Menurut kalender Tiongkok, tahun 2026 berada di bawah naungan Kuda Api, sebuah struktur simbolik yang sarat makna dan sering dibaca sebagai penanda fase dinamis dalam siklus waktu. Dalam tradisi simbolik Timur, kuda merepresentasikan kebebasan, ambisi, keberanian untuk maju, serta daya dorong yang kuat. Unsur api yang menyertainya memperkuat karakter tersebut melalui representasi vitalitas, karisma, gairah, dan energi transformasional.
BACA JUGA: Hermes Rayakan Theme Year 2025 "Drawn to Craft" dengan Nuansa Artistik di Paris
Dalam perspektif fengsui, perpaduan Kuda dan Api sering ditafsirkan sebagai indikasi periode yang bergerak cepat, produktif, dan penuh momentum, sebuah fase ketika kelesuan dianggap sebagai kemewahan yang tidak lagi relevan, dan perubahan progresif menjadi sebuah kepastian. Tahun Kuda Api mendorong individu maupun institusi untuk bertindak tegas, beradaptasi dengan cepat, dan memanfaatkan energi kolektif yang mengalir ke arah pembaruan.
Resonansi simbolik ini sejalan secara natural dengan bayangan mode kontemporer. Figur kuda dan estetika equestrian kembali menjadi fokus dari banyaknya rumah mode. Kuda, dengan citranya yang menggabungkan kekuatan fisik, keanggunan alami, serta disiplin tinggi, menjadi metafora yang selaras dengan semangat zaman, dinamis namun terkontrol, berakar pada tradisi namun terus bergerak maju. Dalam konteks ini, simbol kuda seolah mencerminkan energi Kuda Api itu sendiri, menolak kelesuan, merayakan gerak, dan mengafirmasi perubahan sebagai bentuk kemajuan. Dalam sejarah fashion modern, hanya sedikit tema yang mampu bertahan lebih dari satu abad tanpa kehilangan relevansi estetik maupun konseptual, dan equestrian adalah salah satunya. Dari pelana dan tali kekang hingga sepatu riding, jaket berkuda, dan aksesori kulit, estetika yang berakar dari dunia berkuda terus muncul secara konsisten dalam koleksi rumah mode ternama. Fenomena ini tidak dapat dipahami semata sebagai repetisi visual atau nostalgia romantik, melainkan sebagai hasil dari hubungan historis yang panjang antara fashion, fungsi, dan struktur sosial.
Bukanlah hanya sekadar gaya, equestrian juga merupakan sistem nilai yang terbentuk dari kebutuhan praktis, hierarki sosial, dan tradisi craftsmanship. Sebelum menjadi sumber inspirasi gaya, berkuda merupakan bagian integral dari kehidupan sehari-hari masyarakat Eropa, khususnya hingga awal abad ke-20. Pada masa tersebut, kuda berfungsi sebagai alat transportasi utama, terutama bagi kalangan bangsawan, militer, dan elite politik. Aktivitas seperti berburu, perjalanan antarkota, kompetisi olahraga, hingga tugas-tugas kenegaraan menuntut perlengkapan yang tidak hanya estetis, tetapi juga kuat, aman, dan nyaman. Dari kebutuhan inilah lahir tradisi pembuatan pelana, harness, sepatu riding, dan busana yang dirancang dengan presisi tinggi. Standar kualitas yang diterapkan dalam dunia berkuda, di mana kegagalan material atau konstruksi dapat berakibat fatal menjadi fondasi awal bagi nilai-nilai yang kini diasosiasikan dengan fashion mewah dengan keunggulan ketahanan, presisi, dan perhatian terhadap detail.
Hermès merupakan contoh paling ekspresif tentang bagaimana dunia berkuda membentuk DNA sebuah rumah mode. Sebagai pembuat harness dan pelana kuda, Hermès sejak awal melayani klien aristokrat. Keahlian dalam mengolah kulit, teknik jahit tangan yang presisi, serta komitmen terhadap kesempurnaan lahir dari tuntutan dunia berkuda yang tidak memberi ruang bagi kesalahan. Ketika Hermès kemudian berevolusi menjadi rumah mode global, nilai-nilai tersebut tidak pernah ditinggalkan. Hingga hari ini, simbol kereta kuda, motif equestrian pada scarf sutra, serta craftsmanship yang tak bercela tetap menjadi penanda identitas brand.
Terlihat juga pada Longchamp. Nama Longchamp diambil dari Hippodrome de Longchamp, arena pacuan kuda prestisius di Paris, sebuah pilihan yang secara eksplisit mendukung kedekatan brand dengan budaya olahraga elite dan gaya hidup aristokrat. Dalam pengembangan tas dan aksesori kulitnya, Longchamp mengadopsi prinsip equestrian melalui desain yang mengutamakan mobilitas, daya tahan, dan kepraktisan. Logo penunggang kuda yang tengah berlari menjadi simbol kesinambungan narasi tersebut.
Inspirasi equestrian juga menjelma menjadi ikon fashion kontemporer melalui Dior Saddle, tas asimetris yang pertama kali diperkenalkan oleh John Galliano. Dengan siluet yang menyerupai pelana kuda dan detail “saddle flap” yang khas. Selain mencuri perhatian secara visual, tas tersebut juga menandai pergeseran cara rumah mode memaknai referensi historis. Dior Saddle menunjukkan bahwa inspirasi berkuda tidak harus tampil harfiah atau konservatif, namun juga diterjemahkan menjadi objek fashion yang provokatif, modern, dan relevan lintas generasi. Berbagai eksplorasi warna, ukuran, dan material pada desain tas ini beragam musim membuktikan fleksibilitas simbol equestrian dalam menjawab perubahan selera tanpa kehilangan identitas asalnya.
