Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Ariana Grande dan Kembalinya Era Video Musik Naratif

“Hate That I Made You Love Me” bergabung dengan deretan video musik Olivia Rodrigo dan Harry Styles yang membuktikan bahwa kekuatan cerita masih menjadi daya tarik utama.

Ariana Grande dan Kembalinya Era Video Musik Naratif
Foto: COURTESY OF BAZAAR US

Kita hidup di era ketika rentang perhatian semakin pendek dan semua orang berlomba-lomba menciptakan konten singkat. Di satu sisi, lagu pop memang selalu menjadi medium yang sempurna untuk kondisi tersebut: tiga menit penuh kebahagiaan, kesedihan, atau patah hati yang dikemas ringkas dan bisa diputar berulang kali. Ketika MTV diluncurkan pada 1981, video musik pertama yang ditayangkan adalah Video Killed the Radio Star milik The Buggles, sebuah lagu berdurasi sekitar tiga menit yang berbicara tentang bagaimana video mulai menguasai gelombang udara, ditemani visual surealis bernuansa fiksi ilmiah yang memperkuat emosi lagu tersebut. Dan meski video tidak benar-benar “membunuh” bintang radio, medium ini jelas mengangkat popularitas musisi ke level yang sama sekali baru. Mendengarkan musik tiba-tiba menjadi pengalaman multisensori. Sebuah video mampu mengubah lagu sederhana menjadi karya ikonik hanya dengan menangkap esensinya secara visual.

BACA JUGA: Olivia Rodrigo Menghidupkan Nuansa Frida Kahlo dalam Video Musik Terbarunya

Sejak saat itu, video musik mengalami siklus tren layaknya elemen budaya lainnya. Pada 1983, Thriller milik Michael Jackson menunjukkan sejauh mana medium ini dapat berkembang, mengubah lagu berdurasi lima menit menjadi film horor pendek selama 13 menit, lengkap dengan film dokumenter proses pembuatannya. Satu dekade kemudian, sineas independen seperti Spike Jonze dan Michel Gondry mulai mengasah kemampuan mereka lewat video musik, menghadirkan narasi yang lebih eksperimental dan tidak lagi linear. Bayangkan Christopher Walken menari dan melayang di lobi hotel dalam Weapon of Choice milik Fatboy Slim arahan Jonze atau Gondry yang mengubah logika mimpi menjadi kenyataan dalam Everlong milik Foo Fighters. Tentu masih ada video dengan alur cerita yang jelas, seperti kisah balas dendam dalam Goodbye Earl milik The Chicks. Pada 2016, Beyoncé memperkenalkan pengalaman sinematik Lemonade yang menyatukan 12 lagu beserta video musiknya menjadi film naratif berdurasi 65 menit. Belakangan, video musik memasuki era “vibes”, berubah menjadi pengalaman visual tiga hingga lima menit yang dirancang untuk merangsang indra. Mulai dari Zara Larsson yang menari di lanskap Technicolor dalam Midnight Sun hingga Lady Gaga dan Doechii yang berbagi satu setelan merah raksasa dalam Runway. Meski begitu, perlu diingat bahwa Lady Gaga yang dikenal sebagai salah satu master video musik modern juga pernah bereksperimen dengan format naratif panjang, seperti versi sembilan menit dari Telephone. Dan tentu saja, kita menyukainya.

Tahun ini, gelombang baru video musik naratif kembali muncul, dengan durasi lima menit atau lebih. Ariana Grande menjadi salah satu yang terdepan lewat Hate That I Made You Love Me, single pertama dari album kedelapannya yang telah lama dinantikan, Petal. Video yang dibintangi Justin Long tersebut mengambil inspirasi langsung dari film-film horor klasik, bahkan menggunakan tipografi judul yang mengingatkan pada film seperti The Thing That Couldn’t Die (1958). Ceritanya dimulai ketika karakter Justin menguburkan sang kekasih sebelum membuang fotonya dari jendela mobil saat pergi meninggalkannya. Namun tampaknya Ariana adalah “sesuatu yang tidak bisa mati”. Ia muncul sebagai hantu di kursi belakang mobil, lalu kembali muncul di tengah jalan hingga membuat Justin mengalami kecelakaan. Meski selamat dari mobil yang terbakar, Ariana kembali muncul dan secara harfiah membakarnya saat ia tiba di rumah. Ajaibnya, ia tetap hidup. Kemudian ketika tiba di sebuah diner, ia mendapati ruangan penuh sosok Ariana Grande dalam gaya yang mengingatkan pada Being John Malkovich, membuatnya kehilangan kendali. Semua itu berujung pada kembalinya ia ke makam, tempat Ariana telah menunggu untuk menguburkannya.

