Sudah lama menjadi tradisi bagi Chanel untuk menutup peragaannya dengan gaun pengantin putih yang megah. Sebagai direktur kreatif, Karl Lagerfeld kerap menghadirkan gaun pengantin yang rumit, bahkan penuh kemewahan, sebagai penutup. Namun, untuk koleksi Fall 2026, Matthieu Blazy melakukan sesuatu yang berbeda. Ia menutup koleksi bak dongeng tersebut dengan little black dress, atau yang dikenal sebagai LBD.
BACA JUGA: Gaun "Revenge" Putri Diana Resmi Akan Dilelang
Seratus tahun lalu, Gabrielle “Coco” Chanel memperkenalkan little black dress yang disebut sebagai LBD “pertama”, berupa gaun sheath berlengan panjang dengan panjang sedikit di bawah lutut. Pers menyamakannya dengan Ford Model T: praktis, elegan, dan dapat dikenakan siapa saja. Seperti tuxedo untuk perempuan, LBD mengubah warna hitam dari simbol duka menjadi bentuk kemewahan yang understated. Satu abad kemudian, Matthieu menilai pendekatan tersebut sesuai dengan warisan Chanel sendiri, seorang perempuan yang merancang pakaian untuk melayani dirinya, bukan sebaliknya.
Dari kiri atas searah jarum jam: Audrey Hepburn mengenakan Givenchy dalam Breakfast at Tiffany’s, 1961; Carolyn Bessette Kennedy dalam Yohji Yamamoto, 1998; Anita Ekberg dalam La Dolce Vita, 1960; Princess Diana dalam revenge dress rancangan Christina Stambolian, 1994; Elizabeth Hurley dalam Versace, 1994; Chanel Fall 2026.
Istilah revenge dress begitu lekat dengan LBD berpotongan ramping yang dikenakan Princess Diana pada 1994, setelah Prince Charles secara terbuka mengakui perselingkuhannya. Namun, itu hanyalah salah satu interpretasi LBD yang paling dikenal. Ada gaun sheath elegan rancangan Hubert de Givenchy untuk Audrey Hepburn dalam Breakfast at Tiffany’s; gaun glamor Anita Ekberg dalam La Dolce Vita; slip dress sederhana Carolyn Bessette Kennedy; hingga gaun Versace dengan detail peniti pengaman yang dikenakan Elizabeth Hurley.
Dalam satu abad sejak kemunculannya, little black dress telah tampil dalam berbagai karakter: mewah, praktis, sensual, puristis, androgini, dan masih banyak lagi. Sebagian besar perempuan setidaknya memiliki satu LBD. Busana ini menjadi simbol solusi untuk berpakaian dari siang hingga malam; cukup mengenakan sepasang sepatu hak dan Anda siap beraktivitas. Kami meminta para desainer, penata gaya, penulis, dan sejarawan untuk membantu memahami pengaruhnya sekaligus memilih LBD terbaik sepanjang masa.
Carla Sozzani, salah satu pendiri dan presiden Azzedine Alaïa Foundation: Tahun 1920-an merupakan era dekorasi dan warna, sehingga little black dress terasa tidak lazim. Menurut saya, sejarahnya bahkan dimulai sebelum Chanel. Jeanne Paquin adalah orang pertama yang menggunakan warna hitam sebagai mode, bukan pakaian berkabung. Pada 1922, Charlotte Révyl dari Premet membuat sebuah little black dress bernama La Garçonne. Chanel-lah yang kemudian mendefinisikannya. Menariknya, ketiganya adalah perempuan.
Sunita Kumar Nair, penulis CBK: Carolyn Bessette Kennedy: A Life in Fashion: Chanel mengklaim dirinya sebagai pencetusnya, padahal saya percaya sebenarnya Jean Patou. Keduanya sama-sama berada di garis depan dunia busana olahraga yang memberikan kebebasan kepada perempuan, tetapi Chanel merupakan pemasar yang sangat baik dalam menyampaikan gagasannya. Pada masa itu, para pelayan dan pekerja toko mengenakan pakaian hitam. LBD dengan sangat cerdik menggambarkan perempuan dalam cara yang lebih sensual, bukan sebagai seorang istri atau nyonya rumah.
Joe McKenna, penata gaya: Audrey Hepburn, Breakfast at Tiffany’s. Itu mungkin adalah little black dress yang paling ikonis.
Sozzani: Monica Vitti dalam film-film Antonioni. Ketika benar-benar ikonik, gaun hitam mengikuti bentuk tubuh perempuan. Menurut saya, gaun hitam tidak seharusnya memiliki terlalu banyak kain. Yang terpenting adalah garis siluetnya. Hampir seperti eksperimen pahatan.
Dari kiri atas searah jarum jam: Prada Spring 1994, Helmut Lang Fall 1997, Ralph Lauren Fall 1997, Calvin Klein Fall 1990, Versace Fall 1994.
