Saya hampir selalu mencari nasi goreng setiap kali memasuki sebuah kedai. Dari sekian banyak rasa lintas dapur dunia, entah mengapa saya selalu kembali pada sensasi yang sama, hangat, pedas, dan beraroma asap. Barangkali selera adalah bentuk paling jujur dari ingatan dan identitas, jembatan yang membuat sepiring hidangan sederhana mampu mewakili kisah sebuah bangsa. “Mas-mas gerobak keliling seharusnya dapat credits,” ujar Rydo Anton, Head Chef Indonesia di grup Gaggan, tolok ukur kuliner Asia kontemporer yang berulang kali dinobatkan sebagai restoran terbaik di Asia dan kini menaungi tiga konsep berbeda, Gaggan Anand, Ms Maria and Mr Singh, serta Gaggan at Louis Vuitton.
BACA JUGA: Manifestasi, Energi & Beauty Ritual Sesuai Zodiak untuk 2026
Dari Semarang hingga Jakarta, Rydo masih mengingat suara tek-tek yang memecah malam, aroma kecap manis buatan sendiri, dan kepulan asap dari tungku arang. “Kalau harus membuat nasi goreng sebagai signature dish, pasti nasi goreng tek-tek,” ujarnya. “Kecap manisnya buatan sendiri, terasinya mungkin saya racik dari berbagai kerang atau kepiting. Pokoknya wangi, enak, penuh wok hei, dan selalu membawa saya kembali pada memori masa kecil di Indonesia.”
Di antara ragam aroma dan tekstur inilah kuliner Indonesia menemukan kemewahan sejatinya, sekaligus cerita yang menyertainya. Bagi Ade Putri, culinary storyteller yang tengah dibimbing pakar kuliner William Wongso, kekayaan itu hidup dalam harmoni rasa yang menyatukan banyak latar, budaya, dan ingatan. “Kalau ada satu hidangan yang mampu merepresentasikan semangat Indonesia, itu adalah nasi campur,” tuturnya. “Nasi Campur Bali, Nasi Kuning Manado dan Ambon, Nasi Gudeg, Nasi Liwet Solo, masing masing berperan meramaikan satu porsi sajian. Seperti Indonesia yang menjadi satu dalam keberagaman.”
Pandangan serupa datang dari Taufik M., sosok dengan antusiasme tinggi terhadap kuliner Nusantara. “Ayam goreng Indonesia layak menjadi simbol nasional,” ujarnya. Ia menilai kekayaan gastronomi Indonesia berakar pada kompleksitasnya. “Versi kita jauh lebih rumit dibanding negara lain, dari racikan rempah yang berlapis hingga teknik ungkep yang meresapkan bumbu ke serat daging sebelum digoreng hingga renyah.” Bagi Taufik, daya tarik masakan Indonesia terletak pada keakraban yang selalu menyimpan makna. “Saat bepergian ke berbagai kota, saya selalu mencari kuliner khas daerah tersebut. Dari situ saya belajar budaya, tradisi, hingga cerita masyarakat setempat.”
Ingatan tentang rasa juga kerap hadir di ruang personal. Setiap kali bertamu ke rumah para desainer Indonesia, jamuan yang disajikan sering kali menjadi cerminan kepribadian mereka. Salah satu yang membekas bagi saya adalah rumah Bin House. Meski kain menjadi nadinya, rasa justru menyempurnakan narasi. Elang Komara, putra tunggal Josephine Komara atau Obin, menyebut bahwa inti dari Bin House adalah manusianya. “Tanpa makanan, manusianya pun akan sulit merasakan kegembiraan dan kepuasan,” ujarnya.
“Ini terkait BAGAIMANA kita MENJAGA jati diri kita sendiri juga sebagai BANGSA INDONESIA.” —Ade Putri
Elang tumbuh di tengah dapur yang selalu hidup, tempat sang oma memilih bahan di pasar, meracik semuanya dari nol, dan menyalakan tradisi memasak yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. “Kami semua ikut jadi juru cicip,” kisahnya. “Terus belajar, berdialog, dan peduli agar rasa khas itu tidak pernah hilang.” Bagi Elang, makanan adalah ekspresi kasih yang paling sederhana. Ia masih mengingat momen ketika seorang anak yang enggan makan sayur akhirnya jatuh cinta pada lodeh Bin House, atau tamu yang mengaku tidak menyukai ikan justru menambah porsi.
Di sanalah kebahagiaannya, melihat orang tersenyum karena rasa. Ketika ditanya rasa apa yang ingin diwariskan, Elang menjawab, “Gulai ikan tenggiri dan sayur asem Onje paling pas buat saya. Selalu bikin kangen rumah. Gurihnya tidak berlebihan, ikannya lembut tanpa amis, dan keseimbangan rasa di sayur asem mencerminkan karakter dapur rumah kami.”
