Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Pemimpin yang Buruk Berawal dari Anak yang "Baik", Benarkah?

Naluri yang kita bawa dalam kepemimpinan kita sering kali berakar dari pengalaman masa kecil kita. Sebuah buku baru menjelaskan cara belajar dari pelajaran-pelajaran penting ini.

Pemimpin yang Buruk Berawal dari Anak yang
Courtesy of BAZAAR UK

Terdapat kecenderungan di dalam diri kita untuk percaya bahwa perilaku baik sebagai seorang anak menandakan kita akan sukses di masa dewasa. Jika kita patuh pada aturan, melakukan apa yang dikatakan kepada kita, kita pasti akan berhasil, dipromosikan, atau menjadi pemimpin yang hebat. Itulah mengapa prinsip utama dari buku baru yang ditulis oleh pakar dan konsultan kepemimpinan, Nik Kinley, dan Profesor IMD Business School, Shlomo Ben-Hur, yang berjudul Re-writing your Leadership Code: How your Childhood Made You the Leader You Are, and What You Can Do About It, sangatlah menarik. Dalam banyak hal, buku ini justru menunjukkan hal yang sebaliknya.

BACA JUGA: 4 Sosok Pelukis Wanita Indonesia dan Karyanya

"Penelitian menemukan bahwa anak-anak yang dipuji karena bijaksana, tidak egois, dan penuh perhatian cenderung melanjutkan perilaku ini saat dewasa," kata Nik. "Ini kedengarannya bagus, tapi ini berarti Anda menjadi sangat terampil dalam membuat diri Anda disukai. Akibatnya, Anda bisa menjadi terlalu baik, sampai-sampai ingin menghindari ketegangan dan tidak ingin membuat orang lain kesal. Anda mungkin akan kesulitan untuk mengatasi kinerja yang buruk dan melakukan perubahan yang tidak disukai."

Menjadi seorang pemimpin sering kali melibatkan pengambilan keputusan yang tidak disukai oleh banyak orang. Dan Anda menyadari bahwa Anda tidak dapat disukai sepanjang waktu, atau lebih tepatnya, bahwa mengutamakan popularitas daripada tindakan yang benar, adalah pilihan yang tidak bijaksana. Kebiasaan "anak baik" lain yang mungkin merugikan Anda sebagai pemimpin adalah selalu mengikuti aturan. Meskipun terlihat sangat positif, namun jika dianalisis lebih dalam, hal ini bisa menghambat pemikiran lateral.

"Anak yang patuh dan sangat memperhatikan keinginan orang tua mereka, cenderung sangat mahir dalam memahami apa yang diinginkan oleh atasan dan bisnis mereka, dan mereka sepenuhnya berkomitmen untuk memberikannya," kata Nik. "Mereka menjadi sangat baik dalam memberikan apa yang diinginkan dari bisnis, tapi belum tentu memikirkan apa yang sebenarnya dibutuhkan.” Pada tingkat kepemimpinan tertinggi, hal ini dapat menjadi sebuah masalah besar."

Re-writing your Leadership Code

Courtesy of BAZAAR UK

Setelah Nik dan Shlomo melakukan penelitian menyeluruh untuk buku mereka, mereka menemukan bahwa para pemimpin yang mereka latih sering kali gagal mengimplementasikan metode mereka saat menghadapi krisis atau tekanan di tempat kerja. Sebaliknya, mereka cenderung mengandalkan insting. Menariknya, banyak dari insting tersebut dipengaruhi oleh masa kecil kita. Penelitian mereka selama bertahun-tahun menyimpulkan bahwa banyak sekali cara pandang kita (pesimis atau optimis) dan juga gaya kepemimpinan kita (otoriter atau libertarian) dipengaruhi oleh orang tua kita. Sebagai model kepemimpinan pertama kita, mereka dapat mengatur bagaimana kita memerintah sendiri.

