Selama satu dekade terakhir, Bella Hadid telah menjelma menjadi ratu tak resmi karpet merah Cannes Film Festival berkat pilihan gayanya yang selalu berani. Pada 2016, ia menghebohkan internet lewat gaun merah cair karya Alexandre Vauthier dengan belahan yang menjulang hingga ke atas tulang pinggul. Pada 2024, ia mengenakan gaun koktail transparan karya Saint Laurent dalam nuansa cokelat pudar yang memicu perbincangan mengenai batasan nudity di tengah dress code festival yang ketat. Pada tahun yang sama, ia juga memberi penghormatan kepada warisan Palestina melalui gaun merah putih yang dibuat dari keffiyeh.
BACA JUGA: Para Bintang Ternama Akan Tiba di Cannes untuk Festival Film Tahunan ke-79
Akhir pekan ini, Bella akhirnya kembali menapaki karpet merah Cannes 2026 setelah beberapa penampilan santai di sepanjang pesisir Prancis. Ia tampil anggun saat menghadiri pemutaran perdana Garance dalam balutan gaun custom Prada berupa sheath dress strapless dari silk satin putih keperakan dengan embellishment pada bagian bustier. Sebuah jaket senada dibiarkan menggantung lembut di bahunya, sementara rambutnya ditata dalam sleek updo. Sebagai ambassador Chopard, ia melengkapi penampilannya dengan perhiasan berlian yang berkilau. Ia tampak luar biasa, meski terasa lebih restrained dibanding reputasinya sebagai risk-taker Cannes yang tak pernah dapat ditebak.
Bella Hadid mengenakan Prada di Cannes, 2016.
Sehari sebelumnya, Taylor Russell menghadiri pemutaran perdana Hope dalam gaun silk putih karya Dior. Gaun tersebut menampilkan bodice strapless sederhana dengan rok bordir yang draped di pinggul. Penampilan menonjol lain akhir pekan ini termasuk Cate Blanchett dalam gaun hitam custom Louis Vuitton dengan interpretasi modern atas kerah Elizabethan, Ruth Negga dalam slip dress putih krem bergaya 1990-an, serta Dua Lipa dalam gaun hitam Jacquemus dengan rok fringe hitam putih. Di awal pekan, Kelly Rutherford dan Jane Fonda tampil dalam sheath dress hitam berpayet yang nyaris serupa, disusul Kaia Gerber dalam crop top dan rok hitam dari koleksi Fall 2026 Jacquemus. Rangkaian penampilan yang refined dan sophisticated ini memunculkan pertanyaan yang sulit diabaikan. "Ke mana perginya seluruh warna?"
Tema dominan karpet merah Cannes tahun ini tampaknya adalah elegance. Di permukaan, pilihan ini terasa tepat. Festival film ini merupakan panggung utama bagi industri untuk berkumpul, mempertemukan talenta A-list dengan generasi baru supermodel, brand ambassador, dan influencer. Namun, apakah sophistication harus selalu diterjemahkan ke dalam hitam dan putih?
Karpet merah Cannes juga memiliki sejarah pemberontakan. Selebritas seperti Bella Hadid dan Kristen Stewart pernah menantang aturan berpakaian yang ketat melalui gaun transparan atau bahkan dengan melepas sepatu hak tinggi dan berjalan tanpa alas kaki. Namun, entah mengapa, tahun ini talenta Hollywood yang paling menarik, didandani oleh stylist paling berpengaruh, justru tampil dalam arak-arakan gaun hitam, putih, atau kombinasi keduanya. Apakah monokrom benar-benar satu-satunya jalan menuju chic?
Cate Blanchett mengenakan Louis Vuitton di Cannes.
Dan fenomena ini tidak hanya terjadi di Cannes. Sepanjang musim karpet merah tahun ini, hitam, putih, dan sesekali sentuhan metallic atau warna netral mendominasi. Di Academy Awards, Teyana Taylor mengenakan gaun Chanel hitam putih berhias bulu, Emma Stone memilih sheath dress putih keperakan bergaya 1990-an, dan Elle Fanning tampil dalam gaun putri berwarna putih dengan bordir perak. Di Golden Globe Awards, Selena Gomez mengenakan gaun Chanel hitam dengan aksen bulu putih, Amanda Seyfried tampil dalam gaun putih pahatan karya Versace, sementara Ayo Edebiri memilih slip dress Chanel hitam bernuansa 1920-an. Hal serupa juga terlihat di Critics Choice Awards, di mana Renate Reinsve, Britt Lower, dan Jessie Buckley tampil dalam palet putih, hitam, dan kombinasi keduanya.
Selena Gomez mengenakan Chanel di Golden Globe Awards.
Nuansa grayscale bahkan meluas ke Met Gala tahun ini, sebuah ajang yang biasanya menjadi habitat alami bagi penampilan paling flamboyan. Dengan dress code “Fashion is Art”, karpet merah justru terasa lebih tenang dibanding kemegahan yang biasa dihadirkan beberapa tahun terakhir. Dalam daftar best dressed kami, Kylie Jenner tampil dalam bustier nude pahatan dan rok krem karya Schiaparelli, Kendall Jenner mengenakan gaun krem berpilin dari Gap Studio yang memperlihatkan sculpted bra berwarna nude, sementara Gigi Hadid memilih sheath dress transparan metallic hitam dari Miu Miu. Meski tidak sepenuhnya absen, gaun berwarna hadir jauh lebih sedikit dari biasanya.
