Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Apa yang Sedang Terjadi di Dunia Seni New York pada 2026? “Greater New York” di MoMA PS1 Punya Jawabannya

Enam seniman yang berpartisipasi dalam pameran tahun ini dan patut Anda kenal.

Apa yang Sedang Terjadi di Dunia Seni New York pada 2026? “Greater New York” di MoMA PS1 Punya Jawabannya
Foto: COURTESY OF BAZAAR US

Kita hidup di masa yang terasa begitu rapuh. Atau, setidaknya, rentetan kabar buruk yang datang tanpa henti terus memicu kecemasan: harga sewa yang kian tinggi, perang, peluang kerja yang semakin menyusut, hingga inflasi yang tak kunjung reda. Semua ini perlahan menggerus gagasan tentang “American Dream” yang kini terdengar nyaris seperti lelucon.

BACA JUGA: Sejarah Tubuh Manusia di “Seni Kostum,” Pameran Institut Kostum Baru

Lalu bagaimana dengan para seniman, khususnya di New York, ketika gagasan tentang meraih kesuksesan, atau bahkan sekadar memiliki studio, terasa semakin sulit dijangkau? Apakah masih mungkin menciptakan karya seni besar di kota ini? (Salah satu seniman, Josh Kline, pernah menulis panjang lebar tentang betapa meragukannya hal tersebut.) Namun, para seniman yang tampil dalam Greater New York di MoMA PS1 menghadirkan narasi yang berbeda: sebuah pandangan yang optimistis, dibangun di atas keindahan dan vitalitas komunitas lokal mereka. Pameran yang hangat dan dipenuhi berbagai temuan menarik ini menjadi jeda yang terasa begitu penting di tengah derasnya berita negatif.

Greater New York, sebuah survei seni yang pertama kali diluncurkan oleh PS1 pada tahun 2000, secara konsisten menjadi semacam pemeriksaan denyut nadi dunia seni New York setiap lima tahun sekali. Untuk edisi keenam ini, museum melibatkan seluruh tim kuratorialnya, kelompok kurator yang relatif muda di bawah kepemimpinan Ruba Katrib dan Connie Butler, yang memilih 53 seniman dari berbagai generasi dan medium.

Tidak mengherankan jika para seniman muda dalam pameran ini bergulat dengan dunia yang berubah drastis sepanjang hidup mereka, ditandai oleh kekerasan politik dan perkembangan teknologi yang semakin sulit dikendalikan. Namun yang membuat pameran ini terasa lebih istimewa adalah hubungan lintas generasi antara para seniman yang sama-sama mengamati kota dan dunia tempat mereka hidup, sembari mengeksplorasi kebahagiaan dan kegelisahan kehidupan kontemporer.

Meski demikian, pameran ini tetap menawarkan pandangan yang menjanjikan tentang masa depan. Pemeriksaan lima tahunan ini memperlihatkan komunitas seni New York yang sangat tangguh dan terus berkembang dengan kreativitas yang berani.

“Karya-karya mereka merekam transisi ganjil abad ke-21,” ujar Ruba. “Kita hidup di dunia yang terasa seperti sedang terurai sekaligus bergerak semakin cepat. Pameran ini menampilkan ketegangan dan kontradiksi tersebut, serta bayangan masa depan yang perlahan mulai terurai di tepinya.”

Harper’s Bazaar berbincang dengan enam seniman mengenai mengapa edisi Greater New York kali ini terasa begitu mendesak dan relevan.

Women’s History Museum

Foto: COURTESY OF BAZAAR US

Women’s History Museum merupakan proyek kolaboratif Mattie Barringer dan Amanda McGowan, keduanya lahir pada tahun 1990. Duo eksperimental ini memanfaatkan bahasa fashion untuk mengeksplorasi gagasan tentang kecantikan dan konvensi melalui lensa museum fiktif yang mereka ciptakan. Semuanya terasa absurd namun memikat, mulai dari gaun yang dibuat dari koran hingga pecahan kaca, tetapi justru melalui pendekatan inilah mereka mendorong kita untuk memikirkan ulang hubungan antara mode dan sejarah.

Mengapa menurut Anda edisi Greater New York kali ini terasa begitu mendesak?

