnan dan biaya hidup yang meroket: “Orang-orang biasanya bekerja keras dan kemudian mendapatkan penghasilan yang cukup untuk membeli rumah dan memiliki kehidupan yang baik untuk keluarga mereka, dan hal ini tidak terjadi sekarang. Jadi mengapa kita harus bunuh diri demi sesuatu yang tidak memberi imbalan?" ia berkata. "Saya selalu berpikir: Apa yang akan terjadi pada Gen Z ketika mereka pensiun? Hal ini tidak akan terjadi pada generasi Baby Boomer."


Apa keuntung konsep 'Lazy Girl Job'

Konsep 'Gadis Malas' lebih mengenai penolakan terhadap aliran 'busyness' yang kompetitif yang serta menghasilkan imbalan nyata, dan menetapkan batasan yang berkelanjutan untuk tidak hanya mencari keseimbangan kehidupan kerja, namun juga memprioritaskannya.

“'Lazy Girl Job' mungkin merupakan cara yang baik untuk mengambil sikap terhadap perusahaan besar yang mencoba memeras seluruh sumber daya Anda,” kata Emma. "Ini mungkin cara untuk menciptakan lebih banyak ruang untuk berkembang di bidang lain dalam hidup Anda." Jadi jika kita berbicara tentang pilihan pekerjaan yang lebih sehat, bukankah setiap pekerjaan harusnya merupakan 'Lazy girl job'? 

“Orang-orang biasanya bekerja keras dan kemudian mendapatkan penghasilan yang cukup untuk membeli rumah tapi ini tidak terjadi lagi sekarang" 

"Memang seharusnya begitu," kata Gabriella  sambil tertawa. “Kekhawatiran saya terhadap tren ini adalah memastikan bahwa hal ini benar-benar meluas ke pilihan perusahaan, dan bukan hanya ke karyawan individu. Manajemen perlu memperhatikan hal ini dan menjadi lebih proaktif dalam memastikan adanya keseimbangan yang tepat dan tidak ada overworking yang dapat menyebabkan burnout. Kita sudah membicarakan hal ini sejak lama, namun kita masih memerlukan tindakan lebih lanjut" Tambahnya.

Gabriella, yang tugasnya adalah membuat pekerjaan orang lain menjadi lebih baik, berpendapat bahwa kita harus memikirkan kembali secara radikal seperti apa kerja keras itu. “Ini tidak sama dengan kelelahan,” jelasnya. “Tempat kerja harus memastikan bahwa mereka tidak menerapkan budaya yang tidak membedakan hal tersebut.”

Apakah ini hanya untuk perempuan?

Tentu saja, ada satu aspek lagi dari tren ini yang perlu dibahas: Mengapa hanya perempuan saja yang menjadi sasaran frasa ini?

“Saya ingat ketika 'Girl Boss' menjadi populer sekitar 10 tahun yang lalu, dan itu dimulai dengan sebuah kata yang ditujukan secara positif,” kata Gabrielle. “Tujuannya secara keseluruhan adalah untuk menciptakan representasi untuk perempuan yang berfokus pada karier. Namun, seiring berjalannya waktu, menurut saya istilah tersebut telah dieksploitasi. Bagaimana Anda masih bisa mencapai kesuksesan versi Anda sendiri? Karena hal itu mungkin tidak terlihat seperti 'Girl Boss."

"Kita harus memikirkan ulang apa yang dimaksud dengan kerja keras, itu seharusnya tidak sama dengan burnout"

“Kedengarannya seperti melayangkan 'jari tengah' kepada budaya 'having it all', yang mengharapkan perempuan menjadi segalanya bagi semua orang,” Ujar Emma. "Saya pikir mengatakan Anda menginginkan 'Lazy Girl Job' adalah cara untuk memberi isyarat bahwa memiliki karier yang mencakup segalanya belum tentu merupakan sesuatu yang Anda kejar."

Bagi generasi-generasi yang masih memiliki pola pikir 'hustle' dan 'Girl Bossing', seruan untuk mundur ini mungkin terasa seperti pemikiran ulang yang radikal, walau sebenarnya tidak se-radikal itu. Yang perlu dipikirkan ulang adalah pandangan kita tentang apa yang dimaksud dengan kesuksesan dan kerja keras.

Kembali ke gagasan tentang pekerjaan yang memiliki batasan, pekerjaan dengan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan, pekerjaan yang tidak membuat Anda kelelahan,bukankah itu yang kita semua inginkan? 

BACA JUGA:
Ini Cara Mengubah Pekerjaan Sampingan Menjadi Pekerjaan Penuh Waktu
Siasat Membatasi Kehidupan Pribadi Anda dengan Tempat Kerja

(Penulis: Marie-Claire Chappet; Artikel ini disadur dari: BAZAAR UK; Alih bahasa: Angel Lawas; Foto: Courtesy of BAZAAR UK & @antiworkgirlboss)