Grand Palais, monumen arsitektural bersejarah di Paris kembali menjadi ajang perhelatan show Chanel untuk ready-to-wear koleksi Fall/Winter 2026/2027. Stuktur atap kaca dan kerangka baja yang merefleksikan kebesaran dan kemegahan arsitektural akhir abad 19 ini tampak disandingkan dengan penempatan serasi dengan instalasi tower crane yang menjulang tinggi. Derek-derek bangunan yang hadir dalam warna monochrome cerah, seperti merah, hjau, kuning,biru, dan putih. Melalui set dekor show ini seperti, seolah menjadi sebuah cara dari Matthieu Blazy, sang desainer rumah mode ini Chanel yang kini telah mempersembahkan empat koleksinya menjadi isyarat bahwa visinya adalah sebuah "work in progress" yang terus bertransformasi.
BACA JUGA:Di Paris, Barisan Depan Peragaan Chanel Haute Couture di Penuhi Deretan Selebritas Ternama
Saat kegelapan malam mulai turun dan deretan tower crane tersebut mulai menyala terang diantara jalur runway yang panjang berkelok-kelok di antara para tamu undangan. Model pertama muncul mengenakan Chanel suit hitam klasik dua pieces dengan rok sebatas lutut. Gaya ikonik ini hadir dalam material knitwear, sebuah interpretasi modern yang merefleksikan gaya elegan klasik yang tetap relevan. Koleksi ini kemudian menampilkan beragam suit tweed dengan beragam cutting, pendek atau panjang yang memberi sebuah allure ramping.
Modernitas baru ini merupakan perpanjangan dari warisan Gabrielle Chanel yang merevolusi gaya wanita di eranya. Ia mengadopsi elemen pakaian pria ke dalam kamus busana wanita dengan mengedepankan juga simplisitas yang menjadi ciri khasnya serta permainan warna natural dan material yang subtil. Benang merah dari koleksi ini terletak pada suit yang ditampilkan oleh Matthieu Blazy yang melintas rentang waktu dari era 1920-an sampai ke tahun '60-an. Dalam sebuah gaya jukstaposisi, permainan layering menjadi sebuah ciri utama yang tampil di koleksi ini, dari kemeja, cardigan dan jacketmelebur jadi satu kesatuan gaya yang menegaskan identitas yang chic kontemporer.
Gaya yang ditampilakan mengusung nuansa yang elegan dan comfort, buktinya terlihat pada kemeja yang keemasan yang dikenakan secara bebas di atas setelan senada. Dari Tweed klasik ikonik Chanel kini hadir juga dalam palet berwarna yang lebih cerah dengan material yang lebih ringan disanding dengan lurex hingga kain kasa yang alami. Fokus untuk tahun 1920-an, titik awal lahirnya liberasi busana wanita yang hadir kembali dengan cutting low waist. Koleksi ini menampilkan beragam rok dan gaun lurus dengan proposi presisi, menggunakan bahan-bahan yang fluid mengalun selaras ditubuh para model. Gaun-gaun bermain dalam sebuah ilusi optik, siluet low waist dipertegas dengan penyematan sabuk yang memberikan sebuah gaya yang tetap elegan tapi terasa playful dan nonchalant.
Mathieu Blazy kemudian menutup show dengan sebuah gaun sutera hitam elegan dengan variasi punggung terbuka berhias feathers. Seolah sebuah isyarat simbolik, ia membuka dan menutup show dengan kreasi outfit serba hitam. Sebuah siklus kreativitas yang terus berputar dan berevolusi. Koleksi ini seakan mendengungkan kutipan Gabrielle Chanel : fashion is both caterpillar and buterfly. Be a caterpillar by day and a butterfly by night. Dan merespons kutipan itu untuk konteks masa kini, Matthieu Blazy menulis di press note-nya: "Chanel adalah siang, Chanel adalah Malam. Semua adalah kebebasan untuk memilih, apakah menjadi ulat atau menjadi kupu-kupu. Saya ingin menciptakan sebuah kanvas di mana setiap wanita bisa menjadi jati diri mereka sepenuhnya tanpa rasa bersalah."
BACA JUGA: