Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

M&S Autumn/Winter 2026: Modern, Relevan, dan Timeless untuk Gaya Masa Kini

Memasuki satu abad kiprahnya di dunia fashion, M&S tidak sekadar merayakan masa lalu. Koleksi Autumn/Winter 2026 memperlihatkan bagaimana ikon retail Inggris ini menerjemahkan heritage ke dalam wardrobe yang lebih modern, versatile, dan relevan dengan cara kita berpakaian hari ini.

M&S Autumn/Winter 2026: Modern, Relevan, dan Timeless untuk Gaya Masa Kini

Bagaimana sebuah brand fashion berusia 100 tahun tetap terasa baru?

Pertanyaan ini menjadi semakin menarik ketika melihat apa yang tengah dilakukan Marks & Spencer (M&S) pada tahun perayaan satu abad fashionnya. Alih-alih menjadikan sejarah sebagai alasan untuk bernostalgia, M&S justru menjadikannya titik berangkat untuk melakukan pembaruan.

“M&S has such an amazing fashion story, and 100 years of fashion is a very special milestone,” ujar Maddy Evans, Director of M&S Woman, saat saya berbincang dengannya di London.

Menurut Maddy, ada sejumlah hal yang tidak berubah sejak awal perjalanan fashion M&S: quality, fit, value, dan pakaian yang benar-benar bekerja untuk kehidupan sehari-hari. Yang berubah adalah bagaimana prinsip-prinsip tersebut diterjemahkan.

“The opportunity now is to express that in a more modern way,” lanjutnya.

Dan modernitas tersebut dapat terlihat bahkan sebelum koleksi Autumn/Winter 2026 diperkenalkan.

M&S Autumn/Winter 2026
Kampanye Visual "Love That" berlokasi di V&A Library

MENGUBAH CARA KITA BERBELANJA

Sehari sebelum Global Presentation, saya mengunjungi Pantheon, flagship M&S di Oxford Street. Lebih dari sekadar toko, Pantheon menjadi gambaran bagaimana M&S tengah memikirkan kembali hubungan antara konsumen, fashion, dan ruang retail.

Nama Pantheon sendiri memiliki sejarah panjang dalam lanskap London. Bangunan Pantheon pertama di lokasi tersebut dirancang James Wyatt dan dibuka pada 1772 sebagai tempat hiburan. Dalam perjalanannya, ia pernah menjadi opera house, teater, bazaar, hingga wine warehouse.

Bangunan M&S yang berdiri sekarang dibangun pada 1938 dan kini berstatus Grade II listed. M&S menjadikannya salah satu flagship penting sekaligus ruang untuk menguji dan memahami pengalaman retail masa depan.

Perubahannya terasa begitu memasuki ruang utama. Interior yang modern, clean, dan lapang membuat koleksi terasa lebih mudah dinavigasi. Alih-alih dipenuhi produk, ruang tersebut memberikan kesempatan bagi pelanggan untuk melihat bagaimana sebuah busana "bertugas" sebagai bagian dari wardrobe.

Bagi Maddy, hal tersebut merupakan bagian penting dari transformasi Pantheon.

“Pantheon is a hugely important store for us. It is our first full-line flagship, but it is also a place where we can test, learn and understand what really inspires our customers.”

Karena itu, transformasi Pantheon tidak semata-mata tentang memperbarui tampilan toko. M&S ingin membuat pengalaman berbelanja lebih inspiratif melalui curated product edits dan statement looks, sehingga pelanggan dapat melihat kualitas produk sekaligus merasakan karakter brand.

“We know stores matter enormously, but they have to do more than simply display product.”

Pernyataan tersebut menjadi semakin relevan ketika perilaku konsumen kini bergerak dengan cara yang jauh lebih fluid.

Seseorang bisa saja menemukan sebuah mantel melalui media sosial, mencarinya secara online, datang ke toko untuk mencoba, kemudian menyelesaikan transaksi melalui aplikasi. Menurut Maddy, konsumen tidak lagi berpikir berdasarkan channel.

“Our job is to make that journey feel joined up, inspiring and easy. The best stores now have to be places of discovery as much as places to shop.”

