Cara Membantu Anak-anak Kembali Berinteraksi Usai Karantina

Seorang psikolog klinis membagikan sarannya tentang bagaimana membuat anak-anak kita sebisa mungkin kembali merasa aman dan tenang.



Jalan kita masih panjang untuk kembali hidup secara normal. Akan tetapi, saat nantinya pemerintah telah mengumumkan bahwa kemungkinan sekolah akan mulai dibuka dalam beberapa waktu ke depan, banyak dari kita yang merasa khawatir tentang persiapan anak-anak agar kembali berbaur usai pembatasan sosial.

Psikolog klinis yakni dokter Emma Svanberg yang merupakan spesialis di bidang parenthood berbagi soal kekhawatiran yang mungkin menghantui Anda tentang bagaimana anak-anak Anda menghadapi kontak fisik dengan dunia luar, mulai dari mengelola kecemasan yang berpotensi muncul saat kembali ke sekolah hingga bagaimana membuat mereka agar tidak merasa cemas tentang kehilangan yang dialami oleh keluarga yang mungkin terjadi selama karantinaberlangsung.


Bagaimana mengelola kecemasan anak saat kembali ke sekolah

“Wajar bila orang tua ingin melindungi anak-anaknya dari kondisi yang sulit, namun kecemasan bisa saja mereka alami. Hal tersulit bagi kita adalah mampu menanggung kecemasan itu bagi mereka. Mendorong mereka untuk berbicara tentang kekhawatiran yang dirasakan dapat membantunya agar lebih tenang. Waktu yang terbaik seringkali adalah saat malam hari sebelum tidur atay ketika Anda melakukan sesuatu bersama-sama. Kita bisa saja memberikan cara atau masukan untuk mengatasi kekhawatiran mereka, namun dengan mendengarkannya saja seringkali sudah cukup bagi mereka. Anda mungkin ingin meyakinkan kepada anak-anak bahwa tugas Anda dan guru di sekolah adalah untuk menjaga mereka supaya tetap aman dan itu adalah prioritas semua orang.”


Bagaimana menenangkan anak-anak yang merasa khawatir tertinggal di kelas selama lockdown

“Hal ini akan berdampak pada beberapa anak. Ini adalah kesedihan yang nyata bahwa lebih banyak anak-anak di lingkungan masyarakat kita yang rentan menerima dampak lockdown sementara lainnya menerima pengalaman yang positif. Guru yang telah bekerja keras untuk mengedukasi dan mendidik anak-anak selama beberapa minggu terakhir sekarang juga berupaya keras untuk memikirkan transisi saat kembali ke sekolah. Sekali lagi, kita bisa meyakinkan kembali anak-anak bahwa tugas guru adalah untuk membantu mereka mengejar ketertinggalan di sekolah dan tugas kita untuk mendukung mereka agar mereka mampu untuk belajar.”



Bagaimana mengatasi kecemasan akan bakteri

“Saya tidak terkejut bila kita melihat lebih banyak orang yang mengalami kecemasan terhadap kesehatan dan keberishan baik pada anak-anak maupun orang dewasa sebagai akibat dari pandemi ini. Satu hal yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan ancaman yang tak terlihat ini adalah dengan menjadi waspada terhada kuman dan mengambl langkah pencegahan terhadap paparan virusnya. Perhatikan tanda-tanda alami yang menunjukkan kekhawatiran dan sedikit obesif, seperti lebih sering mencuci tangan, takut keluar, dan ketakutan saat melihat orang lain. Semua kecemasan ini kita alami dan butuh waktu untuk menemukan keseimbangan yang sehat. Karena banyaknya kecemasan yang timbul, perlu diingat bahwa kita bisa mengontrol beberapa hal namun masih ada banyak lainnya yang berada di luar kendali kita. Jadi dengan membantu anak-anak untuk belajar menghadapi ketidakpastian ini dapat membantunya, misalnya dengan berbicara tentang hal-hal yang bisa kita kendalikan dan menyoroti pentingnya menerima apa yang ada saat ini.”


Bagaimana cara mengatasi kecemasan saat terpisah

“Menurut saya, yang ditekankan di sini adalah untuk mendorong anak-anak untuk berpisah kembali dan melakukan kegiatan mereka sendiri dibandingkan membiarkan mereka tetap bergantung. Orang tua merupakan tempat berlindung bagi anak-anak dan jika dunia terlihat sedikit menakutkan saat ini, wajar bila mereka ingin tetap berada berdampingan. Kita bisa merasakan bahwa tidak seharusnya kita mendorong mereka di saat-saat seperti ini, namun cara tercepat dan yang paling suportif agar anak-anak berani memisahkan diri adalah dengan menarik mereka sedikit lebih dekat. Sekali lagi, tidak ada salahnya memahami perasaan mereka dan tidak ada yang salah bila mereka merindukan Anda ketika sudah saatnya kembali ke sekolah (tentu saja ini tidak berlaku bagi semua anak, beberapa justru ada yang senang ketika kembali ke sekolah). Bagi anak-anak yang memiliki kesulitan untuk berpisah, Anda mungkin ingin melakukan sesuatu untuk membuat buah hati Anda tetap merasa dekat sepanjang hari, misalnya dengan membuat hug button di tangan.”



Bagaimana memastikan anak Anda tetap merasa aman setelah karantina

“Caranya bisa berbeda-beda untuk setiap anak dan keluarga. Sebenarnya ini merupakan fase yang lebih memicu kecemasan bagi anak-anak karena mereka akan menghadapi dunia yang sedikit berbeda (seperti yang juga akan kita hadapi). Sama halnya ketika kita memasuki masa lockdown dan kita melihat proses penyesuaian oleh anak-anak, mereka pun akan menghadapi penyesuaian lagi karena kondisi yang perlahan-lahan berubah. Orang tua tak perlu kaget menyaksikannya dan proses ini sebenarnya membantu sehingga kita bisa mencari cara untuk tetap memberikan dukungan kepada anak-anak ketika mereka mengungkapkan kesedihan atau kecemasannya. Bagaimana Anda melakukannya tergantung pada cara yang menurut Anda sesuai, namun menjadikan diri Anda sebagai tempat luapan perasaan mereka bisa membantu. Penting pula untuk diketahui bahwa Anda juga memiliki tempat bagi luapan perasaan Anda sendiri sebab mendengarkan keluh kesah mereka bisa jadi sangat melelahkan.”


Bagaimana mengelola kekecewaan karena melewatkan momen atau pencapaian penting di sekolah

“Kondisi ini sangat sulit bagi anak-anak. Mereka kehilangan masa-masa menyenangkan, terutama mereka yang telah menanti momen untuk meninggalkan sekolah dasar atau sekolah menengah. Mendengarkan kekecewaan mereka sudah cukup membantu dengan membiarkannya mengutarakan kekesalannya tanpa terburu-buru untuk memperbaiki keadaan. Seringkali mereka akan datang kembali dengan solusi yang sesuai dengan keadaan mereka.”



Bagaimana menenangkan anak yang khawatir tentang penyakit apapun atau rasa kehilangan, bahkan kesulitan finansial yang dialami keluarga selama pandemi

‘Ini adalah pertanyaan yang sangat penting dan bukan hanya di dalam keluarga melainkan juga seluruh dunia yang mengalami ketidakpastian. Anak-anak mungkin saja mendengar kita saat membicarakan berita. Meskipun ternyata mereka tidak mendengar pembicaraannyaiita, mereka bisa saja melihat kekhawatiran kita. Hal ini tidak dapat dipungkiri. Jadi, jangan terkejut bila kecemasan itu juga ikut mereka rasakan. Jika kita menyadari bahwa mereka memikirkannya lebih jauh dari apa yang kita bayangkan, cara untuk membantunya adalah dengan menciptakan ruang bagi mereka agar bisa terbuka dengan kita. Jika mereka memiliki pertanyaan, jawablah dengan jujur namun tetap sesuai dengan usia mereka. Jika Anda sendiri merasa khawatir dan sedih, tidak masalah untuk membiarkan mereka mengetahuinya juga dan ungkapkan perasaan Anda (selama Anda meyakinkan bahwa ini bukanlah tanggung jawab mereka untuk mengatasinya).


Akhirnya, pahami bahwa proses berinteraksi kembali tidak akan sempurna dan itu bukan masalah

“Kita tidak seharusnya untuk memaksa semuanya sempurna sebab kondisi demikian akan menambah beban. Bukan hanya bagi kita untuk membuat segalanya lebih baik, namun juga bagi anak-anak yang tidak bisa berbagi tentang kesulitan yang mungkin mereka rasakan. Ini akan menjadi sesuatu yang sulit, kehidupan akan berubah, dan kita akan terbiasa dengan banyak hal-hal baru. Kita dan anak-anak akan merasa sedih karena tidak bisa melakukan hal-hal yang sama seperti sebelum pandemi. Biarkan semua perasaan terungkapkan sehingga anak-anak (dan kita semua) ikut terbantu untuk melewati masa transisi ini. Bila tidak berjalan secara mulus, maka akan berjalan lebih baik lagi. Kita bisa saja tergoda untuk memperbaiki keadaan, melakukannya dengan terburu-buru dengan mengandalkan kata ‘setidaknya,’ namun kita juga harus bisa bersahabat dengan kesedihan jika kita ingin menciptakan ruang kebahagiaan.”




(Artikel ini disadur dari: Bazaar UK; Alih bahasa: Erlissa Florencia; Foto courtesy of: Bazaar UK)