Perbicangan mengenai kesehatan mental kini semakin marak. Ini pertanda baik karena banyak orang sudah mulai menyadari pentingnya kesadaran mental, baik untuk dirinya maupun untuk orang terdekat di sekitarnya. Mengakui bahwa seseorang tengah mengalami hal-hal yang menantang sampai memengaruhi kesehatan mentalnya adalah awal yang baik. Selanjutnya, tinggal bagaimana membangun kesadaran yang lebih untuk meminta bantuan profesional saat dibutuhkan.
Salah satu problem kesehatan mental yang membutuhkan penanganan profesional adalah depresi. Depresi adalah gangguan suasana hati yang ditandai oleh perasaan sedih mendalam, kehilangan minat atau kesenangan, dan penurunan energi yang berlangsung setidaknya dua minggu atau lebih. “Depresi bukan sekadar sedih biasa, melainkan kondisi media dan psikologis yang memengaruhi seseorang berpikir, merasakan, dan menjalani hidup,” jelas Agestiya Maharani, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Pada depresi, perasaan sedih tersebut bersifat persisten, intens, dan tidak mudah hilang meskipun situasi telah membaik.
Orang yang mengalami depresi sering merasa putus asa, tidak berdaya, dan kehilangan energi. Gejala bisa memengaruhi aspek psikologis, fisik, dan perilaku kehidupan seseorang, termasuk tidur, nafsu makan, kemampuan berkonsentrasi, hingga berelasi dalam hubungan sosial. Depresi juga bisa terjadi pada siapa saja tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau latar belakang sosial.
Ini Penyebab Depresi
Depresi tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan hasil dari kombinasi faktor biologis, psikologis, dan lingkungan. Beberapa penyebab umum depresi antara lain:
1. Faktor Biologis
- Ketidakseimbangan kimia otak (neurotransmitter seperti serotonin, dopamin, noradrenalin).
- Faktor genetika: riwayat keluarga dengan depresi meningkatkan risiko seseorang mengalami depresi.
- Perubahan hormon, misalnya pada wanita pasca persalinan atau menopause.
2. Faktor Psikologis
- Tekanan emosional yang berkelanjutan seperti kehilangan orang yang dicintai, konflik keluarga, atau stres kronis.
- Kepribadian yang cenderung perfeksionis atau memiliki pola pikir negatif.
- Trauma masa kecil yang belum terproses dan terpendam lama.
3. Faktor Lingkungan dan Sosial
- Situasi hidup yang tidak mendukung seperti kemiskinan, isolasi sosial, atau tekanan pekerjaan.
- Perubahan besar dalam hidup (misalnya kehilangan pekerjaan, perceraian, situasi kedukaan).
- Kurangnya dukungan sosial atau mengalami penolakan dari lingkungan sekitar.
Meskipun ada banyak penyebab, penting untuk diingat bahwa depresi bukanlah tanda kelemahan — ini adalah kondisi medis yang nyata dan membutuhkan pemahaman serta penanganan yang tepat oleh profesional.
Mitos dan Fakta Seputar Depresi
Masih banyak kesalahpahaman tentang depresi. Berikut sejumlah mitos yang sering beredar beserta faktanya:
Mitos 1: Depresi hanyalah rasa sedih biasa
Fakta: Depresi lebih kompleks daripada sekadar sedih. Perasaan ini bersifat persisten, intens, dan berdampak pada fungsi kehidupan sehari-hari.
Mitos 2: Orang yang depresi hanya perlu “menyemangati diri sendiri”
Fakta: Mengatasi depresi tidak semudah memotivasi diri. Banyak orang membutuhkan dukungan profesional seperti terapi atau dalam beberapa kasus, obat antidepresan yang diresepkan oleh psikiater.
Mitos 3: Depresi hanya dialami oleh orang yang lemah
Fakta: Depresi bisa dialami siapa saja, termasuk orang yang sukses, kuat, atau terlihat “baik-baik saja” di luar.
Mitos 4: Anak-anak dan remaja tidak mengalami depresi
Fakta: Depresi dapat terjadi pada segala usia, termasuk anak-anak dan remaja, tetapi sering tidak terdiagnosis karena gejalanya berbeda dengan orang dewasa.
Pengaruh Stres dan Depresi Terhadap Wajah
Stres dan depresi tidak hanya memengaruhi kondisi mental, tetapi juga berdampak pada tubuh — termasuk kondisi wajah. Walaupun ciri wajah tidak bisa digunakan sebagai diagnosa medis sendiri tapi beberapa ciri di bawah ini adalah tanda fisik yang biasanya dialami oleh orang depresi.
Berikut beberapa perubahan fisik yang sering terjadi pada orang dengan depresi:
1. Kulit Kusam dan Tidak Bercahaya
Stres kronis meningkatkan produksi kortisol, hormon yang memicu inflamasi dan mempercepat penuaan kulit. Hal ini menyebabkan kulit tampak kusam, kering, dan kehilangan kilau sehatnya.
2. Lingkaran Hitam di Bawah Mata
Gangguan tidur yang sering menyertai depresi menyebabkan kurangnya istirahat optimal. Akibatnya, pembuluh darah di bawah mata membesar dan muncul lingkaran gelap atau “mata panda”. Mata tampak tanpa kilau dan cenderung tampak lelah, dengan kelopak mata turun atau sering berkedip lemah.
3. Ketegangan Otot Wajah
Orang yang stres sering kali tanpa sadar mengencangkan otot wajah, terutama di area rahang, dahi, dan sekitar mata. Ini dapat menimbulkan kerutan di area dahi dan menciptakan ekspresi wajah tegang atau cemas. Orang depresi cenderung menunjukkan ekspresi wajah yang kurang variasi. Raut wajah tampak datar, kurang respons emosional, atau tampak “kosong”.
4. Perubahan Warna Wajah
Depresi berkepanjangan kadang menyebabkan perubahan peredaran darah sehingga tampilan wajah tampak pucat atau bahkan sedikit kebiruan pada bibir. Kurangnya perawatan diri dan gangguan sirkulasi darah membuat wajah terlihat lebih pucat dari biasanya.
5. Jerawat atau Peradangan Kulit
Stres dapat memicu respons inflamasi di kulit sehingga memperburuk jerawat, ruam, atau eksem.
6. Sudut Mulut Turun
Ekspresi wajah sering menunjukkan sudut bibir yang turun, esensi dari raut wajah sedih yang berkepanjangan.
Perlu diingat bahwa tidak semua orang dengan ciri-ciri wajah di atas pasti depresi karena faktor lain seperti kelelahan, kurang tidur, dan pola hidup yang kurang sehat juga dapat menyebabkan perubahan serupa. Diagnosis depresi harus melalui pemeriksaan profesional, bukan sekadar melihat ciri-ciri wajah.
Cara Mengatasi Depresi
Mengatasi depresi memerlukan pendekatan yang bersifat holistik — baik dari segi psikologis, medis, maupun gaya hidup. Berikut langkah-langkah yang umum direkomendasikan:
1. Konsultasi dengan Profesional Kesehatan Mental
Psikolog, konselor bersertifikasi atau psikiater dapat memberikan evaluasi yang mendalam dan menentukan langkah terapi yang sesuai seperti:
- Terapi Bicara (Psikoterapi): CBT, terapi interpersonal, atau terapi lainnya.
- Obat Antidepresan: Diresepkan oleh dokter untuk membantu keseimbangan kimia otak.
2. Membangun Dukungan Sosial
Berbicara dengan keluarga, teman, atau bergabung dengan komunitas dukungan dapat membantu meringankan perasaan terisolasi dan belajar memahami sudut pandang lain.
3. Pemeliharaan Gaya Hidup Sehat
- Tidur cukup (tujuh hingga sembilan jam per malam).
- Makan makanan bergizi: kaya omega-3, sayuran, protein yang cukup, dan buah-buahan.
- Rutin bergerak: olahraga dapat meningkatkan produksi endorfin dan meredakan stres.
4. Teknik Relaksasi
Meditasi, pernapasan dalam, yoga, menghabiskan waktu menikmati alam atau hobi yang menenangkan dapat membantu mengurangi stres.
5. Mengatur Pola Pikir
Melatih pikiran untuk fokus pada hal positif, dan menerapkan pola pikir yang realistis melalui latihan kognitif atau jurnal harian.
6. Hindari Alkohol dan Narkotika
Zat-zat ini dapat memperburuk suasana hati dan mengganggu fungsi otak.
7. Perawatan Diri
Kebiasaan sederhana seperti merawat wajah, mandi hangat, berjemur pagi, atau berdandan dapat membantu meningkatkan suasana hati dan memperbaiki tingkat kepercayaan diri.
Depresi adalah kondisi kesehatan mental yang kompleks dan nyata, tidak sekadar rasa sedih biasa. Dampaknya tidak hanya pada pikiran dan emosi, tetapi juga terhadap kondisi fisik — termasuk wajah yang bisa menunjukkan tanda-tanda kelelahan, ketegangan, dan perubahan warna kulit. Meskipun ciri-ciri wajah tertentu dapat memberi petunjuk, hanya profesional kesehatan mental yang dapat memberikan diagnosa akurat.
Upaya mengatasi depresi memerlukan dukungan dari berbagai sisi: medis, sosial, dan perubahan gaya hidup. Penting untuk memahami bahwa mencari bantuan adalah langkah yang kuat dan penting dalam proses penyembuhan.