Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Apa itu “Protein-Maxxing” & Perlukah Anda Menerapkan di Skincare Routine?

Kemungkinan besar, tanpa sadar Anda sudah melakukannya…

Apa itu “Protein-Maxxing” & Perlukah Anda Menerapkan di Skincare Routine?
Foto: Courtesy of BAZAAR US

Secara jujur, Bazaar cukup terobsesi dengan protein. Bukan hanya karena kami memulai hari dengan minum protein shake buatan sendiri begitu Bazaar bangun dari tempat tidur. Kami bukan tipe orang yang mudah terbawa tren media sosial, tetapi belakangan ini kami benar-benar menerapkan konsep protein-maxxing. Kami selalu memastikan untuk memprioritaskan protein di setiap waktu makan, dan akhir-akhir ini, keju cottage yang kaya protein bahkan menjadi camilan pilihan andalan.

BACA JUGA: Apakah Rambut Membutuhkan Protein? Ini Jawaban dan Penjelasan Lengkapnya

Namun, seberapa pun Bazaar menyukai protein-maxxing, seperti yang mungkin dikatakan generasi sekarang, kami tetap merasa sedikit “terkejut” melihat bahan ini berpindah dari dapur ke produk skincare di meja rias.

Mari mundur sedikit: beberapa bulan lalu, sebuah brand kecantikan mengundang Bazaar untuk mencoba facial khas mereka, sebuah perawatan yang dirancang untuk memperkuat skin barrier, Anda mungkin sudah menebaknya, produk yang kaya akan protein. Tak lama setelah itu, kotak masuk email kami dipenuhi dengan peluncuran produk skincare baru yang mengunggulkan satu bahan utama: protein.

Seperti yang pernah dikatakan Carrie Bradshaw, Bazaar pun mulai bertanya-tanya: selain mengonsumsi protein, apakah kita juga perlu mengaplikasikannya ke wajah setiap hari? Menurut para ahli, jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Sama seperti protein-maxxing yang bertujuan membantu tubuh membangun otot dan memberi energi, penggunaan serum atau pelembap kaya protein memang dapat memperkuat kulit, meskipun dengan cara yang sangat berbeda dibandingkan protein dari makanan.

Apakah Protein-Maxxing Benar-Benar Ada dalam Skincare?

Tren protein-maxxing telah banyak dipromosikan oleh tenaga kesehatan, ahli gizi, dan kreator konten kebugaran, dengan gagasan bahwa peningkatan asupan protein dapat mengurangi rasa lapar, mempercepat pemulihan otot, dan membentuk tubuh yang lebih terdefinisi. Beberapa kreator bahkan mengeklaim bahwa peningkatan protein dalam makanan juga membantu memperkuat rambut dan kuku, sekaligus memperbaiki tampilan kulit, membuka jalan bagi protein menjadi nilai jual utama dalam formula skincare. Namun, banyak ahli seperti Dendy Engelman percaya bahwa tren ini sebenarnya berasal dari cara pandang masyarakat yang semakin holistik terhadap kecantikan.

“Saya melihat protein-maxxing sebagai perpanjangan dari fokus masyarakat saat ini pada umur panjang,” ujar Dendy. “Orang-orang memprioritaskan protein untuk mendukung tonus otot dan manajemen berat badan, dua hal yang berkaitan erat dengan tanda-tanda penuaan yang terlihat. Pada saat yang sama, pola pikir ini meluas ke skincare, di mana protein seperti kolagen dan peptida digunakan untuk memperkuat skin barrier, menciptakan tampilan lebih muda dan mendukung kesehatan kulit jangka panjang.”

Gagasan tentang protein-maxxing dalam skincare mungkin baru mulai populer, tetapi menurut ahli bedah plastik selebriti Jason B. Diamond, protein dalam skincare bukanlah hal baru. “Bagi saya, ini evolusi yang menarik karena protein selalu menjadi bagian penting dari perawatan kecantikan, baik secara klinis maupun di rumah. Bahkan, kemungkinan besar Anda sudah menggunakan protein pada kulit selama bertahun-tahun tanpa menyadarinya. Daftar bahan biasanya tidak hanya menuliskan ‘protein’, tetapi ada banyak bentuk yang mungkin sudah Anda kenal seperti kolagen, elastin, asam amino, growth factors, dan peptida.”