“Hampir tidak ada kuliner Indonesia yang benar benar simpel,” ujar Chef Aditya Muskita dari restoran hyperlocal fine dining ESA. “Simply, its history.” Hidangan Nusantara lahir dari perjalanan panjang perdagangan rempah, pertukaran budaya, dan bentang geografi yang membentuk ribuan karakter rasa. Dari jalur rempah yang mempertemukan India, Timur Tengah, Tiongkok, hingga Eropa, hingga berlabuh di Kepulauan Maluku sebagai pusat pala dan cengkih dunia.
Fondasi ini pula yang menjadi pegangan Rydo Anton saat memasak di dapur Thailand. “Setiap kali saya membuat kari, bahkan garam masala nya, teknik yang saya gunakan tetap dipengaruhi budaya Indonesia, dari cara menumis bumbu dasar sampai menyeimbangkan rasa. Hasilnya selalu lebih kompleks dan hidup.” Menurut Chef Aditya dan Kevindra Soemantri, Co-Founder ESA, multikulturalisme paling nyata terasa di Jakarta. “Terbentuk dari jejak para penakluk, kerajaan, agama, dan yang terpenting manusia,” ujar Aditya. Sejarah asimilasi inilah yang melahirkan inovasi dalam cara kita makan dan mengolah makanan.
Inilah kemewahan yang sesungguhnya. Kevindra menyebut kemewahan sebagai sesuatu yang berakar pada budaya, bersifat tak berwujud, dan berpusat pada pengalaman. Jessica Eveline, Co-Founder ESA, menambahkan bahwa setiap wilayah Jakarta mencerminkan lapisan budaya yang berbeda, dari Jakarta Selatan yang dipengaruhi Barat, Jakarta Barat dengan populasi Tionghoa Indonesia, Jakarta Pusat yang banyak dihuni warga Jawa, hingga Jakarta Utara sebagai rumah bagi pendatang dari berbagai daerah.
Namun, di tengah dinamika itu, posisi kuliner Jakarta di panggung dunia dinilai belum sepenuhnya terangkat. “Kalau bicara Jakarta, kita harus bicara Betawi,” ujar Kevindra. “Budaya Betawi, termasuk kulinernya, sekarang sudah tergolong endangered.” Padahal, restoran bisa menjadi institusi penting untuk memperkenalkan kembali warisan ini. Ia mencontohkan kebangkitan kuliner Peranakan di Singapura lewat Candlenut, restoran Peranakan pertama yang meraih bintang Michelin.
Potensi lain juga datang dari pasar tradisional. Jika dikelola dengan baik, pasar dapat berkembang menjadi destinasi gastronomi. Ade Putri menekankan pentingnya kolaborasi lokal, baik lewat acara maupun media sosial, untuk menghidupkan kembali warisan rasa yang nyaris terlupakan. Ia juga menyoroti kekayaan rasa asam Nusantara, dari jeruk asam, asam kandis, hingga cikala, yang masih jarang diangkat namun memiliki daya tarik global. “Profil masam ini bisa jadi kekuatan tersendiri. Kita hanya perlu menceritakannya dengan cara yang tepat,” ujarnya.
Kecintaan Ade pada kuliner Indonesia berawal dari perjalanan sejak 2012. Semakin sering berkelana, ia menyadari betapa luasnya kekayaan rasa lokal yang belum banyak dikenal. Kesadaran itu berkembang menjadi dorongan untuk berbagi dan menjaga jati diri bangsa lewat rasa. Namun menjaga warisan kuliner tidak cukup dengan nostalgia. Jessica menilai tantangan terbesar ada pada sumber daya manusia, khususnya di bidang hospitality dan F&B. Di sisi lain, Ade melihat media sosial kini memegang peran besar dalam membentuk selera. “Selera bisa dibentuk, pasar bisa diciptakan,” ujarnya.
“Sebuah kesempatan ISTIMEWA untuk dapat BERBAGI makanan rumah kami ke PUBLIK.” —Elang Komara
Dari sepiring nasi goreng yang membawa pulang ingatan masa kecil hingga meja makan yang mempertemukan lintas generasi dan budaya, semuanya bermuara pada rasa. Bagi Rydo Anton, makna itu tercermin dalam kelapa. “Kelapa itu enak dan semua bagiannya bisa dipakai,” katanya. Dari makanan dan minuman hingga arang, perabot, minyak, obat, dan gula kelapa. Taufik membayangkan menu yang memperkenalkan Indonesia ke dunia, dari jajanan pasar, Nasi Liwet Sunda dengan ayam goreng dan sambal, hingga es dawet dan es teh Jawa. Di rumah Bin House, rasa hadir lewat bistik lidah, ayam goreng hitam, karedok, dan puding karamel yang bagi Elang Komara adalah ekspresi cinta dan kerja banyak tangan.
“Semoga kuliner Indonesia terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya,” tutur Ade. Dan seperti pesan Rydo, “Kita boleh bereksperimen, tapi jangan lupa akar kita dan versi kita sendiri.”
Prediksi Fashion dari Bazaar untuk Tahun 2026
The New Uniform: Cerminan Gaya Hidup Modern Masa Kini
