Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

9 Novel Psychological Thriller Terbaik yang Mustahil Dilepaskan dari Genggaman

Dari romansa kelam yang menggoda hingga eksplorasi suram tentang sisi terdalam pikiran manusia, inilah deretan novel penuh ketegangan yang tak terduga sekaligus begitu adiktif untuk dibaca.

9 Novel Psychological Thriller Terbaik yang Mustahil Dilepaskan dari Genggaman
Foto: Courtesy of BAZAAR US

Di tengah berbagai distraksi kehidupan sehari-hari, email yang terus berdatangan, notifikasi ponsel yang tanpa henti berbunyi, rasanya semakin sulit menemukan cerita yang benar-benar mampu menyita seluruh perhatian kita.

BACA JUGA: Dari Halaman ke Layar, Film Adaptasi Novel Barat Ini Sukses Mencuri Perhatian

Untungnya, masih ada sejumlah psychological thriller luar biasa yang langsung menuntut fokus penuh sejak halaman pertama. Selain menawarkan alur cepat dan penuh kejutan, novel-novel terbaik dalam genre ini juga menyelami psikologi manusia secara mendalam, mengeksplorasi dorongan di balik hasrat-hasrat tergelap kita, sambil perlahan membangun ketegangan yang terus memuncak hingga klimaks.

Di bawah ini, Bazaar telah memilih deretan novel paling memikat yang akan terus membekas bahkan setelah bukunya ditutup. Bersiaplah mengorbankan jam tidur karena terlalu sulit berhenti membaca.

Berikut 9 judul nover bertama psychological thriller:

1. My Husband — Maud Ventura

Foto: Courtesy of BAZAAR US

Debut gelap penuh humor satir karya Maud Ventura, kisah ini mengikuti seorang perempuan Prancis tanpa nama yang memiliki obsesi total terhadap sang suami. Sekilas, kehidupan mereka tampak nyaris sempurna: cukup mapan, memiliki dua anak, dan tinggal di rumah yang membuat iri banyak orang. Namun, pembaca diajak menyaksikan bagaimana semuanya perlahan runtuh hanya dalam waktu satu minggu, ketika cinta sang protagonis berubah menjadi sesuatu yang semakin obsesif dan tidak stabil.

Setelah sang suami dianggap menunjukkan perilaku “buruk” di sebuah pesta makan malam, perempuan tersebut mulai mencatat setiap kesalahan kecil yang ia rasakan dan diam-diam menghukumnya dengan cara yang semakin ekstrem. Di saat bersamaan, kewarasannya mulai terguncang karena ia yakin suaminya tidak cukup mencintainya. Seiring berjalannya hari, novel ini berkembang menjadi ledakan emosi yang nyaris tak tertahankan, sementara ruang dalam pikiran sang protagonis terasa semakin sempit dan mencekam.

Novel pertama karya Maud yang diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Emma Ramadan memenangkan Prix du Premier Roman berkat pengamatannya yang tajam mengenai rasa tidak aman, posesivitas, dan obsesi. Buku keduanya, Make Me Famous juga bergerak di tema serupa dengan mengeksplorasi kondisi mental seorang musisi yang terobsesi pada popularitasnya sendiri.

2. The Eyes Are The Best Part — Monika Kim

Foto: Courtesy of BAZAAR US

Psychological horror ini mengeksplorasi fetisisasi dan feminisme lewat kisah Ji-won, seorang mahasiswi Korea-Amerika yang hidupnya hancur ketika ayahnya meninggalkan keluarga mereka demi perempuan lain. Saat ibunya tenggelam dalam depresi dan adiknya semakin tertutup, Ji-won sendiri harus menghadapi berbagai masalah: nilai kuliah yang memburuk dan kesepian yang perlahan berubah menjadi kemarahan terpendam.

Situasi semakin buruk ketika ibunya menjalin hubungan dengan George, pria kulit putih yang lebih tua dan bersikap merendahkan, khususnya terhadap perempuan Asia. Ia juga menunjukkan ketertarikan yang tidak sehat terhadap Ji-won dan adiknya. Ketika kondisi mental Ji-won memburuk, ia mulai memiliki fantasi kekerasan terhadap George, terutama terobsesi pada mata biru terang milik pria itu. Pikiran-pikiran intrusif tersebut perlahan berkembang menjadi dorongan yang semakin brutal, ketika Ji-won mencoba merebut kembali kendali atas hidup yang membuatnya merasa tidak berdaya.

