Dalam benak saya, 2016 bukanlah tahun yang layak untuk dikenang dengan nostalgia. Trump terpilih sebagai presiden, dan di tambah kelahiran keluarga Beckham, Charli XCX, serta Emily Blunt, Brexit terjadi. Belum lagi dunia selebritas, tahun itu kita kehilangan ikon budaya seperti David Bowie, Prince, dan Carrie Fisher. Bahkan, ketika George Michael meninggal dunia pada Hari Natal, konsensus umum saat itu menyebut 2016 sebagai tahun yang “sangat buruk secara spektakuler.”
BACA JUGA: Seperti Apa Rasanya Generasi Milenial yang Akan Menginjak Usia 40 Tahun?
Namun minggu ini, saat menelusuri media sosial, saya justru terkejut melihat banyak orang mengenang 2016 dengan rasa rindu. Dalam foto-foto tersebut, hal yang paling mencuri perhatian saya, selain pilihan rambut dan busana yang kini terasa meragukan adalah ekspresi orang-orang yang tampak benar-benar menikmati hidup mereka. Lalu, saya menyadari bahwa membiarkan Trump mendefinisikan satu tahun penuh dalam kehidupan dan budaya mungkin adalah cara pandang yang terlalu sempit; mungkinkah 2016 sebelum pemilu adalah tahun terakhir yang benar-benar baik?
Sebagai seorang milenial, saya merasa beruntung pernah hidup dan setidaknya cukup sadar pada dekade menjelang 2016, ketika perubahan terasa benar-benar mengambang di udara. Kesetaraan pernikahan baru saja dilegalkan, dan seolah hanya tinggal menunggu waktu sebelum seorang perempuan menjadi presiden. Rasanya, kemajuan dari dekade sebelumnya akan terus berlanjut. Dan meski kini terdengar sangat naif, saya bersyukur sempat hidup sejenak dalam gelembung era Obama, ketika perpecahan dan tantangan belum terasa mustahil untuk dijembatani. Itu adalah tahun ketika Michelle Obama dengan terkenal berkata, “When they go low, we go high”, dan kita masih cukup polos untuk percaya bahwa kalimat itu akan berhasil.
Mungkin kini terasa sulit untuk dibayangkan, tetapi internet dulu benar-benar menyenangkan. Pada 2016, platform media seperti Vice memadukan laporan mendalam yang penting dengan sentuhan kecerobohan yang menghibur, bahkan mengirim para penulisnya menjalani misi-misi absurd demi konten viral. BuzzFeed merangkul optimisme khas milenial, lengkap dengan momen cringe-nya. (Anda bahkan bisa mengerjakan kuis seperti Which Harry Potter House Are You? Tanpa harus memikirkan pandangan radikal sang penulisnya.)
Twitter masih bernama Twitter, dan belum menjadi "ruang neraka" seperti sekarang ini. Di "aplikasi burung" tersebut, kita benar-benar masih bisa berdebat tentang isu politik, atau apa pun yang sedang dipinta maafkan oleh Lena Dunham minggu itu, tanpa harus berhadapan dengan propaganda neo-Nazi, akun bot, dan konten sampah buatan AI (AI slop).
Ada semacam kesungguhan dalam cara orang bersikap di dunia maya saat itu. Saat ini, rasanya kita sedang berada dalam epidemi ironi, di mana konten carousel Instagram dikurasi sedemikian rupa agar terlihat santai dan tidak peduli (bahkan sampai ke takarir sarkastiknya), dan semuanya menjadi konten asal-asalan, karena kita takut untuk bersikap tulus. Namun pada tahun 2016, orang-orang masih menggunakan tagar seperti #ThrowbackThursday dan #HappyMonday. Anda bisa mengunggah foto makan siang di feed utama dan tidak peduli meski hanya mendapat 12 suka.
Kita juga tidak boleh melupakan momen-momen budaya yang luar biasa di tahun 2016: Beyoncé memukau dunia dengan Lemonade, memperkokoh warisannya sebagai salah satu musisi terhebat sepanjang masa; film Moonlight karya Barry Jenkins secara mengejutkan mengalahkan La La Land di ajang Oscar dengan cara yang spektakuler; Fleabag menjadi tontonan wajib dan menjadikan Phoebe Waller-Bridge bintang generasi ini; dan Stranger Things menjadi serial pertama di era streaming yang menjadi bahan obrolan hangat di mana-mana. Membiarkan sosok seperti Trump membayangi momen-momen kebersamaan budaya dan kegembiraan ini berarti memberinya terlalu banyak kekuasaan.
Sebelum foto-foto nostalgia memenuhi beranda saya, saya sempat menanamkan pemikiran bahwa 2016 adalah tahun terburuk yang pernah ada, momen ketika segalanya mulai kacau. Saya berasumsi orang-orang mengunggah tentang tahun 2016 murni sebagai alasan untuk memamerkan wajah mereka yang masih bebas kerutan sebelum mengenal aplikasi FaceTune. (Apa lawan kata dari "twink death"? "Twink resurrection"?) Meskipun kesombongan fisik pasti ada di dalamnya, saya rasa ini lebih tentang kerinduan akan masa yang terasa akrab namun sulit dijangkau, era di mana kita sudah memiliki banyak hal yang kita punya saat ini, seperti iPhone dan keluarga Kardashian, tetapi belum melewati pandemi dan paparan kekerasan yang terus-menerus di media sosial, serta saat norma-norma kesopanan dasar masih ada. Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa hancurnya ilusi itu adalah hal yang baik, tetapi kita tidak bisa menyalahkan orang-orang yang mencari rasa nyaman sesaat di dalamnya.
Di penghujung tahun 2016, Kylie Jenner menyatakan bahwa itu adalah tahun dimana ia "menyadari berbagai hal". Dengan risiko terdengar seperti dekorasi rumah bertema "live, laugh, love" yang norak, penilaian ulang yang tiba-tiba terhadap tahun 2016 ini membuat saya menyadari bahwa penting untuk menghargai hal-hal positif pada saat ini, bahkan ketika itu terasa sulit. Anda tidak pernah tahu kapan Anda akan menoleh ke belakang dan berpikir, "Wah, saya tidak menyangka betapa indahnya masa-masa itu dulu."
BACA JUGA:
Kylie Jenner Tampil dengan Gaun Pesta Bergaya Kabaret yang Seksi & Penuh Bulu
Semua Penampilan After-Party dari Golden Globes 2026
(Penulis: Louis Staples; Artikel disadur dari BAZAAR US; Alih bahasa: Emily Naima; Foto: Courtesy of BAZAAR US; Edited by SS)