Narciso Rodriguez, desainer: Ya ampun, film-film Italia itu. Boccaccio ’70. Anita Ekberg dalam La Dolce Vita. Ayolah. Itu selalu menjadi referensi dalam mood board setiap musim.
Robin Givhan, penulis, pengarang, dan kritikus budaya: Saya melihatnya sebagai padanan perempuan dari setelan gelap. Gaun ini bisa seformal atau sekasual yang Anda inginkan. Bisa sangat personal ataupun anonim, sesuai keinginan Anda.
Sozzani: Anda bisa membuat sejarah gambar sepenuhnya melalui gaun hitam. Dalam karya Avedon atau Horst, Anda benar-benar dapat melihat siluet dan bentuknya. Irving Penn menggunakan little black dress Balenciaga. Lindbergh menghasilkan foto-foto luar biasa dengan little black dress yang dikenakan Linda Evangelista, Cindy Crawford, dan Christy Turlington. Guy Bourdin. Helmut Newton, tentu saja. Gaun ini memberikan ruang bagi perempuan untuk mengekspresikan kepribadiannya. Bagi fotografer atau seniman, hal itu jauh lebih menarik daripada sekadar gaunnya.
Farida Khelfa, aktris, model, dan penulis: Yves Saint Laurent membuat gaun hitam untuk peragaan Scandal pada 1971, terinspirasi dari gaun-gaun yang dibeli Paloma Picasso di pasar loak serta gaya era 1940-an saat perang. Gaun-gaun tersebut memiliki detail lipit dan sedikit aksen pada bahu, seperti mode tahun 1940-an. Anda berjalan di jalanan, gaunnya bergerak tertiup angin, dengan turban besar di kepala dan banyak perhiasan seperti Loulou de la Falaise.
Dari kiri atas searah jarum jam: Donna Karan Fall 1994, Oscar de la Renta Fall 1988, Chanel Spring 1995, Comme des Garçons Fall 1992, Yves Saint Laurent Fall 1982.
Kumar Nair: Saint Laurent selalu mengatakan bahwa perempuan dalam gaun hitam seperti tanda seru. Saya juga memikirkan era 1980-an, ketika Robert Palmer merilis video “Addicted to Love”. Kemudian pada 1990-an, gaun hitam kembali berubah menjadi sesuatu yang sangat sensual, keren, dan mentah.
Sozzani: Azzedine Alaïa selalu mengatakan bahwa hanya dengan warna hitam Anda dapat melihat bagaimana sebuah gaun dibuat karena tidak ada ornamen ataupun warna yang mengalihkan perhatian. Saya ingat pada 1985, Grace Coddington, Polly Mellen, dan semua orang duduk di barisan pertama pertunjukannya dengan mengenakan little black dress yang sama.
Khelfa: Saya merasa sangat kuat ketika mengenakan gaun Alaïa. Berdaya. Yakin pada diri sendiri, tubuh, pikiran, dan jiwa saya. Saya rasa setiap perempuan merasakan hal yang sama dalam gaun-gaun tersebut.
Givhan: Ketika mulai menulis tentang mode, semua orang mengenakan pakaian serba hitam. Saat itulah saya menyadari bahwa tidak semua little black dress diciptakan sama. Para desainer Jepang, Yohji Yamamoto dan Comme des Garçons, menjadi pelajaran besar bagi saya tentang “Oke, ini adalah gaun hitam yang benar-benar menarik.”
Veronica Leoni, direktur kreatif Calvin Klein Collection: Saya adalah perempuan era 1990-an, jadi saya tidak bisa melupakan Sex and the City dan Carrie. Saya juga tentu tidak bisa tidak menyebut Calvin Klein. Prada, Jil Sander, Helmut Lang. Posh Spice dengan gaun-gaun pendeknya. Ada sesuatu dari era 1990-an yang sangat berkaitan dengan kepraktisan dan sifat pragmatis LBD. Ini merupakan gestur maksimalis dari minimalisme.
Naomi Parry, direktur kreatif dan desainer kostum: LBD melambangkan perempuan yang merebut kembali identitasnya sendiri. Busana ini merepresentasikan agensi, yaitu kebebasan untuk menentukan diri sendiri daripada mengikuti ekspektasi masyarakat. Princess Diana benar-benar tahu apa yang ia lakukan dengan revenge dress tersebut.
Dari kiri: Alaïa Summer Fall 2026, Tom Ford Fall 2026, Prada Fall 2026, Dolce & Gabbana Fall 2026.
Leoni: Fakta bahwa Calvin Klein mampu membuatnya cocok dikenakan pada pukul 9 pagi maupun 9 malam adalah sebuah kekuatan yang revolusioner.
Rodriguez: Ketika memulai label saya, saya mengambil siluet kaus pria Calvin Klein dan mengubahnya menjadi gaun berbahan wool crepe yang lebih panjang dan ramping, dengan potongan mengikuti serat kain tetapi tetap memiliki keleluasaan seperti kaus. Saya ingat seorang perempuan menyebut salah satu gaun tersebut sebagai “pengamannya”. Dalam situasi apa pun, ia tahu gaun itu akan menyelesaikan masalahnya.
