Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

5 Hal Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Breast Wellness, Langkah Preventif Kanker Payudara

Dr Sabrina Ngaserin menyoroti pentingnya breast wellness sebagai langkah awal menjaga kesehatan payudara.

5 Hal Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Breast Wellness, Langkah Preventif Kanker Payudara

Pembahasan mengenai kanker payudara sering kali baru muncul ketika seseorang sudah menemukan benjolan atau menerima diagnosis. Padahal, menjaga kesehatan payudara seharusnya dimulai jauh sebelum gejala muncul, sehingga inilah yang mendasari semakin berkembangnya konsep breast wellness, sebuah pendekatan preventif yang mengajak perempuan untuk lebih mengenali tubuhnya, memahami faktor risiko, serta melakukan skrining sesuai kebutuhan dan tahap kehidupan.

BACA JUGA: Mount Elizabeth Hospitals Mengajak BAZties Lebih Peduli Terhadap Breast Wellness

Menurut Dr Sabrina Ngaserin, Senior Consultant Oncoplastic and Minimally Invasive Breast Surgery di Mount Elizabeth Novena Hospital, breast wellness berarti bersikap proaktif, bukan reaktif. Deteksi dini memungkinkan kanker payudara ditemukan saat masih berukuran kecil, sehingga dapat ditangani dengan terapi yang lebih personal. 

Berkat perkembangan teknik bedah onkoplastik dan minimal invasif, bentuk alami payudara pun sering kali masih dapat dipertahankan. Banyak pasien bahkan tidak memerlukan kemoterapi atau hanya menjalani terapi yang lebih singkat, sehingga proses pemulihan berlangsung lebih cepat dengan kualitas hidup tetap terjaga. Bahkan, ketika lesi prakanker berhasil ditemukan sejak dini, perkembangannya menjadi kanker dapat dicegah sepenuhnya.

Dr Sabrina Ngaserin memberikan pemaparan di acara Health, Refined: A Proactive Dialogue on Breast Wellness bersama Bazaar

Berikut adalah lima hal yang perlu Anda ketahui tentang breast wellness sebagai langkah preventif kanker payudara:

1. Pendekatan Skrining yang Lebih Personal 

Kanker payudara yang tidak menimbulkan gejala justru paling sering terdeteksi melalui skrining. Karena itu, tidak ada spesifikasi satu usia yang berlaku melainkan rekomendasi pemeriksaan kini semakin dipersonalisasi berdasarkan tingkat resiko dan kepadatan jaringan payudara.

“Hingga kini, mamografi tetap menjadi gold standard screaning dan terbukti menurunkan angka kematian akibat kanker payudara hingga 20–47 persen, terutama pada perempuan usia 50–74 tahun” ujar Dr Sabrina. 

Akurasinya semakin tinggi dengan teknologi 3D mammography atau contrast-enhanced mammography. Pada perempuan dengan dense breasts, USG atau MRI dapat melengkapi mamografi, sementara MRI menjadi pilihan utama bagi kelompok berisiko tinggi seperti pembawa mutasi gen BRCA. Teknologi terbaru, termasuk analisis pencitraan berbasis AI dan liquid biopsy yang menganalisis ctDNA serta ctRNA, juga membantu meningkatkan akurasi deteksi sekaligus mendukung penentuan terapi yang lebih personal.

2. Breast Wellness Lebih dari Sekadar SADARI

Selama ini, breast wellness kerap dikaitkan dengan SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) dan mamografi. Padahal, menurut Dr Sabrina, konsep ini jauh lebih luas. 

“Breast wellness adalah sebuah perjalanan yang berlangsung sepanjang hidup, mulai dari masa pubertas hingga usia lanjut” ujar Dr Sabrina. Pendekatan ini mencakup memahami riwayat kesehatan pribadi dan keluarga, mengetahui risiko kanker payudara, menjalani konseling atau tes genetik bila diperlukan, mengenali kondisi normal payudara, melakukan skrining sesuai usia dan tingkat risiko, segera memeriksakan perubahan yang muncul, serta menerapkan gaya hidup sehat.

