Rabu lalu, Zendaya tampil mengenakan gaun putih bersayap berbulu rancangan label asal Paris, Matières Fécales, saat menghadiri pemutaran perdana The Odyssey di New York. Beberapa hari kemudian, model sekaligus It girl Gabbriette menikah dalam balutan gaun putih berbahan sutra tafeta yang dibuat khusus oleh label tersebut, lengkap dengan bustle dan ekor gaun yang dihiasi tulle bertekstur usang. Label ini juga merancang dua tampilan lain untuk hari pernikahannya, yakni jubah hitam terinspirasi dari drakula dan setelan celana berbahan kulit berwarna gading dengan detail tepi berjumbai.
BACA JUGA: Musim Ini, Saatnya Gaun Tampil Lebih Seru!
Didirikan oleh dua desainer asal Kanada, Hannah Rose Dalton dan Steven Raj Bhaskaran, di Montreal pada 2014, Matières Fécales, yang dalam bahasa Prancis berarti “kotoran”, tengah menikmati sorotan besar berkat rancangan-rancangannya yang indah sekaligus provokatif. Setelah dikenakan oleh sejumlah nama besar, keduanya berhasil keluar dari ceruk mode avant-garde. Namun jika diperhatikan lebih dekat, gaun-gaun yang dikenakan para selebritas tersebut memadukan futurisme dengan siluet feminin klasik, material yang tampak seolah telah lapuk, serta bentuk tubuh yang sengaja didistorsi. Lantas, bagaimana formula tak lazim dengan nama yang sama nyentriknya ini berhasil menemukan tempat di karpet merah masa kini?
Zendaya mengenakan Matières Fécales di pemutaran perdana The Odyssey.
Hannah dan Steven memulai perjalanan mereka sebagai figur internet yang menampilkan eksplorasi kecantikan eksentrik dan gaya gothic melalui media sosial. Pada awalnya, mereka menjual busana hasil upcycling yang dibuat satu per satu melalui Depop, sambil bekerja sebagai DJ demi mencukupi kebutuhan hidup. Perlahan, keduanya mulai membangun pengikut yang tertarik pada desain nyeleneh sekaligus gaya personal mereka.
“Hannah dan saya bukan siapa-siapa,” ujar Steven kepada Bazaar tahun lalu. “Kami bukan lulusan Central Saint Martins atau menempuh jalur seperti itu. Kami tidak pernah bekerja di rumah mode besar. Kami bahkan tidak punya resume yang mengesankan.”
Keduanya bertemu Adrian Joffe dari Dover Street Market di balik panggung konser Madonna saat sama-sama menjadi penampil pembuka sekaligus merancang kostum untuk tur Celebration. Madonna kemudian menjadi mentor bagi Hannah dan Steven. Berkat dukungan inkubator Dover Street Market, Matières Fécales akhirnya melakukan debut di Paris Fashion Week lewat koleksi Musim Gugur 2025.
Sejak saat itu, nama mereka masuk dalam daftar desainer yang patut diperhatikan di kalender mode, dan pertumbuhannya melesat dalam beberapa bulan terakhir. Pada Mei lalu, Demi Moore mengenakan gaun pesta berbahan sutra robek berwarna merah muda elektrik di Festival Film Cannes. Hanya beberapa hari sebelumnya, Sarah Paulson tampil di Met Gala mengenakan versi serupa dalam balutan tulle abu-abu berjumbai. Sementara pada Februari, Lady Gaga memilih gaun berbahu satu dengan detail bulu untuk menghadiri Grammy Awards.
“post-human aesthetics.” Begitulah Hannah dan Steven menggambarkan pendekatan desain mereka. Setiap koleksi mempertanyakan kembali kode berpakaian yang selama ini dianggap baku, mulai dari seragam korporat hingga busana formal yang megah, melalui distorsi siluet dan eksplorasi material. Standar kecantikan tradisional seolah luluh di hadapan gaun pesta ber-tulle yang tampak membusuk, dihiasi pita-pita besar, terkadang dalam warna merah muda cerah khas Demna untuk Balenciaga. Blazer yang mengingatkan pada Bar Jacket milik Dior diubah dengan bahu runcing yang dramatis serta pinggul berlapis bantalan, sementara setelan rok merah muda bubblegum diwujudkan dalam tweed bergaya Chanel dengan tepian berjumbai.
