Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Ketika Lapangan Tennis Menjadi Karpet Merah

Sebuah buku yang baru dirilis menyoroti hubungan dari kedua dunia tersebut.

Ketika Lapangan Tennis Menjadi Karpet Merah
Foto: Courtesy of BAZAAR US

Tiga tahun yang lalu, seorang jurnalis fashion dari Inggris bernama Sunita Kumar Nair merilis ‘CBK: Carolyn Bessette Kennedy: A Life in Fashion,’ sebuah buku yang memadukan format buku foto dan biografi yang juga menjadi sebuah arsip visual kehidupan sang ikon. Lewat buku ini, sang penulis memberikan konteks di balik setiap penampilannya yang berpengaruh. Sang penulis yang karyanya pernah dimuat di WWD, Vanity Fair, dan The Sunday Times Style, melakukan itu tepat ketika generasi baru mulai mengenal—dan terobsesi pada—fenomena tersebut. Kini ia kembali melakukannya, kali ini dengan tenis sebagai subjek utama. 'Ace: The Times & Style of Tennis' resmi hadir di toko buku pekan ini, tepat ketika publik memberikan perhatian pada hubungan antara fashion dan tenis.

BACA JUGA: French Open Menghadirkan Gaya Tennis Court Paling Chic

“Ketika saya memberi tahu seorang teman bahwa saya sedang menulis buku tentang tenis, reaksinya adalah ‘Oh, jadi kamu membahas quiet luxury lagi,” ujar Kumar Nair dalam wawancara melalui Zoom. Meski terdengar terlalu sederhana, tetapi di saat yang sama menunjukkan betapa besarnya pengaruh tenis dalam membentuk sebuah tren yang mendominasi dunia fashion saat ini. Namun, pengaruh itu hanyalah satu bagian dari hubungan panjang antara tenis dan fashion yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad.

Buku ini menyajikan rangkaian foto yang dipadukan dengan analisis historis serta beberapa wawancara dengan sejumlah pemain tenis yang populer. Isi dari buku ini dibagi menjadi tiga bagian, The Classics, The Mavericks, dan The Cools, dimana mengelompokkan para pemain tenis legendaris perempuan dari berbagai era, mulai dari Suzanne Lenglen hingga Billie Jean King dan Serena Williams. Pengelompokkan ini disajikan sesuai dengan karakter, gaya bermain, dan pengaruh mereka terhadap olahraga tenis.

Foto: Courtesy of BAZAAR US

Pemain Tenis Maria Sharapova

Sunita Kumar Nair menyoroti bagaimana desainer Prancis visioner, Jean patou, bekerja sama dengan Suzanne Lenglen pada awal abad ke-20 dalam proses penciptaan busana tenis yang lebih praktis dan fleksibel. Inovasi tersebut kemudian menjadi fondasi inspirasi dari rancangan haute couture Patou. Sebelum rancangan ini, para pemain perempuan diwajibkan bertanding mengenakan pakaian layaknya sedang menghadiri pesta kebun. Sunita Kumar Nair juga mengeksplor kolaborasi antara Maria Sharapova dengan Nike dan Riccardo Tisci—saat masih menjabat sebagai direktur kreatif di Givenchy—untuk mengadaptasi little black dress (LBD) ikonis yang dipakai oleh Audrey Hepburn dalam film ‘Breakfast at Tiffany’s.’ Gaun tersebut, yang awalnya dirancang oleh Hubert de Givenchy pada 1961, diadaptasi menggunakan material Dri-Fit yang sesuai untuk kebutuhan para pemain profesional. Selain itu, Sunita Kumar Nair juga menganalisa hubungan erat antara beberapa merek sportswear seperti Nike, New Balance, dan Gucci. Melalui hubungan ini, para atlet tidak hanya menjadi duta merek, tetapi juga membentuk citra para atlet. Kompleksitas hubungan tersebut memperlihatkan betapa eratnya koneksi antara olahraga, fashion, dan kehidupan modern. 

“Lapangan tenis bagi saya adalah sebuah panggung, dan kami adalah para penghibur,” ujar Naomi Osaka dalam wawancaranya untuk Ace. “Tentu saja kami menghibur lewat permainan tenis, tetapi saya juga menikmati kebebasan untuk mengekspresikan kreativitas dan diri saya melalui berbagai elemen yang bisa saya atur sendiri, mulai dari gaya rambut, busana, hingga aksesori.” Bagi Sunita Kumar Nair, tenis dan fashion telah lama menjalin hubungan yang saling membentuk. Dalam wawancara berikut, ia membahas jejak pengaruh teni dalam fashion masa kini,  nilai ekonomi di balik kolaborasi dengan merek-merek besar, serta alasan mengapa buku ini terasa begitu relevan untuk diterbitkan saat ini.

Foto: Courtesy of BAZAAR US

Apa yang mendorong Anda menulis buku mengenai tenis melalui perspektif mode saat ini?