3. Mitos yang Masih Banyak Dipercaya  

Menurut Dr Sabrina, rendahnya literasi mengenai kanker payudara masih menjadi tantangan. Padahal, hanya sekitar 5–10 persen kasus yang bersifat herediter, sementara 90–95 persen lainnya merupakan kanker sporadis yang dapat terjadi tanpa riwayat keluarga. Banyak orang juga keliru menganggap diri sehat karena tidak memiliki gejala, padahal tujuan skrining adalah mendeteksi kanker sebelum gejala muncul. Ketakutan terhadap diagnosis, anggapan bahwa kanker selalu berujung kematian, stigma budaya, hingga kecenderungan perempuan mengutamakan orang lain dibandingkan kesehatannya sendiri masih menjadi penyebab utama keterlambatan deteksi dini. 

Selain itu, kanker payudara juga bukan hanya dialami perempuan. Sekitar 1 persen dari seluruh kasus terjadi pada laki-laki, dengan risiko yang meningkat pada mereka yang memiliki riwayat keluarga atau mutasi gen BRCA2. Sayangnya, minimnya kesadaran membuat kanker payudara pada pria sering terdiagnosis pada stadium lanjut.

Lalu, anggapan bahwa perempuan muda, sedang hamil, atau menyusui tidak berisiko pun perlu diluruskan. Kasus kanker payudara pada usia 20–40 tahun terus meningkat. Data Global Burden of Diseases (GBD) menunjukkan kasus early-onset cancer pada individu di bawah usia 50 tahun meningkat 79 persen sepanjang 1990–2019, dengan angka kematian naik 28 persen. Data terbaru juga mencatat perempuan di bawah usia 50 tahun memiliki risiko kanker hingga 82 persen lebih tinggi dibandingkan laki-laki seusianya, menegaskan pentingnya kesadaran dan deteksi dini tanpa memandang usia.

4. Pendekatan yang Semakin Personal dalam Penanganan Kanker Payudara

“Penanganan kanker payudara saat ini tidak lagi berfokus hanya pada menghilangkan penyakit, tetapi juga mempertahankan kualitas hidup pasien setelah pengobatan.” jelas Dr Sabrina. 

Ia menambahkan bahwa di Mount Elizabeth Hospitals, pasien menjalani penanganan multidisiplin yang melibatkan dokter bedah payudara, radiolog, patolog, ahli genetika, hingga onkolog. Setiap pasien mendapatkan penilaian risiko yang dipersonalisasi, rekomendasi skrining sesuai usia dan kondisi masing-masing, akses terhadap pemeriksaan genetik, pencitraan berteknologi tinggi, hingga pilihan terapi modern seperti bedah onkoplastik dan bedah minimal invasif.

Bahkan ketika mastektomi diperlukan, prosedur endoscopic maupun robotic nipple-sparing mastectomy memungkinkan operasi dilakukan melalui sayatan kecil sehingga hasil kosmetiknya jauh lebih baik tanpa mengurangi efektivitas terapi.

5. Pencegahan Berlanjut hingga Pemulihan

World Health Organization (WHO) menyatakan sekitar 30–50 persen kasus kanker dapat dicegah melalui pola hidup sehat. Meski tidak dapat menghilangkan seluruh risiko, gaya hidup sehat mampu memaksimalkan peluang pencegahan sekaligus mendukung deteksi dini. 

Bagi penyintas, perjalanan pun tidak berhenti setelah remisi. Meski secara medis kanker aktif tidak lagi terdeteksi, banyak penyintas masih menghadapi tantangan terkait citra tubuh, kekhawatiran akan kekambuhan, kesuburan, hingga kesehatan mental. Karena itu, pemulihan perlu dilakukan secara holistik melalui konseling, dukungan keluarga, survivorship care, dan support group, agar penyintas dapat kembali menjalani hidup dengan kualitas yang lebih baik.

Mount Elizabeth Hospitals mencakup Mount Elizabeth Hospital (Orchard) dan Mount Elizabeth Novena Hospital.

Created by Harper's Bazaar Indonesia for IHH Health Care Singapore

BACA JUGA:

Cara Memeriksa Payudara Anda untuk Mengenal Tanda-Tanda Kanker

Pentingnya Pemilihan Bra untuk Hindari Kanker Payudara, Baiknya Pilih yang Tanpa Kawat

(Penulis: Kirana Anindya; Edited by EF; Foto: Courtesy of Sasun Bughdaryan on Unsplash, Lintang Sukmana)