Setiap bulan April, Milan kembali dengan ritmenya sendiri. Tidak selalu mencolok, tetapi terasa dalam cara kota ini bergerak.
BACA JUGA: Di Dior, Jonathan Anderson Merayakan Couture dengan Sentuhan Seni
Dari tanggal 20 - 26 April 2026, kota ini menjadi titik temu bagi berbagai brand, masing-masing membawa cara pandangnya, berbicara tentang desain tanpa selalu harus menjelaskan lewat gelaran akbar Milan Design Week.
Di Milan Design Week, desain tidak lagi berhenti pada objek saja namun berkembang menjadi ruang, pengalaman, dan cara sebuah brand membangun narasi.
Berikut 19 inovasi yang dihadirkan oleh deretan brand fashion hingga beauty selama Milan Design Week 2026:
1. Dior
Dior menafsirkan ulang arti couture melalui lampu Corolle bersama Noé Duchaufour-Lawrance. Kaca tiup Murano dibentuk menyerupai lipatan rok ikonik, dengan struktur yang ringan namun presisi. Cahaya jatuh perlahan di permukaannya, menciptakan bayangan yang bergerak halus, hampir seperti kain.
2. Louis Vuitton
Louis Vuitton membangun narasi di Palazzo Serbelloni melalui Objets Nomades. Ruang disusun dalam tema-tema yang menggabungkan furnitur, tekstil, hingga objek dekoratif sebagai satu lanskap. Trunk ikoniknya ditampil kembali, termasuk eksplorasi kaca patri yang mengubah objek travel menjadi sesuatu yang lebih arsitektural.
3. Prada
Prada memilih ide sebagai medium melalui Prada Frames bertajuk In Sight. Di Sacristy Santa Maria delle Grazie, panel diskusi, pembacaan teks, dan performative visit berlangsung dalam ruang Renaisans yang tenang. Walau tanpa objek utama, pengalaman sukses dibentuk oleh percakapan tentang citra, dari fotografi hingga algoritma.
4. Hermès
Hermès menyusun ruang di La Pelota melalui struktur plaster dan beechwood yang sederhana. Di dalamnya, hadir meja marmer Stadium berbentuk angka delapan dan lini Palladion yang menggabungkan logam palladium, kulit, dan horsehair sebagai bagian dari komposisi. Tekstil kasmir tenun tangan menambah lapisan yang lebih lembut.
5. Versace
Versace menghadirkan koleksi Versace Home di Via Durini dengan fokus pada bentuk dan material. Furnitur tampil dengan volume yang sculptural dan finishing yang halus, memadukan referensi klasik dengan pendekatan yang lebih modern. Setiap elemen memiliki karakter yang kuat, namun tetap saling terhubung, membentuk ruang yang terasa utuh dan hidup.
6. Jil Sander
Jil Sander menghadirkan Reference Library bersama Apartamento. 60 buku dipilih dan ditampilkan di atas lectern krom dalam ruang dengan pencahayaan hangat dan dinding cermin. Pengunjung diwajibkan mengenakan sarung tangan putih, menjadikan membaca sebagai gestur yang lebih mindful dan intim.
7. Gucci
Gucci membangun Gucci Memoria di Chiostri, San Simpliciano. Tapestry berskala besar menarasikan perjalanan brand sejak era Guccio Gucci, sementara taman dengan bunga musiman menghidupkan motif Flora khasnya. Di sudut lain, vending machine menjadi objek kecil yang terasa personal.
8. Bottega Veneta
Bottega Veneta mengeksplorasi material melalui Lightful bersama Kwangho Lee. Anyaman kulit digantung dalam bentuk organik dengan palet hitam dan hijau yang dalam. Cahaya turut mempertegas teksturnya, memperlihatkan detail yang biasanya tersembunyi.
