Tentu, minat publik terhadap konten romansa kini berada di puncaknya.
Baik melalui naiknya popularitas buku romansa, kesuksesan instan serial hoki queer Heated Rivalry, maupun kembalinya drama periode klasik ke pop seperti Wuthering Heights dan Sense and Sensibility, pembaca, penonton, dan konsumen kini semakin terbuka—bahkan bangga—menunjukkan ketertarikan mereka pada kisah romansa. Namun, sulit membicarakan pergeseran romansa dalam pop culture tanpa kembali pada serial Netflix karya Shonda Rhimes, Bridgerton, yang sejak awal memikat jutaan penonton di seluruh dunia lewat pendekatannya yang multikultural—dan tak sepenuhnya akurat—terhadap romansa era Regency.
BACA JUGA: Peringkat Setiap Karakter Bridgerton Berdasarkan Red Flag Mereka
Setiap season serial ini terasa seperti menyaksikan proses ketertarikan yang perlahan berkembang, lengkap dengan momen-momen sensual di layar yang memikat para pencinta romansa. Ketika Daphne (Phoebe Dynevor) dan Simon (Regé-Jean Page) akhirnya mengekspresikan cinta mereka di tengah hujan deras, adegan tersebut dengan cepat menjadi cultural canon. Para penggemar bahkan nyaris menghafal monolog Jonathan Bailey saat Anthony Bridgerton menyatakan cintanya kepada Kate Sharma (Simone Ashley) sebagai salah satu contoh kerinduan yang begitu intens. Bahkan season ketiga pun berhasil menjaga momentumnya lewat adegan carriage yang beyond blush-worthy antara Penelope Featherington dan Colin Bridgerton, setelah bertahun-tahun ketertarikan yang terpendam dan tak terucap. Dari season ke season, para showrunner Bridgerton terus meningkatkan intensitas romansa, karena serial ini direncanakan akan berjalan hingga delapan season demi mengikuti alur seri novel aslinya.
Namun sejak season ketiga, Netflix memilih memperpanjang penayangan Bridgerton dengan merilis setiap season dalam dua fase terpisah. Dari sudut pandang produksi, langkah ini masuk akal: Netflix mendapat waktu tambahan untuk menyempurnakan paruh akhir season serta menyesuaikan keputusan kreatif yang muncul secara mendadak. Entah karena penonton telah mengikuti Bridgerton sejak 2020, atau karena selera romansa kini telah banyak dibentuk oleh standar baru ala Heated Rivalry, bagian awal dari evolusi seksual season keempat justru terasa datar. Sulit untuk tidak mengakuinya—Bridgerton slow burn kini mulai terasa melelahkan.
Tentu, romansa slow-burn adalah salah satu trope penceritaan paling populer dalam kisah cinta. Format ini memberi ruang bagi cerita untuk berkembang secara lebih realistis, sekaligus memungkinkan penonton membangun keterikatan dengan para karakter dan chemistry-nya. Elemen ini menjadi kunci agar penonton ikut jatuh cinta pada kisah yang ditampilkan. Bukan berarti season keempat Bridgerton kekurangan daya tarik sensual—Penelope dan Colin melanjutkan kebahagiaan awal pernikahan mereka lewat pertemuan carriage yang intim, sementara Violet Bridgerton, sosok ibu dalam keluarga Bridgerton, akhirnya menemukan kembali gairah hidupnya bersama Lord Marcus Anderson yang tampan dan penuh pesona. Ada pula alur cerita tentang Francesca Bridgerton yang menyadari bahwa ia belum pernah mencapai orgasme—yang dalam dunia Bridgerton disebut sebagai “reaching pinnacle”.
Kami sungguh bahagia untuk para karakter pendukung. Namun, pasangan pusat season ini, Sophia dan Benedict, tetap terasa “kurang”—terlepas dari ciuman penuh gairah, skinny dipping, hingga momen panas di tangga, episode keempat masih meninggalkan kesan yang belum benar-benar selesai. Adilnya, sudah menjadi rahasia umum bahwa paruh kedua setiap season Bridgerton selalu lebih panas. Para penggemar pun mulai menantikan adegan mandi ikonis dari novelnya—yang, dari teaser terbaru, tampaknya akan hadir di episode-episode mendatang. Hampir dapat dipastikan akan ada momen yang memicu reaksi besar di paruh kedua season ini. Namun salah satu daya tarik terbesar dari dunia Bridgerton terletak pada kesempatan untuk menyaksikan sebuah hubungan dari awal hingga akhir—tumbuh, menguat, dan berkembang.
Sebagai serial yang berperan besar dalam membentuk cara televisi menampilkan seks, Bridgerton tampaknya perlu mengevaluasi kembali formula yang membangun popularitasnya. Seperti halnya dalam kehidupan nyata, seks perlu berevolusi agar tetap terasa menarik.
BACA JUGA:
Panduan Lengkap Bridgerton Season 4 yang Perlu Anda Ketahui
Segala Hal yang Perlu Anda Ketahui Tentang Bridgerton Season 4
(Penulis: Bianca Betancourt; Artikel disadur dari BAZAAR US; Alih bahasa: Karen Silitonga; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
- Tag:
- Bridgerton
