Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Dunia Haute Couture Fashion di Hari ini, Seperti Apa?

Mengulik siluet adibusana masa kini dan relevansinya terhadap gaya hidup modern.

Dunia Haute Couture Fashion di Hari ini, Seperti Apa?

Di tengah gempuran busana ready-to-wear masa kini yang tak kalah mengandung siluet dramatis dan kualitas yang semakin meningkat, tentu membuat kita mempertanyakan apakah konsep adibusana atau haute couture sendiri masih relevan? Ditambah dengan pergerakan koleksi adibusana para rumah mode yang juga didominasi oleh busana yang mungkin untuk sebagian orang tampak terlalu “kasual” untuk berada di dalam koleksi adibusana. Dikarenakan mungkin masih banyak persepsi orang-orang betapa adibusana seharusnya adalah gaun-gaun megah dengan detail intricate yang kompleks, menjadikan dunia adibusana semacam dimensi lain, tempat banyak orang menginginkan fantasi yang tak tersentuh dan jauh dari dunia nyata.

Sebelumnya, haute couture sendiri adalah sebuah frasa yang dipenuhi oleh beragam peraturan dan kualifikasi yang ketat. Jika diterjemahkan secara harfiah, couture dalam bahasa Prancis berarti dressmaking dan haute berarti tinggi. Tiap pakaian yang masuk ke dalam kategori haute couture diciptakan secara spesifik untuk setiap klien. Untuk dapat memasuki kualifikasi haute couture yang resmi di bawah naungan lembaga Chambre Syndicale de la Haute Couture. lembaga Chambre Syndicale de la Haute Couture, para member harus merancang pakaian made-to-order untuk setiap klien dengan sesi fitting lebih dari satu kali, serta pakaian dibuat di atelier milik mereka sendiri yang diharuskan mempekerjakan setidaknya lima belas karyawan bekerja penuh waktu. Setiap rumah mode atau desainer juga harus memiliki dua puluh orang tim savoir faire di dalam workshop mereka. Lalu, setiap haute couture house  juga wajib menggelar presentasi koleksi berisikan tidak kurang dari 50 desain busana day wear hingga gaun malam kepada publik setiap musim di bulan Januari dan Juli. 

Spesifikasi-spesifikasi tersebut lantas menjadikan haute couture sebagai sisi lain dunia mode yang tak mudah tersentuh dan eksklusif ditambah dengan harga setiap gaun yang memiliki nilai fantastis. Lantas, bagaimana respon dan apa saja yang terjadi di dunia haute couture hari ini? Ditambah pula dengan adanya pandemi yang mengubah banyak kebiasaan gaya hidup dan pemikiran terhadap mode. Menjaga relevansi bukan hal yang mudah, namun langkah tersebut ditempuh dengan baik oleh Chambre Syndicale de la Haute Couture yang terus mengikuti perubahan zaman. Seperti yang diungkapkan oleh Creative Director & Consultant, Samudra Hartanto yang berbasis di Paris, “Jika dahulu dibutuhkan 50 busana setiap musim, kini kriteria minimum busana sudah diubah untuk menyesuaikan situasi sehingga langkah ini telah menyelamatkan haute couture dari berbagai kondisi ekonomi dan krisis dunia. Sama halnya dengan keterbukaan mereka dalam menyambut desainer muda berbakat demi dapat menjaga relevansi dengan generasi sekarang,” tuturnya. 

Berbicara tentang relevansi, perkembangan media sosial yang berperan penting sebagai medium untuk menambah pengetahuan tentang haute couture secara merata tak hanya kepada penyuka mode melainkan kepada masyarakat awam, turut menjadi fondasi relevansi haute couture masa kini. “Pada dasarnya, haute couture dibuat dengan teknik yang tak akan lekang oleh waktu dan selalu menjadi bagian dari seni dalam menciptakan busana,” ujar desainer Sebastian Gunawan. “Banyak individu terus berharap kualitas hidupnya senantiasa menjadi lebih baik, secara ekonomi dan pengetahuan. Pengetahuan mereka yang bertambah, meningkatkan awareness mereka tentang value di balik kerumitan haute couture, sehingga ranah ini akan selalu memiliki market-nya sendiri,” tambahnya. 

Schiaparelli Haute Couture Fall/Winter 2022 (Filippo Fior/IMAXTREE.COM)

Relevansi yang terjaga nyatanya memang menghidupkan haute couture sampai saat ini, ditambah dengan upaya institusi Chambre Syndicale de la Haute Couture yang melebarkan kesempatan untuk para desainer lebih muda di luar member utama untuk bisa menampilkan koleksi mereka di couture week. Terlebih karena generasi masa kini yang menyukai pendekatan berbusana yang penuh dengan keunikan dan sisi individualisme sehingga membutuhkan perspektif haute couture dari banyak sisi. Langkah yang dilakukan institusi tersebut salah satunya adalah dengan mengundang dan memberikan desainer muda guest spot di dalam agenda resmi couture sebagai medium mereka untuk mengekspresikan haute couture dengan cara mereka sendiri. Seperti yang terjadi di tahun 2017 saat label asal Belgia, A.F. Vandevorst, dan desainer dari Belanda, Ronald Van Der Kemp, serta dua desainer Amerika Serikat, yaitu Proenza Schouler dan Rodarte diberi spot dalam kalender couture.