Manfaat Protein dalam Skincare

Protein topikal hadir dalam berbagai bentuk dan Dendy menjelaskan bahwa masing-masing bekerja secara spesifik untuk mengatasi masalah kulit seperti garis halus, kurangnya kekencangan, tekstur tidak merata, dan retensi kelembapan yang buruk. “Selama bertahun-tahun, kita terfokus pada kolagen dan keratin. Kini, peptida mendominasi pembicaraan,” ujarnya. “Elastin juga mulai diakui sebagai protein penting untuk kesehatan kulit dan rambut.” Dokter kulit Nazanin Saedi menambahkan bahwa kolagen adalah salah satu protein paling umum dalam dunia kecantikan dan merupakan komponen utama yang membangun kekencangan serta struktur kulit.

Meskipun tubuh secara alami memproduksi kolagen, perilakunya berbeda saat digunakan secara topikal, terutama karena molekulnya terlalu besar untuk menembus kulit secara mendalam. “Secara topikal, kolagen membantu memberi hidrasi pada kulit dan mengurangi kehilangan air, sehingga kulit tampak lebih halus dan bercahaya,” jelas Nazanin. Dendy juga menambahkan bahwa elastin dan keratin bekerja dengan cara yang serupa. “Ini adalah protein berukuran besar yang mendukung ketahanan, kekencangan, dan elastisitas kulit,” tambahnya.

Peptida menjadi salah satu bahan yang sedang populer dalam dunia skincare dan benar, mereka juga merupakan bentuk protein. “Peptida adalah fragmen kecil dari asam amino yang dapat memberi sinyal pada kulit untuk meningkatkan produksi kolagen dan elastin, sehingga sering digunakan untuk mengencangkan kulit dan menghaluskan garis halus,” jelas Dendy.

Apakah Saya Membutuhkan Skincare Berbasis Protein?

Meskipun bukan satu-satunya bahan penting dalam rutinitas skincare, Nazanin mengatakan bahwa produk berbasis protein sangat bermanfaat terutama bagi kulit kering atau bagi mereka yang berusia di atas 40 tahun. Selain membantu mengatasi tanda-tanda penuaan seperti berkurangnya elastisitas, garis halus, dan kerutan, protein juga membantu menghidrasi kulit sehingga dapat mempertahankan kelembapan lebih lama. “Hasilnya, kulit tampak lebih kenyal, garis halus dan tekstur tersamarkan, serta tetap terhidrasi lebih lama.”

Namun, tidak ada batasan usia untuk mulai menggunakan protein dalam skincare. “Mengintegrasikan skincare berbasis protein ke dalam rutinitas adalah cara yang baik untuk menjaga kesehatan kulit jangka panjang dan mendukung tampilan yang lebih muda seiring waktu,” kata Dendy. Bahkan jika kulit Anda sudah kencang dan kenyal, serum dan pelembap berbasis protein tetap dapat meningkatkan fungsi skin barrier, kilau, dan hidrasi.

Namun penting juga untuk diingat bahwa terlalu banyak “protein-maxxing” dalam skincare memiliki sisi negatif. Sebaiknya gunakan satu produk kaya protein saja dalam satu waktu, alih-alih mengganti seluruh rutinitas sekaligus. “Penggunaan berlebihan dapat menyebabkan protein overload yang berujung pada kulit kering atau iritasi,” jelas Jason. “Kulit tidak membutuhkan lapisan berlebihan dari bahan yang sama, yang lebih penting adalah rutinitas yang seimbang,” tambah Dendy.

Produk Skincare Berbasis Protein yang Bisa Dicoba

DARI KIRI KE KANAN: Korres Greek Yoghurt Foaming Cream Cleanser / Medik8 Eye Peptides / Dr. Diamond’s Metacine Instafacial Infusion Biomimetic Microcollagen Matrix / Peach & Lily MiniProtein Exosome Bioactive Ampoule / Babor Collagen Peptide Cream / Neutrogena Vanilla Collagen Bank Lip Plumping Treatment

BACA JUGA:

10 Perawatan dengan Kandungan Protein Terbaik untuk Rambut Lebih Kuat, Sehat, dan Berkilau Alami

Rutin Konsumsi 100g Protein? Ini Dampak Positifnya untuk Tubuh Anda

(Penulis: Mary Honkus; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Alisa Putri Ramadhina; Foto: Courtesy of BAZAAR US)