Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Kolaborasi Dian Sastrowardoyo dan Wilsen Willim Menghidupkan Kembali Kebaya dalam Bahasa Modern

Dari inspirasi Dasiyah hingga interpretasi pada kebaya modern.

Kolaborasi Dian Sastrowardoyo dan Wilsen Willim Menghidupkan Kembali Kebaya dalam Bahasa Modern
Foto: Courtesy of Wilsen Willim

“Sebelum negara merdeka, perempuan harus merdeka terlebih dahulu,” ujar Dian Sastrowardoyo dalam acara Heritage Reimagined di ASHTA District 8. Pernyataan tersebut menjadi gagasan yang mengiringi peluncuran koleksi kolaborasinya bersama Wilsen Willim, sekaligus mempertemukan warisan budaya Indonesia dengan interpretasi mode yang lebih kontemporer dalam semangat bulan kemerdekaan.


BACA JUGA: Wilsen Willim dan EPA Jewel Membingkai Ulang Tradisi Imlek dalam Estetika Kontemporer


Foto: Courtesy of Wilsen Willim

Pertemuan Dian dan Wilsen bukanlah sesuatu yang hadir secara tiba-tiba. Keduanya telah beberapa kali dipertemukan melalui karya, mulai dari jaket berkerah beskap rancangan Wilsen yang dikenakan Dian saat mempromosikan Gadis Kretek di Busan International Film Festival 2023, hingga ketika Dian kembali memerankan Dasiyah atau Jeng Yah dan tampil sebagai model penutup dalam presentasi Wilsen Willim pada 2024.

Foto: Courtesy of Wilsen Willim

Sosok Dasiyah dalam Gadis Kretek kemudian menjadi salah satu titik awal kolaborasi ini. Karakter Jeng Yah merepresentasikan perempuan Indonesia yang kuat, mandiri, dan berani menentukan pilihannya sendiri. Kehadirannya turut menghidupkan kembali perhatian terhadap kebaya dan kain, tidak hanya sebagai busana tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari gaya berpakaian masa kini.

Dalam serial tersebut, Dasiyah dibalut busana hasil arahan fashion stylist Hagai Pakan melalui ragam kebaya yang memperkuat karakter dan identitasnya. Semangat tersebut kemudian diterjemahkan Wilsen melalui koleksi yang menghadirkan busana tradisional dalam pendekatan lebih modern dan mudah dikenakan.

“Kita sengaja memilih warna-warna netral agar mudah dikenakan kembali ataupun dipadukan dengan wastra Nusantara yang sering kali bercorak cerah dengan motif dominan,” papar Wilsen Willim.

Koleksi kapsul ready-to-wear ini terdiri dari 13 artikel, mulai dari kemeja, rok, korset, hingga luaran dengan mengambil inspirasi dari siluet busana tradisional seperti Kebaya Kartini, Kebaya Kutubaru, atasan Janggan, Beskap, Sikepan Hussar khas prajurit Keraton Surakarta, dan Surjan. Seluruhnya diterjemahkan dalam bahasa desain yang lebih kontemporer melalui palet putih, hitam, merah hati, biru laut, dan hijau gelap.

Foto: Courtesy of Wilsen Willim

Material yang digunakan pun dirancang untuk mendukung keseharian, mulai dari suiting fabric, Jacquard hingga batik tulis Cirebon berbahan dasar katun. “Saya ingin kebaya bisa menjadi bagian dari keseharian perempuan Indonesia, dengan gaya yang lebih kasual, material yang sejuk, namun tetap menjaga nilai dan identitas budayanya,” ujar Dian.

Foto: Courtesy of Wilsen Willim

Pendekatan tersebut terlihat melalui siluet yang lebih tegas dan struktural. Kebaya hadir dalam bentuk tailored kebaya, sementara beskap diterjemahkan dengan garis yang lebih modern. Potongan-potongan ini tidak hanya memperbarui cara busana tradisional dikenakan, tetapi juga menyematkan gagasan empowering women sebagai pesan utama kolaborasi ini. Bagi Dian dan Wilsen, kebaya bukan sekadar bagian dari sejarah busana Indonesia, tetapi medium untuk menyuarakan kebebasan perempuan dalam menentukan identitas, pilihan, dan ruangnya sendiri.

Diluncurkan bertepatan dengan Hari Kebaya Nasional pada 24 Juli 2026, koleksi ini menjadi bagian pertama dari kolaborasi yang akan berlanjut pada Oktober mendatang, bertepatan dengan Hari Batik Nasional. Melalui pertemuan antara seni peran dan mode, Dian dan Wilsen membawa satu visi yang sama yaitu menjaga warisan budaya Indonesia tetap hidup dengan menerjemahkannya ke dalam bahasa yang relevan bagi generasi masa kini. 

BACA JUGA:

Wilsen Willim Rayakan Hari Kartini dengan Koleksi Kapsul yang Memukau
Indonesia Kaya Memadukan Padel & Kebaya untuk Rayakan Gaya Hidup Aktif Perempuan Modern 

(Penulis: Kirana Anindya ; Edited by EF)