Ketika kabar reformulasi foundation Luminous Silk dari Armani beredar akhir tahun lalu, para penggemar kecantikan langsung ramai di kolom komentar Instagram, membanjirinya dengan antusiasme, rasa penasaran, sekaligus kekecewaan. Semuanya menuju pada satu hal: keputusan brand untuk memasukkan niacinamide ke dalam formula baru mereka. "Ugh, kulit saya tidak cocok dengan niacinamide," tulis salah satu pengguna. Yang lain pun menunjukan ekspresi yang sama, "Tolong, jangan niacinamide lagi."
BACA JUGA: Apakah Niacinamide Boleh Digabung dengan Vitamin C?
Dalam banyak hal, niacinamide adalah hyaluronic acid yang baru. Dalam artian, bahan skincare yang sebetulnya cukup innocuous, dalam hal ini turunan vitamin B3 kini mulai menjadi populer karena kehadirannya yang benar-benar ada di mana-mana dan di segala sesuatu. Beberapa tahun terakhir, produk berbahan niacinamide mulai meningkat luar biasa cepat: namanya terpampang di label sampo, perawatan kulit kepala, deodoran, primer, foundation, maskara, blush, hampir di setiap produk kecantikan. Sebagian besar ini terjadi karena niacinamide memang bahan aktif serbaguna yang disukai para dermatologis. Ia diklaim mampu mengatasi garis halus, meningkatkan elastisitas kulit, kehilangan air, hiperpigmentasi, kulit kusam, hingga kulit sensitif. Secara singkat, kalau sebuah produk kecantikan baru ingin terdengar menjanjikan, tinggal tambahkan sedikit niacinamide ke dalam formulanya.
"Berbeda dengan bahan seperti retinol dan hydroxy acid yang berpotensi mengiritasi dan perlu disesuaikan kadar atau frekuensi pemakaiannya seiring pergantian musim, niacinamide bisa digunakan sepanjang tahun," kata Rachel Westbay, dermatologis bersertifikat di Marmur Medical. "Ia cocok untuk kulit di semua usia (remaja hingga dewasa) serta semua jenis dan warna kulit. Sebagai bonus, niacinamide juga aman digunakan selama kehamilan dan menyusui."
Namun semakin banyak perempuan yang melaporkan reaksi negatif spesifik terhadap bahan ini. Beberapa user Reddit membicarakan kemerahan yang memburuk atau jerawat cystic yang muncul setelah menggunakan niacinamide. Para ahli memang mengatakan alergi terhadap antioksidan vitamin B ini tergolong langka tetapi kenyataannya, kita belum pernah terpapar bahan ini dalam jumlah sebanyak sekarang. Semakin tinggi konsentrasinya, para dermatologis mengatakan bahwa semakin besar kemungkinan iritasi terjadi.
"Meskipun niacinamide sering dipasarkan sebagai bahan yang lembut, saya sudah melihat pasien yang mengalami iritasi karenanya," kata Mona Foad, dermatologis bersertifikat sekaligus pendiri Mona Dermatology. "Bukan karena niacinamide pada dasarnya keras, tetapi biasanya karena konsumen menumpuk beberapa produk yang mengandung bahan ini atau memilih formulasi dengan konsentrasi yang terlalu tinggi. Seiring niacinamide semakin umum digunakan, orang-orang mungkin tanpa sadar sudah melapisnya berkali-kali dan ini lah yang bisa meningkatkan risiko kemerahan, rasa perih, atau iritasi, terutama pada jenis kulit sensitif."
Manfaat niacinamide yang diklaim bukan hanya untuk kulit wajah tetapi juga bisa merambah ke kulit kepala, kini bisa ditemukan di banyak sampo, kondisioner, serta serum kulit kepala populer. "Niacinamide mengoptimalkan kondisi kulit kepala dengan memperkuat skin barrier, menyeimbangkan produksi minyak, dan meredakan peradangan," jelas Rachel. "Ia membantu memulihkan hidrasi, meminimalkan kehilangan air, dan menenangkan iritasi akibat kondisi seperti ketombe. Semua manfaat ini menciptakan fondasi yang lebih sehat untuk pertumbuhan rambut yang kuat."
Para ahli mengatakan bahwa niacinamide telah terbukti mampu menembus kulit manusia secara efektif, sehingga itulah yang membuatnya begitu marak digunakan. Tetapi kemampuan inilah yang justru meningkatkan risiko paparan kumulatif dan reaksi sistemik. Untuk saat ini, niacinamide-mania tampaknya tidak akan kemana-mana, jadi kalau Anda mulai merasakan reaksi negatif yang baru atau tiba-tiba dalam rutinitas Anda seperti kemerahan atau rasa panas di kulit, coba periksa kembali label bahan produk. Bisa jadi Anda hanya perlu mengurangi bahan skincare ini.
"Saya tidak menganggap niacinamide sebagai tren yang akan berlalu. Ada banyak penelitian yang mendukungnya dan manfaatnya nyata bagi banyak pasien," kata Mona. "Tapi tidak setiap produk perlu mengandungnya. Saya lebih ingin melihat pasien menggunakan beberapa produk yang diformulasikan dengan baik secara konsisten, daripada merasa harus menggunakan satu bahan yang sama di setiap langkah rutinitas mereka."
BACA JUGA:
Daftar Komplet Pemenang Bazaar Beauty Awards 2026
Apakah Masker LED Bisa Memperburuk Melasma? Ini Kata Dokter Kulit
(Penulis: Jenna Rosenstein; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Elaine Mary; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
- Tag:
- niacinamide
- skincare
- beauty
- kulit
- serum
