Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Apakah Benar Jika Kita Memikirkan Seseorang, Orang Itu Juga Memikirkan Kita?

Terhubung dalam pikiran yaitu memahami perasaan saat teringat seseorang.

Apakah Benar Jika Kita Memikirkan Seseorang, Orang Itu Juga Memikirkan Kita?
Courtesy of Freepik

Fenomena ketika kita tiba-tiba teringat seseorang sering menimbulkan pertanyaan hangat 'apakah orang itu juga sedang memikirkan kita?' Dalam perspektif psikologi, ini bukan sekadar kebetulan magis, melainkan cerminan cara otak bekerja. Pikiran manusia cenderung fokus pada hal-hal yang penting secara emosional ketika seseorang memiliki hubungan atau kenangan yang kuat dengan kita, memikirkan mereka bisa memicu gelombang kenangan dan emosi yang sama pada pihak lain. Namun, bukan berarti setiap kali kita teringat seseorang, mereka juga otomatis memikirkan kita. Hal yang terjadi lebih subtil dengan koneksi emosional yang kuat, pengalaman bersama, atau momen tertentu dapat menciptakan perasaan saling terkait yang terasa seperti “telepati”, padahal sebenarnya merupakan hasil resonansi psikologis dan pola pikir yang mirip antara dua orang.

Di sisi lain, budaya dan spiritualitas sering memberikan interpretasi berbeda. Dalam banyak tradisi, pikiran yang tersambung dianggap sebagai energi batin yang bisa menembus jarak dan waktu, memberi nuansa romantis atau mistis pada hubungan. Namun, menyikapi fenomena ini dengan lembut dan realistis penting agar tidak terjebak pada ekspektasi atau overthinking. Memikirkan seseorang dapat menjadi kesempatan untuk refleksi diri yaitu dengan mengenali perasaan kita, memahami keterikatan emosional, atau sekadar menyadari kerinduan. Dengan cara ini, pengalaman “terhubung” bukan hanya soal apakah mereka juga memikirkan kita, tetapi tentang menghargai rasa yang muncul, memperkaya pemahaman emosional, dan menumbuhkan kesadaran lebih dalam tentang diri dan hubungan interpersonal.

Fenomena Pikiran yang Tersambung dan Saling Terkait 

Fenomena ketika kita tiba-tiba teringat seseorang, terutama di momen yang tak terduga, sering terasa seperti sebuah sinyal misterius dari alam semesta. Fenomena ini kerap disebut sebagai “pikiran yang tersambung” — pengalaman di mana pikiran, emosi, atau kenangan kita seakan menaut dengan orang lain. Dalam istilah sederhana, ini bukan sekadar kebetulan semata, tetapi refleksi dari ikatan emosional dan pengalaman bersama yang membentuk resonansi batin. Otak kita cenderung memproses orang-orang yang penting secara emosional lebih sering dan lebih intens, sehingga pikiran tentang mereka muncul tanpa disadari. Terkadang, momen ini muncul sebagai kilas balik, nostalgia, atau bahkan rasa rindu yang tiba-tiba menumpuk, membuat kita merasa seakan “tersambung” dengan seseorang meskipun jarak memisahkan.

Namun, penting membedakan antara kebetulan dan koneksi emosional yang nyata. Kebetulan terjadi tanpa pola tertentu misalnya, kita teringat seseorang tepat saat mereka memikirkan kita secara acak. Sementara koneksi emosional lahir dari hubungan, pengalaman bersama, atau keterikatan batin yang telah lama terbentuk. Perasaan “tersentuh” oleh kenangan itu memberi kesempatan bagi kita untuk mengenali seberapa dalam keterikatan emosional kita, dan bagaimana orang lain meninggalkan jejak dalam dunia batin kita. Fenomena ini mengingatkan bahwa pikiran bukan hanya alat logika, tetapi juga cermin emosi dan hubungan, mengajarkan kita menghargai keterikatan, meresapi momen, dan menyadari bahwa koneksi batin bisa hadir dalam bentuk paling sederhana sekalipun sebuah ingatan, perasaan, atau sekadar kesadaran bahwa kita dan orang lain pernah saling hadir dalam hidup.

Perspektif Spiritual dan Budaya terkait Memikirkan Seseorang 

Dalam banyak tradisi spiritual dan budaya, pikiran manusia sering dianggap lebih dari sekadar proses mental yang juga dilihat sebagai energi yang bisa menembus ruang dan jarak. Fenomena ketika seseorang tiba-tiba teringat orang lain, atau merasa “tersambung” secara emosional, kerap ditafsirkan sebagai tanda energi batin yang saling beresonansi. Di beberapa budaya, hal ini bahkan dianggap sebagai komunikasi halus antar jiwa, yang melampaui logika dan waktu. Dari perspektif mistis, memikirkan seseorang bisa menjadi sinyal bahwa energi atau perhatian mereka juga tertuju kepada kita, sebuah konsep yang memberi nuansa magis dan romantis pada hubungan antar individu. Tradisi ini mengajarkan bahwa hubungan tidak selalu diukur melalui kehadiran fisik, melainkan melalui kesadaran dan resonansi emosi yang tak terlihat.

