Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Menata Ulang Arti Mencintai di Era Modern

Gen Z menegosiasikan ulang makna hubungan antara ketertarikan estetis, kebutuhan emosional, dan pilihan untuk menjaga cinta tetap privat.

Menata Ulang Arti Mencintai di Era Modern
Foto: Courtesy of Dok. BAZAAR

Mutia Arfah, perempuan Gen Z yang sering disapa dengan nama Tiara telah menyampaikan secara tegas bahwa “Hubungan itu kebutuhan emosional,” dilanjuti dengan “Karena tidak semua hubungan sifatnya mengendalikan.” Bagi Tiara, relasi romantis justru ideal saat dua orang saling percaya dan memberi ruang sehingga individu tetap bebas menjadi diri sendiri tanpa terbelenggu ekspektasi.

Pernyataan tersebut langsung mematahkan stereotip yang sering diasosiasikan pada generasi Gen Z yang sering dianggap dingin, enggan berkomitmen, bahkan memandang pacaran sebagai sesuatu yang tidak keren. Namun jika ditelusuri lebih dalam, jarak itu bukan penolakan cinta, melainkan sikap hati-hati sesuai zamannya.

Setelah era dating apps yang membuat orang terasa mudah tergantikan, generasi ini mewarisi tantangan yang berbeda. Bukan lelah memilih, melainkan kebingungan bertahan, terlalu mudah untuk melihat kehidupan orang lain sehingga banyak perbandingan dan selalu dihadapkan pada relasi yang tampaknya indah namun sebenarnya rapuh secara emosional.

Menurut seorang psikolog yang banyak bekerja dengan klien Gen Z, ia melihat pergeseran ini tidak hitam-putih. Lidia Wati, M.Psi, Psikolog menyatakan bahwa ada dua ketertarikan romantis di masa ini yakni ketertarikan estetis dan ketertarikan yang tumbuh pelan melalui bonding.

Namun, masalah dapat muncul ketika dua jalur ini saling bertabrakan. Jika salah satu individu belum mengenal apa yang ia inginkan (apakah itu desire atau hanya aesthetic belaka) maka arah hubungannya mulai kabur. Di saat seperti ini, hubungan yang dimulai intens di awal akan cepat goyah. Kebutuhan emosional yang tidak terarah akan menimbulkan kebingungan yang melelahkan.

Fenomena lain yang banyak disalahpahami oleh Gen Z adalah keengganan mereka memamerkan pasangan di media sosial. Bagi Tiara, alasannya sederhana, “takut terlihat berlebihan”. Di ruang digital yang kerap menjadikan pacaran sebagai konten performatif agar terlihat keren, justru Gen Z memilih untuk menahan diri. Menurut sang pakar, “Sikap ini tidak bisa dilepaskan dari pengalaman generasional yang sarat dengan penolakan. Persaingan masuk universitas, ketidakpastian dunia kerja, hingga dinamika dating apps yang membuat hubungan terasa mudah runtuh membentuk kewaspadaan kolektif. Menjaga relasi tetap privat menjadi cara melindungi diri dari rasa gagal yang terlalu cepat dipublikasikan, terutama ketika hubungan masih dalam tahap membangun kedalaman,” ujar Lidia.

Walaupun kelihatannya menjaga jarak, kedekatan emosional masih diperlukan, namun emotional availability tersebut tidak diberikan secara instan. Tiara menganggap bahwa “vulnerability itu wajar,” hanya keterbukaan bukanlah hal yang bisa dipercepat. Butuh proses untuk seseorang dapat membuka dirinya.

Gen Z memilih untuk membuat hubungan lebih privat
Foto: Courtesy of Dok. BAZAAR

TANTANGANNYA kini bukan pada kemauan untuk TERKONEKSI, melainkan pada kemampuan membedakan mana koneksi yang NYATA dan mana yang sekedar SUPERFICIAL

Lidia turut menggarisbawahi hal serupa. “Koneksi emosional adalah kebutuhan dasar manusia, termasuk bagi Gen Z. Tantangannya kini bukan pada kemauan untuk terkoneksi, melainkan pada kemampuan membedakan mana koneksi yang nyata dan mana yang sekadar superficial. Media sosial memungkinkan setiap orang tampil dalam versi diri yang telah dikurasi rapi, membuat kedekatan terasa mudah, tetapi seringkali tanpa fondasi emosi yang kuat.”

Kebingungan ini juga tercermin dalam cara Gen Z memandang komitmen. Tantangannya bukan lagi soal menemukan pasangan melainkan bagaimana cara memilih dan bertahan. Banyaknya opsi membuat anak muda banyak membandingkan dan menganggap konflik kecil sebagai alasan untuk mundur. Sehingga dalam prosesnya, banyak yang takut kehilangan orang lain sampai perlahan kehilangan diri sendiri karena tekanan lingkungan yang terus mendominasi. 

Namun di balik kehati-hatian itu, tetap ada harapan. Bagi Tiara, hubungan ideal adalah kedekatan emosional dan rasa aman tanpa kehilangan kebebasan, relasi yang tidak mengikat, namun membuat dua individu mampu bertumbuh bersama.

Bagi Lidia, relasi seperti inilah yang berperan penting dalam kesehatan mental. Ketika seseorang mampu membangun koneksi emosional, kehadiran pasangan terasa sebagai dukungan dan bukan beban. Kedekatan yang berkualitas yang bukan sekadar terlihat utuh dari luar, menciptakan stabilitas dan resilience saat menghadapi konflik dan tekanan hidup.

Pada akhirnya, dinamika relasi Gen Z bukanlah soal takut mencintai maupun menolak berkomitmen tapi tentang belajar membedakan ketertarikan dan kebutuhan emosional, serta keinginan untuk mencintai tanpa menjadikan hubungan sebagai konsumsi publik. Dalam situasi di era ini, keberanian terbesar mungkin bukan terlihat keren saat bersama seseorang, melainkan mampu membangun kedekatan yang jujur dan konsisten tanpa dipertonton siapapun.

BACA JUGA:

Membedah Cita Rasa yang Menyatukan Indonesia

Refleksi Akhir Tahun yang Menciptakan Ruang Tumbuh Baru untuk Diri Sendiri

Baca artikel Bazaar yang berjudul "On Our Terms" yang terbit di edisi cetak Harper's Bazaar Indonesia - Februari 2026; Penulis: Aleyda Hakim; Disadur oleh: Alleia Anata; Fotografi: Cottonbro Studio