Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Rok Selutut Kembali Meramaikan Dunia Mode

Runway Spring 2027 menegaskan rok selutut sebagai siluet yang tengah menjadi sorotan.

Rok Selutut Kembali Meramaikan Dunia Mode
Foto: COURTESY OF BAZAAR US

Musim ini, Prada membuka Milan Fashion Week dengan koleksi yang menghadirkan 63 tampilan dan sepenuhnya didedikasikan untuk rok. Meski hadir dalam berbagai panjang, sebagian besar rok tersebut jatuh tepat di sekitar lutut dengan struktur yang cukup tegas. Beberapa dibuat dari satin, sementara lainnya menggunakan wol. Ada yang dilengkapi potongan velcro yang tidak biasa, sementara lainnya hadir dengan lapisan transparan. Tampilan tersebut menyerupai seragam khas Mrs. Prada, yang memadukan sweater sederhana dengan rok model ini. Ia bahkan pernah mengatakan bahwa rok baginya seperti kaus T-shirt, merujuk pada sifatnya yang serbaguna.

BACA JUGA: Jennifer Lopez Beri Sentuhan Kilau pada Setelan Rok Klasik

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
Prada Spring 2027

Secara tidak resmi, peragaan busana Saint Laurent di Paris pekan ini juga melakukan hal serupa. Meski benang merah paling terlihat dari koleksi Anthony Vaccarello adalah penggunaan lapisan gold leaf di hampir seluruh koleksi, sebagian besar tampilan menampilkan rok pensil yang jatuh sedikit di bawah lutut. Keesokan harinya, gaya rok yang sama mendominasi koleksi Dries Van Noten melalui rangkaian tampilan glamor dengan paduan motif yang tidak serasi. Bahkan, tampaknya begitu banyak koleksi sepanjang bulan mode melakukan hal serupa, mengangkat siluet ini sebagai tampilan “It” musim ini.

Di New York, Joseph Altuzarra menghadirkan rok pensil dengan belahan yang dipadukan bersama sepatu brogues dan kemeja berukuran oversized. Tory Burch memasangkan versinya dengan kardigan berhias bordir, sementara Michael Kors memilih knit polo dan blazer. Di London, Burberry mengolah kembali rok selutut menggunakan material utilitarian yang dipadukan dengan jaket senada. Sementara di Italia, Ferragamo menghilangkan struktur dari setelan rok bergaya 1940-an, Gucci menampilkan para pemberontak aristokrat dalam rok pensil berbahan wol dan mantel faux fur, sementara Marni menghadirkan beragam rok sepanjang lutut dalam interpretasi musim yang bernuansa mod dan penuh keunikan.

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
Dries Van Noten Spring 2027

Tren ini sebenarnya telah berkembang sejak beberapa waktu lalu, salah satunya berkat siluet santai pada setelan rok yang tengah diusung Matthieu Blazy di Chanel. Namun, musim ini rok selutut seolah hadir di mana-mana, menegaskan dominasinya yang mulai terbentuk.

Pada abad ke-20, dunia mode menetapkan panjang rok tertentu untuk setiap musim, tetapi hal tersebut tidak lagi berlaku saat ini. Panjang rok tidak bergerak dalam satu arah tertentu selama beberapa dekade terakhir. Kini, setiap panjang rok dapat menjadi tren di suatu tempat. Namun, rok selutut justru menjadi satu-satunya panjang yang sempat dianggap tidak keren. Pada akhir 2010-an, model ini kehilangan popularitas. Rok hadir dalam dua pilihan ekstrem, pendek atau panjang, mini atau maxi. Bahkan panjang pertengahan seperti rok midi biasanya jatuh hingga pertengahan betis. Setelah dianggap tidak keren, rok selutut kemudian memiliki kesan feminin, bahkan cenderung seperti busana perempuan dewasa. Justru karakter tersebut yang membuat para desainer kini tertarik memainkannya kembali. Dari sudut pandang lain, rok-rok ini juga dapat dilihat sebagai peninggalan glamor dari masa lalu.

Foto: COURTESY OF BAZAAR US
Marni Spring 2027

Di runway, rok selutut kerap memberikan kesan feminin dan anggun. Siluetnya memang feminin, tetapi memiliki pendekatan yang lebih intelektual. Ada sedikit nuansa korporat di dalamnya karena rok pensil memang dikenal sebagai salah satu pilihan busana favorit untuk ke kantor. Namun, versi yang hadir kali ini tidak seketat rok pensil pada umumnya. Siluetnya cenderung sedikit lebih menyerupai garis A. Bentuknya mungkin mengingatkan pada busana yang dikenakan karakter kutu buku dalam film-film era 2010-an. Namun, cara penataan dan material yang digunakan pada versi masa kini membuatnya terasa begitu menarik. Kulit mengilap, bordir kristal, kantong bergaya safari, semuanya hadir dalam satu siluet. Banyak desainer memadukannya dengan item yang terinspirasi dari busana pria, seperti kemeja oversized atau jaket utilitarian, aksesori unik, serta alas kaki yang kokoh seperti pumps atau brogues datar dengan sol tebal. Tidak ada stiletto yang ringan di sini. Keseluruhannya terasa mengingatkan pada koleksi Prada era 2000-an dan 2010-an.

Menarik pula melihat bagaimana rok-rok ini berdialog dengan tren besar yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Dalam konteks womenswear separates, khususnya bawahan, beberapa musim terakhir didominasi oleh celana, terutama celana berpotongan longgar dengan kaki lebar, seperti yang turut dipopulerkan Phoebe Philo. Phoebe dan rekan-rekannya membangun citra cool yang santai melalui cargo longgar dan jaket kulit yang ramping, menghadirkan pendekatan pragmatis terhadap feminitas yang tidak terlalu menonjolkan sisi feminin. Tampilan baru ini sedikit kurang praktis dan terasa jauh lebih feminin, tetapi tetap mempertahankan nuansa yang kompleks. Rok selutut mungkin tidak dianggap “keren” dengan cara yang sama seperti jaket kulit, tetapi memang bukan itu tujuannya. Para pengusung rok selutut justru dengan serius menghidupkan kembali warisan yang lebih berfokus pada tampilan yang memukau.

BACA JUGA:

Zendaya Kenakan Rok Bubble Prada dan Biker Boots untuk Gaya Art Gallery yang Paling Memukau

Koleksi Pakaian Katie Holmes di Hamptons Meliputi Kemeja Kancing Transparan dan Rok Berumbai

(Penulis: Camille Freestone; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Devon Satrio; Foto: Courtesy of BAZAAR US)