“Lebih dari sebelumnya, New York City telah berubah menjadi taman hiburan bagi orang-orang kaya dan setiap tahun kehilangan semakin banyak percikan kreatif serta keunikannya. Individualitas dan karakter warga serta bisnis di New York digantikan oleh lautan orang berpakaian beige dan deretan salad shop. Kami merasa ada urgensi untuk terus berkarya dan menampilkan karya di New York, terutama melalui platform seperti Greater New York, untuk menunjukkan bahwa kota ini masih memiliki jiwa. Dan bahwa masih ada kemungkinan lain di luar realitas yang hambar dan tidak indah yang saat ini dipaksakan kepada kita, baik secara estetis maupun spiritual.”

“Dalam iklim politik baru yang terasa semakin menyerupai fascism, dan di tengah perasaan akan datangnya malapetaka, kami ingin menoleh kepada mereka yang pernah mengalami tragedi di New York, serta menyoroti tenaga kerja di balik pembuatan pakaian, sesuatu yang juga kami eksplorasi dalam pameran-pameran terbaru kami. Karya kami berpusat pada Triangle Shirtwaist Factory fire, yang terjadi pada tahun 1911 di bangunan yang kini menjadi ruang kelas New York University.”

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
Women’s History Museum, Chez les heureux du monde, 2026. Tampilan instalasi “Greater New York” yang dipamerkan di MoMA PS1 dari 16 April hingga 17 Agustus 2026. Foto: Kris Graves. Courtesy of MoMA PS1.

Apa yang pertama kali menginspirasi Anda untuk menggunakan fashion sebagai medium?

“Fashion terasa seperti sesuatu yang sangat alami bagi kami, dan menjadi arah yang masuk akal begitu kami berteman. Secara terpisah, kami memang selalu tertarik pada fashion, tetapi tidak merasa terhubung dengan budaya industri tersebut maupun praktik eksploitasi di dalamnya. Bersama-sama, kami dapat membangun jalur kami sendiri, menggunakan fashion sebagai medium sambil menghindari bagian-bagian yang tidak ingin kami libatkan.”

Farah Al-Qasimi

Foto: COURTESY OF BAZAAR US

Farah Al-Qasimi, yang lahir pada tahun 1991, dikenal melalui kemampuannya menangkap momen-momen singkat dalam kehidupan sehari-hari. Seniman yang berbasis di Brooklyn ini pertama kali menarik perhatian publik lewat fotografi close-up terhadap sosok-sosok yang kerap berada di interior domestik di negara asalnya, United Arab Emirates. Melalui karya-karya tersebut, ia mengeksplorasi identitas budaya, sering kali melalui lensa konsumerisme dan kontrol.

Memasuki dekade 2020-an, Farah mengarahkan kameranya ke United States, khususnya ke Dearborn, Michigan, kota dengan komunitas Arab yang sangat besar. Sejumlah karya tersebut, yang menelusuri dinamika komunitas lintas budaya ini, memenuhi dua dinding penuh dalam pameran.

Bagaimana Anda menggambarkan kondisi dunia seni New York saat ini?

“Dunia seni New York bukanlah sesuatu yang monolitik. Ada begitu banyak subkelompok di dalamnya. Saya senang melihat apa yang terus dikerjakan orang-orang meskipun harus menghadapi harga sewa yang nyaris mustahil dan birokrasi yang tak ada habisnya. Galeri di ruang tamu, artist-run spaces, pameran spontan di lokasi-lokasi tak terduga, apa pun bentuknya.”

“Dalam beberapa tahun terakhir, para seniman juga menghadapi intimidasi yang terus-menerus karena menyuarakan dukungan bagi Palestina dan Lebanon. Rasanya kekuatan yang sesungguhnya mulai kembali ke tangan individu dan kolektif, mereka yang menolak memisahkan seni dari politik dan berusaha menemukan cara untuk tetap bertahan tanpa harus diam di hadapan kekerasan yang tak terbayangkan.”

Mengapa menurut Anda edisi Greater New York kali ini terasa begitu mendesak?