Pantheon, dengan demikian, bukan hanya sebuah toko baru. Ia menjadi semacam eksperimen mengenai bagaimana fashion dapat ditemukan di era ketika pengalaman digital dan fisik semakin bertautan.

WARDROBE YANG BEKERJA

Keesokan harinya, perspektif tersebut terasa kembali ketika M&S memperkenalkan koleksi Autumn/Winter 2026 melalui Global Presentation-nya. Seluruh lini dan pilarnya hadir di sini, mulai dari Per Una, Autograph, hingga Jaeger, termasuk divisi Womenswear, Menswear, Beauty, hingga Home.

Berbeda dari pendekatan yang menjadikan tren sebagai tujuan akhir, koleksi musim ini terasa berangkat dari pertanyaan yang lebih praktis: bagaimana membuat pakaian yang terlihat fashionable sekaligus memiliki tempat nyata dalam kehidupan sehari-hari?

Jawabannya hadir melalui powerful outerwear, modern tailoring, elevated knitwear, denim, satin, hingga occasionwear menjadi bagian dari koleksi yang terasa lebih terkurasi. Siluet bergerak lebih modern dengan cape, draping, funnel neck, dan celana barrel-leg, sementara material seperti wol, beludru, satin, dan faux fur memberikan kedalaman pada keseluruhan koleksi.

Palet warnanya pun bergerak antara nuansa yang familier—camel, brown, charcoal, dan navy—dengan aksen yang lebih ekspresif seperti red, ice blue, dan aubergine.

Yang terasa menonjol adalah keinginan untuk membuat setiap produk bekerja lebih keras.

M&S Autumn/Winter 2026
Rangkaian koleksi aksesori M&S musim ini terlihat stylish namun effortless

Sebuah coat dapat menjadi statement piece sekaligus investasi jangka panjang. Denim dapat bertransformasi dari kasual ke lebih polished. Knitwear menjadi elemen yang memberi tekstur, sementara tailoring hadir dengan proporsi yang lebih rileks.

Maddy melihat perubahan tersebut sebagai respons terhadap cara perempuan berpakaian saat ini.

“They want more versatility, more ease, more polish and pieces that can move through different parts of their lives,” jelasnya.

Karena itu, M&S mempertajam kategori seperti outerwear, knitwear, denim, footwear, dan occasionwear dengan siluet yang lebih modern, tekstur yang lebih kaya, serta styling yang lebih kuat.

Namun, ada satu batas yang tidak ingin mereka lewati: pakaian tersebut tetap harus terasa wearable.

M&S Autumn/Winter 2026
Koleksi Menswear mengajak para pria lebih berani mengeksplorasi warna dan motif

“The important thing is that it still feels wearable and has broad appeal.”

Di sinilah konsep clothes for real life menemukan bentuk yang lebih fashionable.

M&S Autumn/Winter 2026
Presentasi lingerie terbaru M&S yang mengelevasi kenyamanan

TIDAK MENGEJAR USIA

Salah satu pertanyaan terbesar bagi brand heritage seperti M&S adalah bagaimana berbicara kepada generasi baru tanpa kehilangan pelanggan yang telah menjadi bagian dari perjalanannya.

Jawaban Maddy cukup jelas: bukan dengan mengejar kelompok usia tertentu.

“For me, staying relevant is not about chasing a particular age group, it is about understanding how women want to dress and feel now.”

Menurutnya, konsumen M&S kini mencari pakaian yang terasa modern dan percaya diri, tetapi tetap menginginkan kualitas dan value yang selama ini mereka percaya.

Karena itu, pendekatannya adalah mendengarkan konsumen dengan lebih dekat, menggunakan insight untuk membentuk koleksi, sekaligus menghadirkan lebih banyak newness, styling yang lebih kuat, dan trend-informed edits tanpa kehilangan karakter M&S.

Kampanye "Love That" menjadi salah satu cara untuk memperlihatkan energi baru tersebut. Dengan Gillian Anderson sebagai wajah sekaligus Chief Compliments Officer, kampanye ini membawa perspektif yang lebih ringan dan positif terhadap fashion.

M&S Autumn/Winter 2026
Gillian Anderson, Chief Compliments Officer M&S

Namun, di balik pendekatan yang lebih playful tersebut, fondasi M&S tetap sama.

