Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

5 Cara Berhenti Perlakukan Tubuh sebagai Hal yang Harus Diperbaiki

Mulai dari skor tidur hingga alat pemantau glukosa, tren wellness kini terasa semakin membingungkan . Penulis Sarah Ann Macklin mengajak kita untuk lebih berbaik hati pada diri sendiri sebagai langkah mendasar untuk memulihkan keseimbangan biologis tubuh.

5 Cara Berhenti Perlakukan Tubuh sebagai Hal yang Harus Diperbaiki
Foto: Courtesy BAZAAR UK

Jauh sebelum istilah self-optimisation menjadi obsesi yang melekat dalam budaya populer, dunia wellness telah menawarkan sesuatu yang jauh lebih sederhana: keseimbangan hidup. Kini, maknanya semakin bergeser hingga kita sulit membedakan antara merasa lebih baik dan terus berusaha menjadi lebih baik.

BACA JUGA: 5 Hal Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Breast Wellness, Langkah Preventif Kanker Payudara

“Di suatu titik, kesejahteraan diri berubah menjadi ruang lain bagi kita untuk mengukur apakah diri kita sudah cukup baik,” ungkap Sarah Ann Macklin, ahli gizi, pembawa acara podcast, sekaligus penulis buku Healthy Shouldn’t Be This Hard. “Kita memiliki jam tangan yang menilai kualitas tidur, aplikasi yang mengevaluasi pemulihan tubuh, alat pemantau glukosa yang mencatat kadar gula setelah makan siang, hingga media sosial yang menentukan seperti apa rutinitas pagi kita seharusnya, bahkan sebelum kita beranjak dari tempat tidur.”

Siapa pun yang terbiasa menggulir media sosial pada pagi hari pasti memahami hal ini. Berbagai rutinitas wellness stacking yang dimulai pukul lima pagi dan muncul di linimasa dapat memicu perasaan tidak cukup baik, bahkan mendorong kita untuk terus membandingkan diri dengan orang lain.

Namun, semakin banyak penelitian yang mengarah pada perspektif berbeda: memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik justru dapat membantu menurunkan kadar kortisol, mengatur sistem saraf, dan mendukung kesehatan sel. “Kita bisa mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga, mengoptimalkan kualitas tidur, dan mengonsumsi berbagai suplemen yang tersedia di pasaran. Namun, jika semua itu didorong oleh keyakinan bahwa tubuh kita adalah masalah yang harus diperbaiki, upaya menjaga kesehatan justru bisa menjadi bentuk hukuman terhadap diri sendiri,” jelas Sarah.

Berikut lima cara sederhana yang dibagikan Sarah:

1. Ubah kritik terhadap diri sendiri menjadi sikap yang lebih menerima diri

Sebelum menambahkan tren suplemen atau kiat wellness terbaru ke dalam rutinitas, luangkan waktu sejenak untuk memahami motivasi di baliknya. Kebiasaan menjaga kesehatan yang sama dapat menghasilkan dampak emosional dan fisiologis yang sangat berbeda, bergantung pada apakah kebiasaan tersebut didorong oleh kritik terhadap diri sendiri atau penerimaan diri.

“Bersikap baik kepada diri sendiri sering disalahartikan sebagai sikap terlalu lunak atau membiarkan diri lepas dari tanggung jawab. Padahal menurut saya, justru sebaliknya,” jelas Sarah. “Ini adalah kemampuan untuk menghadapi diri sendiri tanpa langsung menganggap kesulitan sebagai kegagalan pribadi. Hal ini penting karena perubahan perilaku yang berkelanjutan membutuhkan kejujuran. Jika setiap kali mengevaluasi kebiasaan, kita justru merespons diri dengan kritik, rasa malu, atau bahkan rasa jijik, pada akhirnya kita akan berhenti mengevaluasinya.”

Foto: Courtesy BAZAAR UK

Sikap ini perlu dibangun dan dilatih secara bertahap. “Saya mengibaratkan belas kasih terhadap diri sendiri seperti otot. Jika selama bertahun-tahun kita terbiasa mengkritik diri, mengejar kesempurnaan, atau memaksakan diri untuk terus bertahan, respons yang lebih ramah terhadap diri sendiri mungkin tidak langsung terasa alami,” tambah Sarah. “Semakin sering kita berlatih merespons diri dengan rasa ingin memahami, alih-alih menyerang diri sendiri, maka semakin mudah respons tersebut muncul. Pada dasarnya, kita sedang memperkuat pola baru yang memungkinkan kita menyadari rasa sakit, kesulitan, atau kegagalan tanpa langsung menganggapnya sebagai bukti bahwa ada sesuatu yang salah dengan diri kita.”

