Mengapa Banyak Wanita Jatuh Hati pada Serial Heated Rivalry?

Romansa hoki gay ini berpusat pada relasi antar pria, namun memiliki daya tarik kuat bagi penonton perempuan.

Courtesy of BAZAAR US


“Mengapa Anda berpikir bahwa itu wajar untuk sext saya sebelum pertandingan?!” Ini mungkin bukan kalimat sekelas Shakespeare, tetapi memiliki bobot besar di dunia Heated Rivalry atau seperti yang kini dikenal di linimasa media sosial, “serial hoki gay.”

BACA JUGA:25 Serial Terbaik untuk Ditonton Berulang Kali

Heated Rivalry diadaptasi dari seri novel Game Changers karya Rachel Reid yang penuh adegan panas dan diwujudkan ke layar kaca oleh Jacob Tierney untuk platform streaming Kanada, Crave. (Di Amerika Serikat, serial ini tayang di HBO Max.) Ceritanya mengikuti dua pemain hoki yang masih tertutup soal orientasi seksual mereka—Shane Hollander (Hudson Williams) seorang pemain Kanada yang pemalu dan Ilya Rozanov (Connor Storrie), pemain asal Rusia yang arogan yang terjebak dalam hubungan rahasia yang berlangsung sepanjang karier mereka. Di atas es mereka adalah rival, tapi di kamar tidur? Mereka jelas satu tim. Saya perkirakan ada satu adegan berhubungan badan super panas kira-kira setiap 10 menit (jumlahnya sampai-sampai Slate mulai mengulas adegan-adegan tersebut secara khusus).

Tak perlu menjadi seorang jenius untuk memahami kenapa penonton gay tertarik pada serial ini. Ada atlet-atlet tampan dengan otot six pack dan bokong yang nyaris tak masuk akal, ditambah fantasi klasik soal hubungan rahasia di ruang ganti. Dan di balik itu semua, hubungan di mana setidaknya salah satu pihak masih “closeted” adalah pengalaman queer yang sangat relevan. Namun yang menurut Bazaar lebih menarik adalah betapa banyak perempuan yang terliohat membicarakan Heated Rivalry—sebuah serial yang sangat homoerotik dan sepenuhnya berpusat pada relasi antar laki-laki. Awalnya ini terasa mengejutkan, tapi ketika Bazaar pikirkan lebih dalam soal kondisi hubungan heteroseksual saat ini, semuanya jadi masuk akal.

Courtesy of BAZAAR US

Saat menjadi remaja di era 2000-an, Bazaar terbiasa melihat satu tipe representasi pria gay di layar. Dari Sex and the City hingga The Devil Wears Prada, Ugly Betty sampai Desperate Housewives, mereka biasanya hadir sebagai karakter pendukung. “Sahabat gay” digambarkan modis, penuh komentar jenaka, dan yang terpenting—dideseksualisasi. Memasuki tahun 2010-an, representasi LGBTQ+ memang meningkat pesat. Namun tetap saja, diskursus seputar film-film pemenang Oscar seperti Call Me By Your Name dan Bohemian Rhapsody sering menyoroti betapa mereka masih berada di tahap malu-malu dan sterilnya penggambaran keintiman fisik. (Di film pertama, Timothée Chalamet bahkan lebih banyak berhubungan intim dengan buah persik ketimbang dengan seorang pria.)

Heated Rivalry menjadi penting karena menampilkan seksualitas yang eksplisit dan blak-blakan. Kritikus TV asal Toronto, Kaiya Shunyata menulis bahwa meski ada pengecualian seperti Fellow Travelers dan Interview With the Vampire, mayoritas serial queer saat ini masih menyajikan versi seksualitas yang “aman” dan “manis,” dengan para kreator “memaksa protagonis mereka masuk ke kotak tanpa seks yang justru membatasi dampak serial-serial ini di industri yang makin konservatif setiap tahun.” Heated Rivalry justru menentang kecenderungan itu. Dan fakta bahwa serial ini dirilis di minggu yang sama dengan Pillion—film “rom-com sub-dom” yang dibintangi Alexander Skarsgård bersama Harry Melling—membuat kami merasa bahwa seks gay sedang benar-benar menangkap zeitgeist.