“Edisi terakhir berlangsung pada 2021, ketika kita masih berusaha pulih dari kehilangan akibat pandemi dan berbulan-bulan masa lockdown. Ini terasa seperti momen yang tepat bagi para seniman untuk kembali terhubung dan berkumpul setelah guncangan beberapa tahun terakhir.”

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
Farah Al-Qasimi, Kabob House, 2026. Courtesy of the artist dan François Ghebaly, New York dan Los Angeles.

Bagaimana foto-foto Anda menjadi penghubung antara komunitas Arab di Michigan dan Amerika Serikat dengan Uni Emirat Arab?

“Saya tertarik memotret momen-momen yang seolah tidak terikat pada satu tempat tertentu. Michigan dan kawasan Teluk penting bagi saya karena keduanya merepresentasikan dua sisi dari kekuatan destruktif yang sangat relevan hari ini. Michigan adalah rumah bagi industri otomotif Amerika yang mempekerjakan banyak imigran dan Arab-Amerika, sementara kawasan Teluk merupakan salah satu produsen dan eksportir minyak terbesar di dunia.”

“Saya memulai proyek ini pada 2019, dengan fokus khusus pada Operation Desert Storm dan Perang Irak 2003. Sangat mengerikan menyaksikan siklus eksploitasi yang penuh kekerasan ini terus berulang.”

Taína Cruz

Foto: COURTESY OF BAZAAR US

Taína Cruz, pelukis yang tumbuh besar di Harlem dan Bronx, mungkin sudah tidak asing lagi bagi Anda melalui Whitney Biennial 2026, di mana ia menjadi seniman termuda yang berpartisipasi tahun ini. Pada usia 27 tahun, Taína baru saja menyelesaikan program MFA di Yale School of Art. Karya-karya potretnya dipenuhi elemen fantastis, dengan figur-figur yang kerap bersinar dalam palet neon atau ditempatkan dalam lanskap yang terasa seperti dunia lain.

Bagaimana Anda menggambarkan kondisi dunia seni New York saat ini?

“New York masih memiliki energi yang tidak benar-benar bisa direplikasi di tempat lain. Kota ini terus mendorong orang untuk berkarya dengan cara yang terasa sangat khas. Namun, pada saat yang sama, semakin sulit mempertahankan ruang-ruang yang dahulu memungkinkan energi tersebut tumbuh.”

“New York memang selalu mahal, tetapi sekarang artist-run spaces, tempat-tempat kecil yang unik, dan komunitas dapat menghilang hampir dalam semalam. Gentrifikasi terus berlangsung semakin cepat. Ada begitu banyak kekayaan yang mengelilingi dunia seni saat ini, tetapi tidak selalu diiringi perhatian terhadap kondisi nyata para seniman yang hidup di dalamnya.”

“Kita juga hidup di masa ketika semua orang terus-menerus mengonsumsi segala hal, gambar, opini, informasi, sepanjang hari. Orang-orang mengalami overstimulation dan kelelahan emosional. Menjadi semakin sulit untuk benar-benar hadir dan duduk bersama sesuatu secara mendalam. Mungkin karena itu, momen koneksi yang tulus atau kejutan justru terasa semakin penting.”

Mengapa menurut Anda edisi Greater New York kali ini terasa begitu mendesak? Bagaimana karya Anda masuk ke dalam narasi yang dibangun para kurator?

“Yang terasa mendesak bagi saya dari edisi Greater New York kali ini adalah kedekatannya dengan apa yang benar-benar dirasakan banyak orang saat ini. Ada intensitas, kerentanan, humor, dan kecemasan yang hadir secara bersamaan. Itu terasa sangat sesuai dengan kehidupan sekarang, sekaligus sangat khas New York.”

“Karya saya masuk ke dalam narasi tersebut melalui rasa dan atmosfer. Saya ingin karya saya menyentuh orang secara emosional sebelum apa pun. Wall drawing ini terasa sangat hidup bagi saya. Sosok di dalamnya benar-benar berlari menuju jendela dan lanskap kota. Saya sangat tertarik menciptakan karya yang pertama-tama dapat dirasakan oleh tubuh.”

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
Taína Cruz, Charm Written in Steam and Light, 2025. Foto: Luis Corzo. Courtesy of the artist dan Embajada, San Juan.

Bagaimana Anda menyeimbangkan portraiture yang intim dengan kualitas fantastis dan nyaris dunia lain dalam lukisan Anda?

“Saya tidak benar-benar memisahkan kedua hal itu. Tumbuh besar di kota ini sendiri sudah terasa surealis bagi saya. Tetangga sebelah rumah dan teman-teman sekolah saya terasa seperti karakter yang hidup di dalam gedung-gedung pencakar langit yang redup namun bercahaya.”

“Kehadiran manusia adalah hal yang membuat saya tetap terhubung dengan seni lukis. Sejauh apa pun lukisan menjadi berlebihan atau imajinatif, saya tetap ingin karya itu terasa jujur secara emosional.”

Chang Yuchen

Foto: COURTESY OF BAZAAR US

Chang Yuchen, yang lahir di Tiongkok pada 1989, kerap menciptakan karya seni melalui tindakan dokumentasi. Tidak lama setelah lulus dari School of the Art Institute of Chicago pada 2013, suaminya meninggal dunia. Untuk menghadapi kehilangan tersebut, ia menciptakan sebuah karya dengan mengompilasi data dan file dari hard drive milik suaminya. Proyek berkelanjutan lainnya, Use Value, menelaah dampak nyata dari perdagangan dengan menciptakan komoditas buatan tangan yang dimaksudkan untuk digunakan, bukan sekadar dipandang. Kini, seniman yang berbasis di New York ini dengan tekun mengumpulkan dan mendokumentasikan karang, beberapa di antaranya dipamerkan di MoMA PS1.

Bagaimana Anda menggambarkan kondisi dunia seni New York saat ini?

“Bagi saya, dunia seni New York adalah tentang persahabatan. Saya bukan hanya mengagumi dan terinspirasi oleh karya-karya teman-teman saya, tetapi komitmen mereka terhadap praktik yang berani dan eksperimental juga membantu saya tetap setia pada praktik saya sendiri. Saya tidak merasa sendirian, bahkan ketika saya tenggelam dalam sensitivitas yang sangat personal dan bernuansa. Hal ini tidak berubah sejak saya pindah ke New York pada 2013.”

Mengapa menurut Anda edisi Greater New York kali ini terasa begitu mendesak? Bagaimana karya Anda masuk ke dalam narasi yang dibangun para kurator?

“Teman saya Skuta, yang juga mengelola Artbook di MoMA PS1, pernah mengatakannya dengan sangat tepat: pameran ini mengakui pentingnya bahasa keseharian. Sebagai contoh, saya merasa sangat terhormat dapat memamerkan karya saya berdampingan dengan Cevallos Bros. Saya tinggal di Queens, dan setiap hari melihat signage mereka yang indah dan hidup saat berjalan di Roosevelt Avenue. Gambar makanan, minuman, dan orang-orang yang menari. Gambaran tentang kehidupan yang baik.”

“Ketika keseharian kita diangkat ke dalam ruang pamer, dan perasaan intens tentang hidup diekspresikan melalui karya seni, hasilnya terasa begitu kuat sekaligus manis.”

“Saya bekerja sangat dekat dengan kurator Sheldon Gooch, dan bersama-sama kami memutuskan untuk menampilkan presentasi yang cukup komprehensif dari proyek berkelanjutan saya, Coral Dictionary, di mana saya menyusun sebuah bahasa tertulis menggunakan serpihan karang. Kami menampilkan gambar-gambar berupa ‘kalimat’, beserta catatan, draft, surat, print, dan buku yang saya kerjakan selama enam tahun terakhir.”

“Mungkin ada unsur keseharian dalam karya saya yang melampaui kerangka seni dan mengalir ke dalam kehidupan itu sendiri. Keberagaman bahasa di Queens juga sangat memengaruhi ketertarikan saya terhadap perbedaan dialek dan bentuk-bentuk literasi alternatif.”

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
Chang Yuchen, detail dari Coral Dictionary di MoMA PS1, 2026. Courtesy of MoMA PS1.

Dapatkah Anda menjelaskan tentang “Coral Dictionary”?

