Usai musim mode Fall 2026 pada Maret lalu, satu kesan yang masih membekas adalah nuansa romansa yang lembut sekaligus melankolis. Di saat yang sama, tur promosi Wuthering Heights tengah berlangsung, memperlihatkan irisan yang menarik antara interpretasi feminitas yang tampil di layar dan yang hadir di atas runway.
BACA JUGA: Rihanna Membuka Musim World Cup Style dengan Jersey Olahraga dan Cape
Di Paris, Saint Laurent menampilkan deretan gaun dengan renda bernuansa muram yang membalut tubuh bak lapisan kulit kedua. Sementara itu, Chemena Kamali di Chloé mengeksplorasi permainan ruffle, sifon, dan bordir yang ringan, sedangkan Dior menghadirkan rok bertingkat menyerupai kue dengan ekor dramatis yang terasa seolah diambil langsung dari meja jamuan Marie Antoinette, tentu saja versi Sofia Coppola. Sepanjang bulan mode, estetika serupa juga terlihat dalam koleksi Colleen Allen, Erdem, Simone Rocha, dan Khaite, dengan siluet yang ringan, feminin, dan dipenuhi sentuhan romantis.
Ketika membahas tema-tema romantis yang mendominasi berbagai peragaan tersebut, pikiran saya langsung tertuju pada dunia sastra. Bagaimanapun, tidak ada ruang yang merayakan romansa terutama subgenrenya, romantasy. Sebesar novel-novel kontemporer karya Emily Henry, Sarah J. Maas, Colleen Hoover, dan Ali Hazelwood. Judul-judul seperti A Court of Thorns and Roses, People We Meet on Vacation, hingga The Love Hypothesis telah menduduki daftar buku terlaris dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus mengembalikan genre romansa ke posisi yang semakin diperhitungkan.
Sementara itu, industri film juga bergerak ke arah narasi yang lebih megah dan dramatis. Hal ini terlihat dari deretan film populer seperti Hamnet, Materialists, Frankenstein, dan Nosferatu, hingga adaptasi televisi Forbidden Fruits. Bahkan di dunia musik, video musik terbaru Olivia Rodrigo untuk single Drop Dead yang dirilis pada April lalu menampilkan sang bintang pop muda dalam balutan gaun babydoll dan celana bloomers sambil berlarian di Versailles.
Dan tentu saja, Wuthering Heights menjadi simpul yang menyatukan seluruh fenomena ini: sebuah novel romansa yang diadaptasi menjadi film dengan tur promosi yang sama modisnya. Aktris utamanya, Margot Robbie, yang ditata oleh Andrew Mukamal, tampil di berbagai karpet merah internasional mengenakan korset Dilara Findikoglu yang dikencangkan dengan siluet dramatis, semakin mempertegas kebangkitan estetika romantis dalam budaya populer.
Romansa hadir dalam begitu banyak bentuk, meski tidak semuanya memiliki kaitan langsung dengan interpretasi konsep tersebut di dunia mode. Korset bergaya punk rancangan Dilara Findikoglu, misalnya, akan terasa menyatu dengan Nosferatu, film horor vampir yang jauh dari kisah cinta yang hangat namun akan terlihat benar-benar tidak selaras jika ditempatkan dalam People We Meet on Vacation, novel berlatar masa kini tentang dua sahabat yang tanpa diduga saling jatuh cinta melalui perjalanan tahunan mereka. Padahal, premis cerita tersebut begitu identik dengan romansa.
Menariknya, elemen-elemen yang memunculkan kesan "romantis" dalam fashion justru sering kali terasa seperti warisan estetika dari masa lalu. Estetika romantis dapat mencakup detail kerajinan yang rumit, referensi historis, hingga sentuhan feminin yang lembut dan penuh permainan. Pada akhirnya, istilah ini berkembang menjadi payung bagi berbagai ekspresi feminitas, merangkul microtrend seperti coquette, cottagecore, romantic goth, dark academia, dan masih banyak lagi. Lantas, di manakah letak romansa yang sesungguhnya?
Stephen Biga mendirikan label Mel Usine pada 2024 dengan menjadikan cerita rakyat dan sastra Prancis sebagai fondasi utamanya. Nama label tersebut diambil dari kisah Mélusine, nimfa air dalam legenda abad ke-14 karya Jean d’Arras. Ia kerap menggambarkan rancangannya sebagai sesuatu yang romantis dan berakar pada teks sastra, meski referensinya bukan Colleen Hoover atau bahkan Gustave Flaubert.
Sebaliknya, Stephen mencari inspirasi dari karya penulis berabad-abad silam serta pemikiran Walter Benjamin, Michel Foucault, dan Guy Debord mengenai pengalaman tubuh, performativitas gender, hingga kapitalisme. Salah satu hasilnya adalah rok apron kulit hitam bertajuk “Foucault”, yang menampilkan detail menyerupai sabuk kulit besar di atas panel tipis berwarna krem.