Di sisi lain, interpretasi simbolik menekankan makna psikologis dari fenomena ini dengan memikirkan seseorang bisa menjadi cerminan perasaan, kerinduan, atau harapan yang kita simpan. Budaya populer dan literatur romantis kerap meromantisasi fenomena ini, seolah-olah pikiran dan hati bisa terhubung secara mistis, menambah daya tarik narasi cinta dan hubungan interpersonal. Pendekatan humanis terhadap fenomena ini mengajak kita untuk menghargai pengalaman emosional tanpa harus tergesa mempercayai keajaiban literal. Melalui lensa spiritual, budaya, dan simbolik, fenomena “tersambung” ini menjadi kombinasi antara keajaiban batin dan refleksi diri, mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap perasaan, mengapresiasi kedalaman hubungan, dan memahami bahwa setiap ikatan emosional, meski tak selalu terlihat, memiliki makna yang kaya dan personal.

Courtesy of Freepik

Dampak Emosional dan Sosial

Memikirkan seseorang yang dekat di hati sering kali memunculkan gelombang emosi yang kompleks. Rasa rindu bisa hadir seperti angin lembut yang menyapa, sementara harapan akan balasan perhatian atau kepedulian membuat hati terasa hangat sekaligus rapuh. Namun, di sisi lain, pikiran yang terus-menerus terfokus pada orang lain kadang memunculkan kecemasan “Apakah mereka juga memikirkan saya?” atau “Apakah saya terlalu berharap?” Fenomena ini wajar terjadi karena manusia secara alami mencari koneksi dan pengakuan dari orang-orang yang berarti bagi mereka. Perasaan ini, bila disadari dengan lembut dan tanpa menekan diri sendiri, dapat menjadi cara kita memahami kebutuhan emosional dan keinginan akan kedekatan interpersonal.

Di sinilah risiko overthinking muncul. Pikiran yang berputar-putar tanpa batas kadang memperbesar kekhawatiran dan ekspektasi, sehingga hubungan terasa lebih menegangkan daripada hangat. Mengelola ekspektasi menjadi kunci agar kita tetap realistis dan menjaga keseimbangan emosional. Alih-alih menuntut balasan atau kepastian dari orang lain, penting untuk memfokuskan energi pada self-care dan hubungan yang sehat. Dengan begitu, pengalaman memikirkan seseorang berubah menjadi proses refleksi dan pemahaman diri, bukan sumber stres. Fenomena ini mengajarkan bahwa emosi adalah teman, bukan musuh, dan kemampuan untuk mengelolanya dengan bijak adalah bentuk kecerdasan emosional yang membuat kita lebih tenang, sadar, dan elegan dalam menjalani hubungan serta interaksi sosial sehari-hari.

Refleksi Diri melalui Fenomena Memikirkan Seseorang 

Momen ketika seseorang tiba-tiba muncul di pikiran kita sering terasa sederhana, namun sesungguhnya sarat makna. Saat kita “teringat seseorang,” itu bukan hanya tentang orang tersebut, tetapi juga tentang diri kita sendiri perasaan yang tersimpan, kerinduan yang belum tersuarakan, atau kebutuhan emosional yang ingin dipenuhi. Pikiran seperti ini berfungsi sebagai cermin, memantulkan apa yang sedang kita rasakan, apakah itu rasa kehilangan, kekaguman, atau sekadar keinginan untuk terhubung. Dengan memperhatikan emosi yang muncul, kita bisa mulai memahami pola keterikatan kita apa yang membuat kita peduli, apa yang membuat kita cemas, dan bagaimana hubungan dengan orang lain memengaruhi kesejahteraan batin kita. Fenomena ini mengajarkan kita untuk lebih jeli membaca diri sendiri, bukan sekadar menebak apakah orang lain juga memikirkan kita.

Lebih dari sekadar kebetulan atau “pikiran tersambung,” pengalaman ini bisa dijadikan alat introspeksi dan self-awareness yang lembut. Mengamati reaksi batin, memahami batasan emosional, dan menyadari keterikatan yang sehat atau berlebihan memungkinkan kita menata kembali hubungan baik dengan diri sendiri maupun orang lain secara lebih sadar. Alih-alih terjebak dalam ekspektasi atau overthinking, fenomena ini mengajak kita untuk menghormati perasaan yang muncul, menerima kerentanan, dan menumbuhkan pemahaman lebih dalam tentang apa yang sebenarnya kita butuhkan. Dengan cara ini, sekadar teringat seseorang berubah menjadi momen elegan untuk refleksi diri, memperkaya hubungan emosional kita, dan menumbuhkan kedamaian batin yang lebih nyata.

(Edited by SS)