Koleksi Musim Gugur 2026 mereka yang diperagakan di Paris pada Maret lalu juga menyindir kelompok satu persen terkaya di dunia. Presentasinya tampil berlebihan secara sengaja, mulai dari sarung tangan opera dengan telapak merah menyerupai darah, topeng berbentuk uang dolar, hingga prostetik yang menciptakan ilusi operasi plastik gagal. Sosok-sosok bergaya pekerja finansial mengenakan sweater quarter-zip berjalan berdampingan dengan model dalam balutan rajut yang diperkecil dan didistorsi, rok mengembang, hingga hoodie yang diubah menjadi gaun. Meski pendekatan subversif Matières Fécales sekilas tampak seperti gimmick, kualitas pengerjaannya berbicara sebaliknya. Setiap detail, mulai dari lipit, teknik tailoring, hingga crinoline, dikerjakan dengan standar craftsmanship setara couture.
Koleksi Matières Fécales Musim Gugur 2026.
Hannah dan Steven juga menjadi representasi terbaik bagi label mereka sendiri. Keduanya tampil dengan kepala plontos dan sapuan eyeliner hitam tebal yang memanjang hingga ke pelipis. Dalton melengkapi penampilannya dengan riasan wajah putih khas yang dipadukan bersama busana bernuansa merah muda lembut maupun hitam pekat rancangan mereka sendiri. Dalam catatan koleksi Musim Semi 2026, Steven menulis tentang Hannah: “Melihatnya melangkah keluar setiap hari dan menerima begitu banyak penilaian atas cara ia mengekspresikan dirinya terkadang membuat saya sedih melihat betapa intolerannya dunia di sekitar kita. Seolah-olah menjadi berbeda dari kebiasaan tidak pernah dihargai dalam masyarakat ini. Justru sering direndahkan. Meski begitu, ia tetap berjalan melewati tawa, tatapan sinis, jari-jari yang menunjuk, bahkan tidak jarang menghadapi agresi.”
Hannah Rose Dalton berjalan di atas panggung peragaan Matières Fécales Musim Gugur 2025.
Di balik karakter busananya yang begitu kuat, Hannah dan Steven justru berhasil membangun komunitas yang hangat. Pemilihan model mereka inklusif sekaligus provokatif. Model dari berbagai usia, bentuk tubuh, dan ekspresi gender menjadi bagian dari dunia Matières Fécales, mengenakan gaun putri ber-tulle maupun tailoring berpotongan tajam. Mereka pernah menghadirkan Nikki Lilly, yang hidup dengan kondisi high-flow craniofacial arteriovenous malformation (AVM), hingga influencer Bryan Johnson. Rick Owens, Michele Lamy, dan Daphne Guinness juga rutin menghadiri peragaan mereka, bahkan Michele dan Daphne pernah turut berjalan di atas runway. Matières Fécales menjadi rumah bagi siapa pun yang merasa terpinggirkan. Dengan menjadikan sesuatu yang dianggap aneh sebagai sesuatu yang modis, Hannah dan Steven mengajak kita mempertanyakan batas di antara keduanya.
Demi Moore mengenakan Matières Fécales di Festival Film Cannes.
Saat ini, penampilan selebritas lebih menyerupai bagian dari pembangunan semesta sebuah merek daripada sekadar momen untuk media. Kemunculannya pun begitu banyak hingga setiap label harus bersaing keras untuk mencuri perhatian di Instagram. Koleksi Matières Fécales hadir layaknya kejutan yang mengguncang sistem, sebuah gangguan dalam algoritma. Sifat provokatif dari setiap rancangannya hanyalah umpan untuk menyampaikan kisah yang lebih dalam. Dan di mana lagi tempat yang paling tepat untuk mempertanyakan kembali standar kecantikan masa kini selain di karpet merah, ketika para bintang terbesar Hollywood mengenakan kreasi mode paling memikat?
BACA JUGA:
Semua yang Kami Ketahui tentang Gaun Pengantin Haute Couture Dior Kustom Milik Taylor Swift
Zendaya Hadirkan Kembali Gaya Bridal-nya dengan Tampilan Louis Vuitton Penuh Renda
(Penulis: Camille Freestone; Artikel ini disadur dari BAZAAR US; Alih bahasa: Devon Satrio; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
- Tag:
- Matières Fécales
- Gaun
- Fashion
- News