Sejauh yang saya ketahui, belum pernah ada buku independen yang mengangkat tema ini. Sama seperti ‘CBK: Caroly Bessette Kennedy: A Life in Fashion,’ memang sudah ada buku-buku yang diterbitkan oleh merek seperti Nike atau Lacoste tetapi melihat hubungan antara tenis dan fashion dari sudut pandang seorang jurnalis fashion menawarkan perspektif yang berbeda. Yang paling menarik bagi saya adalah kesamaan perjalanan antara tenis dan fashion sepanjang sejarah. Keduanya menjadi cerminan perubahan sosial yang dialami laki-laki dan perempuan pada masanya. Pada awalnya, saya membayangkan buku ini sebagai sebuah buku fotografi yang indah. Namun, ketika mulai menghubungi berbagai merek olahraga besar, saya menyadari bahwa ada narasi yang jauh lebih besar untuk digali. Di saat yang sama, saya juga memperhatikan bagaimana pandemi mengubah cara kita berpakaian. Banyak dari kita semakin terbiasa mengenakan pakaian olahraga dalam keseharian. Saya mulai bertanya-tanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi? Mengapa sepatu kets dan setelan tracksuit menjadi bagian dari seragam sehari-hari masyarakat modern? Dari situlah saya merasa bahwa ini bukan sekadar topik tentang tenis atau fashion. Ada fenomena budaya yang lebih luas di baliknya—sesuatu yang layak dibahas secara serius, dengan riset yang mendalam dan pendekatan yang lebih berbobot.

Foto: Courtesy of BAZAAR US

Pemain Tenis Naomi Osaka

Apakah mengejutkan melihat sejauh mana perubahan seragam tenis dari masa ke masa? Sulit membayangkan seseorang bermain tenis dengan korset. Namun, seperti yang Anda katakan, tenis menjadi cerminan evolusi busana secara lebih luas.

Dan juga cerminan posisi perempuan dalam masyarakat. Bagi saya, perubahan busana tenis mencerminkan tidak hanya perkembangan fashion, tetapi juga karakter permainan itu sendiri, termasuk unsur eksklusivitas dan keterbatasan akses yang pernah melekat padanya. Ketika berolahraga, kita tentu ingin merasa bebas bergerak. Pakaian seharusnya mendukung pergerakan tersebut, bukan membatasinya. Karena itu, mengetahui bahwa pada awal abad ke-20 perempuan bermain tenis dengan rok panjang dan korset terasa sangat mengejutkan. Di Wimbledon Lawn Tennis Museum, bahkan ada korset-korset lama yang masih menyisakan noda darah. Hal-hal seperti itu membuat saya semakin menyadari besarnya perjuangan yang harus dilalui perempuan hanya untuk mendapatkan kebebasan bergerak. Dan dalam banyak hal, perjuangan itu masih terus berlangsung hingga hari ini, meski dalam bentuk yang berbeda. Semakin saya mempelajarinya, semakin banyak kisah yang ingin saya gali. Rasanya, saya bisa terus membicarakan topik ini tanpa henti.

Namun, bukankah tenis termasuk salah satu olahraga pertama yang dimainkan perempuan?

Sebenarnya, olahraga yang lebih dulu populer di kalangan perempuan adalah bersepeda dan berkuda. Namun, keduanya juga identik dengan kalangan elit. Tenis, sepak bola, dan bola basket mulai berkembang pada periode yang kurang lebih sama. Menarik melihat bagaimana sepak bola berkembang menjadi olahraga yang begitu besar dan inklusif, begitu pula bola basket. Tenis kini mulai bergerak ke arah yang sama, tetapi pertanyaannya: mengapa proses itu membutuhkan waktu lebih dari satu abad? Dan mengapa perempuan masih sering dinilai dari cara berpakaian atau perilaku mereka di lapangan? Mengapa masih ada aturan-aturan yang terasa tidak relevan dalam olahraga ini?

Foto: Courtesy of BAZAAR US
Pemain Tenis Venus Williams

Menarik bahwa banyak olahraga berawal dari kalangan atas, tetapi tenis mempertahankan citra itu lebih lama. Rasanya ada kaitannya dengan tren old money yang sedang populer saat ini.

Saya rasa memang ada banyak keterkaitan di antara keduanya. Saya sempat menyinggung hal ini kepada Chris Evert, terutama soal tennis bracelet. Ia memopulerkan gelang berlian tersebut di lapangan, dan hingga sekarang banyak orang mengenakannya meski tidak pernah bermain tenis. Hal yang sama juga terlihat pada sweter rajut bergaya kriket atau rok plisket yang identik dengan estetika tenis. Apa yang membuat gaya-gaya ini begitu menarik? Mungkin karena ia menghadirkan kesan dunia lama yang elegan dan eksklusif. Elemen-elemen itu sudah menjadi bagian dari identitas visual tenis dan tampaknya tidak akan benar-benar hilang. Meski begitu, saya juga senang mendengar bagaimana gaya Andre Agassi justru tampil berlawanan dengan citra country club yang eksklusif. Ia hadir dengan celana pendek neon yang ketat dan rambut panjang yang diwarnai. Penampilannya mencerminkan kepribadian yang kuat. Menurut saya, ekspresi karakter seperti itu yang membuat tenis semakin menarik.

Naomi Osaka memiliki kutipan yang menarik dalam buku ini tentang lapangan tenis sebagai panggung dan para pemain sebagai penghibur. Jadi, busana seharusnya tidak dianggap sepele.

Tepat sekali. Ada pemain yang hanya ingin fokus pada permainan, dan itu tidak  masalah. Namun, kini atlet semakin dipandang sebagai ikon budaya yang sejajar dengan aktor dan musisi. Karena itu, semakin banyak merek yang memberi perhatian pada cara mereka berpakaian dan menampilkan diri. 

Foto: Courtesy of BAZAAR US

Pemain Tenis Althea Gibson

Brand menjadi bagian yang sangat menarik dalam topik ini. Banyak wawancara menunjukkan bahwa kerja sama dengan brand bisa memberi atlet kekuatan dan lebih banyak kendali atas citra mereka.

Dari sisi bisnis, fashion dan olahraga memang saling membutuhkan. Coco Chanel pernah melihat peluang untuk mengembangkan ruang kecil dalam sportswear karena saat itu belum banyak tersedia. Sementara itu, Jean Patou menyadari bahwa mendandani Suzanne Lenglen adalah bentuk iklan yang dampaknya jauh melampaui apa pun yang ia bayangkan. Kini, brand fashion kembali melihat nilai besar dalam mendukung atlet. Dalam tenis, fokusnya ada pada satu individu, sehingga dampaknya sangat terlihat. Di sisi lain, atlet juga punya pilihan dan kendali dalam menentukan brand yang mereka wakili, bahkan bisa ikut membentuk citra mereka sendiri. Hubungan ini menjadi sangat menarik karena sifatnya yang saling menguntungkan dan menjadi sebuah kolaborasi di mana olahraga dan fashion saling membentuk dan memperkuat satu sama lain.

Dari perspektif pribadi, menarik melihat bagaimana gaya tenis masuk ke keseharian saya, tetapi sering lewat merek seperti Ralph Lauren atau Tory Burch. Jadi, rasanya sudah “diterjemahkan” dulu sebelum sampai ke saya. Menarik juga untuk melihat kembali apa yang mungkin dulu menjadi inspirasi di mood board mereka.

Hal yang menarik adalah bagaimana sportswear dan pakaian olahraga kini banyak memengaruhi gaya jalanan sehari-hari. Saya pernah berbicara dengan Stan Smith tentang bagaimana Carolyn Bessette-Kennedy memakai sneakers dengan celana chino—yang bisa dibilang menjadi awal masuknya pakaian teknis ke kehidupan sehari-hari. Sejak itu, perkembangannya melonjak sangat cepat. Kini, brand olahraga juga memiliki nilai ekonomi yang besar, termasuk di pasar resale seperti StockX. Sebagai editor fashion, dulu saya cenderung menempatkan brand olahraga di level kedua atau ketiga, tetapi sekarang keduanya sudah setara karena semakin dekatnya hubungan antara fashion dan sportswear.

Foto: Courtesy of BAZAAR US

Pemain Tenis Björn Borg

Lapangan tenis kini terasa seperti sebuah runway. 

Saya bahkan melihatnya seperti red carpet versi baru. Itulah juga alasan saya membuat Ace, untuk menunjukkan sejak awal betapa pentingnya fenomena ini dan bagaimana ia akan terus berkembang ke depan.

Pertanyaan terakhir untuk menutup: menurut Anda, apakah fashion lebih banyak memengaruhi tenis, atau tenis yang lebih memengaruhi fashion?

Saya akan mengatakan fashion lebih dulu memengaruhi tenis. Sosok seperti Suzanne Lenglen mungkin tidak akan bisa menembus batas pada zamannya tanpa dukungan Jean Patou di era 1920-an. Pada masa itu belum ada produsen pakaian olahraga seperti sekarang, jadi justru para desainer fashion yang memulai percakapan tentang bagaimana atlet tenis seharusnya berpakaian. Fashion membantu para atlet mengekspresikan diri pada saat itu. Dan menurut saya, peran itu masih ada sampai sekarang, hanya saja kini dibagi dengan brand olahraga. Karena itu, kita masih melihat kolaborasi antara fashion dan sportswear dalam membentuk penampilan atlet di lapangan.

BACA JUGA: 

Kendall Jenner & Jacob Elordi Habiskan Waktu Bersama di Jepang Lewat Kencan Udon yang Santai

Deretan Busana Terbaik di Lapangan Tenis US Open 2025


(Penulis: Camille Freestone; Artikel ini disadur dari: BAZAAR US; Alih bahasa: Elaine Mary; Foto: Courtesy of BAZAAR US)