Intip Sekilas Sejarah Tentang Pentas Seni I La Galigo

Perjalanan sebuah pementasan yang kaya akan mitos suku Bugis



Kaya akan elemen Indonesia, “Sureq Galigo” atau yang dikenal sebagain I La Galigo telah menjadi salah satu kebanggaan tanah air sampai sekarang. Selain negara sendiri, saat ini I La Galigo sudah mendapatkan pengakuan dunia.

Edward Rothstein dari The New York Times, menyebut pentas seni ini sebagai “…..stunningly beautiful music-theater work” ketika lakon ini dimainkan di festival Lincoln Center pada pertengahan 2005 di New York, Amerika Serikat. Tidak hanya itu, berbagai macam negara juga memberikan pengakuan yang serupa.

Rhoda Grauer, seorang New Yorker yang berkediaman di Indonesia pertama kali mendengar Sureq Galigo ketika sedang melakukan peneliatian untuk film tentang Bissu. Begitu bersemangat Rhoda membaca Sureq Galigo, ia belajar untuk menerjemahkan bahasa Bugis kuno arkaik ke bahasa modern.

Sedikit demi sedikit, ia mulai menjumpai pakar Galigo dari Indonesia dan luar negeri yang memberikan ringkasan cerita dalam bahasa Inggris. Lalu ia dipertemukan oleh penerjemah Alm. Drs. Muhammad Salim, yang kemudia menjadi penasihat utama teks dan cerita.

Timbullah pemikiran untuk mengangkat cerita bersejarah ini menjadi sebuah pentas seni. Setelah persetujuan bersama Restu I. Kusumaningrum selaku direktur artistic Yayasan Bali Purnati, keduanya sepakat untuk mengajak Robert Wilson sebagai sutradara dari I La Galigo.


Sebuah kisah yang menceritakan tentang kepahlawanan yang gagah berani, pentas ini menyajikan peristiwa-peristiwa yang penuh dengan mitos dari suku Bugis, Sulawesi Selatan. Plot yang diceritakan juga membentuk sebuah cerita besar yang begitu menarik, dinamis, dan ternyata masih memiliki relevansi dengan kehidupan modern di zaman sekarang. Terdapat kisah cinta terlarang, peperangan, dan pengkhianatan yang menjadi topik utama dalam pertunjukan ini.


Sebelum memutuskan untuk melakukan pertunjukan kembali di Jakarta, I La Galigo pertama kali menggelar pentas di Esplanade, Singapura lalu dilanjutkan dengan tur keliling dunia. Negara-negara yang sudah dikunjungi adalah Amsterdam, Spanyol, Prancis, Italia, Taiwan, dan Australia. Kesuksesan pentas I La Galigo ini juga dibuktikan dengan penghargaan internasional yang diberikan pada saat Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018 di Bali.


Pertunjukan teater ini akan berlangsung pada 3, 5, 6 dan 7 Juli 2019 mendatang. Tiket pertunjukan dapat dibeli melalui Loket.com, Go-Tix, dan www.ciputraartpreneur.com.


(Foto: Courtesy of Bali Purnati by Fendy Siregar)