Salah satu kesalahan terbesar yang pernah dilihat Nik pada kliennya — termasuk CEO dan pendiri perusahaan besar — terkait dengan "pengambilan keputusan kecil sehari-hari dan dampak pribadi." Kedua hal ini dapat dipengaruhi oleh bagaimana kita dibesarkan di masa muda. Kesalahan pertama sering kali dipicu oleh kecenderungan kita sebagai 'anak baik': keinginan untuk menyenangkan orang lain atau menjadi penurut, sementara yang kedua sebagian besar berasal dari pengaruh orang tua: bagaimana kita berhubungan dengan orang lain, terutama bawahan kita?

Courtesy of BAZAAR UK

"Ternyata, pemimpin yang tumbuh dalam bayang-bayang orang tua otoriter cenderung memiliki gaya kepemimpinan yang kaku dan menghukum," ungkap Nik. "Ketakutan akan kegagalan yang tertanam sejak kecil, membuat mereka terobsesi untuk mengontrol dan mudah mengkritik. Akibatnya, mereka sering kali meniru gaya kepemimpinan orang tua mereka yang otoriter."

Ia membagi para pemimpin menjadi dua tipe. Pemimpin yang fokus pada promosi, yang cenderung lebih positif, sering kali berasal dari keluarga dengan orang tua yang memberikan dukungan emosional dan perhatian yang besar terhadap mereka. Namun, sisi menariknya, mereka bisa kesulitan menerima kritik dan layaknya "anak baik", mereka kurang mahir dalam mengambil keputusan yang sulit.

Selanjutnya ada pemimpin yang fokus pada pencegahan, yang lebih berhati-hati dan menghindari risiko, sering kali dibentuk oleh pengalaman masa kecil yang disiplin dan lebih ketat saat masih kecil. "Mereka tidak ingin mengacau, mereka ingin semuanya berjalan dengan baik," katanya. "Ini karena, dengan orang tua yang kritis dan otoriter, mereka selalu khawatir akan melakukan kesalahan dan mengecewakan mereka. Biasanya ada hukuman di dalamnya atau bahkan sesuatu yang sederhana seperti rasa takut akan ketidaksetujuan."

"Setelah Anda dapat memahami dari mana naluri ini berasal, Anda dapat mulai mengatur diri sendiri."

Naluri yang dipelajari ini, yang dibina di masa muda kita, adalah apa yang kita andalkan saat menghadapi stres di tempat kerja — yang sayangnya, lebih sering terjadi daripada yang kita kira. Jadi, bagaimana kita bisa 'menghilangkan' naluri ini, jika naluri ini tertanam pada masa yang begitu penting? Seperti biasa, pengetahuan adalah kekuatan dan begitu Anda bisa memahami dari mana naluri ini berasal — apa yang memicunya —  Anda bisa mulai mengendalikan diri sendiri.

"Kita harus mengambil langkah untuk menghentikan perilaku lama, atau setidaknya tidak memicunya," kata Nik. "Hal ini dapat dimulai dengan mengatakan pada diri sendiri, 'Itu hanya pesimisme saya yang berbicara', atau dengan cara yang lebih langsung seperti berdiri: secara fisik mengganggu perilaku, perasaan, atau pikiran. Hal kedua adalah belajar mengantisipasi situasi dengan menyiapkan solusi sebelum tekanan terjadi, karena sering kali tidak ada gunanya melakukan sesuatu pada saat yang genting. Yang ketiga adalah memanfaatkan orang-orang di sekitar Anda, tim Anda, untuk menjaga keseimbangan: memberi mereka izin untuk mengingatkan Anda tentang hal-hal ini..."

Membongkar naluri masa kecil kita yang sudah mendarah daging bukanlah hal yang mudah, tetapi seperti yang ditekankan oleh Kinley, memahami akarnya, konsekuensinya, dan kunci untuk mengatasinya, tidak hanya menarik, tetapi juga merupakan alat yang penting untuk meraih kesuksesan.

BACA JUGA:
10 Rekomendasi Buku untuk Memahami Konsep Berkelanjutan
Warisan Generasi X: Inspirasi Bagi Generasi Z

(Penulis: Marie Claire Chappet; Artikel ini disadur dari: BAZAAR UK; Alih bahasa: Vanesa Novelia; Foto: Courtesy of BAZAAR UK)