“Proyek ini bermula saat saya mengikuti residensi di sebuah pulau di Malaysia pada 2019. Di sana, saya merasa tertarik secara tak terjelaskan pada fragmen-fragmen karang di pantai, seolah-olah saya dapat membacanya.”

“Dalam perjalanan yang sama, saya menemukan Kamus Sari, kamus Tionghoa-Melayu-Inggris yang pertama kali diterbitkan pada 1970-an. Kalimat-kalimat contohnya, yang membahas perang, kerja, laut, dan malam-malam tanpa tidur, terasa begitu hidup hingga seperti diambil langsung dari pengalaman nyata.”

“Saya kemudian memutuskan untuk mempertemukan dua sedimentasi ini, satu berasal dari siklus kehidupan laut, dan satu lagi dari sejarah, melalui proses yang saya sebut sebagai terjemahan. Hingga saat ini, saya telah menerjemahkan 92 kalimat dari Kamus Sari ke dalam bentuk karang.”

“Saya mendokumentasikan terjemahan tersebut melalui gambar pensil yang sangat detail. Ketelitian dalam menggambar setiap karang, hingga ke pori-pori terkecilnya, adalah tempat di mana kesetiaan terjemahan itu berada.”

Candace Hill-Montgomery

Foto: COURTESY OF BAZAAR US

Candace Hill-Montgomery, legenda dunia seni New York yang kini berusia 81 tahun, masih terus menghasilkan karya-karya eksperimental yang kerap sarat muatan politik, mencakup tekstil, fotografi, cat air, dan assemblage. Namanya mulai dikenal luas pada akhir 1970-an melalui instalasi site-specific, menjadikannya salah satu figur penting dalam alternative art spaces di pusat kota New York.

Karyanya berada di antara ketelitian craftsmanship dan komposisi yang tampak nyaris kacau, menolak diklasifikasikan secara sederhana sebagai abstrak ekspresionisme. Dalam Greater New York, pengunjung dapat melihat sejumlah foto double exposure serta karya “weaves”, tenunan yang dibuat menggunakan peacock linen, kertas Jepang, sutra mentah, kasmir, wol domba Diné-Churro, hingga rambut kuda.

Bagaimana Anda menggambarkan kondisi dunia seni New York saat ini?

“New York dulu benar-benar merupakan the It place to be. SoHo pada tahun 1980-an dan 1990-an terasa begitu penting dan hidup. Saya mengingatnya sebagai lautan tangan dan kaki yang saling berebut untuk masuk ke sebanyak mungkin pembukaan galeri yang sudah penuh sesak hanya dalam satu malam.”

“Kepadatan kerumunan itu menjadi semacam ukuran apakah sebuah pameran dipasang dengan sangat baik, atau apakah karya-karyanya memiliki ketepatan yang sempurna, menguasai setiap inci ruang.”

“Apa yang berubah? Kini semua orang ingin menjadi seniman. Beberapa pengajar bahkan menawarkan jalur yang seolah umum: masuk kuliah, belajar bagaimana menjadi seniman, seakan-akan itu hanyalah salah satu mata pelajaran yang bisa dipilih dan dipelajari.”

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
Tampilan instalasi “Greater New York” yang dipamerkan di MoMA PS1. Foto: Kris Graves. Courtesy of MoMA PS1.

Mengapa menurut Anda edisi Greater New York kali ini terasa begitu mendesak? Bagaimana karya Anda masuk ke dalam narasi yang dibangun para kurator?

“Kita hidup di masa yang mendesak. Ini bukan saat untuk membangun kerangka semata, melainkan untuk berpegang pada sebuah visi sampai akhir hayat.”

“Saya tidak sedang bercanda. Bahkan jika Anda sedang bercanda, masa-masa serius seperti ini membutuhkan individu yang berdedikasi. Bukan untuk mewakili selera yang baik, tetapi mungkin justru dalam ketiadaan selera yang baik, dalam sebuah ketidakdewasaan yang matang, kita dapat memandang jalan ke depan yang kotor ini dengan cara yang tidak hambar. Dengan terjun ke dalamnya, menjadi sedikit kotor bersama yang lain, dan terkadang tidak mempermasalahkannya.”