Koleksi A.F. Vandevorst (Courtesy of A.F. Vandevorst)

Penyegaran perspektif yang tak hanya dari sisi desainer asal Paris, melainkan dari berbagai negara tentu memperkaya diversifikasi dan representasi bagaimana haute couture begitu berwarna. “Paris memang menyukai individu berbakat muda yang dapat memberikan ide segar dan bisa berinteraksi dengan generasi muda, para rumah mode membutuhkan mereka agar tetap relevan. Bahkan, ada juga desainer yang dipilih berdasarkan popularitasnya di media sosial,” ujar Samudra Hartanto yang juga mengatakan betapa kolaborasi antara desainer dengan seniman maupun dengan brand di luar mode semakin menguatkan relevansi dunia adibusana sekaligus mempererat dunia adibusana dengan teknologi masa kini, seperti yang terjadi di antara Balenciaga yang merilis face shield bersama Mercedes-AMG F1 dan tas speaker bersama Bang & Olufsen, yang mana kolaborasi keduanya berhasil memberikan awareness kepada kedua market jenama tersebut. Salah satu contoh progresif yang pernah dilakukan Chambre Syndicale de la Haute Couture termasuk saat institusi tersebut mengundang label Vetements milik Demna Gvasalia untuk menampilkan koleksi di couture week pada tahun 2017, yang mana alih-alih mengikuti ‘pakem’ adibusana yang dikenal akan gaun malamnya yang tiada dua, ia justru menampilkan modern couture dengan mengubah track suit ikonis Juicy Couture menjadi gaun malam dan jaket bomber Alpha Industries’ MA-1 yang tak pernah diduga bisa ditampilkan di sebuah presentasi adibusana. 

Face shield Mercedes-AMG F1 di Koleksi Balenciaga (Courtesy of Balenciaga)

PERKEMBANGAN DESAIN ADIBUSANA 

Pandemi Covid-19 yang terjadi mengubah kebiasaan hidup banyak orang. Panggung adibusana yang merupakan tombak industri mode atau acuan industri mode untuk merancang busana siap pakai pun tak luput dari perubahan yang menonjol. Sebelumnya, memang tak bisa dipungkiri, banyak masyarakat yang menganggap adibusana seharusnya terlihat dari betapa megahnya busana yang menjadi bagian dari koleksi tersebut. Layaknya koleksi adibusana rancangan desainer Christian Dior kala dipimpin oleh John Galliano atau desainer legendaris Christian Lacroix yang melahirkan busana-busana adibusana ikonis mengandung fantasi serta nuansa teatrikal yang berani dan menjadi semacam standar bagaimana pakaian adibusana seharusnya terlihat untuk sebagian orang. 

Koleksi haute couture rumah mode Dior (Courtesy of IMAXTREE.COM)

Hingga akhirnya, pandemi mengubah cara hidup ditambah dengan industri mode yang mengalami perubahan besar di area kedudukan direktur kreatif sejak tahun 2010, di mana sosok wanita akhirnya berhasil menduduki posisi sebagai direktur kreatif di rumah mode. Dari mulai Maria Grazia Chiuri yang ditunjuk sebagai direktur artistik wanita pertama di rumah mode Dior pada tahun 2016, Clare Waight Keller sebagai direktur kreatif rumah mode Givenchy, hingga Virginie Viard sebagai pengganti desainer ikonis Karl Lagerfeld di Chanel. 

Chanel Haute Couture karya Virginie Viard (Courtesy of Daniele Oberrauch / imaxtree.com)

Kedudukan wanita sebagai direktur kreatif turut memengaruhi isi koleksi panggung adibusana masa kini, dikarenakan para wanita tersebut menerjemahkan perspektif berpakaian wanita dari wanita untuk wanita. Seperti yang terjadi di rumah mode Dior, bagaimana Maria Grazia Chiuri menyampaikan visi miliknya dan rumah mode Dior yang sama, yaitu untuk memberdayakan wanita dan menjunjung feminitas namun dengan pendekatan yang modern dan kontemporer. Pemikiran tersebut kemudian ia tuangkan kepada koleksi adibusana Dior yang lebih mengedepankan siluet yang relevan dengan kehidupan wanita masa kini, wanita modern yang tak lagi hidup dikelilingi oleh banyak batasan. Gebrakan desain adibusana yang diungkapkan Maria Grazia Chiuri nyatanya tak hanya dilakukan olehnya, Virginie Viard dari rumah mode Chanel juga melakukan hal yang sama. 

Hal itu tergambar jelas dari koleksi adibusana Dior musim gugur/dingin 2022, Maria kembali mengolah material ringan serta pemilihan palet warna subtil dengan minim dekorasi penuh kilau. Ia mengedepankan unsur bordir dan Maria kembali menerjemahkan adibusana sebagai hubungan dua arah antara perajin dan klien, sehingga tidak semata busana mewah yang menunjukkan glamorama dan fantasi seperti persepsi banyak orang. 

