Selama lebih dari satu dekade, standar senyum yang ideal identik dengan gigi yang putih sempurna, lurus, dan simetris. Ketika behel tak lagi menjadi pilihan, banyak orang beralih ke veneer, lapisan porselen tipis yang direkatkan pada permukaan gigi untuk mendapatkan senyum sempurna yang kerap mendominasi media sosial. Diperkenalkan sejak 1920-an dan mulai populer di kalangan selebritas pada 1980-an, veneer dalam beberapa tahun terakhir bahkan menjadi prosedur estetika yang dianggap lumrah. Sayangnya, tingginya permintaan juga mendorong banyak orang memilih penyedia jasa tidak berlisensi demi biaya yang lebih murah yang berisiko menimbulkan hasil kurang proporsional, rasa tidak nyaman, hingga kerusakan permanen pada gigi.
BACA JUGA: 11 Rekomendasi Pasta Gigi Pemutih yang Bikin Senyum Makin Percaya Diri
Namun kini, tren tersebut mulai bergeser. Semakin banyak orang memilih perawatan kosmetik gigi yang lebih halus (tweakments), seperti meluruskan gigi secara bertahap dan pemutihan dengan hasil yang tetap natural. Fokusnya bukan lagi menciptakan senyum yang seragam, melainkan mempertahankan karakter alami setiap individu. Pergeseran ini juga terlihat di karpet merah, di mana selebritas seperti Kate Winslet, Billie Eilish, hingga Zendaya secara terbuka mengungkapkan bahwa mereka lebih memilih clear aligners untuk merapikan gigi tanpa mengubah senyum alaminya secara drastis.
Seiring meningkatnya minat terhadap konsep longevity dan kecantikan yang minim intervensi, semakin banyak orang juga memilih perawatan gigi yang berfokus pada penyempurnaan, bukan perubahan total. Pilihan seperti behel lingual yang dipasang di bagian dalam gigi seperti yang digunakan Maya Jama atau Invisalign kini semakin diminati karena mampu merapikan gigi secara lebih halus tanpa mengubah karakter alami senyum.
Menurut Adam Thorne, dokter gigi kosmetik sekaligus senior partner di Harley Street Dental Studio, perubahan umumnya mulai terlihat dalam waktu enam hingga delapan minggu, dengan pergerakan gigi sekitar sepertiga milimeter setiap pekan. Proses perawatan diawali dengan pemindaian dan foto rontgen untuk menentukan metode yang paling sesuai. Pada kasus tertentu, dokter juga dapat melakukan interproximal reduction (IPR), yakni pengikisan tipis di sela-sela gigi untuk menciptakan ruang, meski sebagian pasien dapat memperoleh hasil yang sama hanya dengan sedikit melebarkan susunan gigi.
Selain alasan estetika, meluruskan gigi juga memberikan manfaat bagi kesehatan mulut. Susunan gigi yang lebih rapi mempermudah proses pembersihan sehingga kebersihan gigi lebih terjaga, sekaligus membantu mengatasi masalah seperti sleep apnea karena posisi lidah menjadi lebih ideal di dalam rongga mulut.
Untuk proses pemutihan gigi, Adam menekankan bahwa tujuan utamanya bukan menciptakan warna putih yang berlebihan, melainkan menyesuaikannya dengan warna putih mata agar hasilnya tampak alami dan harmonis dengan warna kulit. Hasil terbaik biasanya diperoleh setelah perawatan Invisalign selesai lalu menggunakan whitening tray dan gel pada malam hari. Namun, proses pemutihan juga dapat dimulai lebih awal dengan mengaplikasikan gel pemutih saat mengenakan Invisalign di malam hari.
Bagi kami, perubahan terbesar justru terasa pada rasa percaya diri. Pergeseran kecil pada susunan gigi yang terjadi seiring waktu meski mungkin hanya disadari sendiri berhasil diperbaiki, membuat senyum kembali terlihat lebih rapi dan sehat seperti saat berusia dua puluhan.
Yang paling penting, hasilnya tetap terlihat seperti gigi miliknya sendiri. Di tengah budaya yang selama ini begitu terobsesi mengejar kesempurnaan, tampil sebagai versi terbaik dari diri sendiri tanpa kehilangan karakter alami justru menjadi bentuk kemewahan yang sesungguhnya.
BACA JUGA:
Manikur “Milky Rosé” Jadi Tren Kecantikan Musim Panas yang Paling Praktis
8 Pilihan Strip Pemutih Gigi yang Ampuh Hilangkan Noda dan Mengembalikan Putih Alami
(Penulis: Brooke Theis; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Kirana Anindya; Foto: Courtesy of BAZAAR US)
