Ada sesuatu tentang French Riviera yang selalu terasa spesial dan abadi: sinar matahari yang menerpa kulit, semilir udara laut yang asin namun di sisi lain juga menenangkan, dan kemewahan yang magis. Dan nuansa itulah yang kemudian diterjemahkan oleh lini parfum niche mewah, Memo Paris lewat mahakarya terbarunya. Dijuluki sebagai Cap Camarat, rilisan parfum terbarunya ini memadukan sisi sunny, creamy, dan elegan dalam satu semprotan.
Istimewa kepada Bazaar, John Molloy, Co-Founder dari Memo Paris berbagi lebih jauh tentang perjalanan di balik penciptaan Cap Camarat, sebuah wewangian yang dirancang untuk menangkap sensasi liburan yang sophisticated, namun tetap effortless. Mari simak obrolannya di bawah ini:
Harper's Bazaar Indonesia (HBI): Apa note atau bahan pertama yang sejak awal menjadi identitas Cap Camarat?
John Molloy (JM): Vanila. Sejak awal, kami ingin menangkap karakter vanila yang cerah, creamy, hangat, sekaligus elegan. Semua itu kami tuangkan dalam racikan yang halus dan subtil dengan menggunakan absolute vanila Madagascar yang sangat berharga.
HBI: Mengapa jasmin dan ylang-ylang dipilih sebagai "kompas" floral untuk Cap Camarat? Apa daya tarik dari kedua bahan dasar tersebut yang mungkin tidak ditemukan dalam kandungan bunga lain?
JM: Keduanya memiliki kualitas yang bercahaya dan terasa seperti tersentuh matahari, persis nuansa yang ingin kami hadirkan dalam parfum ini. Jasmin dan ylang-ylang seolah langsung membawa Anda ke suasana musim panas yang dreamy, seperti lamunan indah di bawah sinar matahari.
HBI: Di mahakarya kali ini, Anda juga berkolaborasi dengan perfumer Nadège Le Garlantezec, lantas seperti apa proses kolaborasinya?
JM: Kolaborasi kami dibangun atas dasar kepercayaan. Kami memberi kebebasan kreatif kepada Nadège agar parfum ini bisa berkembang dengan maksimal. Ini adalah parfum keempat yang kami ciptakan bersama Nadège: Cassiopeia Rose, Inverness, dan Flam dengan dua destinasi yang berpusat pada sungai dan laut, mirip seperti Cap Camarat. Bekerja dengannya terasa sangat natural dan mengalir. Untuk Cap Camarat yang memiliki pesona Mediterania, Nadège ingin parfum ini terasa seperti belaian cahaya: lembut, optimistis, dan menenangkan, seperti balm untuk hati.
Rasanya seperti seorang teman: hangat, tulus, dan meninggalkan jejak cahaya lembut di kulit.
HBI: Apa tantangan kreatif terbesar dalam mengembangkan Cap Camarat? Serta tahapan atau bagian mana yang paling membutuhkan waktu untuk disempurnakan?
JM: Menemukan jenis vanila yang tepat (yang tetap halus dan lembut) agar mampu menangkap esensi parfum ini tanpa terasa terlalu manis atau juga terlalu dominan. Di sinilah keahlian Nadège sebagai perfumer benar-benar ditunjukkan.
HBI: Bagaimana Anda menggambarkan evolusi Cap Camarat di kulit, dari semprotan pertama hingga beberapa jam kemudian?
JM: Rasanya seperti seorang teman: hangat, tulus, dan meninggalkan jejak cahaya lembut di kulit, seolah matahari menemani setiap langkah Anda.
HBI: Apakah Cap Camarat menandai arah baru dari brand Memo Paris yang lebih vibran dan playful?
JM: Benar. Cap Camarat edisi terbatas hadir dengan desain yang vibran, penuh warna dan gurat grafis hasil karya seniman Italia, Olimpia Zagnoli. Ini membawa kami semakin dekat pada matahari dan cahaya yang kini menjadi identitas baru dari Memo Paris.
Kami berharap parfum ini hadir seperti mercusuar, memancarkan cahaya, menegaskan kehadirannya.
HBI: Mercusuar menjadi simbol yang kuat dalam kreasi ini. Secara emosional, apa maknanya dalam parfum ini?
JM: Mercusuar dalam konteks parfum ini menjadi penuntun, penanda, sekaligus simbol koneksi. Ia mengingatkan kita pada kekuatan alam dan juga kondisi manusia. Ide tentang koneksi ini selaras dengan apa yang dibangkitkan oleh Cap Camarat: ia menciptakan ikatan dengan kulit dan juga dengan orang lain. Kami berharap parfum ini hadir seperti mercusuar, memancarkan cahaya, menegaskan kehadirannya. Seakan berkata: saya ada di sini dan aroma saya akan membuat Anda tahu.
HBI: Jika Cap Camarat adalah sebuah kenangan, seperti apa rupanya? Siapa yang ada di sana dan kira-kira di rentang waktu apa latarnya?
JM: Mungkin bisa saya gambarkan sebagai sebuah sore di awal musim panas. Tepi laut itu memanggil, Anda datang dari arah laut dan dari dek kapal, Anda melompat masuk ke air bersama-sama. Ada rasa bebas, menyatu dengan elemen alam. Anda lalu berjalan menuju pantai untuk menikmati momen menatap laut, sempurna untuk percakapan dari hati ke hati. Matahari begitu indah dan senjanya terasa seperti sebuah hadiah.
Kami percaya parfum adalah perjalanan yang sangat pribadi, tidak terikat oleh asal-usul tertentu.
HBI: Indonesia dikenal memiliki suhu yang hangat dan lembap sepanjang tahun. Matahari dan laut juga terasa dekat dengan keseharian. Bagaimana Anda membayangkan Cap Camarat akan cocok di kulit orang Indonesia? Apakah pengalaman aromanya akan berbeda dibanding di Eropa?
JM: Pengalaman menyemprotkan parfum memang bersifat sangat sensorik dan setiap kulit memiliki “emosinya” sendiri. Keindahan sebuah parfum justru terletak pada kemampuannya untuk beresonansi secara personal dengan tiap individu. Kami percaya parfum adalah perjalanan yang sangat pribadi, tidak terikat oleh asal-usul tertentu.
