Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Pergeseran Tren di Dunia Parfum yang Layak untuk Anda Ketahui 

Apa yang diungkap tren aroma manis tentang dunia kita dan cara kita mencari kenikmatan, kenyamanan, serta kendali.

Pergeseran Tren di Dunia Parfum yang Layak untuk Anda Ketahui 
Foto: Coutesy of BAZAAR US

Berjalanlah di Lower East Side saat ini dan besar kemungkinan Anda akan memainkan sebuah permainan: ini aroma kue panggang atau sekadar parfum? Wewangian gourmand yang lama diasosiasikan dengan gula, indulgence, dan hidangan penutup telah mencapai tingkat kejenuhan baru. Dalam beberapa tahun terakhir, budaya aroma menyaksikan gelombang baru komposisi yang terinspirasi dari makanan, termasuk kolaborasi chef dan perfumer serta peluncuran eksperimental yang mengaburkan batas antara dapur dan meja rias. Apa yang dulu terasa niche atau disruptif kini terasa ambient, mewarnai pengalaman kolektif.

BACA JUGA: 18 Parfum Tahan Lama Terbaik yang Tak Perlu Diaplikasikan Ulang

Sudah lebih dari 30 tahun sejak apa yang disebut gourmand “orisinil” masuk ke dalam kanon: Angel dari Mugler. Dengan manis praline dan kepadatan yang tanpa kompromi, parfum Angel tidak hanya memperkenalkan nuansa edible ke dalam fine fragrance, tetapi juga menghancurkan gagasan tentang restraint yang berlaku saat itu. Sejarawan parfum kerap menyebut Angel sebagai gourmand sejati pertama, namun penyederhanaan itu mengaburkan betapa radikalnya aroma tersebut pada masanya. Hadir di era maksimalisme kultural, tepatnya ketika kenikmatan itu sendiri bersifat aspiratif, Angel tidak sekadar beraroma seperti makanan, tetapi beraroma ekspresif. Praline dan karamel, vanila dan madu diracik menjadi campuran yang menyeimbangkan keceriaan dan imajinasi. Seperti dijelaskan perfumer Angel, Olivier Cresp kepada sejarawan parfum Michael Edwards, “Jika terlalu banyak memasukkan nuansa rasa ini, parfumnya menjadi terlalu gimmicky, terlalu remaja.” Angel mengabaikan standar industri tentang bagaimana seorang perempuan seharusnya beraroma, bahkan tanpa menyebutkan bunga. Angel melatih konsumen untuk menerima kemanisan bukan sebagai sesuatu yang remeh, melainkan sebagai kekuatan.

Mugler Angel Eau de Parfum / Foto: Courtesy of BAZAAR US

Kini kita telah memasuki satu generasi penuh dominasi gourmand. Apa yang dulu terasa transgresif kini menjadi semacam infrastruktur. Gula bukan lagi kejutan, melainkan tata bahasa yang kita pahami lintas usia dan demografi. Pada 2018, firma riset pasar NPD Group menemukan bahwa aroma gourmand menyumbang sekitar 74 persen pasar Inggris dan 68 persen pasar Prancis. Seiring konsumsi wewangian yang terus meluas secara global sejak saat itu, pangsa tersebut juga ikut semakin bertumbuh. Nilai pasar global wewangian gourmand pada 2025 saja mencapai lebih dari 35 miliar dolar AS. Itu adalah jumlah aroma manis yang sangat besar, dengan ukuran apa pun.

Angel melatih konsumen untuk menerima kemanisan bukan sebagai sesuatu yang remeh, melainkan sebagai kekuatan.

Pada tahun 2010-an dan awal 2020-an, genre ini lebih condong pada kepadatan ketimbang kebaruan: vanila yang lebih smoky, gula yang dipanggang, kacang yang lebih kaya. Kenikmatannya menjadi lebih dalam, gelap, dan lebih menyelubungi. Augustine Zegers, perfumer di balik Agar Olfactory menjelaskan bagaimana definisinya meluas: “Apa pun yang bisa dimakan dalam palet olfaktori kini disebut gourmand. Dulu definisinya murni manis, tetapi dalam praktiknya menjadi apa pun yang edible. Pada 2020, saya melihat wijen sebagai note parfum dan kini semakin banyak digunakan. Note beras mulai populer beberapa tahun lalu dan sekarang ada begitu banyak parfum beras, bersama kacang seperti pistachio.”

Pistachio, beras, almond, dan wijen memperluas palet aroma tanpa meninggalkan kemanisan itu sendiri. Jika patisserie Eropa menjadi inspirasi olfaktori dominan dari tahun 2000-an hingga awal 2020-an, maka kini kita menjelajah ke toko roti yang berbeda, merayakan referensi kuliner dan register emosional yang lebih beragam.

