Mereka kembali, sayang! Enam tahun setelah mundur sebagai “working royals” dan pindah ke perbukitan Montecito yang cerah, Duke dan Duchess of Sussex akan kembali ke Inggris. Menurut laporan, kedua anak Harry dan Meghan, Pangeran Archie dan Putri Lilibet akan bersekolah di Inggris mulai September, mengisyaratkan bahwa pasangan ini berencana kembali menetap di negara tempat mereka melangsungkan pernikahan pada Mei 2018.
BACA JUGA: Pangeran Harry Tiba di London Tanpa Meghan dan Anak-Anak
Menyebut keputusan ini sebagai sesuatu yang mengejutkan rasanya masih kurang. Sejak meninggalkan Inggris dan pindah ke Amerika pada 2020, bukan rahasia lagi bahwa hubungan keduanya dengan keluarga kerajaan telah merenggang. Rencana kepindahan mereka kali ini juga terasa semakin tidak terduga, mengingat bagaimana pers Inggris selama ini memperlakukan Meghan, dengan pemberitaan negatif yang terus membuntutinya sejak ia dan Harry mulai berpacaran. Setelah kembali ke Inggris menyusul serangkaian kasus hukum yang menjadi sorotan melawan sejumlah surat kabar paling banyak dibaca di negara tersebut, pertanyaan yang paling mendesak adalah: Apakah media Inggris siap menyambut mereka kembali?
Meminjam salah satu kalimat paling ikonik mendiang Putri Diana, sejak awal hubungan Sussex, selalu ada tiga pihak dalam pernikahan ini: Harry, Meghan, dan pers Inggris. Pada November 2016, hanya beberapa bulan setelah hubungan mereka terungkap ke publik, Harry mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam pemberitaan media yang dianggap terlalu mencampuri kehidupan kekasihnya kala itu. Setelah Daily Mail menerbitkan artikel dengan judul “Harry's girl is (almost) straight outta Compton,” tim komunikasi sang pangeran mengatakan bahwa aktris Suits tersebut telah menjadi sasaran “gelombang pelecehan dan intimidasi” yang mengandung nuansa rasis dan misoginis.
Pernyataan Harry memicu perdebatan di Inggris dan menjadi kali pertama komentar mengenai pasangan tersebut masuk ke ranah politik. Mereka yang berada di kubu kiri secara umum mendukung keduanya, sementara kubu kanan mengkritik Harry karena dianggap berusaha membungkam pers. Yang tak kalah penting, pernyataan tersebut menandai perubahan pendekatan dari sebuah institusi yang selama ini dikenal memiliki hubungan erat dengan media dan berpegang pada strategi: “Jangan mengeluh, jangan menjelaskan.”
Hubungan pasangan ini dengan pers semakin memburuk setelah mereka menikah dan Meghan mengandung anak pertama mereka. Pada 2019, ketika Pangeran Archie lahir, keduanya memilih untuk tidak mengikuti tradisi photo call di luar rumah sakit. Keputusan itu membuat para jurnalis geram, bahkan beberapa di antaranya mengeluhkan bahwa pasangan Sussex menolak memperlihatkan anak mereka kepada publik yang dianggap turut membiayai kehidupan kerajaan. Pada periode yang sama, rumor mengenai perseteruan antara keluarga Sussex dan Cambridge—William dan Kate, yang kini menyandang gelar Prince dan Princess of Wales—semakin kuat dan sulit diabaikan. Kemudian pada tahun yang sama, dalam wawancara untuk sebuah dokumenter televisi, Harry mengatakan bahwa ia dan sang kakak berada di “jalan yang berbeda”, sementara Meghan menitikkan air mata ketika ditanya apakah ia mampu menghadapi tekanan kehidupan sebagai anggota keluarga kerajaan.
Inilah rangkaian peristiwa yang kemudian mengarah pada perpecahan besar pada 2020, ketika pasangan ini mengumumkan bahwa mereka akan mundur sebagai “working royals”. Pada musim semi tahun itu, keluarga Sussex mengirimkan surat kepada empat tabloid Inggris, menyatakan bahwa mereka tidak akan bekerja sama dengan media-media tersebut dalam bentuk apa pun. Inilah titik ketika hubungan pasangan tersebut dengan pers menjadi semakin sulit untuk didefinisikan. Setelah tak lagi terikat dengan institusi kerajaan, keduanya menuntut privasi, sembari pada saat yang sama membagikan kisah mereka melalui berbagai ruang publik, termasuk wawancara mengejutkan dengan Oprah Winfrey pada 2021. Dalam wawancara tersebut, Harry dan Meghan menuduh anggota keluarga kerajaan melontarkan komentar bernuansa rasial mengenai warna kulit putra mereka serta bekerja sama dengan pers untuk mencoreng reputasi mereka.
Setelah menetap di California dan memusatkan perhatian pada publik Amerika, Harry dan Meghan mendapati diri mereka berseberangan dengan dua aturan tak tertulis yang begitu melekat dalam budaya Inggris yang menjunjung sikap stiff upper lip. Pertama, keluarga adalah sesuatu yang harus dipertahankan dengan segala cara—melewati Natal, ulang tahun, pembaptisan, hingga pernikahan—seberat apa pun keadaannya. Kedua, mengumbar masalah keluarga ke ruang publik dianggap sebagai sesuatu yang tidak bermartabat. Dalam konteks inilah simpati terhadap keduanya mulai goyah, bahkan di antara mereka yang percaya bahwa Harry dan Meghan telah diperlakukan secara tidak adil oleh media Inggris dan institusi kerajaan. Menyadari perubahan sentimen tersebut, pers justru semakin gencar memberitakan kehidupan mereka secara obsesif.
Enam tahun setelah “Megxit”, kepulangan pasangan ini ke Inggris terjadi pada momen yang menarik. Kepulangan tersebut menyusul pertemuan langsung mereka dengan Raja Charles, yang telah menjalani perawatan kanker sejak 2024. Pada Juli lalu, sang raja dan ratu menjamu keluarga Sussex, termasuk Archie dan Lilibet, di Highgrove House—sebuah perkembangan besar dalam hubungan yang sebelumnya dianggap nyaris mustahil untuk dipulihkan. Pada bulan yang sama, Harry juga kalah dalam kasus hukumnya yang paling menjadi sorotan melawan The Daily Mail, sekaligus menutup rangkaian panjang proses hukum yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Dan meskipun serial Netflix milik Meghan, With Love, Meghan, dibatalkan setelah dua musim, serial yang masuk nominasi Emmy tersebut menjadi proyek pasangan ini yang paling sukses di luar upaya mengungkit kembali perseteruan mereka dengan keluarga kerajaan, sekaligus mengukuhkan posisi sang duchess di ranah lifestyle.
Menariknya, kabar mengenai kepulangan mereka justru pertama kali diberitakan oleh surat kabar The Telegraph. Media yang berhaluan konservatif ini dikenal memiliki hubungan yang erat dan saling menguntungkan dengan keluarga kerajaan, sehingga turut berkontribusi terhadap pemberitaan negatif mengenai keluarga Sussex. Namun kali ini, judul yang digunakan terdengar jauh lebih optimistis: “Harry’s coming home.” Bahkan The Daily Mail menyebut kabar tersebut sebagai sebuah “sensasi kerajaan” dan mendedikasikan tujuh halaman pertamanya untuk berita tersebut.