9. Marni
Marni menghidupkan kembali Pasticceria Cucchi melalui kolaborasi Marni x Cucchi. Motif merah dan hijau bergaya retro hadir di seluruh ruang, dari tableware hingga seragam staf. Dari cappuccino pagi hingga aperitivo, ruang ini mengikuti ritme keseharian kota.
10. Miu Miu
Miu Miu menghadirkan Literary Club bertajuk Politics of Desire di Circolo Filologico Milanese. Diskusi, pembacaan teks, dan musik membentuk suasana seperti salon literatur. Pembahasan sebagai sesuatu yang bergerak dari personal menuju ranah yang lebih politis.
11. Loro Piana
Loro Piana memusatkan perhatian pada plaid di Cortile della Seta. 23 tekstil disusun dalam jalur linear, masing-masing memperlihatkan kombinasi serat seperti vicuña dan baby cashmere, serta teknik seperti embroidery dan handloom weaving. Material menjadi inti dari pengalaman.
12. Chloé
Chloé menghadirkan kembali Tomato Chair. Bentuknya bulat dan sederhana, namun tetap memiliki kualitas sculptural. Sebuah arsip yang terasa menyenangkan saat dibaca ulang.
13. Marimekko
Marimekko membangun Osteria Fiori sebagai ruang aperitivo di Via Ascanio Sforza. Motif Kukasta Kukkaan karya Erja Hirvi hadir dalam instalasi tekstil dan keramik. Dari meja hingga taman, suasana terasa cerah dan terbuka.
14. Issey Miyake
Issey Miyake mengeksplorasi kertas melalui The Paper Log: Shell and Core. Material sisa pleating dikompresi menjadi bentuk padat seperti batang pohon, lalu diolah menjadi stool, bench, dan lampu. Di sisi lain, lapisan kertas tipis dibentuk menjadi struktur ringan yang hampir transparan.
15. Aesop
Aesop menghadirkan The Factory of Light di Chiesa del Carmine. Fasad trompe l’oeil disusun ulang menjadi lanskap kota, mengarah pada proses pembuatan lampu Aposē dari forging kuningan hingga glass-blowing. Cahaya menjadi penghubung antara material dan proses.
16. Byredo
Byredo berkolaborasi dengan Jean-Guillaume Mathiaut menghadirkan kursi kayu sculptural. Dipahat utuh dan dilapisi tinta Jepang, permukaannya gelap dan matte. Disusun dalam pencahayaan hangat, ruang ini terasa tenang dan reflektif.
17. Nike
Nike menghadirkan Air Lab di Dropcity, memanfaatkan lima terowongan kereta yang tidak terpakai. Dari laboratorium bergaya industrial hingga ruang arsip dan Air Library, instalasi ini menampilkan eksperimen, prototipe, dan material, menjadikan udara sebagai sesuatu yang bisa dirasakan.
18. Asics
Asics menghadirkan Kinetic Playscape di Garage 21 untuk memperkenalkan Gel-Kinetic 2.0. Dirancang sebagai perjalanan ruang yang terbagi dalam lima bagian, instalasi ini berangkat dari filosofi anima sana in corpore sano, menghubungkan gerak, tubuh, dan kesadaran dalam satu pengalaman.
19. H&M Home
H&M Home berkolaborasi dengan Kelly Wearstler di Palazzo Acerbi. Koleksi furnitur dan objek modular ditempatkan dalam ruang dengan kolom tinggi dan fresco detail. Kontras antara latar historis dan desain kontemporer terasa jelas.
Di Milan, desain tidak lagi hanya tentang apa yang dibuat. Melainkan tentang bagaimana sebuah brand memilih untuk hadir, membangun ruang, dan meninggalkan kesan yang tidak selalu terlihat, tetapi terasa.
BACA JUGA:
Latar Alam di Louis Vuitton Fall/Winter 2026
Hermès Menunjuk Grace Wales Bonner sebagai Creative Director untuk Lini Menswear
(Penulis: Devon Satrio; Edited by JM)