Gucci menawarkan narasi berbeda tentang transformasi elemen equestrian menjadi simbol gaya global. Gucci berawal memproduksi koper dan perlengkapan berkuda untuk kalangan atas. Detail seperti horsebit, stirrup, dan saddle kemudian diolah menjadi elemen desain yang khas dan mudah dikenali. Horsebit loafer, yang diperkenalkan pada awal 1950-an, menjadi salah satu contoh paling sukses bagaimana elemen fungsional dunia berkuda dapat diangkat menjadi ikon fashion lintas budaya dan kelas sosial. Produk ini menegaskan kemampuan Gucci dalam melenyapkan utilitas menjadi simbol status dan gaya.
Di Inggris, pengaruh tradisi berkuda terhadap fashion berkembang melalui konteks yang lebih fungsional. Burberry tumbuh di tengah budaya berkuda, berburu, dan aktivitas luar ruang yang menuntut perlindungan dari cuaca ekstrem. Pakaian luar Burberry dirancang untuk memungkinkan kebebasan bergerak sekaligus memberikan perlindungan,, sebuah kebutuhan nyata yang melahirkan estetika khas. Dalam konteks ini, equestrian merupakan konsekuensi logis dari fungsi. Di bawah arahan kreatif Daniel Lee, Burberry kembali menghidupkan logo ikonik Equestrian Knight sebagai penegasan hubungan historis antara brand, fungsi, dan identitas nasional Inggris.
Beranjak ke Amerika Serikat, Ralph Lauren memosisikan equestrian sebagai simbol gaya hidup klasik yang berkelas dan aspiratif. Brand ini menjadikan polo dan berkuda sebagai metafora visual bagi narasi tentang warisan, tradisi, dan timelessness ala Amerika. Keterlibatan aktif Ralph Lauren dalam berbagai ajang dan komunitas equestrian internasional menegaskan bahwa hubungan ini merupakan refleksi filosofi brand yang menekankan kontinuitas, craftsmanship, dan aspirasi lintas generasi.
Coach, meskipun sama-sama mengusung semangat Amerika, mengambil pendekatan yang lebih kasual dan demokratis. Logo kereta kuda Coach merepresentasikan perjalanan dan heritage, sekaligus menunjukkan bagaimana simbol equestrian dapat diadaptasi ke dalam konteks gaya hidup modern yang lebih inklusif.
Daya tarik gaya equestrian dalam dunia fashion pada akhirnya terletak pada karakternya yang relatif stabil, lintas musim, dan tahan terhadap tren jangka pendek. Siluet, detail, dan konstruksi yang berakar dari dunia berkuda sejak awal dirancang untuk ketahanan dan fungsi jangka panjang, sebuah antitesis dari konsumsi instan yang kini mendominasi industri mode. Nilai ini sejalan secara inheren dengan filosofi luxury yang menempatkan kualitas material, presisi pengerjaan, dan daya tahan sebagai fondasi utama, sekaligus memposisikan produk sebagai objek bernilai investasi. Dalam kerangka branding, estetika equestrian membawa narasi tentang warisan, disiplin, kontinuitas, dan kontrol, nilai-nilai rumah mode dengan sejarah panjang.
Lebih jauh, equestrian merepresentasikan titik temu ideal antara fungsi dan estetika. Setiap elemen dalam perlengkapan berkuda lahir dari kebutuhan praktis yang spesifik untuk performa tinggi. Prinsip fungsional ini diterjemahkan ke dalam desain fashion melalui penekankan struktur, proporsi terukur, serta pemilihan material berkualitas tinggi seperti kulit, wol, dan logam. Dalam industri yang semakin bergerak cepat dan berbasis tren sesaat, cara ini menjadi sebuah penolakan terhadap disposability estetika.
Dalam beberapa dekade terakhir, inspirasi equestrian hadir dalam bentuk yang semakin subtil dan kontekstual. Tas Saddle diperbarui melalui eksplorasi material dan proporsi yang disesuaikan dengan gaya hidup urban, sepatu riding diterjemahkan menjadi loafers atau boots dengan siluet yang lebih fleksibel, sementara jaket berkuda menjadi referensi penting bagi tailoring modern. Meski tampil kontemporer, akar historisnya tetap terbaca, memberikan kedalaman makna dan legitimasi estetika.
Pada akhirnya, penggunaan gaya equestrian atau simbol kuda oleh berbagai rumah mode adalah sebuah refleksi dari sejarah industri fashion itu sendiri. Dunia berkuda menyediakan pondasi bagi lahirnya craftsmanship, disiplin produksi, dan estetika fungsional yang kini menjadi ciri utama fashion mewah modern. Jika dikaitkan dengan pengajaran fengsui, kuda melambangkan kekuatan, fokus, dan determinasi, kemampuan untuk terus bergerak maju dengan tujuan yang jelas. Nilai inilah yang terus diterjemahkan oleh rumah mode global, ketangguhan untuk bertahan, ketajaman visi untuk beradaptasi, dan energi untuk terus melaju, baik di tahun Kuda maupun dalam perjalanan panjang industri fashion ke masa depan.
BACA JUGA:
Membedah Cita Rasa yang Menyatukan Indonesia
The New Uniform: Cerminan Gaya Hidup Modern Masa Kini
Baca artikel Bazaar yang berjudul "Pacuan dalam Padanan" yang terbit di edisi cetak Harper's Bazaar Indonesia - Februari 2026; Penulis: Geofanny Tambunan; Disadur oleh: Kaylifa Kezia Annazha.
- Tag:
- Kuda
- Horse
- Fashion
- Editor's Eye