3. The Birthday Party — Laurent Mauvignier

Foto: Courtesy of BAZAAR US

Berlatar di sebuah desa kecil terpencil di Prancis, The Birthday Party mengikuti Patrice Bergogne, seorang petani yang sedang menyiapkan pesta ulang tahun ke-40 untuk istrinya, Marion. Namun seiring hari berjalan, kehidupan di desa tersebut mulai perlahan runtuh: surat-surat ancaman bermunculan, mobil-mobil asing berdatangan, dan ketika malam tiba, tamu-tamu tak diundang mulai memenuhi desa kecil itu—memicu rangkaian kejadian yang sangat mengganggu.

Gaya penulisan Laurent yang panjang, puitis, dan mengingatkan pada karya Proust berhasil membangun ketegangan yang nyaris tak tertahankan, ketika kenangan masa lalu mulai menghantui masa kini dan konflik-konflik lama akhirnya meledak. Sebuah slow-burn thriller yang benar-benar unsettling, novel ini masuk longlist International Booker Prize 2023.

4. Dark Places — Gillian Flynn

Foto: Courtesy of BAZAAR US

Meski lebih dikenal lewat Gone Girl, karya Gillian Flynn yang lebih awal ini sebenarnya adalah eksplorasi luar biasa tentang dampak budaya true crime dan sayangnya masih sering diremehkan.

Tokoh utama novel ini adalah Libby Day, satu-satunya penyintas pembantaian yang terjadi saat ia baru berusia tujuh tahun. Dalam tragedi tersebut, ibu dan dua saudara perempuannya dibunuh di kota kecil Kansas, sementara Libby bersaksi bahwa kakak laki-lakinya, Ben adalah pelakunya.

Kasus tersebut menjadi obsesi publik Amerika dan ikut memicu gelombang “Satanic Panic”, dengan orang-orang terus mengirimkan donasi kepada Libby bahkan 25 tahun kemudian. Namun, sebuah komunitas penggemar true crime bernama Kill Club percaya bahwa Ben sebenarnya tidak bersalah. Mereka membayar Libby untuk kembali menyelidiki kejadian malam itu.

Dark Places berpindah dengan mulus antara penyelidikan Libby, kilas balik Ben, dan sudut pandang ibu mereka, menyusun cerita tentang tragedi, kemiskinan, dan tindakan ekstrem yang dilakukan manusia demi bertahan hidup. Novel ini jauh lebih gelap daripada Gone Girl, tetapi sama-sama memikat.

5. Snap — Belinda Bauer

Foto: Courtesy of BAZAAR US

Novel brutal ini dibuka dengan adegan yang sangat menghantam emosi, terlebih karena Belinda terinspirasi dari kasus nyata. Jack yang baru berusia 11 tahun diminta ibunya menjaga dua adik perempuannya di dalam mobil rusak mereka di tengah cuaca panas, sementara sang ibu pergi mencari bantuan. Ia meninggalkan mereka di pinggir jalan tol dan berjanji tidak akan lama. Namun, ia tidak pernah kembali. Beberapa hari kemudian, jasadnya ditemukan dalam kondisi dibunuh secara brutal.

Selama tiga tahun berikutnya, keluarga itu harus hidup di bawah bayang-bayang tragedi tersebut. Ayah mereka tak mampu menghadapi kesedihan, membuat Jack dan kedua adiknya harus bertahan sendiri. Demi bertahan hidup, Jack mulai membobol rumah-rumah kosong, hingga suatu hari ia menemukan pisau yang tampaknya berkaitan dengan kematian ibunya.

Di sisi lain, seorang perempuan lain mulai diteror setelah menemukan pisau dan surat ancaman di samping tempat tidurnya. Ketika Detektif John Marvel mulai menyelidiki rangkaian kejadian aneh tersebut, dua alur cerita ini perlahan bertemu dengan cara yang tak terduga.

Meski mengangkat tema yang sangat berat, Belinda menuliskannya dengan sensitivitas dan keindahan luar biasa, mengeksplorasi duka, perjuangan hidup, dan ketangguhan anak-anak dalam menghadapi keputusasaan. Snap masuk longlist Booker Prize 2018 dan memenangkan Crime & Thriller Book of the Year pada tahun yang sama.

6. Honey — Imani Thompson

Foto: Courtesy of BAZAAR US

Debut eksplosif dan cemerlang dari lulusan Cambridge University, Imani Thompson ini mengikuti Yrsa, mahasiswi PhD yang mulai frustrasi dengan berbagai microaggression dan seksisme kasual dari rekan-rekan akademisinya yang didominasi laki-laki. Ia juga merasa hasil kerjanya terus dimanfaatkan dan diambil alih.

Situasi memuncak ketika sahabat Yrsa dimanipulasi ke dalam hubungan terlarang oleh dosennya sendiri. Serangkaian kejadian kemudian membuat Yrsa secara tidak langsung menyebabkan kematian akademisi tersebut. Namun alih-alih merasa bersalah, Yrsa justru membenarkannya atas nama moralitas dan mulai memburu serta membunuh laki-laki misoginis lainnya.

