Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Mengunjungi Perkebunan Kamelia di Gaujacq Bersama Chanel Beauty

Ini bukti keseriusan Chanel dalam menciptakan sebuah produk dengan efikasi terbaik, yakni periode penelitian yang tidak singkat.

Mengunjungi Perkebunan Kamelia di Gaujacq Bersama Chanel Beauty
Foto: Courtesy of Chanel Beauty

Perjalanan kali ini boleh dikatakan penuh kesan. Butuh jarak yang panjang setelah mendarat di Paris, kemudian melanjutkan lagi menuju beberapa kota di selatan Prancis yang dikenal dengan keunikannya tersendiri.

Kota yang pertama adalah Biarritz, kami menggunakan kereta spesial yang sudah disiapkan dengan cantik oleh Chanel. Tajuk #TheRoadtoCamellias begitu terasa sejak kami tiba di stasiun sampai memasuki gerbong kereta yang sudah didesain istimewa khusus untuk para tamu undangan. Empat jam perjalanan kami ditemani dengan beragam hiburan dan teaser menarik, sehingga kami semakin penasaran, seperti apa perkebunan kamelia di Gaujacq.

Sesampainya di Biarritz, kami bermalam di Hotel Du Palais. Awalnya adalah sebuah resor megah di pesisir pantai, yang banyak diandalkan oleh para pelancong bangsawan sampai sosok tersohor. Gabrielle Chanel menjadi salah satunya yang mempunyai memori sekaligus histori di sana. Kenangan indah yang ia simpan bersama Boy Capel.

Adalah nyata apabila segala hal yang dicintai Gabrielle akan menjadi identitas abadi yang dibawa label Chanel hingga saat ini. Termasuk kamelia yang tak hanya hadir menjadi sebuah lambang ikonis, namun juga lahir sebagai kandungan untuk kosmetik yang mengagumkan. 

Tanaman bunga kamelia dikatakan mampu bertahan di segala situasi, suhu dingin maupun air tak dapat merusak kelopak atau daunnya. Maka tidaklah heran, jika bunga kamelia bisa bertahan dengan baik di Gaujacq, sebuah desa di barat daya Prancis. Area yang senantiasa hujan di empat musimnya, nyaris tidak ada angin, mempunyai karakter tanah yang dalam, diikuti banyaknya mata air, membuat desa ini menjadi “tempat tinggal” yang nyaman bagi bunga kamelia. Iklimnya nyaris mendekati Jepang dan China, yang merupakan tempat orisinal bunga tersebut.

Camellia Japonica 'The Czar' sebagai bahan utama No.1 de Chanel

Château de Gaujacq, sebuah kebun konservatori milik keluarga Jean Thoby yang menaungi 3.000 jenis tanaman, termasuk 2.000 jenis kamelia dari penjuru dunia. Jean sendiri adalah generasi ke-5 yang menjalankan kelanjutan dari konservatori ini. Ia telah menjadi mitra spesial bersama Chanel sejak tahun 1998. Kecakapan Jean bukan sekadar teknik semata, namun kepekaannya dalam memelihara keanekaragaman hayati turut menyumbang kontribusi besar untuk melindungi setidaknya 75 spesies kamelia di sana. Termasuk jenis Camellia Japonica ‘Alba Plena’ yang nyaris punah. 

Jean Thoby di depan gerbang perkebunan kamelia milik keluarganya

Beragam penelitian dilakukan secara langsung di Gaujacq, di bawah pengawasan Nicola Fuzzati selaku Director of Innovation and Development for Cosmetic Ingredients di Chanel Research. Setiap bagiannya diolah dan diteliti, termasuk uji coba penanaman dan pemotongan, diikuti diskusi tak terhingga bersama laboratorium fitokimia. Yang pertama berhasil ditemukan adalah kekuatan Camellia Japonica ‘Alba Plena’, “Waktu itu di tahun 2005 bahkan kami dan Jean belum mengidentifikasinya untuk penggunaan kosmetik. 

Momen panen bunga kamelia yang diambil di pagi hari setelah embun mengering

"Kami mempelajari daya tahannya terhadap salju di musim dingin, bunganya tetap mekar dan daunnya selalu hijau. Akhirnya Chanel Research pun memastikan adanya kekuatan menghidrasi yang luar biasa, dan pada tahun 2011 menjadi bahan aktif utama di lini Hydra Beauty,” kenang Nicola. Saat kami berbincang, Nicola juga mempunyai memori tentang Indonesia. Rupanya ia pernah mengunjungi area timur Jawa, untuk sebuah penelitian, tapi itu sudah sekitar 30 tahunan yang lalu.