Givhan: Bahkan dalam konteks Chanel, little black dress menjadi latar bagi tumpukan mutiara. Gaun tersebut merupakan awal dari sesuatu yang luar biasa, bukan titik akhirnya.
Rodriguez: Ada satu gambar Carolyn Bessette yang sangat melekat dalam ingatan saya: ia mengenakan gaun hitam berpotongan crewneck yang sederhana dan tailored, dengan bibir merah serta rambut ditarik ke belakang. Ada keanggunan, kesederhanaan, dan kemurnian yang diterapkan dalam seluruh pilihan busananya. Little black dress, kemeja putih, dan slip dress dari era 1990-an memiliki kualitas seperti gaun Madeleine Vionnet dari tahun 1930-an atau jaket Bar ikonik dari Dior. Busana-busana tersebut merekam momen ketika diciptakan, tetapi juga bertahan selamanya sebagai gaya autentik.
Parry: Untuk “Back to Black”, lagu hit Amy Winehouse pada 2007, sutradara Phil Griffin awalnya mengusulkan video musik tersebut sebagai pemakaman bagi hati Amy. Kami sebenarnya bisa memilih warna berani agar konsepnya tidak terlalu harfiah, tetapi saya menyukai bagaimana warna hitam menegaskan citra baru yang ia ciptakan. Warna tersebut juga membingkai ciri khasnya. Rambut beehive, eyeliner, dan tato tanpa menambahkan terlalu banyak gangguan visual atau membuat tampilannya menjadi terlalu rumit.
Dari kiri: Michael Kors Collection Fall 2026, Proenza Schouler Fall 2026, Fendi Fall 2026, Gucci Fall 2026.
Givhan: Saya memikirkan potret resmi pertama Michelle Obama sebagai ibu negara. Ia mengenakan gaun hitam tanpa lengan dari Michael Kors dan memadukannya dengan mutiara. Ada kombinasi yang menarik: sesuatu yang sangat klasik dan membuat orang merasa familiar, tetapi juga begitu berani karena sosok yang mengambil alih dan memilikinya. Ini menjadi cara untuk mengatakan bahwa dirinya sebagai ibu negara merupakan bagian dari garis panjang perempuan ikonis.
Parry: LBD mengatakan “anggap saya serius” tanpa perlu berteriak.
McKenna: LBD bisa memiliki potongan yang menarik, seperti Yohji, ekstrem seperti Comme des Garçons, atau sesederhana gaun dari The Row. Ini adalah satu-satunya busana yang dapat bergerak dari minimalis hingga maksimalis. Bisa sensual atau anggun. Dapat dikenakan oleh perempuan dengan ukuran tubuh apa pun. Ia membuat pernyataan tanpa benar-benar terlihat seperti sedang membuat pernyataan.
Kumar Nair: Apakah LBD terlihat kuat di Instagram? Semua orang begitu sibuk mencari cara untuk tampil menonjol hingga melupakan intinya. Little black dress justru benar-benar menonjol. Intinya adalah bagaimana perempuan itu terlihat melalui busananya dan energi yang ia bawa.
Rodriguez: Itulah mengapa semua orang kembali terpesona pada era 1990-an. Anda melihat perempuan, bukan betapa aneh penampilannya. Little black dress mewujudkan autentisitas tersebut. Akan sangat berani jika kita melihat lebih banyak lagi, tetapi busana ini memang tidak pernah benar-benar pergi. Tetap relevan seperti 100 tahun lalu. Bentuknya mungkin berbeda. Cara memadukannya juga berbeda. Namun, LBD adalah pilihan utama. Busana andalan yang selalu bisa diandalkan.
Sozzani: Ketika membayangkan seseorang dalam sebuah foto yang tak lekang oleh waktu, perempuan tersebut biasanya mengenakan sesuatu berwarna hitam. Pada akhirnya, itulah definisi chic. Mari mengenakan hitam dan menjadi radikal.
Belanja Little Black Dress
Dari kiri: Favorite Daughter, The Payback Minidress; Toteme, Strapless Balloon Midi Dress; Prada, Nylon Mini-Dress; Saint Laurent, Jersey Midi Dress; Leset, Barb Satin Slip Dress.
Dari kiri: Zara, Satin Mini Dress; Lafayette 148 New York, Harpson Finesse Crepe Sheath Dress; Poupette St Barth, Nora Crochet-Trimmed Cotton Minidress; L’AGENCE, Raye Slip Mini Dress; Givenchy, Dress with Draped Back.
BACA JUGA:
The Naked Shoe Adalah Naked Dress yang Baru
Dua Lipa Kenakan Naked Dress Berkilauan Saat Tampil di Atas Panggung Bersama Shakira
(Penulis: Camille Freestone; Artikel ini disadur dari BAZAAR US; Alih bahasa: Devon Satrio; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