“We want women of all ages to feel there is something at M&S that feels relevant, stylish and right for them.”

Dengan kata lain, generasi baru tidak harus menjadi alasan bagi M&S untuk meninggalkan generasi sebelumnya.

Yang berubah adalah cara pakaian tersebut dibaca.

QUALITY, BUT MAKE IT MODERN

Kata quality mungkin merupakan salah satu istilah yang paling sering dikaitkan dengan M&S. Tetapi Maddy melihat bahwa definisi kualitas sendiri ikut berkembang.

“Quality today is not just about something lasting, it is also about fit, fabric, comfort, and how confident you feel when you put something on.”

Pandangan tersebut menarik karena memperluas pengertian quality dari sekadar daya tahan menjadi pengalaman mengenakan pakaian.

M&S Autumn/Winter 2026 Di k
ampanye visual "Love That", salah satu modelnya mengenakan tampilan monokromatis yang elegan

Begitu pula dengan timeless style. Menurut Maddy, timeless tidak harus berarti tradisional.

Sebuah coat yang sempurna, knitwear yang baik, denim yang tepat, atau dress yang dapat bergerak dari siang ke malam semuanya dapat menjadi bentuk baru dari gaya yang timeless.

Maka, modernitas M&S tidak harus selalu muncul dalam bentuk sesuatu yang ekstrem. Ia dapat hadir dalam potongan yang lebih tepat, material yang lebih kaya, styling yang lebih segar, dan cara sebuah pakaian dapat dipakai berkali-kali dengan interpretasi berbeda.

SATU ABAD, DAN SATU LANGKAH KE DEPAN

Semua pembaruan tersebut kemudian menemukan panggung yang lebih besar melalui debut M&S di London Fashion Week pada September 2026.

Untuk pertama kalinya, M&S masuk dalam agenda London Fashion Week sebagai bagian dari perayaan 100 tahun fashion. Koleksi yang ditampilkan mengambil referensi dari arsip M&S dan menerjemahkannya ke dalam bahasa kontemporer, termasuk melalui 57 runway looks womenswear dan menswear.

Namun, M&S tidak sedang mencoba menjadi luxury fashion house.

Justru kekuatannya berada pada kemampuan menjembatani fashion dan kehidupan sehari-hari. Apa yang muncul di runway tetap dapat kembali ke wardrobe, bahkan melalui pendekatan see now, buy now.

Langkah tersebut memperlihatkan bagaimana M&S ingin memperluas percakapan tentang dirinya. Bukan sekadar retailer, tetapi sebagai brand fashion Inggris yang memiliki sudut pandang sendiri.

A NEW CHAPTER

Pada akhirnya, mungkin tantangan terbesar setelah 100 tahun bukanlah bagaimana berubah, melainkan bagaimana berubah tanpa kehilangan identitas.

Maddy menggambarkan babak baru tersebut dengan sederhana.

“I would love people to see that M&S is in a confident new chapter, but that we are still completely grounded in what customers have always trusted us for.”

M&S Autumn/Winter 2026
Salah satu model di kampanye visual "Love That" memfitur tampilan fashion yang refined

Great style, quality, dan value, menurutnya, tidak perlu berdiri di sisi yang berlawanan. Begitu pula fashion yang inspiring dan pakaian yang dibuat untuk kehidupan nyata.

Setelah melihat koleksi Autumn/Winter 2026 dan mengalami langsung transformasi Pantheon, saya melihat pendekatan tersebut sebagai upaya untuk mempertemukan dua dunia: heritage dan newness.

M&S Autumn/Winter 2026 Presentasi
M&S Womenswear Autumn/Winter 2026

Yang satu memberikan fondasi. Yang lain membuatnya terus bergerak.

Dan mungkin kalimat paling tepat untuk merangkum babak baru tersebut justru datang dari kampanyenya sendiri: “Love that.”

Bukan karena M&S ingin menjadi sesuatu yang sama sekali baru, tetapi karena setelah 100 tahun, ia menemukan cara baru untuk membuat kita melihat apa yang sudah dikenalnya sekali lagi.

(Penulis: Gusti Aditya; Foto: Courtesy of M&S)