2. Dengarkan sinyal alami tubuh

Di tengah tren optimasi diri, kemampuan mendengarkan tubuh kerap tergeser oleh tuntutan untuk bergerak lebih baik, lebih cepat, dan mencapai lebih banyak hal. Padahal menurut Sarah, pendekatan tersebut justru bertentangan dengan kebutuhan tubuh yang sebenarnya.

“Kita semakin terbiasa mencari data dari luar, tetapi semakin jarang mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri: Apakah saya lelah? Apakah saya lapar? Apakah saya merasa kesepian? Apakah saya kewalahan? Apakah saya benar-benar membutuhkan metode baru atau justru perlu beristirahat semalam?” Dengan menanyakan apa yang benar-benar dibutuhkan tubuh saat itu, alih-alih mengikuti apa yang kita anggap seharusnya dilakukan, kita dapat mengambil keputusan yang lebih tepat.

“Tubuh bukanlah penghambat yang membuat kita tertinggal dari orang lain. Terkadang, kelelahan adalah sinyal yang perlu kita pahami,” tambahnya.

3. Lepaskan jadwal yang terlalu ketat

“Program yang kaku terasa menarik karena kepastian memberikan rasa aman. Program tersebut memberi kita aturan yang untuk sementara membebaskan kita dari keharusan mendengarkan kebutuhan diri sendiri. Namun pada akhirnya, kehidupan akan menghadirkan hal-hal yang tidak selalu sesuai rencana,” ujar Sarah.

Sebagai gantinya, ubah aturan yang kaku menjadi rutinitas yang lebih fleksibel dan responsif terhadap kondisi tubuh. Sebelum memenuhi jadwal dengan berbagai aktivitas, periksa terlebih dahulu tingkat energi yang dimiliki, lalu sesuaikan intensitas kegiatan. Misalnya, ganti latihan berintensitas tinggi dengan gerakan somatik atau latihan pernapasan restoratif ketika sistem saraf sedang mengalami tekanan berlebih.

Foto: Courtesy BAZAAR UK

4. Luangkan waktu 10 detik untuk berhenti sejenak

Sarah menyarankan untuk mengambil jeda selama 10 detik sebelum menerapkan kebiasaan baru. Langkah ini membantu menghentikan reaksi spontan yang mendorong kita untuk terus mengoptimalkan diri. Dalam jeda tersebut, tanyakan pada diri sendiri masalah apa yang sebenarnya ingin diatasi dan apakah solusi yang dipertimbangkan didukung oleh bukti yang kuat. Pertimbangkan pula apakah kebiasaan tersebut realistis untuk diterapkan dalam keseharian, lalu tanyakan apa yang akan terjadi jika kita memilih untuk tidak melakukan apa pun.

Jika pikiran masih terasa membebani, Sarah menyarankan untuk menuliskannya dalam buku catatan guna menciptakan jarak emosional. “Menulis memberi kita jarak yang cukup untuk mengamati pikiran, alih-alih sekadar larut di dalamnya. Terkadang, tiga kalimat yang ditulis dengan jujur jauh lebih bermanfaat daripada tiga halaman tulisan.”

Foto: Courtesy BAZAAR UK

5. Sadari bahwa apa yang Anda lakukan sudah cukup

Budaya optimasi diri terus berkembang karena tidak memiliki garis akhir yang jelas. Kita selalu bisa menambah durasi tidur nyenyak atau meningkatkan target olahraga di Strava. Namun menurut Sarah, kesejahteraan yang sesungguhnya membutuhkan pemahaman tentang batas yang cukup. Alih-alih terus mengejar kesempurnaan, fokuslah pada kebiasaan mendasar yang paling berdampak terhadap kondisi tubuh dan perasaan kita.

“Bagi kebanyakan orang, kebiasaan tersebut ternyata sederhana dan jauh dari kesan glamor, seperti mengonsumsi makanan bergizi secara teratur, tidur yang cukup, menggerakkan tubuh, bertemu orang-orang terkasih, menghabiskan waktu di luar ruangan, mengurangi stres kronis, serta menyediakan waktu untuk tidak terus-menerus mengonsumsi informasi,” ungkap Sarah.

“Jika kesehatan didefinisikan sebagai upaya untuk terus berkembang, kita tidak akan pernah merasa benar-benar sampai pada tujuan. Terkadang, keputusan paling sehat bukanlah menambahkan hal baru, melainkan menyadari bahwa apa yang sudah kita lakukan selama ini sebenarnya sudah cukup,” tutupnya.

BACA JUGA: 
Kebangkitan Ritual Wellness Tradisional di Tengah Dominasi Teknologi Modern
Kenali Secara Mendetail Ciri Haid Menjelang Menopause

(Penulis: Amelia Bell; Artikel ini disadur dari: BAZAAR UK; Alih bahasa: Kirana Anindya; Foto: Courtesy of BAZAAR UK)