Perayaan akan kebebasan untuk berbusana kemudian turut dilakukan oleh Virginie Viard yang mengupayakan sebuah koleksi adibusana musim gugur 2022 yang tak mengandalkan kemegahan, tetapi memprioritaskan rasa nyaman. Di koleksi tersebut, Virginie menyulap segalanya menjadi lebih longgar sehingga memberikan keleluasaan untuk bergerak. Potongan busana dari mulai gaun, celana, hingga atasan diciptakan dengan efek slouchy serta minim akan dekorasi bebatuan kristal. Mungkin jika kilas balik di waktu-waktu sebelumnya, tak akan terbayangkan jika koleksi seperti ini berada di atas panggung adibusana yang tentunya akan menciptakan pertanyaan, apa yang membedakan koleksi haute couture dengan desain tak rumit dan koleksi ready-to-wear

Pembuatan gaun adibusana Iris van Herpen (Courtesy of Iris van Herpen)

Desainer Adrian Gan mengakui, “Dunia mode haute couture sepertinya tidak banyak mengalami perubahan dalam eksplorasi konsep kekinian. Perubahan haute couture memang lebih menggunakan pendekatan adibusana yang lebih ringan dengan pemilihan bahan serta detail yang tidak terlalu rumit,” tuturnya. Walau begitu perubahan yang terjadi ini tak memengaruhi nilai haute couture masa kini dan tak hanya dibedakan melalui siluet. Kemudian desainer Sebastian Gunawan turut memaparkan opininya, “Walau sebuah rumah mode melahirkan koleksi dengan siluet yang sederhana dan wearable, tak berarti koleksi tersebut seperti bukan haute couture. Karena pada umumnya, haute couture menggambarkan cara pembuatan, proses dibentuknya bahan dan motif, serta detail-detail yang terkandung pada proses pembuatan yang tak ditemukan di koleksi ready-to-wear.”

Samudra Hartanto (Courtesy of Hadi Ahdiana)

Haute couture diciptakan sesuai dengan ukuran tubuh dan keinginan sang klien. Setiap busana di koleksi ini melibatkan persetujuan klien dengan 
segala keunikan yang dimiliki setiap individu. “Kini, tidak semua klien haute couture menginginkan gaun malam megah. Perubahan gaya hidup yang meliputi kegiatan kasual, membuat mereka ingin tetap mengenakan keunikan koleksi haute couture yang dirancang secara wearable,” ungkap Samudra Hartanto menambahkan. “Lagi pula, adibusana yang wearable dan seakan tak memiliki cukup fantasi nyatanya menggunakan ragam material istimewa nan langka. Mungkin saja material tersebut ternyata merupakan kain dari Vicuna yang lebih mahal dari cashmere, namun very discreet yet luxurious,” tutupnya. 

ADIBUSANA & SENSUALITAS 

Salah satu pengaruh aspek wearable yang menyorot gaya hidup masa kini di panggung haute couture kemudian terpampang melalui koleksi pakaian yang airy dan mengandung energi sensual. Di koleksi haute couture musim gugur/dingin 2022, Anda akan melihat pakaian yang merengkuh setiap siluet tubuh dengan sempurna melalui material ringan, seperti kembalinya era bodycon yang walau kali ini rata-rata disempurnakan dengan tambahan ekor gaun seperti kreasi Alexandre Vauthier dan rumah mode Balenciaga. 

Dua Lipa mengenakan koleksi Balenciaga Couture Fall/Winter 2022 (Courtesy of Balenciaga)

Koleksi adibusana Jean Paul Gaultier karya Olivier Rousteing (Courtesy of clp F22 070 // IMAXTREE.COM)

Valentino Haute Couture musim Gugur/Dingin 2022 (Courtesy of F22 036 // IMAXTREE.COM)

Selain bodycon, haute couture di musim gugur/dingin 2022 tetap mengedepankan inspirasi berbusana untuk berpesta dengan semarak glamorama. Seperti bahan jala yang dijadikan busana lalu ditumpahkan bubuhan permata, kristal, dan berlian menyeimbangkan visualisasi jala yang ringan dan menerawang persembahan Valentino, Fendi, dan Giambattista Valli. Ada pula konsep provokatif yang tak terduga, lewat eksplorasi patung body plates seperti yang diinisiasi oleh Olivier Rousteing kala menjadi desainer tamu untuk koleksi adibusana Jean Paul Gaultier atau Daniel Roseberry yang membuat seorang model mengenakan body plate berbentuk siluet payudara dan kancing emas untuk sebuah ansambel bernapas maskulin. Disrupsi yang terjadi pada haute couture masa kini semakin menunjukkan betapa beauty has no rules, betapa haute couture memiliki spektrum luas dan variatif namun dengan hasil akhir yang sama, yaitu sebagai mahakarya apik persembahan dunia mode. 

Artikel ini juga ditulis di majalah Harper's Bazaar Indonesia edisi Oktober 2022.

(Foto: IMAXTREE.COM)