Perubahan ini tentu sangat menggembirakan bagi pria gay yang jarang melihat pengalaman (dan fantasi) terwujudkan di layar. Namun yang menarik, daya tariknya juga kuat bagi perempuan. Dari obrolan dengan teman dan pengikut di DM, magnet utama Heated Rivalry adalah sisi erotismenya. Sederhananya, setiap penggemar perempuan yang ditemui menganggap serial ini sangat seksi. Jika ini terdengar mengejutkan, mungkin menarik untuk diketahui bahwa hampir setengah konsumsi porno pria gay justru dilakukan oleh perempuan. Seksualitas memang beragam (dan kami tidak mengeklaim sebagai ahli), tetapi seorang teman mengatakan ia menyukai porno gay karena terasa lebih escapist—berbeda dengan porno heteroseksual yang sebagian besar dibuat oleh laki-laki dan kerap merendahkan (atau bahkan kejam) terhadap perempuan. Mungkin terdengar meremehkan jika menyamakan Heated Rivalry dengan porno, tetapi patut dicatat bahwa hubungan intim antara Shane dan Ilya tampak memuaskan bagi keduanya secara setara. Dan ini bisa jadi sangat menarik bagi perempuan, mengingat representasi hubungan intim hetero sering kali timpang dan berpusat pada kesenangan satu pihak saja.

Courtesy of BAZAAR US

Meski begitu, Heated Rivalry bukan hanya soal seks. Di luar kamar tidur, Shane dan Ilya memperlakukan satu sama lain hampir seperti saudara—bergantian saling mengejek, menggoda, dan menyimpan cinta yang tak terucap. Lalu di episode ketiga, kita diperkenalkan pada pasangan lain: Scott Hunter (François Arnaud) dan Kip Grady (Robbie G.K.). Dinamika hubungan mereka sangat berbeda—baik secara ekonomi maupun budaya. Scott adalah pemain hoki yang masih tertutup sementara Kip adalah pria gay terbuka yang bekerja di toko smoothie. (Representasi gay yang nyata adalah barista smoothie yang entah bagaimana sama berototnya dengan atlet profesional.) Jika Shane dan Ilya bisa menghidupkan dan mematikan hubungan mereka dengan presisi yang mengganggu serta saling menyimpan kontak sebagai “Jane” dan “Lily,” hubungan Scott dan Kip jauh lebih panik dan menguras emosi.

Beberapa dinamika ini terasa lebih dekat dengan pengalaman sebagai pria gay. Namun kami juga bertanya-tanya apakah, seperti adegan seksnya, ada unsur eskapisme bagi penonton perempuan. Bukan rahasia bahwa kita hidup di era heteropesimisme, di mana banyak perempuan merasa frustrasi dan tidak terpenuhi oleh interaksi mereka dengan laki-laki. (Sebagian bahkan memilih keluar dari hubungan atau menjalani hidup selibat.) Penulis Chante Joseph mencatat bahwa perempuan muda semakin jarang mengunggah kekasih mereka di media sosial yang memicu pertanyaannya, “Apakah punya pacar sekarang malah terasa memalukan?” Dalam tulisannya yang viral untuk sebuah media, Joseph menemukan bahwa apatisme terhadap laki-laki di kalangan perempuan muda begitu kuat hingga “bahkan perempuan yang sudah berpasangan pun mengeluhkan laki-laki dan heteroseksualitas.” Sebaliknya, “menyatakan diri lajang kini justru menjadi kebanggaan.” Ia menyimpulkan bahwa ini adalah “paku lain di peti mati dongeng heteroseksual berusia ratusan tahun yang sejak awal tak benar-benar menguntungkan perempuan.”