Sikap yang lebih terbuka ini mungkin tak lepas dari momentum. Pekan lalu, pers Inggris tengah terlibat dalam perdebatan yang lebih luas mengenai rasisme institusional menyusul kematian mendadak Jason Arday, mantan profesor di University of Cambridge. Awal bulan ini, Jason, yang merupakan profesor kulit hitam termuda di universitas bergengsi tersebut menghadapi tuduhan bahwa ia telah melebih-lebihkan sebagian kisah tentang latar belakang pribadinya serta melakukan plagiarisme terhadap karya akademik sebelumnya. Ia kemudian menjadi sasaran pemberitaan yang begitu masif—lebih dari 250 artikel dalam 22 hari, bahkan setelah ia mengundurkan diri dari jabatannya dan mengatakan bahwa dirinya telah “mencapai batas dari apa yang sewajarnya dapat ditanggung oleh seseorang.” Seminggu kemudian, ia ditemukan meninggal dunia.
Pasca kisah memilukan ini, kebenaran dari berbagai tuduhan terhadap Jason masih menjadi perdebatan. Namun, terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan tersebut, muncul diskusi yang lebih mendalam mengenai peran rasisme dalam pemberitaan media yang begitu masif dan tak henti-hentinya, yang menggambarkan Jason sebagai “Cambridge’s DEI darling”. Setelah kematiannya, kanselir universitas tersebut mengecam “kerumunan yang digerakkan oleh rasisme” (racist feeding frenzy) yang menyelimuti pemberitaan kasus ini. Sementara itu, Daniel Kebede, sekretaris jenderal National Education Union di Inggris, mengatakan bahwa Jason telah mengalami “penghancuran reputasi secara brutal di depan publik yang memicu rentetan serangan rasisme.” Ia juga mengatakan bahwa terdapat “perbedaan mendasar antara pengawasan dan kampanye publik yang dilakukan secara terus-menerus hingga menjadikan seseorang sebagai simbol dari segala sesuatu yang dianggap salah oleh kelompok kanan terhadap DEI.” Hingga kini, hampir 150.000 orang telah menandatangani petisi yang menyerukan penyelidikan terhadap pemberitaan media mengenai kasus tersebut.
Ada perbandingan yang jelas dengan perlakuan terhadap Meghan. Ia merupakan perempuan kulit berwarna pertama yang memasuki sebuah institusi kulit putih dengan sejarah kolonial yang begitu kuat. Sejak awal, ia langsung diposisikan sebagai perwujudan dari apa yang disebut sebagai “budaya woke”—sebuah stereotip yang juga dimanfaatkan kelompok kanan untuk menyulut perang budaya di dunia maya. Segala hal, mulai dari caranya tersenyum hingga bagaimana ia memegang perut saat mengandung, dilihat melalui kacamata pemberitaan tabloid yang sengaja memancing kemarahan. Bahkan, pada suatu ketika, ia dituduh “memicu kekeringan dan pembunuhan” hanya karena menyantap roti panggang dengan alpukat. Tokoh media Inggris seperti Piers Morgan pun terus meningkatkan kritiknya terhadap Meghan, bahkan setelah sang duchess secara terbuka mengungkapkan bahwa ia pernah mempertimbangkan untuk mengakhiri hidupnya.
Setelah kematian Jason, keluarga Sussex untuk sementara mendapat sedikit ruang untuk bernapas. Waktu yang akan menentukan apakah momentum ini akan bertahan, tetapi dalam kunjungannya ke Australia awal tahun ini, sang duchess menunjukkan sikap yang tak gentar. “Saya adalah orang yang paling banyak menjadi sasaran troll di seluruh dunia,” ujarnya. “Tapi saya masih di sini.” Pers Inggris pun tidak menghilang dan tetap memiliki kemampuan yang sama untuk menjadikan siapa pun sebagai sasaran.
BACA JUGA:
Meghan Markle Tidak Menganggap Dirinya sebagai Tradwife atau Influencer
Duchess Meghan Membagikan Cuplikan yang Belum Pernah Dilihat Sebelumnya dari Acara Netflix-nya
(Penulis: Louis Staples; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Kirana Anindya; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