Ia juga kerap mengambil inspirasi dari lukisan aristokrat abad pertengahan untuk detail seperti lengan berkerut, lalu mengadaptasi siluetnya agar lebih fungsional dan relevan untuk kehidupan modern.
Zoe Gustavia Anna Whalen adalah label asal New York lain yang kerap dimasukkan ke dalam kategori mode “romantis”, meski mungkin dengan cara yang cukup ironis. Didirikan pada 2022, label ini telah menarik perhatian sejumlah nama seperti Rosalía dan Suki Waterhouse.
Sebagian besar praktik desain Anna berpusat pada metode pembuatan praindustri, dengan setiap busana dibuat secara manual di studionya, serta reinterpretasi terhadap bentuk-bentuk modifikasi tubuh bersejarah. Ia mungkin memulai dari konsep sebuah korset, tetapi mengolahnya menjadi siluet yang sepenuhnya baru, mengikat tubuh tanpa memberikan kesan membatasi, meratakan bagian dada, dan menjadikan pinggul sebagai titik utama konstruksinya.
“Banyak orang mengatakan bahwa rancangan saya terasa romantis, dan saya selalu memaknainya sebagai sesuatu yang sangat feminin atau mampu menghadirkan tingkat keintiman tertentu dengan tubuh,” ujarnya.
Ia juga kerap mendengar bahwa busananya terasa “historis”, meski tidak satu pun rancangannya dibuat dengan akurasi sejarah secara utuh, bahkan tidak sampai 50 persen. “Mungkin memang ada unsur fantasi ketika menghadirkan rok bervolume penuh dan korset sebagai busana sehari-hari. Namun bagi saya, yang menarik adalah kemungkinan untuk tidak lagi menempatkannya sebagai fantasi, melainkan sebagai sesuatu yang bisa dikenakan siapa saja dalam keseharian jika mereka menginginkannya.”
Namun, di balik kesan pertama, baik Stephen maupun Anna sejatinya tengah menantang atau setidaknya menafsirkan ulang pakem estetika romantis, terutama dalam karya-karya Anna. Rancangannya memang indah, tetapi pada saat yang sama juga menyimpan sisi yang ganjil dan subversif. Pertanyaannya, apakah estetika romantis masa kini masih benar-benar berbicara tentang romansa?
Dalam Forbidden Fruits, keempat karakter utamanya menggelar sebuah séance sambil mengenakan gaun Rodarte berhiaskan renda dan pita yang berkesan manis dan romantis. Namun, estetika tersebut justru berlawanan dengan alur ceritanya, seseorang akan segera diinisiasi ke dalam sebuah kultus.
Hal serupa juga terlihat pada Wuthering Heights. Secara visual, karya ini memancarkan nuansa romantis, tetapi secara emosional tidak sepenuhnya demikian. Keduanya menghadirkan kisah yang provokatif, memilukan, mencekam, bahkan terkadang menjijikkan, meski dipenuhi elemen-elemen yang identik dengan romansa seperti pita dan korset. Sebaliknya, rilisan seperti Office Romance atau People We Meet on Vacation yang diadaptasi dari novel romansa justru terasa lebih romantis dari segi substansi, meski tidak selalu dari segi kostum. Lantas, apakah sesuatu dapat disebut romantis hanya karena memiliki elemen bergaya Victoria? Atau karena berlatar di hamparan padang Inggris? “Saya pernah melihat iklan di Instagram yang menampilkan gaun-gaun yang benar-benar terlihat seperti hasil copy-paste dari lokasi syuting Wuthering Heights, dan menurut saya di situlah orang mulai kehilangan esensinya,” ujar Stephen. “Bayangkan saja seseorang mengenakan korset bertulang paus di Prospect Park. Mereka akan terlihat seperti sedang bermain dalam sebuah pertunjukan teater.”
Erika Veurink, penulis novella Exit Lane sekaligus kreator buletin mode dan belanja Long Live, mulai menjajaki dunia fiksi romansa setelah mendapat tawaran dari imprint romansa 831 Stories beberapa tahun lalu. Lulusan MFA bidang nonfiksi dari Bennington College ini memanfaatkan proyek fiksi pertamanya untuk mengenal lebih dekat calon pembacanya. Ia tertarik memasuki genre tersebut setelah melihat antusiasme luar biasa komunitas pembaca romansa, dengan rata-rata konsumsi mencapai satu buku setiap minggu. Kisah yang ditulisnya berpusat pada Teddy dan Marin, sepasang kekasih yang putus-nyambung dan melakukan perjalanan lintas negara ala When Harry Met Sally. Alih-alih mengenakan busana yang dramatis, keduanya tampil dalam pakaian yang sederhana namun sedikit mengikuti tren, seperti kaus rugby, sweater berpotongan longgar, dan kaus vintage yang terasa selaras dengan latar Midwest tempat cerita itu berlangsung.