Peran gender yang tidak memuaskan ini juga terlihat dalam All Her Fault, drama Peacock yang dibintangi Sarah Snook dan Dakota Fanning. Serial ini yang baru saja menjadi peluncuran serial terbesar Peacock menampilkan para ibu yang stres, kelelahan, dan berusaha “melakukan segalanya.” Suami-suami milenial mereka sekadar berbicara soal kesetaraan, tapi tidak pernah terlibat dan mengeluh ketika harus “mengasuh” anak mereka sendiri. Ini bukan berarti peran heteronormatif tidak memengaruhi seks dan hubungan queer (tentu saja berpengaruh), tetapi mungkin Heated Rivalry begitu menarik bagi perempuan karena—setidaknya sejauh ini—ia berlangsung di luar dinamika laki-laki–perempuan yang membuat frustrasi itu.

Courtesy of BAZAAR US

Kami melihat hal serupa pada fandom Red, White & Royal Blue—romansa gay tahun 2023 yang dibintangi Taylor Zakhar Perez dan Nicholas Galitzine yang diadaptasi dari novel karya Casey McQuiston. Film ini yang terasa seperti film Hallmark, menceritakan hubungan rahasia antara putra presiden AS dan seorang pangeran Inggris fiktif. (Jika itu belum cukup memelintir realitas, Amerika dipimpin presiden perempuan diperankan Uma Thurman yang percaya atau tidak—menang ketika Demokrat membalik Texas jadi biru.) Meski nadanya berbeda, ada kesamaan kunci dengan Heated Rivalry. Keduanya diadaptasi dari novel erotis karya penulis perempuan yang berfokus pada hubungan gay tertutup berprofil tinggi antara pria-pria tampan dan bertubuh atletis. Dan reaksi antusias dari perempuan menunjukkan bahwa bagi sebagian perempuan, jarak dari hubungan gay justru membuatnya menjadi fantasi yang lebih menarik. Dalam kasus Red, White & Royal Blue, ini juga soal melihat laki-laki memperlakukan satu sama lain dengan sensitivitas dan kerentanan—sesuatu yang di dunia nyata, masih jarang didorong oleh masyarakat luas.

Seiring Heated Rivalry berlanjut, kita mulai mendekati realitas emosional yang berisiko merusak fantasinya. Di episode ketiga, hubungan Scott dan Kip lebih menyerupai pengalaman nyata berpacaran dengan seseorang yang tak ingin terlihat bersama di ruang publik. (Awalnya mendebarkan, lalu dengan cepat terasa merendahkan.) Di episode terbarunya tepatnya di episode keempat, retakan mulai muncul ketika Shane dan Ilya mencari pemenuhan di tempat lain. Segalanya menjadi rumit ketika mereka menjalin hubungan dengan perempuan. (Secara teknis, ini seharusnya disebut “serial hoki bi.”) Dan untuk pertama kalinya di luar arena, kita melihat mereka menjadi cemburu, tidak aman, dan saling bersaing.

Pada awalnya, hubungan Shane dan Ilya merepresentasikan campuran impian antara kasualitas dan intensitas. Mereka punya hubungan intim panas tanpa henti dan afeksi yang dalam, namun tanpa sisi emosional, rasa kewajiban, atau domestisitas yang bagi banyak perempuan khususnya—sering membuat relasi dengan laki-laki terasa timpang. Namun seiring Heated Rivalry berjalan, serial ini seolah menuntun kita pada kebenaran bahwa tak ada jenis hubungan atau pengaturan apa pun—bahkan seks tanpa ikatan antara pemain hoki tampan bertubuh kekar yang benar-benar bisa melindungi dari rasa sakit. Ini adalah fantasi terpanas, justru karena ia adalah sebuah ilusi.

BACA JUGA:

75 Adegan Panas Dalam Film Terbaik Sepanjang Masa

Panduan Lengkap Mengenai A Knight of the Seven Kingdoms, Serial Prekuel Baru dari Game of Thrones

(Penulis: Louis Staples; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Kayra Himawan; Foto: Courtesy of BAZAAR US)