D.S. & Durga Pistachio / Foto: Courtesy of BAZAAR US

Note beras menyiratkan keintiman sebagai bentuk indulgence baru. Gourmand yang milky dan lactonic menekankan tekstur dibanding rasa, creamy, hangat, seperti kulit. Aroma seperti Milk Orchid menunjukkan dahaga pasar akan kelembutan dan rasa aman, menenun kembali konsep floral ke dalam lanskap edible alih-alih menggantikannya. Galone dari Gabar mengambil inspirasi dari mitologi Asia dan estetika devosional, menerjemahkan wijen, pala, karamel vulkanik, dan musk menjadi sesuatu yang ritualistik, bukan sekadar seperti hidangan penutup. Ini adalah wewangian yang tidak meminta untuk dikonsumsi, melainkan untuk dihormati.

Selain gourmand toasted dan lactonic, buah tropis mendorong kategori ini ke wilayah yang lebih volatil. Note sulfurik dan fermentasi menantang logika dessert Barat sepenuhnya. Durian dari D. Grayi menjadi contoh pergeseran ini: manis, tajam, memecah belah, dan spesifik secara kultural. Perfumer-nya, James menyebut komposisi tersebut sebagai eksplorasi atas apa yang ia sebut “punk fruit.” “Ia berduri dan menolak menyesuaikan diri dengan apa yang diharapkan masyarakat,” ujarnya. “Ketika saya melihat data GC–MS durian, saya menyadari ia berbagi banyak molekul aroma dengan buah-buahan yang sudah disukai orang. Ada kemanisan, creamy, dan kedalaman pada parfum ini, akord susu kental serta jeruk nipis untuk menambah kesegaran.”

DARI KIRI KE KANAN: COMMODITY MILK ORCHID / GABAR GALONE EAU DE PARFUM / D.GRAYI ARTISAN PERFUME BY MIJU DURIAN

Material-material ini tidak menolak kemanisan, melainkan memperumitnya dengan menempatkan pengalaman yang selama ini terpinggirkan atau disalahpahami sebagai intinya. Wewangian gourmand berhenti bertanya, “Ini dessert apa?” dan mulai bertanya, “Referensi siapa yang sedang diambil?”

Gourmand masa kini tidak lagi terbatas pada cokelat, karamel, atau vanila. Ia asin, milky, metalik, tropis, dan juga mineral. Era baru gourmand merujuk pada makanan tanpa mereplikasinya. Wewangian ini tidak lagi bertanya apa yang terasa enak untuk dicicipi, melainkan apa yang terasa menyenangkan untuk dicium saat ini. Pertanyaannya pun muncul: mengapa pergeseran ini terjadi dan mengapa sekarang?

Wewangian yang terinspirasi dari makanan berkembang di masa ketidakstabilan. Ketika kecemasan ekonomi, politik, dan ekologis meningkat, aroma menjadi indulgence berisiko rendah, kenikmatan tanpa konsekuensi, konsumsi tanpa kalori. Seiring meningkatnya penggunaan GLP-1, studi terbaru menunjukkan bahwa obat ini meningkatkan sensitivitas terhadap aroma. Obat seperti Ozempic menekan nafsu makan dengan meniru hormon usus, tetapi juga memengaruhi bagian otak yang bertanggung jawab atas penciuman dan rasa. Dalam konteks ini, ekspansi gourmand terasa bukan sebagai ekses, melainkan adaptasi. “Saya melihat gourmand baru lebih sebagai ruptur dan reinvensi ketimbang evolusi linear. Orang penasaran, mereka mungkin tidak ingin mengenakannya, tetapi ingin menciumnya. Note yang terasa tidak konvensional bisa menjadi indah ketika diracik dengan cermat. Sering kali, kontras antara elemen tak terduga yang menciptakan hasil paling menarik,” ujar Shaylin Sajjadi dari retailer parfum Scent Split.

Wewangian yang terinspirasi makanan berkembang di masa ketidakstabilan.

Gourmand, sebagaimana kita kenal, bermula dari keinginan Mugler akan camilan masa kecil yang menenangkan. Sejak saat itu, ia menjadi bahasa yang mampu mengekspresikan kenyamanan, nostalgia, kecemasan, kelimpahan, dan keintiman. Dari provokasi manis Angel hingga abstraksi milky, tropis, dan neo-gourmand hari ini, kategori ini meluas tanpa terbendung. Kini dapur kita penuh: kacang dan beras, buah dan rempah, madu dan roti, serta manisan. Ketika ketidakpastian dan kerawanan pangan meningkat di Amerika, kita semakin tenggelam dalam fantasi yang dijanjikan parfum gourmand.

Pertanyaannya bukan lagi seberapa manis parfum bisa dibuat, melainkan sejauh mana makanan dapat berfungsi sebagai metafora. Gourmand mengajarkan kita bagaimana mencium rasa lapar itu sendiri dan dengan demikian mengungkap bukan hanya apa yang kita inginkan, tetapi bagaimana kita menghadapi keinginan tersebut.

BACA JUGA:

Parfum Termahal di Dunia: Koleksi Wewangian Super Mewah

Kenali Tingkat Ketahanan Parfum untuk Pemakaian Optimal

(Penulis: Arabelle Sicardi; Artikel disadur dari BAZAAR US; Alih bahasa: Alisa Putri Ramadhina; Foto: Courtesy of BAZAAR US)