Video tersebut hadir setelah Olivia Rodrigo merilis The Cure yang meninggalkan nuansa ala Marie Antoinette dari video Drop Dead dan memilih kisah tentang seorang perawat yang berusaha menemukan obat untuk penyakit misterius yang membuat hati manusia berubah abu-abu. Olivia terlihat bereksperimen dengan berbagai bahan dalam tabung dan gelas laboratorium yang whimsical, hingga akhirnya dirinya sendiri ikut terjangkit penyakit tersebut. Narasi mencapai puncaknya ketika kamera perlahan menjauh dan memperlihatkan bahwa sosok perawat Olivia hanyalah miniatur dalam sebuah diorama. Olivia versi nyata kemudian muncul dan menghancurkan model tersebut. Tumpukan kardus di sekitarnya mengisyaratkan bahwa ia sedang bersiap melangkah ke fase baru dalam hidupnya.

Namun sebenarnya Harry Styles yang lebih dulu memulai tren ini pada Januari lalu melalui video musik Aperture, single pertama dari album Kiss All the Time. Disco, Occasionally. Video berdurasi lebih dari lima menit tersebut yang tampaknya terinspirasi oleh Weapon of Choice milik Fatboy Slim, dibuka dengan Harry yang mondar-mandir di kamar hotel sebelum menyadari dirinya sedang diburu seorang pembunuh bayaran. Keduanya terlibat dalam adegan perkelahian panjang yang membuat mereka menabrak mesin penjual otomatis hingga terjatuh di tangga. Tentu saja sebagai video karya Harry Styles, perkelahian itu kemudian berubah menjadi koreografi duet yang rumit lengkap dengan adegan angkat ala Dirty Dancing. Meski arahan Aube Perrie masih menyisakan nuansa “vibes” yang kuat, sekuens aksinya layak dibandingkan dengan film-film Christopher Nolan seperti Tenet atau Memento, dengan narasi yang membingungkan dan berulang. Harry terjebak dalam lingkaran waktu, mengulangi gerakan yang sama sambil diikuti versi jinak dari sang pembunuh. Video berakhir dengan dirinya kembali berada di kamar hotel, menunggu di samping telepon dengan ekspresi muram.

Tren ini tampaknya belum akan melambat dalam waktu dekat. Madonna tengah bersiap merilis sebuah film pendek yang menggabungkan enam lagu dari album mendatangnya, Confessions II dan dibagi ke dalam enam babak. Proyek tersebut dipromosikan sebagai “thriller yang sensual, halusinasi dansa, dan mimpi demam berskala epik”. Ratu Pop tersebut tentu bukan sosok asing dalam dunia video musik naratif. Kita masih mengingat Take a Bow, yang lama disebut-sebut sebagai semacam audisi untuk film Evita, hingga What It Feels Like for a Girl yang sempat menuai kontroversi. Intinya, apa pun cerita yang ingin disampaikan Madonna, kita selalu siap untuk mengikutinya. Begitu pula dengan para bintang pop lain yang ingin mengajak penontonnya masuk ke dalam dunia yang mereka ciptakan.

BACA JUGA:

Wake Up, Arianators!—Ada Album Baru yang Akan Segera Hadir!

Harry Styles Menghidupkan Kembali Tren Flash Mob

(Penulis: Maxwell Rabb; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Devon Satrio; Foto: Courtesy of BAZAAR US)