Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Kontroversi di Balik Penunjukan Direktur Kreatif Terbaru Pada Brand Fashion Dunia

Ada dua kutub berbeda dengan ditunjuknya beberapa direktur kreatif sejumlah rumah mode, dari yang berlatar belakang selebriti atau fashion design. Mana yang lebih menarik?

Kontroversi di Balik Penunjukan Direktur Kreatif Terbaru Pada Brand Fashion Dunia

Akhir-akhir ini dunia mode dikejutkan dengan penunjukan dua jenis direktur kreatif baru oleh rumah mode dunia, antara selebriti A-list atau sosok desainer yang kurang familier namanya di telinga publik. Seperti yang dilakukan Louis Vuitton dengan menunjuk Pharrell Williams sebagai posisi tertinggi untuk lini menswear, lalu ada koleksi Balmain couture yang merupakan kreasi Beyoncé–padahal faktanya Beyoncé bukan seorang couturier. Sementara Bally dan Ann Demeulemeester baru saja merekrut desainer yang relatif anonim untuk mengisi peran direktur kreatif mereka. Bally mengganti posisi Rhuigi Villaseñor dengan Simone Bellotti kemudian Ann Demeulemeester menggantikan Ludovic de Saint Sernin dengan Stefano Gallici (mantan asisten Haider Ackerman).

Penunjukan tersebut seakan memiliki pola yang telah ditetapkan rumah mode selama setahun terakhir ini, di mana desainer yang terbilang anonim atau hampir tidak memiliki (jika ada) pengikut media sosial dan basis penggemar yang mapan diposisikan sebagai pengganti “bintang” yang sedang naik daun. Misalnya, pada akhir tahun 2021, Bottega Veneta menempatkan Matthieu Blazy yang saat itu tidak dikenal untuk menggantikan Daniel Lee–yang merupakan sosok penggebrak Bottega Veneta menjadi lebih berani hingga akhirnya ia direkrut oleh Burberry. Sementara itu, Gucci menggantikan kedudukan Alessandro Michele dengan mantan anggota tim desain Prada dan Valentino, Sabato de Sarno.

Di sisi lain, sosok desainer berpengalaman baru saja dilirik label Helmut Lang yang menunjuk desainer Peter Do sebagai Direktur Kreatif terbarunya. Peter Do merupakan lulusan Fashion Institute of Technology, New York, dan telah menerima penghargaan LVMH Graduate Prize pada 2014 silam. Setelah lulus, Peter Do bekerja untuk sederet luxury brand seperti Celine dan Derek Lam, hingga akhirnya merilis label fashion sendiri pada 2018. Meski penunjukkan baru diumumkan, rupanya Peter Do akan langsung debut di koleksi Spring/Summer 2024 koleksi Helmut Lang yang ditampilkan dalam New York Fashion Week, bulan September ini.

EXCLUSIVE STORY: ERA BARU DIREKTUR KREATIF

Apakah ini merupakan siasat jitu para rumah mode untuk mendapatkan pamor? Tentunya ada pertimbangan sendiri dengan penunjukan dua jenis karakter berbeda untuk posisi kreatif tersebut. Seperti penunjukan selebriti A-list sebagai direktur kreatif misalnya, mungkin mereka ditakdirkan untuk lebih mempromosikan brand dengan posting pada akun media sosial pribadi mereka dibandingkan membuat seluruh koleksi pakaian. Karena pastinya, para rumah mode sudah memiliki tim desain internal dan fasilitas produksi yang menangani seluk beluk. 

Namun jika melihat ke belakang, nampaknya para pengamat mode pasti mempertanyakan, bahkan meragukan kemampuan sang selebriti dalam hal mendesain pakaian. Tetapi sekarang ini sangat tergantung siapa yang ditanyakan. Penerimaan kritis yang membekukan selama bertahun-tahun telah melebur menjadi normal baru, di mana tidak aneh bagi penyanyi pop atau sosialita untuk mengambil alih kekuasaan di luxury brand dan memamerkan nama mereka pada koleksi pakaian.

Tren mendatangkan selebriti untuk "mendesain" koleksi rasanya seperti bermain aman, mendorong rumah mode untuk bersandar pada nama-nama yang sudah mapan daripada mengambil risiko dengan merekrut talenta-talenta muda yang layak. Bisa dilihat dari Dua Lipa yang mengembangkan koleksi baru Versace, lalu Kim Kardashian menghidupkan kembali koleksi arsip untuk lini Dolce & Gabbana, Adrien Brody diminta untuk merancang koleksi kapsul untuk Bally, atau bahkan penyanyi Jennie Blackpink yang digandeng untuk kolaborasi dengan Calvin Klein. 

EXCLUSIVE STORY: ERA BARU DIREKTUR KREATIF

EXCLUSIVE STORY: ERA BARU DIREKTUR KREATIF

Lalu jika melihat saat mendiang Virgil Abloh di Louis Vuitton (sebelum Pharell), ia dengan mudah menunjukkan bahwa satu-satunya kunci sukses di luxury brand saat ini adalah visi. Anda tidak harus bisa membuat sketsa atau membuat pola pakaian untuk dapat berhasil, oleh karenanya Virgil menghindari gelar "perancang". Louis Vuitton pun mengambil risiko yang mengesankan saat mempekerjakan Virgil pada tahun 2018. Virgil diberikan banyak ruang untuk mengembangkan keahliannya dan bertahan melalui kontroversi. Hingga akhirnya, Louis Vuitton mendapat kehormatan dengan menampilkan bakat baru, sekaligus memosisikan lini pakaian pria sebagai hal yang sangat penting dan menggemukkan pundi-pundinya. Koleksi rancangan selebriti yang langka ini tidak semata-mata bisa disalahkan atas kebangkrutan kreatif fashion, tentu saja ada segudang alasan mengapa rumah mode luxury mungkin enggan menguji nama yang belum terbukti.

EXCLUSIVE STORY: ERA BARU DIREKTUR KREATIF
 

Kemudian baru-baru ini, Lanvin menggandeng Future untuk mengarahkan kreatif koleksi Lanvin Lab perdana. Lanvin Lab, yang dijelaskan dalam siaran pers sebagai "ruang untuk bermimpi dan bermain", akan menawarkan koleksi kapsul yang dirancang untuk melengkapi pertunjukan musiman rumah mode tersebut. Inisiatif ini merupakan bagian dari penataan baru Lanvin, yang belum diselesaikan setelah kepergian Bruno Sialelli. Kemitraan Lanvin dengan Future merupakan inovasi dan orisinalitas yang mampu mengubah dunia musik dan hiburan. Koleksi Lanvin Lab akan dirilis pada musim dingin ini dan mencakup pakaian siap pakai pria dan wanita serta aksesori. 

Pada akhirnya, siapa pun yang memimpin posisi kreatif tertinggi di luxury house sudah pasti memiliki pendekatan jelas dan inovatif yang sejalan dengan cara kerja dan sejarah rumah mode tersebut. 

(Foto: Dok. Bazaar)