Nicola Fuzzati selaku Director of Innovation and Development for Cosmetic Ingredients di Chanel Research

Nah, kembali kepada keunikan bunga kamelia lainnya. Ada The Czar, sebuah bunga tangguh meski diterpa segala cuaca dan juga air. Kelopaknya tidak mudah rusak, kenapa? Setelah diteliti ada sesuatu yang berdiam di dalam protocatechuic acid, sebuah molekul aktif yang mampu melindungi vitalitas sel dengan cara mengintervensinya sejak tahap pertama penuaan dimulai. Jadilah lini terbaru No.1 de Chanel yang menggunakan kemasan merah ikonis, sama seperti warna Camellia Japonica ‘The Czar’.

Belum berhenti sampai di lab Nicola saja, pengembangan bunga kamelia yang telah ditemukan efikasinya kemudian berlanjut di Open Sky Laboratory milik Chanel yang jaraknya tidak sampai satu kilometer dari tempat Jean Thoby. Perkebunan seluas 70 hektar ini mempunyai karakter tanah bergelombang yang terlindung dari angin, dan didedikasikan secara spesial untuk membudidayakan kamelia serta penelitian botani. 

Perkebunan yang dikelola tanpa campur tangan kimia

Menurut Philippe Grandry sebagai Operation Manager untuk Chanel Crops, sejak tahun 2018 ratusan kamelia tumbuh dengan pola kecepatan mereka sendiri dan murni campur tangan habitat alami mereka. Tidak ada andil kimiawi di sini, “Baik hewan maupun tumbuhan hidup berdampingan secara natural. Ada tanaman yang menjadi pelindung tanahnya, sampai pohon rindang untuk bunga kamelia ‘berteduh’,” kata Philippe. Ketika panen pun dilakukan setelah embun pagi mengering, mereka memakai cara tradisional untuk memetiknya dengan hati-hati menggunakan tangan, lalu meletakkannya di keranjang untuk menjaga kondisi bunga selama proses ekstraksi.

Philippe Grandry yang senantiasa menjaga pertumbuhan bunga kamelia di Gaujacq

Kesungguhan Chanel dalam mendirikan Open Sky Laboratory, diceritakan oleh Armelle Souroud sebagai Scientific Communication Director di Chanel kepada saya melalui surel. Ia menjelaskan tantangan terbesar dalam membudidayakan bunga kamelia adalah karena mereka bergantung sepenuhnya kepada alam. “Camellia Japonica ‘Alba Plena’ merupakan tanaman yang sangat langka, kami memulainya hanya dengan tiga tanaman dan ini merupakan tantangan yang sangat besar. Meskipun cukup mudah untuk menanamnya dan mempelajari kebutuhannya terkait dengan taman, akan tetapi jauh lebih sulit untuk menanam dalam skala besar. Di sini Chanel bekerja dalam jangka panjang, kami butuh 10 tahun percobaan bekerja sama dengan Jean Thoby sebelum akhirnya kami berhasil dengan tanaman kamelia. Sekarang kami memanen sekitar 900 kg bunga setiap musim, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kami,” katanya. 

Camellia Japonica ‘Alba Plena’ yang menjadi bahan utama Chanel Hydra Beauty

Ya, Open Sky Laboratory adalah privilege Chanel Research guna mengeksplorasi keanekaragaman hayati dalam menciptakan bahan kandungan pada kosmetik. Menurut Armelle, tempat itu adalah wilayah uji coba untuk produksi tanaman sekaligus inovasi terhadap sosial dan lingkungan. Hasilnya beragam, disesuaikan dengan konteks budaya, namun semuanya ditandai lewat kerja sama yang kuat dari Chanel untuk membangun rantai nilai berkelanjutan yang patut dicontoh, berkat kemitraan jangka panjang dengan pemilik perkebunan atau produsen bahan baku nabati.

Selain di Gaujacq, Open Sky Laboratory lainnya adalah di daerah tropis di Madagaskar yang fokus pada vanilla planifolia, Pegunungan Alpen zona high-altitude di Prancis Selatan untuk solidago dan anthyllis, area tropis dengan low-altitude di Costa Rica untuk green coffee dan kandungan melipona enzymatic, dan yang terakhir adalah di jantung pegunungan Himalaya di Bhutan untuk swertia.

