Pembeli Brand Premium Makin Percaya untuk Belanja Online

Kini, konsep belanja online dan offline saling menyempurnakan.



Prototipe belanja online sebenarnya diciptakan pertama kali pada tahun 1979 oleh Michael Aldrich, pengusaha asal Inggris yang menemukan cara menghubungkan peranti sistem komputer dengan teknologi komunikasi. Meskipun demikian, internet sendiri baru diluncurkan pada tahun 1991. Kehadiran Ebay dan Amazon di tahun 1994 telah menjadi jalan pembuka untuk dunia e-commerce. Apalagi setelah teknologi 4G terkini hadir membuat alat komunikasi elektronik semakin leluasa mengakses internet, dan belanja online pun semakin marak.

Tak terkecuali di ranah fashion "luxury". Bahkan portal belanja fashion internasional sekarang sudah berani memberikan penawaran khusus seperti kupon diskon atau tambahan poin, hingga bebas biaya pengiriman kepada pelanggan di seluruh dunia. Seperti Net-a-Porter, Moda Operandi, Farfetch, dan juga Reebonz.

Sementara di Indonesia, industri mode nasional sedang gencar-gencarnya menyuarakan local brand, label fashion yang dibuat oleh anak negeri dan mengutamakan kualitas di atas kuantitas. Namun kebanyakan dari mereka tidak punya butik independen. Jadi, di mana mencarinya? Belanja online pun menjadi solusi.

Kehadiran bisnis berbelanja lokal di dunia maya kian mengalami perkembangan pesat. Tidak kalah dengan situs fashion online mancanegara lainnya, berbagai fitur dan penawaran menggiurkan dikemas atraktif oleh sejumlah portal belanja lokal ini. Tak hanya lewat situs, berbelanja lewat media sosial seperti Instagram pun semakin mudah.

Instagram menawarkan fitur untuk tautan produk langsung yang akan ditandai pada unggahan dengan menyertakan detail produk dan harga. Pelayanan terbaik berlomba-lomba ditawarkan untuk 'menggoda' pelanggan di segala generasi. Mulai dari eksklusivitas, personalisasi, fitur terkini share buy (belanja secara grup), dan metode pay later, hingga alternatif pengiriman barang dengan menggandeng butik offline yang sudah ada.

Butik multilabel prestisius Masari salah satunya. Telah lebih dari 30 tahun bergerak di bidang retail fashion dan aksesori, kini Masari merambah ranah digital. Adopsi layanan Online to Offline (O2O) pun digarap dengan siasat jitu. "Lewat situs Masarishop, kami hadir menjangkau segala generasi pencinta fashion di mana pun dan kapan pun. Pengalaman belanja berbeda dari butik offline pun kami suguhkan dengan ketersediaan koleksi ready-to-wear yang hanya bisa ditemukan di butik online saja. Selain itu, opsi 'pick up in store' menjadi resolusi kami untuk mengajak para pelanggan online agar dapat melakukan pembelanjaan secara offline juga," jelas Riesty Ichsana, E-Commerce Assistant Manager Masari Shop.

Pernyatan tersebut juga dikuatkan oleh seorang pengamat ekonomi INDEF, Dr. Aviliani S.E, M.Si, yang mengatakan bahwa, "Pola belanja online dan offline itu sendiri harus berjalan secara paralel, saling berdampingan, tanpa memosisikannya ke dalam kategori yang saling bertentangan."

Sebagai influencer dan content creator, Ayla Dimitri yang juga pecinta fashion dan gaya hidup di Indonesia, mengungkapkan bahwa, "Masyarakat di Indonesia sekarang sudah tech savvy, dan keamanan berbelanja pun sudah terjamin, barang yang dibeli tiba dengan cepat, dan saya yakin publik di masa depan akan semakin meluas untuk berbelanja secara online."

Sedangkan perspektif dari desainer Didiet Maulana selaku Direktur Kreatif Ikat Indonesia, mengungkap bahwa kehadiran toko online itu bagaikan asas simbiosis mutualisme, dua-duanya saling menguntungkan. "Saya menganut aliran konvensional maupun online. Bagi saya, masyarakat masih membutuhkan kehadiran butik fisik untuk dapat langsung berinteraksi, menyentuh material, dan mencobanya. Namun, online pun memiliki peran krusial. Butik multilabel lokal, seperti Bobobobo, Zalora, dan Jd.id menjadi situs andalan dalam ekspansi produk ikat Indonesia."

Terobosan teranyar baru-baru ini digagas oleh e-commerce Jd.id, melalui pengalaman belanja futuristis pertama di Asia Tenggara. Jd.id X, konsep berbelanja dalam bentuk gerai fisik yang terhubung dengan akun pengguna di aplikasi sehingga tidak memerlukan kasir untuk transaksi. "Perilaku belanja pelanggan di Indonesia ini semakin kritis. Apalagi dalam urusan kurasi produk yang akan dibeli. Oleh karenanya, kami selalu berinovasi memberikan pengalaman belanja yang ramah, banyak pilihan, dan mampu meningkatkan kepuasan pelanggan, " ujar Teddy Arifianto, Head of PR Jd.id.

Di tahun 2019, jumlah pembeli belanja online diperkirakan akan melaju progresif, hingga lebih dari 12 persen jumlah populasi yang ada di Indonesia. Mengingat potensi pertumbuhan ekonomi yang selalu memberi harapan. Teknologi berbelanja juga kian canggih. Permainan kode-kode digital diramalkan akan membuat pengalaman belanja terasa lebih personal. Pembeli maupun penjual di Indonesia pun akan mengandalkan metode cashless yang semakin digandrungi. "Nantinya yang menjadi arena pertarungan dalam portal belanja online adalah inovasi dari sistem pembayaran pada kanal masing-masing." Mochammad James, Pengamat E-Commerce, menyimpulkan tentang masa depan belanja online di Indonesia.


(Penulis: Yudith Kindangen, disadur dari Harper's Bazaar edisi Januari 2019. Foto: Courtesy of Michael Pondaag, Fotografer: Andre Wiredja)