Jakarta Concert Orchestra (JCO) dan paduan suara Batavia Madrigal Singers (BMS) kembali membanggakan Indonesia di panggung Eropa. Di bawah pimpinan Maestro Avip Priatna, hampir 100 pemusik Indonesia menggurat jejaknya di Ankara, Amsterdam, Basel dan Roma membawakan "Symphony of the Archipelago".
BACA JUGA: Resonansi Musik Klasik di Jakarta
Setelah sukses di Ankara, untuk pertama kalinya pada tanggal 15 April 2026, JCO dan BMS tampil di jantung kancah musik klasik Belanda, tepatnya di Aula Utama gedung konser Concertgebouw Amsterdam. Concertgebouw Amsterdam khusus Avip Priatna pilih karena merupakan salah satu gedung konser prestisius berakustik terbaik di dunia dan bereputasi sebagai tempat komposer legendaris dan dirigen-dirigen ternama berpentas.
Inti dari tur Eropa ini adalah Cinta Indonesia. Didasari oleh cinta tanah air yang mendalam, melalui gema musiknya, dirigen Maestro Avip Priatna yang telah banyak menerima banyak penghargaan baik di Indonesia maupun di luar negeri menjalani misinya menggabungkan perbedaan dan keragaman menjadi kekuatan yang menyatukan dan membangkitkan semangat sejati Indonesia.
Seperti dituturkan Giok Hartono, seorang tokoh pencinta dan pendukung seni serta budaya Indonesia yang mendukung penuh tur Eropa ini, “Ketika kita menyanyi atau bermain musik dalam suatu paduan suara atau orkes, semua perbedaan pun habis terhapus.” Ini menjadi sebuah contoh yang sangat tepat di mana keragaman menjadi kesatuan yang dirayakan dalam bentuk penampilan musik.
Ada luapan rasa haru dan rindu tanah air ketika tembang Indonesia Pusaka mengalun dari permainan biola Raelene Pramana yang baru berusia sebelas tahun. Sedangkan alunan suara tenor Farman Purnama dan mezzo-soprano Valentina Aman yang diiringi paduan suara BMS terdengar khusuk, anggun, dan agung.
Tembang-tembang rakyat tradisional Indonesia seperti Rek Ayo Rek, Bubuy Bulan, dan Tokecang tampil dalam aransemen bahasa musik orkestra klasik yang sukses mengembalikan kesadaran betapa lagu-lagu rakyat Indonesia pantas menjadi suara baru dalam kancah musik klasik internasional. Kemasan ini menghadirkan dialog lintas budaya di mana melodi khas Indonesia dapat dipahami secara universal.
Permainan piano pianis muda, James Napoleon Lai juga sangat memukau dalam tampilan tembang karya Ismail Marzuki, Sepasang Mata Bola. Tembang yang menjadi inspirasi almarhum komponis Yazeed Djamin menggubah karya legendaris ini menjadi variasi piano dan orkestra. Sebuah mahakarya yang memukau dan mencitrakan tingkat musikalitas komponis Indonesia yang patut disejajarkan dengan komponis besar internasional.
Apresiasi dari 1200 hadirin terlihat dari gempita antusiasme setelah lagu terakhir "Nusantara” menggema. JCO dan BMS pun menjawab permintaan encore dengan alunan semarak “Lisoi”.
Di antara hadirin diaspora Indonesia, banyak yang menyampaikan adanya rasa solidaritas, kesatuan, dan kebersamaan serta kebanggaan sebagai orang Indonesia malam itu. Di samping itu juga banyak terdengar pujian dan kekaguman akan tingkat musikalitas orang Indonesia.
Ada pun jubah cantik yang dikenakan Farman Purnama dan Valentina Aman dirancang oleh desainer Denny Wirawan, para soloist instrumental mengenakan rancangan-rancangan dari desainer Priyo Octaviano.
Sedangkan seragam paduan suara BMS dan anggota orkestra JCO seluruhnya dirancang oleh Ibu Giok. Selain merancang, pemilihan bahan bahkan penjahitan dan pembuatan prototipe juga ia lakukan sendiri. Alasannya, ada unsur-unsur yang harus dipertimbangkan seperti misalnya kebebasan gerak saat menari atau memainkan instrumen.
Keesokan harinya JCO dan BMS pun melanjutkan perjalanannya ke Basel. Konser di Basel (17 April 2026) memperingati 75 tahun persahabatan antara Indonesia dan Switzerland.
Setelah kota Basel, konser diteruskan ke Roma dalam rangka menghadiri undangan dari Pontifica Scholas Occurrentes untuk tampil pada acara peringatan satu tahun meninggalnya Paus Francis (21 April 2026). Ini benar-benar menjadi suatu kehormatan. Pada penampilan bertajuk “Pope Francis, A Legacy for Humanity”, JCO & BMS tampil bersama penyanyi Italia bernama Arisa dan musisi Inggris Simon Kirke dari group band Bad Company. Pontifica Scholas Occurrentes adalah organisasi internasional yang didirikan oleh Paus Francis dengan tujuan memupuk dan mempromosikan culture of encounter di antara generasi muda dari beragam latar belakang, agama, dan budaya untuk menciptakan perdamaian melalui pendidikan.
JCO dan BMS terus melangkah, membawa identitas Indonesia ke panggung dunia dan menegaskan bahwa musik Nusantara memiliki tempat sejajar dalam kancah klasik internasional.
BACA JUGA:
Antusiasme Tinggi Terhadap Orkestra yang Tak Disangka oleh Trinity Youth Symphony Orchestra