"Di sanalah para peneliti dan ahli fitokomia Chanel menjelajahi tiap sisi di bumi ini untuk mencari bahan aktif tumbuhan yang paling menjanjikan. Mereka mempelajari perilaku tumbuhan benar-benar di habitat aslinya, kemudian menganalisa komposisinya. Kemudian dari pendekatan tersebut sampai ketemu inti dari tanamannya yang akhirnya menjadi molekul aktif yang berpotensi menarik bagi kulit kita," ujar Armelle. 

Dan demi menjaga intisari tanaman dan mendapat konsentrat molekul aktif yang murni, aman, dan sangat efisien, Chanel juga telah mengembangkan teknologi ekstraksi yang inovatif. Berkat kolaborasi yang subtle antara teknologi dan alam tersebut, akhirnya Chanel Research berhasil mengembangkan lebih dari 60 bahan aktif alami. "Harta karun botani yang baru saja kami temukan ada di Bhutan yang saya sebut di atas. Swertia, tanaman asli pegunungan Himalaya dengan khasiat restoratif. Dari spesies langka ini, kami budidayakan lingkungan alaminya dan dipanen dengan tangan setiap tiga tahun, mengikuti siklus mekarnya. Di situlah kami mengembangkan bahan aktif kompleks yang dibuat khusus yang punya sifat memperbaiki dan anti-penuaan yang kuat. Anda bisa merasakan manfaatnya di produk Sublimage Les Extraits," jabarnya lagi.

Armelle Souroud sebagai Scientific Communication Director di Chanel

KONEKSI JENIS KULIT DAN RAS DI DUNIA

Dalam menciptakan lini skincare-nya, Chanel juga memerlukan waktu sangat panjang. Menurut Armelle, selama lebih dari 20 tahun, Chanel Research sudah melakukan studi tentang wanita dari seluruh dunia. Mereka menyusun database yang berisi lebih dari 4 juta keping data dan 60.000 wajah. "Kami memiliki lima pusat penelitian yang berlokasi di Prancis, China, Korea, Amerika Serikat, dan Jepang. Pemahaman komprehensif terhadap keberagaman kecantikan tersebut memberi kami kesempatan untuk mengembangkan produk kecantikan yang relevan bagi seluruh wanita di penjuru dunia. Kita tidak menua dengan cara yang sama, dan kita tidak memandang segala sesuatu dengan cara yang sama. Ada banyak alasan pula di dalam penelitian ini, apakah itu terkait genetik, atau gaya hidup," kata Armelle.

Oleh karena itu, para peneliti di sana membuat studi epidemiologi untuk menganalisis tanda-tanda penuaan dan hubungannya dengan populasi yang berbeda di seluruh dunia. Di tahun 2002, Chanel mulai mempelajari tanda-tanda usia dalam kaitannya dengan lifestyle. "Lalu pada tahun 2014, kami melanjutkan penelitian baru dengan studi epidemiologi di Jepang (kohort Nagahama) yang bermitra dengan Prof. F. Matsuda dari Pusat Pengobatan Genomik, Universitas Kyoto. Dalam penelitian tersebut, kami pun melengkapi pendekatan yang sudah kami lakukan sebelumnya dengan data genetik yang berkaitan dengan tanda-tanda usia serta kondisi kehidupan. Pemahaman ini memberikan kami kesempatan untuk mengusulkan solusi yang paling sesuai menurut kebutuhan masing-masing orang," ujarnya.

Château de Gaujacq

TENTANG SUSTAINABILITY

Terakhir ketika berdiskusi mengenai “sustainability”, Armelle dengan mantap menggaris bawahi jika itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan strategi bisnis di Chanel. “Merancang produk kecantikan dengan cara yang ramah lingkungan adalah elemen kunci dari pendekatan komprehensif, dan ini berlaku baik untuk formula maupun kemasannya,” katanya. Selama bertahun-tahun, Chanel telah memasukkan kriteria pengkajian lingkungan ke dalam setiap rancangan produknya, demi membatasi dampak kepada semua tahap di siklus kehidupan.

No.1 de Chanel

Dan, lini No.1 de Chanel adalah penggambaran yang sempurna buat pernyataan tersebut, karena formulanya memiliki hingga 97% bahan yang berasal dari alam, dan 76% merupakan turunan kamelia. "Kami menyukai penggunaan bahan yang dapat didaur ulang, seperti kaca dan karton. 80% produk No.1 de Chanel terbuat dari kaca. Bicara tentang plastik, kamu telah memberikan prioritas pada plastik daur ulang dan biosourced. Krimnya juga bisa diisi ulang, dan untuk pertama kalinya, bahan untuk membuat tutup kemasan lini ini dipadukan bersama cangkang biji kamelia," tutup Armelle.

(Foto: Courtesy of Chanel Beauty)