Imani menangkap kemarahan feminis yang mentah dan tak terbendung dengan sangat tepat, sambil mengeksplorasi isu ras dan balas dendam melalui humor hitam yang tajam. Honey adalah bacaan yang provokatif dan sangat mengganggu, dengan Yrsa terus menantang pembaca untuk memahami logikanya.

7. The Secret History — Donna Tartt

Foto: Courtesy of BAZAAR US

Novel yang dianggap melahirkan genre dark academia ini mengikuti sekelompok mahasiswa elit di Hampden College, New England.

Dipimpin profesor karismatik Julian Morrow, kelompok yang terdiri dari Henry, Bunny, Francis, Charles, Camilla, dan Richard ini tenggelam dalam diskusi filsafat mendalam dan membangun hubungan yang begitu intens hingga menyerupai sekte. Mereka mulai percaya bahwa mereka bisa melampaui kehidupan biasa demi mengejar hedonisme murni.

Yang membuat The Secret History begitu menarik adalah struktur ceritanya yang tidak biasa. Berbeda dari thriller pada umumnya, pembaca sudah diberi tahu sejak awal bahwa Bunny dibunuh oleh teman-temannya sendiri. Donna mengubah format whodunnit menjadi “why-dunnit”, di mana ketegangan muncul dari alasan mengapa kelompok tersebut sampai melakukan tindakan mengerikan itu. Pada akhirnya, novel ini menjadi refleksi tentang bahaya ketika estetika mulai mengalahkan moralitas.

8. We Need to Talk About Kevin — Lionel Shriver

Foto: Courtesy of BAZAAR US

Novel ini mengikuti Eva Khatchadourian yang mencoba memahami kehidupannya sebelum dan sesudah putranya, Kevin, melakukan penembakan brutal terhadap teman-teman sekolahnya menggunakan panah silang.

Diceritakan lewat surat-surat kepada suaminya yang kini terasing, Franklin, Eva mengenang masa kecil Kevin yang rumit, ketika ia merasa dingin dan tidak memiliki ikatan emosional dengan anaknya sendiri. Perilaku Kevin perlahan menciptakan jurang dalam pernikahan mereka, karena Franklin menganggap Kevin hanya anak sulit, bukan berbahaya.

Seiring Kevin tumbuh dewasa, Eva menyaksikan perilakunya menjadi semakin kejam dan mengganggu. Setelah tragedi penembakan terjadi, Eva dihantui pertanyaan apakah ia turut bertanggung jawab atas tindakan anaknya, apakah ia masih memiliki kewajiban sebagai ibu, serta tekanan luar biasa dari orang-orang yang menyalahkannya.

Meski adaptasi film tahun 2011 menampilkan interpretasi Eva yang luar biasa dari Tilda Swinton, novel karya Lionel Shriver ini jauh lebih kompleks dan bernuansa, mengeksplorasi motherhood, debat nature versus nurture, serta rasa malu dan bersalah yang menghancurkan.

9. Boy Parts — Eliza Clark

Foto: Courtesy of BAZAAR US

Novel debut berani yang langsung mengukuhkan nama Eliza Clark dalam dunia psychological thriller ini sering dibandingkan dengan American Psycho karya Bret Easton Ellis, meski perbandingan tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya adil karena mengabaikan orisinalitas dan gaya bertutur Clark yang begitu khas dan mengganggu.

Boy Parts mengikuti Irina, seorang fotografer yang memangsa laki-laki muda untuk dijadikan objek seni. Ia memanipulasi, mengeksploitasi, dan pada akhirnya menyiksa mereka demi karya-karyanya. Ketika obsesinya semakin menjadi-jadi dan kondisi mentalnya mulai hancur, keinginan-keinginan gelap Irina perlahan tak lagi bisa dibedakan dari kenyataan.

Selain mengeksplorasi etika dalam seni, Boy Parts juga membahas kelas sosial, kekayaan, misogini, dan voyeurisme. Novel ini menjadi cult hit sejak dirilis pada 2020. Buku kedua Clark, Penance, juga sama menarik sekaligus sama menghantuinya.

BACA JUGA:

16 Film Barat Adaptasi Novel Terbaik, Dari Karya Sastra Jadi Film Box Office!

10 Buku Terbaik yang Harus Dibaca Sepanjang Hidup Anda

(Penulis: Kimberley Bond; Artikel ini disadur dari Bazaar US; Alih bahasa: Alisa Putri Ramadhina; Foto: Courtesy of BAZAAR US)