Bagi Erika Veurink, irisan antara ekspresi romansa dalam mode dan sastra kontemporer berbicara tentang sesuatu yang lebih dari sekadar hasrat atau hubungan asmara. Lebih dari itu, romansa adalah tentang kemampuan untuk meromantisasi kehidupan sehari-hari.
“Komunitas ini bersedia menikmati perjalanan tanpa terburu-buru,” ujarnya. Banyak novel romansa yang sangat populer, seperti Fourth Wing karya Rebecca Yarros atau seri A Court of Thorns and Roses karya Sarah J. Maas, bahkan memiliki lebih dari 500 halaman. “Karakter dalam novel romansa tidak sekadar menjalankan rutinitas atau menyelesaikan urusan. Mereka berjalan ke taman atau menikmati secangkir kopi di kafe. Dan sebagai seorang ibu dengan jadwal yang padat, saya bisa meromantisasi momen-momen seperti itu,” katanya.
Tentu saja, genre romantasy mengadopsi estetika “romantis” dalam makna yang jauh lebih literal. Karakter dalam seri A Court of Thorns and Roses (ACOTAR) maupun Crowns of Nyaxia karya Carissa Broadbent mengenakan busana yang terinspirasi dari pakaian tradisional, seperti gaun panjang dan tunik, meski sering kali dipadukan dengan sentuhan modern berupa potongan tak terduga atau detail kontemporer. Namun, kehadiran busana tersebut bukan untuk memikat pembaca, melainkan untuk membawa mereka masuk ke dalam dunia yang sama sekali berbeda. Romantasy barangkali merupakan salah satu bentuk eskapisme paling imersif dalam budaya populer saat ini, sehingga setiap elemennya harus bekerja selaras untuk melepaskan pembaca dari realitas kehidupan sehari-hari.
Stephen pun sepakat. “Saya tertarik pada gagasan romansa bukan sebagai sesuatu yang rapuh, melainkan sebagai bentuk perlawanan terhadap era digital yang kita tinggali saat ini,” ujarnya. Pandangan tersebut tercermin dalam proses pembuatannya. Stephen menggunakan kain dari pabrik tekstil berusia ratusan tahun di Prancis dan Italia yang masih mengoperasikan alat tenun tradisional. Sementara di New York, tempat sebagian besar produksinya dilakukan, ia menerapkan teknik-teknik seperti penyambungan renda (patchworking lace) dan lipit pisau pada katun poplin. “Kami memiliki pendekatan yang benar-benar mengandalkan sentuhan tangan dalam membuat pakaian. Bagi saya, di situlah romansa hadir pada sesuatu yang disentuh, dialami, dan melibatkan tangan manusia. Romansa adalah kembalinya resonansi emosional dan kedalaman makna,” tutup Stephen.
Gagasan ini terasa lebih dekat dengan tren TikTok romanticizing your life yang sempat populer beberapa tahun lalu. Tren tersebut mengajak orang untuk memperlambat ritme hidup dan memperlakukan momen-momen kecil dalam keseharian seolah menjadi adegan dalam film yang mereka sutradarai sendiri. Para kreator membuat video yang mengubah rutinitas skincare menjadi sebuah ritual istimewa, atau waktu menikmati camilan menjadi pengalaman yang dirancang dengan begitu detail dan menyenangkan. Namun, akar pemikiran ini sesungguhnya dapat ditelusuri hingga era Romantisisme pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19. Sebagai sebuah gerakan seni, Romantisisme menekankan intensitas emosi, individualitas, serta keindahan alam yang bersifat sublim, dan lahir sebagai respons terhadap rasionalisme ilmiah yang mendominasi masa Pencerahan (Enlightenment).
Selama dua dekade terakhir, dunia semakin didorong oleh teknologi, produktivitas, dan optimalisasi, sehingga romansa terasa sebagai antitesis dari efisiensi. Mungkin di situlah benang merah yang menghubungkan busana yang dibuat dengan penuh ketelitian dan kisah cinta yang mengalir tanpa tergesa.
“Bagi saya, romansa bukan tentang cinta yang menggebu, melainkan tentang kebebasan dan kehidupan yang indah,” ujar Anna. “Romansa adalah estetika dan perasaan memiliki satu hari penuh untuk berjalan-jalan tanpa tujuan sambil menikmati sepotong baguette.”
Menjahit, membaca buku, atau pergi ke bioskop, tak ada pasangan yang dibutuhkan untuk merasakan romansa itu.
BACA JUGA:
Panduan Bazaar untuk Serial TV Musim Panas 2026
Ariana Grande dan Kembalinya Era Video Musik Naratif
(Penulis: Camille Freestone; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Kirana Anindya; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