“Kita, sebagai seniman, tidak dapat memisahkan diri dari para pekerja. Kita juga tidak dapat mengorbankan nilai-nilai kita demi agenda apa pun. Saya percaya para kurator memilih cabang pemikiran yang serupa, sehingga kita perlu mencapai kesepahaman dari titik tersebut.”

Tom Thayer

Foto: COURTESY OF BAZAAR US

Tom Thayer sehari-hari bekerja sebagai profesor seni lukis di City College of New York. Namun, pada pagi-pagi buta, seniman berusia 55 tahun ini sibuk merancang diorama dan boneka nonnaratif dari material daur ulang seperti kardus, kawat logam, hingga galon susu plastik.

Scenographic plays”, demikian ia menyebut karya-karya low-fi tersebut, kerap menghadirkan kisah-kisah mitologis yang sarat emosi, diperkuat oleh warna-warna terang dari televisi lama dan musik lembut yang melodis. Instalasinya dalam Greater New York, Counterdoses for the Home, mungkin menjadi sudut paling tenang sekaligus paling ganjil dalam keseluruhan pameran.

Mengapa menurut Anda edisi Greater New York kali ini terasa begitu mendesak? Bagaimana karya Anda masuk ke dalam narasi yang dibangun para kurator?

“Kita hidup di masa yang penuh kecemasan dan urgensi. Rasanya alarm terus berbunyi di kepala kita, dan karya seni mencerminkan kenyataan tersebut.”

“Karya yang saya tampilkan di Greater New York bersifat autobiografis dan berbicara tentang beban psikologis kehidupan domestik kontemporer. Narasinya mengambil bentuk dari mimpi, serangkaian adegan ganjil yang terus mengulang kehidupan sehari-hari kita.”

“Untuk menggali hal itu, saya membuat sebagian besar karya dalam keadaan di antara tidur dan terjaga. Saya tidak sepenuhnya sadar atas keputusan yang saya ambil, tetapi ketika melihatnya kembali, saya dapat memahami referensi-referensi dari kehidupan nyata, sama seperti saat kita menafsirkan makna di balik mimpi.”

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
Tom Thayer, Counterdoses for the Home, 2026. Courtesy MoMA PS1.

Dapatkah Anda menjelaskan apa yang Anda maksud dengan “scenographic plays”?

“Patung, lukisan, karya di atas kertas, dan musik saya sering kali merupakan hasil sampingan dari video animasi yang saya ciptakan untuk pertunjukan. Saya membawa semuanya ke dalam scenographic plays dan menghidupkannya melalui cahaya, proyeksi, dan suara langsung, menghadirkan serangkaian adegan improvisasi yang berdampingan.”

“Gabungan adegan-adegan tersebut membentuk narasi yang cukup terbuka sehingga penonton dapat berperan aktif dalam menafsirkannya.”

“Inspirasi untuk bentuk narasi ini muncul ketika saya menonton film My Dinner with Andre karya Louis Malle saat masih kecil. Dalam film itu, Andre Gregory menjelaskan latihan parateater Grotowski yang disebut ‘Beehive’.”

“Dalam Beehive, sekelompok orang, sering kali orang asing, berkumpul untuk sebuah pertunjukan privat, di mana pemain adalah penonton dan penonton adalah pemain.”

“Tujuannya adalah menghapus batas antara peserta dan penonton, menangguhkan peran sosial, dan menciptakan perjumpaan yang sungguh-sungguh. Andre menggambarkan Beehive yang ia pimpin di Polandia: ‘Dalam satu cara, ini seperti kembali ke masa kanak-kanak, ketika sekelompok anak memasuki sebuah ruangan tanpa mainan dan mulai bermain. Orang dewasa belajar bermain kembali. Saya rasa untuk pertama kalinya saya merasakan apa artinya benar-benar hidup."

BACA JUGA: 

Art Jakarta Gardens 2026 Kembali Menegaskan Dialog antara Seni dan Alam di Tengah Jakarta

Di Dior, Jonathan Anderson Merayakan Couture dengan Sentuhan Seni

(Penulis: Maxwell Rabb; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Devon Satrio; Foto: Courtesy of BAZAAR US)