Apakah dominasi monokrom sebenarnya sudah tertulis sejak awal? Musim gugur lalu, Pantone menetapkan “Cloud Dancer”, warna putih lembut yang nyaris tak berwarna, sebagai warna tahun 2026. Perusahaan tersebut menyebutnya sebagai “pernyataan sadar tentang penyederhanaan.” Kalimat yang terasa begitu akrab setelah era quiet luxury dan kebangkitan estetika Carolyn Bessette-Kennedy yang memuliakan minimalisme 1990-an serta kekuatan seragam serba hitam khas perempuan New York.
Kendall Jenner dalam Gap Studio di Met Gala.
Matthieu Blazy, creative director Chanel sekaligus sosok yang menjadi pusat perhatian sejak mengambil peran tersebut tahun lalu, menutup peragaan Fall 2026 dengan setelan celana hitam yang kemudian disusul gaun jersey hitam sepanjang pertengahan paha. Dalam tradisi fashion show, presentasi biasanya dibuka dengan busana siang hari sebelum ditutup dengan tampilan formal. Namun, penutup ini terasa sebagai kontras tajam dibanding rok warna-warni berhias bulu yang menandai debutnya hanya satu musim sebelumnya. Faktanya, Oktober tahun ini menandai 100 tahun sejak Coco Chanel pertama kali memperkenalkan LBD atau little black dress, dengan potongan yang mengingatkan pada desain Matthieu untuk Fall 2026. Pada 1920-an, gaya ini terasa radikal karena sifatnya yang praktis. Tidak terlalu kasual, tetapi juga tidak terlalu formal. Menyanjung siluet, understated, dan chic, gaun ini dapat dikenakan dalam hampir setiap situasi. Di tengah dunia yang dipenuhi terlalu banyak pilihan, LBD tetap menjadi opsi paling mudah dan nyaris tak pernah gagal.
Finale look dari Chanel Fall 2026 Collection
Kini, ketika para selebritas menghadiri karpet merah, selalu ada ruang bagi publik untuk mengkritik, terlebih jika acara tersebut disiarkan secara global dan didukung oleh para miliarder teknologi. Di era media sosial, setiap keputusan gaya langsung dibedah, dipuji, dan dipertanyakan. Hitam dan putih bukanlah warna yang terlalu mencari perhatian. Keduanya selaras dengan kata-kata seperti timeless dan classic. Dan strategi ini hampir selalu berhasil. Banyak dari penampilan tersebut memang memikat, dengan para pemakainya memancarkan Old Hollywood glamour yang begitu populer di karpet merah belakangan ini. Tentu, kreativitas tetap dapat hadir tanpa warna. Namun, pendekatan hitam dan putih sering kali mengabaikan sensasi emosional yang muncul ketika kita melihat semburat merah scarlet, kilatan turquoise, atau sentuhan fuchsia yang berani.
Beberapa penampilan paling berkesan musim ini justru datang dari mereka yang menunjukkan kecintaan tanpa kompromi terhadap warna. Saat Jessie Buckley menerima Oscar dalam gaun color-block Chanel bernuansa baby pink dan merah cerah, busananya merefleksikan kegembiraan yang ia rasakan. Ketika Wunmi Mosaku menghadiri BAFTA dalam sheath dress biru cobalt berfringe karya Ahluwalia, ia memancarkan energi yang tenang namun kaya. Di Met Gala, Chase Infiniti mengenakan kreasi Thom Browne berhias spektrum pelangi yang terasa lebih artistik dibanding hampir semua penampilan malam itu. Dan akhir pekan ini di Cannes, Demi Moore memukau dalam ball gown neon pink karya Matières Fécales, sementara Ruth Negga tampil dalam slip dress sutra custom Dior berwarna hijau murky yang nyaris surealis, dihiasi fringe tonal dan lace hitam yang menyelimutinya dalam aura misteri.
Dari kiri ke kanan: Wunmi Mosaku mengenakan Ahluwalia, Chase Infiniti mengenakan Thom Browne, Jessie Buckley mengenakan Chanel, Ruth Negga mengenakan Dior, dan Demi Moore mengenakan Matières Fécales.
Inilah penampilan-penampilan yang terus terbayang lama setelah pertama kali dilihat. Masing-masing membuktikan bahwa warna bukanlah sesuatu yang aman. Warna bersifat emosional, dan karena itu kerap memunculkan respons yang kuat. Namun, di era yang semakin mengutamakan tampilan yang rapi, sempurna, dan sederhana, busana penuh warna terasa seperti kejutan yang sangat dibutuhkan, baik disukai maupun tidak. Mungkin Anda tidak akan mengingat gaunnya secara detail, tetapi Anda akan selalu mengingat bagaimana perasaan Anda saat melihatnya.
BACA JUGA:
Kristen Stewart Kembali Padukan Sneakers dengan Chanel di Cannes Film Festival
(Penulis: Camille Freestone; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Devon Satrio; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
